
Indah dibuat bingung dengan pertanyaan sang Ayah.
“Jika Aku mengatakan isinya Kamus Bahasa Inggris, maka Ayah akan mengetahui apa yang Aku inginkan! Tapi... jika Aku katakan isinya adalah sebungkus permen, rasanya tidak mungkin ada permen dengan ukuran sebesar itu!” Indah berpikir panjang.
“Kenapa diam?” Pak Yusuf kembali bertanya, berharap ia akan bisa memancing kejujuran putri semata wayangnya.
“Permen! I – Iya isinya permen!” Ujar Indah dibuat seolah iya menemukan sebuah jawaban yang sudah pasti benar, padahal Indah menjawab asal.
Pak Yusuf merasa kecewa dengan Indah, pasalnya Indah tak berkata jujur jika ia menginginkan sebuah Kamus Bahasa Inggris namun Pak Yusuf berusaha menutupi kekecewaannya dengan bertanya. “Apa ada permen sebesar itu, Sayang?”.
“Emmmmmmmmmmmmm, Kalau dilihat dari bungkusnya, memang tidak ada permen yang sebesar itu, Ayah! Tapi.... jika dipikir lagi, sejak tadi Indah buka bungkusnya yang berlapis sepuluh lembar kertas koran sehingga kotaknya makin mengecil, Bukan tidak mungkin jika Ayah membungkus permen yang ukurannya kecil dengan beberapa kertas putih ini hingga menjadi sebesar sekarang!” Sahut Indah.
“Atau bisa saja Ayah meletakkan permen ke dalam kardus dan membungkusnya berkali – kali!” Lanjutnya.
“Hmmmh! Kalau begitu, Lanjutkan!” Ucap Pak Yusuf lagi. Meski kecewa, tapi argumen Indah membuat Pak Yusuf gemas dan ingin mencubit pipi gadis kecilnya yang sudah menginjak usia 15 tahun.
Indah melanjutkan acara membuka kadonya. Tujuh lapis kalender bekas membuat Indah harus kembali bersabar. “Hmmmmmh! Semoga isinya bukan benar – benar permen!” Gumam Indah dalam hati setelah menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.
Setelah usai dengan tujuh lembar kalender bekas, Indah bertemu dengan kertas bermotif batik. Perlahan Indah membuka perekatnya, namun tidak berani membuka kertas batiknya.
Dengan mata terpejam, Indah menghitung dalam hati. Satu.... dua.... tiga..... Indah mulai membuka mata dan perlahan melepas genggaman tangannya pada ujung kertas tersebut berharap tidak ada lagi pembungkusnya.
Betapa terkejutnya Indah saat melihat isinya. Dengan senyum mengembang, Indah berlari mencari sang ayah yang berlalu saat dirinya menutup mata.
“Ayah......!” Seru Indah mencari sang Ayah.
“Ada apa?” Tanya Pk Yusuf dengan nada datar.
Indah memeluk sang Ayah dengan erat.
“Terima kasih, Ayah!”
“Sama – sama, Sayang!” Jawab Pak Yusuf mengembangkan senyumnya.
Setelah itu, Indah kembali ke dapur menuju meja makan, mengambil kamusnya dan membawanya ke kamar.
Sebenarnya Indah lebih menyukai pelajaran berhitung, namun juga suka dengan pelajaran bahasa. Hal itu dikarenakan Indah sudah memiliki riwayat penyakit kepala.
Dengan adanya kamus Bahasa Inggris, Indah menjadi lebih rajin belajar Bahasa Inggris.
Hingga sore hari, Indah belum juga keluar kamar membuat ayah dan ibunya khawatir.
Perlahan Pak Yusuf membuka pintu kamar Indah. Beliau melihat Indah sedang belajar di atas tempat tidur. Pak Yusuf masuk dan menghampiri Indah.
“Sayang, Shalat Ashar lah dulu!” Pak Yusuf mengingatkan.
“Iya, Ayah!” Jawabnya sembari mengemasi buku – bukunya.
Sebelum Indah turun dari tempat tidur, Pak Yusuf mengusap lembut kepala Indah dan berkata “Jika ada sesuatu yang kamu inginkan, katakan pada Ayah!”
“Baiklah, Ayah!” Jawabnya sembari tersenyum.
Setelah Shalat Ashar, Indah melakukan tugas harian membantu Ibunya.
Malam hari, Indah kembali belajar untuk persiapan ulangan besok pagi.
“Bagi donk Pe-eR nya!” Ucap Ana diikuti Dayat dibelakangnya.
“Ah, kalian ini, bikin Aku kaget saja!” Indah mengelus dada.
“Ga biasanya kalian bertanya Pe-eR sepagi ini?” Lanjut Indah merasa heran pada kedua sahabatnya itu.
“Kali ini terlalu sulit, Indah!” Jawab Ana.
“Tunggu,Tunggu, Tunggu, Kenapa tidak tadi malam kalian menanyakannya padaku?” Indah.
Hmmmh! Ana menarik nafas dan membuangnya kasar.
“Hei Nona manis, semalam itu Dayat mengajakku pergi menemuimu. Tapi apalah daya, Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi! Begitu kata operator!” Jawab Ana kesal namun membuat Indah gemas dan mencubit pipi gembul Ana.
Aw! Ana meringis menahan sakit pipinya sementara Dayat hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.
“Kenapa tidak datang ke rumah? Biasanya juga kalian langsung menemuiku di rumah!” Indah merajuk. Bukan karena ia yang teraniaya, tapi karena ia merasa kasihan pada teman yang kesusahan.
Indah mengeluarkan buku yang diminta mereka. “Waaaaaah, ternyata tuan putri yang satu ini sedang sibuk mengerjakan PR nya hingga ponselnya meninggal dunia pun ia tak menyadari!” Ledek Ana.
Waktu pelajaran berlangsung seperti biasa. Saat istirahat, Ana mengajak Indah menemui Nina di kelas yang berbeda. “Ada perlu apa kau bertemu Nina?” Tanya Indah.
“Satu minggu yang lalu, Nina sakit Typus. Banyak catatan dan Pe-eR yang belum ia lengkapi, so dia meminjam beberapa catatanku. Maka dari itu, kali ini aku ingin meminta kembali buku milikku!” Ana menjelaskan.
“Hai, Indah, Ana, Kalian mau kemana?” Tanya Desi saat mereka melintas di depan kelas Desi.
“Eh, ini, Aku diajak Ana menemui Nina!” Jawab Indah nyengir kuda bak orang menahan sakit terjepit pintu. Pasalnya Indah tak begitu mengenal Desi, namun saat berpapasan dengan Indah Desi selalu menyapanya.
“Kenapa ekspresimu seperti itu?” Tanya Ana menangkap raut wajah Indah yang terlihat aneh.
“Aneh saja! Aku tak begitu mengenal Desi, hanya tau nama dan wajahnya saja. Tapi tiap kali bertemu denganku, ia selalu menyapaku!” Ucap Indah ragu.
“Kau bak artis saja! Banyak orang kenal kamu, tapi kau tak mengenal mereka!” Cibir Ana.
Sementara di kelas Desi.
“Untuk apa kau selalu menyapanya, Kenal saja tidak?” Tanya Aini sahabat Desi.
“Aku memang tak mengenalnya, tapi Aku mengaguminya. Dia anak pandai, namun ia tak pernah sombong dan mau berteman dengan siapa pun. Beruntunglah teman – teman yang bisa dekat dengan Indah.” Jawab Desi dengan semangat empat lima menjabarkan sosok Indah.
“Dari mana kamu tau tentang Indah, padahal kan kalian tidak pernah satu kelas? Tetangga juga bukan!” Tanya Aini heran.
“Mana mungkin Indah mau berteman dengan orang seperti kita, Aku yang berwajah pas –pasan, Kamu yang gendut, dan otak kita juga tak sepandai Ana dan teman – teman Indah yang lain!” Lanjut Aini.
“Jangan pernah menilai orang dari luarnya. Tak semua orang pandai menolak berteman dengan kita. Tak semua orang kaya menolak berteman dengan kaum papa!” Desi tak terima dengan gagasan Aini yang menjelekkan Indah.
“Kamu lihat Ana! Dia juga pandai, Dia bukan anak orang berada, tapi Indah tetap mau menerimanya sebagai sahabat. Bahkan Indah sering membantu Ana saat kesulitan.” Lanjut Desi.
“Kamu kesambet setan mana sih? Sebegitu taunya kamu tentang Indah. Sebegitu kagumnya kamu padanya, dan sebegitu inginnya kamu berteman dengan Indah?” Aini makin heran dengan pernyataan Desi.
“Aku hanya berpikir, betapa senangnya jika aku memiliki sahabat seperti Indah!” Sahut Desi sambil membayangkan keinginannya dengan senyum bahagia.
“Jadi kau tak senang berteman denganku?” Aini membelalakkan mata melihat wajah Desi.
“Eh, Bu – bukan begitu! Aku senang berteman denganmu, bahkan Aku tak hanya menganggapmu sebagai sahabat. Kau sudah Aku anggap seperti saudaraku!” Desi gugup menanggapi kalimat Aini yang sudah menjadi sahabatnya sejak awal masuk SMP.
“Hai, Indah!” Desi kembali menyapa Indah saat pulang sekolah.
“Oh, Hai!” Indah merasakan hal aneh kembali dan dengan gugup membalas sapaan Desi.
“Ana, bantu aku donk!” Indah meminta tolong pada sahabatnya.
“Minta tolong apa?” Ana mengerutkan kening.
“Apa maksudnya Desi panggil – panggil namaku bak laki – laki yang sedang jatuh cinta gitu?” Ungkap Indah geli.
“Mungkin saja Ia ingin berteman denganmu!” Jawab Ana.
"Baiklah, jika begitu tolong bantu Aku cari tau apa yang sebenarnya Desi inginkan dariku!" Sahut Indah.
"Siap, Boss!" Ana menaikkan tangan kanannya ke pelipis.
**Bersambung**..............
**Maaf ya, Kak! Aku baru bisa up setelah sebulan off**.
**Terima kasih karena masih setia menunggu dan memberikan dukungan terhadap karyaku**!
**Salam Sehat untuk semuanya🙏🙏🙏**