
"Sayang!" Halim menyatukan jemari tangan mereka.
"Ada apa?" Jawab Indah santai.
Halim yang ingin bertanya arah hubungan mereka jadi bingung. Lidahnya terasa kelu untuk berucap.
"Ada apa, HA!" Indah menekan panggilan sayangnya untuk Halim sembari menarik ujung hidungnya.
"Emmmm, Tak apa, hanya ingin memanggilmu sayang!" Jawabnya ragu.
Aku tau kau ingin bertanya tentang hubungan kita, Ha! Aku pun ga tau harus jawab apa. Hingga saat ini aku tak mencintaimu. Tapi Aku ga tega kalau harus memutuskan hubungan ini.
Inilah yang tak pernah aku inginkan sebenarnya. Aku tak ingin menjalin kasih dengan siapa pun, karena putus itu menyakitkan dan berakhir permusuhan jika kita tak bisa menerima kenyataan bahwa kita bukanlah jodoh. Batin Indah
"Jalan Yuk!" Ajak Halim, karena saat ini mereka duduk di teras rumah Indah.
"Aku ganti baju dulu ya!" Indah dan diangguki Halim.
Halim melajukan motornya menuju pantai C. Memang di sanalah tempat terindah dan terdekat yang nyaman untuk pasangan muda berkencan. Seperti biasa, Halim memesankan makanan kesukaan Indah. Tentu pula dengan suasana yang romantis. Halim pun sadar, Indah tak bisa mencintainya meski kekasihnya saat ini begitu pandai menghargai perasaannya.
"Sayang!" Panggil Halim lagi, ia berdiri dan mengulurkan tangannya. Indah meraih tangan itu seraya berjalan beriringan mengikuti langkah Halim.
Di pinggir pantai C, mereka berdiri berhadapan. Indah menundukkan kepala. Halim meraih lembut dagu Indah untuk menghadapnya. Netra mereka bertemu, keduanya saling menatap sendu. Indah meneteskan air mata.
"Hei! Kenapa?" Tanya Halim lembut.
"Tak apa!" Indah berusaha memalingkan wajahnya, namun tertahan oleh tangan Halim yang masih menempel di dagunya. Alhasil Indah memilih memejamkan mata.
"Tatap mataku, Sayang!" Halim.
"Katakan bahwa kau tak mencintaiku!" Lanjutnya dengan mata memerah menahan sedih.
Indah menatap lekat netra Halim. "Aku tak bisa mencintaimu, Ha!" Air mata Indah mengalir deras.
"Kenapa? Apa karena aku bukan anak sultan?" Tanya Halim menahan sedih.
"Ha!" Indah menurunkan tangan Halim dan menggenggam kedua tangan itu dengan erat.
"Aku bisa saja menanamkan rasa cinta padamu, tapi aku ga mau, Ha!" Indah terisak.
"Aku ga mau setelah kita putus nanti kita jadi musuh dan ga saling sapa, Ha!" Lanjut Indah.
"Kita ga usah putus, Sayang!" Suara Halim tertahan.
"Aku ga bisa, Ha! Sebelum aku terlanjur mencintaimu, Alangkah baiknya jika kita akhiri hubungan ini dan kita bisa jadi saudara!" Indah masih dengan tangisnya.
Spontan Halim memeluk dan mengecup lama kening Indah.
Aku mulai mencintaimu, Ha! Tapi rasa ini harus segera ku akhiri. Aku tak mau kita saling benci setelah putus nanti. Maafkan Aku, Ha! Aku benci permusuhan! Batin Indah.
"Cinta tak perlu dipaksakan, karena Hati akan selalu menemukan siapa yang pantas mencintai. Begitu pula denganku yang tak akan memaksamu mencintai aku!" Halim melepas perlahan pelukannya.
"Jangan pernah jauh dariku!" Halim menarik tali rambut Indah kemudian berlari kecil hingga membuat gadis itu mengejarnya.
"Ha! Kembalikan!" Teriak Indah berlari kecil. Satu tangannya memegangi rambut panjangnya agar tak terurai dan diterpa angin.
Seketika Halim berhenti dan berbalik. Tanpa sengaja Indah menabrak tubuh Halim.
"Cantik!"Pujinya.
"Lepas tanganmu!" Lanjutnya.
"Balikin dulu ikat rambutku, Ha!" Indah cemberut. Rambutnya memang panjang, namun Indah tak pernah mau menggerai rambutnya.
"Akan aku kembalikan kalau kau sudah melepas tanganmu!" Sahut Halim nyengir kuda.
Indah melepas satu tangan yang memegang rambutnya.
"Rambutmu Indah, seindah namamu! Tapi kenapa kamu ga pernah mau melepas ikatannya?" Tanya Halim ingin tau.
"Aku ga mau rambutku rusak!" Jawab Indah. Kemudian Halim mengembalikan tali rambut Indah.
Rambut Indah yang hitam, panjang dan lebat menjadi daya tarik tersendiri bagi orang - orang yang melihatnya. Indah tak pernah menggunakan skincare di wajahnya, namun untuk perawatan rambutnya Indah rela menghabiskan uang saku sekolahnya selama satu bulan untuk satu kali perawatan rambutnya.
"Pulang yuk!" Halim menggandeng mesra tangan Indah.
"Ha!" Indah memandang wajah Halim mencari kekecewaan yang mungkin hadir di sana. Tapi Indah tak menemukan itu.
Halim menghentikan langkah. "Terima kasih sudah berusaha mencintaiku. Aku ga akan larut dalam kesedihanku asal kau tak membenciku, Sayang!"
"Mampir ke rumah Ana yuk!" Ajak Indah saat mereka di atas motor.
"Boleh!" Jawab Halim.
Ya, hari itu hari Minggu. Halim datang pagi untuk mengajak Indah jalan - jalan ke pantai hendak menikmati pemandangan pantai serta ingin memastikan kelanjutan hubungan mereka ke depannya. Meski keputusan akhirnya menyedihkan, namun tak membuat keceriaan mereka hilang.
Ciiiitttt
Halim menghentikan motornya tepat di samping Ana yang sedang duduk santai di depan Tokonya membuat Ana berteriak histeris sembari menutup mata.
"Aaaaaaaaaaa!"
Huh huh huh!
Setelah mengatur nafas, perlahan Ana membuka mata. Mata itu membulat sempurna saat mengetahui sang pengendara motor adalah Halim.
"Halim!" Pekiknya membuat Halim tertawa puas, Tapi tidak dengan Indah. Ia menyembunyikan wajah dan tawanya dibalik punggung Halim.
"Eh, kamu bareng siapa?" Bisik Ana.
"Sama pacarku!" Halim membalas bisikan Ana.
Perasaan Ana campur aduk antara penasaran dan marah. Ia penasaran siapa berada di belakang Halim. Ana pun ingin marah, karena yang ia tahu Halim telah jadian dengan Indah sahabatnya.
Tidakkah seorang Ana mengenali sang sahabat dari pakaiannya? Jawabannya tentu tidak, karena saat itu Indah mengenakan Hoodie berwarna merah hati milik Halim. Memasang penutup kepalanya dan menyembunyikan wajahnya dibalik punggung lelaki tampan di depannya.
Ana tak kehabisan akal, ia mempersilahkan Halim dan pasangannya duduk dengan maksud agar si wanita menunjukkan wajahnya. Halim menggerakkan sedikit dengkulnya pertanda meminta pendapat Indah.
"Tak apa kita turun" Bisik Indah. Tanpa sengaja ia menemukan masker dan kacamata di dalam kantong hoodie milik Halim kemudian mengenakannya saat tadi Ana panik.
Halim dan Indah turun dari motor dan duduk di ruang tamu rumah Ana. Meski begitu Ana belum juga mengenali Indah.
Ana menyuguhkan minuman dan cemilan pada kedua tamunya. Namun Indah masih juga tak ingin mengungkap penyamarannya.
"Kekasihku sedang berpuasa, jadi ia menutup mata dan mulutnya agar puasanya tidak batal!" Halim berkilah.
"Oh begitu!" Sahut Ana sementara Indah menahan tawanya.
"Sayang, Aku ke kamar mandi dulu ya!" Pamit Halim, Indah mengangguk tanpa bersuara.
Halim bertanya pada Ana letak kamar mandi. Ana mengantar Halim dan menunggunya di dapur yang letaknya tak jauh dari kamar mandi.
"Cewek mana yang kamu bawa itu, Halim?" Tanya Ana memandang tajam Halim.
"Cewekku, lah!" Jawabnya santai.
"Apa kau mengenalnya?" Pancing Halim.
"Bagaimana Aku bisa mengenalinya kalau ia menutupi seluruh wajahnya!" Ketus Ana.
"Bukankah kau dan Indah?" Ana menunduk kecewa dengan Halim yang ia pikir mengkhianati sahabatnya.
**Apa yang akan dilakukan Ana selanjutnya pada gadis ber hoodie merah hati tersebut**?
**Author kehabisan ide nih, kak**!
**Bagaimana caranya ya Indah membuka penyamarannya agar Ana tidak marah**?
**Komentar donk, Kak**!
**Makasih**!
"**My Brother" up senin, kali aja ada yg mau ngasih vote buat Halim n Indah**!
**Rate 5 or hadiah juga boleh**!