My Brother

My Brother
Pulang



"Oalah...πŸ€¦πŸΌβ€β™‚οΈ, beres deh! Aku yang bayar ongkos mu, PULANG PERGI!" Fathur memberikan penekanan pada kata terakhirnya. Mereka tertawa bersama kemudian bersiap - siap untuk pulang.


🌹🌹🌹


Dengan senang hati Ozi ikut pulang bersama Fathur karena kali ini Fathur yang membayar ongkos kendaraannya pulang pergi.


"Lima belas menit lagi aku sampai di Terminal." Begitu isi pesan Fathur pada Indah.


Tiap menit Fathur memeriksa ponselnya. Tak ada tanda - tanda balasan chat dari Indah. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak. "Mungkin Indah sedang Shalat!" Gumam Fathur karena saat itu masuk waktu Maghrib.


Fathur dan Ozi sudah tiba di terminal. Mereka turun dari Bus dan beralih ke becak menuju rumah Ozi.


"Apa belum di balas juga?" Tanya Ozi yang sedari tadi memperhatikan kegelisahan Fathur.


"Jangankan di balas, dibaca saja belum!" Jawan Fathur sedih.


"Ya sudah, kalo begitu kamu Shalat aja di sini dulu!" Ozi mengingatkan sahabatnya.


Mereka Shalat di Musholla dekat rumah Ozi. Usai Shalat, Fathur pamit pulang.


Di rumah, Ibu dan Fatima terkejut melihat kedatangan Fathur. Pasalnya ia tak memberitahu mereka tentang kepulangannya. Fathur juga berjanji pada Ibunya bahwa ia tidak akan pernah pulang hingga waktu magangnya selesai.


"Kak!" Fatima merajuk.


Fathur mengerti apa yang diinginkan adik kesayangannya itu. Fathur memberikan sedikit uang untuk Fatima.


"Maafkan kakak ga bawa oleh - oleh buat kamu! Nih, Kamu beli apa yang kamu inginkan!" Ucap Fathur sambil mengacak - acak rambut Fatima.


"Makasih, Kak!" Fatima dengan senang hati menerima uang itu.


"Sama - sama, Dek!" Sahut Fathur. "Sudah waktunya Shalat Isya', Kakak Shalat dulu ya?!" Lanjut Fathur kemudian ia masuk ke kamar.


Setelah menghadap Sang Pencipta, Fathur mengambil benda pipih berwarna biru yang sebelumnya ia simpan di meja dekat tempat tidurnya.


Tak ada notifikasi apapun di sana yang menandakan adanya balasan chat dari Indah. Fathur mencoba menghubunginya via telepon. Lagi - lagi tak ada jawaban, meski ponsel Indah dalam keadaan aktif. "Apa mungkin dia sedang belajar dan tak ingin diganggu?" Memori Fathur mengingat kembali perangai Indah yang begitu teguh pendirian.


Pukul delapan malam, masih tak ada jawaban apapun dari Indah. Fathur mulai cemas. Ia mencoba menghubungi Faika melalui Ozi untuk menanyakan kabar Indah. Setelah menceritakan kecemasannya pada Faika, Fathur memintanya untuk menghubungi Indah tapi hasilnya juga sama.


Faika menawarkan diri untuk datang ke rumah Indah tapi Fathur melarangnya karena ini malam Sabtu. Ia tidak mau mengganggu waktu belajar Indah dan juga Faika. "Biarlah besok pagi, Aku akan menghubunginya lagi!" Ucap Fathur sebelum mengakhiri percakapannya dengan Faika.


Tak butuh waktu lama, Fathur tertidur pulas bersama guling kesayangannya meraih mimpi indah bertemu Indah sang mantan yang namanya masih setia bertengger di hatinya.


Tepat pukul dua belas, Fathur kembali terbangun dan melihat ponselnya. Fathur tersenyum melihat tanda centang sudah berwarna biru. Dilihatnya info pesan miliknya. 00 : 00 itulah waktu yang tertera.


Seketika ponselnya berbunyi. Dafa, Iya Indah lah yang menghubungi Fathur.


🌼🌼🌼


Selesai Shalat Ashar mendadak tangan Indah kesemutan dan pandangannya kabur. Indah berlari ke kamar dan membaringkan diri di atas tempat tidurnya. Melihat Indah yang seperti itu, Pak Yusuf bergegas menemui istrinya yang berada di ruang tamu sedang menerima pelanggan menjemput baju. Pak Yusuf menunggu tamu Bu Sri pulang dan mengatakan pada istrinya agar melihat keadaan Indah.


Benar dugaan Pak Yusuf, Putri kecilnya sakit. Bu Sri segera mengambil makanan dan obat yang biasa Indah minum saat sakitnya kambuh. Meski sulit, tapi Indah berusaha bangun dan mengikuti arahan Ibunya untuk makan dan minum obat sebelum stroke nya makin parah. Ibu juga menyiapkan baskom kosong untuk persiapan jika sewaktu - waktu Indah muntah.


Entah apa nama penyakit yang di derita Indah. Menurut dokter, Indah mengalami Migran. Saat kambuh, seluruh syarafnya seakan berhenti bekerja. Kepalanya sakit sebelah. Indah juga mengalami muntah - muntah.


Beberapa menit setelah makan, perut Indah seakan menari. Indah bangun dan memuntahkan isi perutnya ke dalam baskom. Dengan muntah, rasa sakitnya akan berkurang. Setelah itu Indah menutup matanya rapat dan tertidur.


Pukul dua belas tengah malam, Indah terbangun.


"Aw!" Indah memegang bagian kepalanya yang sakit. Indah meregangkan syaraf yang tadi mati rasa. Syarafnya telah kembali normal. Yang tersisa adalah pusing dan sakit kepalanya.


Indah meraih ponsel yang berada di meja tak jauh darinya. Yang pertama Indah lihat adalah chat atas nama Fada.


Lima belas menit lagi aku sampai di Terminal.


Isi chat dari Fathur. Kemudian Indah melihat waktu kirimnya. "Fa, Kamu sudah datang? Bukankah ini masih hari Jumat!?" Indah ingat bahwa perusahaan tempat Fathur magang hanya libur pada hari Minggu saja.


Beberapa log panggilan tak terjawab dari Fathur dan Faika membuat Indah terharu dan sakit kepalanya kembali terasa. Namun tak menyurutkan keinginan Indah untuk menghubungi Fathur.


"Assalamualaikum!" Fathur langsung menjawab panggilan Indah.


"Wa'alaikum salam! Apa kamu tidak tidur sehingga langsung mengangkat teleponnya?" Indah heran karena ia langsung mendengar suara Fathur.


"Aku tidur dan terbangun teringat akan dirimu. Pas aku ambil Hp, ada panggilan darimu dan langsung aku answer!" Jelas Fathur.


"Maafin aku baru bisa menghubungimu!" Indah lagi.


"Tak apa! Apa kamu baik - baik saja?" Tanya Fathur khawatir.


"Aku baik, Fa!" Indah berbohong.


"Kau tak pandai berbohong!" Meski berbicara lewat telpon, Fathur bisa membedakan suara Indah dalam keadaan sehat atau sakit.


"Ya sudah, kalau begitu istirahatlah! Besok pagi Aku akan ke rumah kamu!" Fathur begitu mengkhawatirkan Indah.


"Tapi, Fa...." Kalimat Indah terputus.


"Percayalah padaku!" Lanjut Fathur meyakinkan Indah.


Meski tak banyak bicara, namun Fathur sangat mengerti keadaan Indah. Begitu pula sebaliknya. Fathur juga mengetahui perihal penyakit Indah walaupun saat mereka menjadi kekasih, penyakit Indah tidak pernah kambuh. Fathur mengetahui hal itu dari Faika. Maka dari itu Fathur tak pernah sekalipun membuat pikiran Indah terbebani hingga membuat penyakitnya kambuh.


🌼🌼🌼


Seindah apapun mimpimu semalam, kau harus tetap bangun untuk menghadapi realita hidup hari ini.


"Assalamu'alaikum." Fathur sudah di depan rumah Indah.


"Wa'alaikum salam." Jawab Bu Sri sembari membuka pintu.


"Apa Indah ada di rumah, Bu?" Fathur bertanya pada Bu Sri padahal ia sudah tau jika Indah tak mungkin keluar rumah dalam keadaan sakit.


"Ada, Nak! Ayo, Silahkan masuk!" Bu Sri mengajak Fathur masuk.


"Terima kasih, Bu!" Jawab Fathur sembari mendudukkan dirinya di ruang tamu. Sementara Bu Sri memanggil Indah.


"Indah, bangun Sayang! Ada teman kamu di ruang tamu!" Ibu mengusap pelan kepala Indah.


"Iya, Bu!" Indah bangun perlahan menahan sakit kepalanya. Ia meraih ponselnya. Jam di ponsel Indah menunjukkan pukul enam pagi.


"Siapa yang datang, Bu!" Tanya Ayah pada Ibu.


"Teman anak kita, Yah!" Jawab Ibu.


"Laki - laki atau perempuan?" Tanya Ayah lagi.


"Laki - laki." Jawab Ibu lagi dan Ayah hanya mengangguk datar.


Sebenarnya Ayah tidak melarang Indah berteman dengan siapapun karena Ayah percaya anak kesayangannya bisa menjaga diri.


Hanya sikap disiplin Ayah menjadikan Indah tidak ingin ayahnya marah jika Indah melakukan hal diluar batas.


Indah mengikat rambut panjangnya asal. Ia berjalan pelan ke ruang tamu menemui Fathur.


Melihat Indah berjalan menahan sakit, Fathur menghampiri dan memapahnya.


Tak banyak yang mereka bicarakan karena Fathur tak ingin sakit Indah bertambah parah.


"Bapak!" Fathur menyapa Pak Yusuf yang melewati ruang tamu dan menyalaminya. Pak Yusuf membalas uluran tangan Fathur.


"Oh iya Bapak hampir lupa! Apakah Nak...


"Fathur, Pak! Fathur memperkenalkan namanya. Pak Yusuf tersenyum kemudian melanjutkan kata - katanya.


"Apa nak Fathur akan pergi ke sekolah? Jika iya, Bapak akan menitipkan surat Indah sama mak Fathur!" Lanjut Ayah.


"Oh, iya Pak. Saya ke sini untuk mengambil surat Indah dam membawakannya ke sekolah!" Sahut Fathur sedangkan Indah membulatkan netra nya. Pak Yusuf pergi ke kamar Indah mengambil surat yang sudah ditulisnya semalam.


"Fa!" Bisik Indah.


Ssssssttttt. Fathur menempelkan jari telunjuknya di bibir.


Fathur pamit berangkat ke Sekolah setelah menerima surat izin Indah dari tangan Pak Yusuf.


Bagus sekali akting Fathur hari ini! Ia bisa menyesuaikan diri dan mengaku bahwa dirinya adalah teman sekolah Indah yang hendak menjemput surat dan membawakannya ke Sekolah. Untung saja Fathur datang ke rumah Indah menggunakan celana Pramuka miliknya dan mengenakan jaket hitam sehingga Pak Yusuf tak mencurigainya.


Fathur benar - benar pergi ke sekolah Indah untuk mengantarkan surat tersebut. Di gerbang sekolah, Ia bertemu dengan Anik dan menyerahkan surat ditangannya pada Anik.


"Ka Kamu?" Mulut Anik terbuka dan berhenti berucap. Fathur terkekeh.


"Indah sakit dan ini suratnya! Bawain ya! Terima kasih!" Fathur kemudian pergi meninggalkan Anik yang masih bengong di tempat.


🌼🌼🌼


**Jangan lupa tinggalkan jejak dengan menekan tombol like yaπŸ‘


Aku ngemis koin recehnya donk buat semangatku up di Bulan Puasa!!!


Komentarmu Energiku!!!πŸ™πŸ™πŸ™**


Terima kasih dan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa untuk para Reader n Author yang melaksanakannya!