
"Bukankah kau dan Indah?" Ana menunduk kecewa dengan Halim yang ia pikir mengkhianati sahabatnya.
"Kenapa?" Tanya Halim masih menahan tawa.
"Indah bilang, kalian dah jadian! Tapi nyatanya...
Ah, kita kembali ke ruang tamu saja. Kasihan pacarmu menunggu terlalu lama!" Ana menggantung kalimatnya. Batinnya menyimpan banyak pertanyaan, namun tak mungkin ia tanyakan pada Halim karena ada kekasih Halim sedang menunggu mereka di ruang tamu.
Sruuuuupt
Halim meminum teh dingin suguhan Ana.
"Aku pulang ya! Ayo sayang kita pulang!" Halim.
Indah berdiri dari duduknya, kemudian bersalaman dengan Ana agar sahabatnya mengenali bentuk tangannya atau cincin yang ia pakai setiap hari. Memang Ana mengenali tangan Indah, juga cincin itu. Namun Ana ragu untuk mengatakannya.
Bukankah cincin itu milik Indah? Tangannya juga hampir sama dengan tangan Indah. Tapi ga mungkin kalau Indah mempunyai baju atau barang berwarna merah. Pasti itu bukan Indah. Bisa saja cewek itu punya cincin dan tangan yang sama dengan Indah. Batin Ana.
Indah mengedipkan mata pada Halim.
"Wuoy, sesama cewek jangan terlalu lama!" Halim melepas tautan tangan Ana dan Indah.
"Jeruk makan jeruk!" Gumam Halim namun masih terdengar di telinga Ana.
"Kau pikir aku tidak normal?" Ketus Ana.
Hehe.... Halim cengengesan.
"Oh ya, jangan bilang - bilang sama Indah ya kalau Aku kesini bersama kekasihku!" Bisik Halim pada Ana seolah Indah tak mendengar. Padahal kenyataannya Indah mendengar apa yang baru saja Halim katakan.
"Jangan bilang - bilang, tapi suaranya nyaring gitu!" Ana menggerutu.
"Karena orangnya ada di sini!" Halim. Ana langsung berlari keluar mencari sosok Indah.
Ketika Ana kembali ke dalam rumah.
"Praaaaaaaaank!" Teriak Indah dan Halim kompak.
Sontak Ana terkejut dan berteriak "Kalian!"
Beruntung rumah Ana berada di pinggir jalan raya. Kedua orang tua Ana sedang pergi ke pasar dan Adiknya kerja kelompok di rumah temannya, sehingga tak ada yang merasa terganggu dengan kehebohan mereka bertiga.
"Kita pulang dulu ya! Dah Anaaaa!"
Indah melambaikan tangan pada Ana sedangkan Halim mulai melajukan motornya.
❤️❤️❤️
Setelah Ujian Nasional usai, Sekolah berencana mengadakan rekreasi sekaligus perpisahan untuk kelas sembilan. Sebagian besar siswa SMP N 1 Mengikuti kegiatan tersebut.
"Kenapa ga ikut?" Tanya Halim setelah tau Indah tidak mendaftarkan diri untuk ikut serta ke Bali.
"Aku ga bisa!" Jawab Indah dengan senyum termanisnya.
"Kenapa, Sayang?" Halim.
"Apa ibumu tak mengijinkan?" Tebak Halim.
"Ibuku menyerahkan sepenuhnya keputusan itu padaku. Dan aku memutuskan untuk tidak ikut!" Jawab Indah.
"Lalu?" Halim.
"Kalau Aku ikut, maka uang tabunganku habis dan Aku harus menghabiskan uang lagi untuk menutupi kekurangannya serta membawa uang lebih untuk di jalan. Namun sebaliknya. Jika aku tidak ikut, maka uang tabungan akan diberikan padaku. Uang itu bisa ku gunakan untuk membayar biaya pendaftaran ke SMA yang aku tuju!" Indah berbicara panjang kali panjang sepanjang kali berantas.
"Ikutlah bersamaku, Sayang! Biar aku yang membayar uang transportasi mu ya!?!" Halim menawarkan kebaikan.
"Tidak, Ha! Aku ga akan menyusahkan orang lain. Kau ikut saja dan bawakan aku buah tangan khas Bali ya!" Jawab Indah. Memang sudah menjadi sisi baik Indah tak mau merepotkan orang lain.
"Aku pikir, kita bisa menikmati liburan bersama di Bali!" Halim menunduk kecewa.
"Hei, teman kamu bukan hanya aku. Yang turut serta lebih banyak dari pada yang tidak ikut, Ha! Pergilah, Nikmati harimu meski tanpa aku!" Indah memberikan semangat pada Halim.
"Kamu ga ikut, Ndah?" Suparman datang menghampiri mereka.
"Ga, Man!"
"Kenapa?" Parman.
Bukan tidak ingin, tapi orang tua Parman tak memiliki uang lebih untuk mengikut sertakan anaknya ke Bali.
Uang hasil tabungan Indah dan Parman akan digunakan mereka untuk mendaftarkan diri di SMA yang mereka tuju.
Hari kedua mereka di Bali nantinya akan bertepatan dengan hari pertama Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) di Sekolah - sekolah Menengah Atas.
Beberapa orang menemui mereka di Taman belakang sekolah.
"Kenapa kamu ga ikut?" Tanya Day.
"Iya nih, ga ada kamu ga seru, Indah!" Pekik Naura. Ana hanya diam memperhatikan pembicaraan teman - temannya.
"Tanpa kamu, kita ga bisa tertawa bareng!" Day menambahkan.
"Jangan lebay deh, Day. Kamu kan punya Safia yang bisa kamu ajak kencan saat di Bali!" Sahut Halim.
"Kalau aku ikut, uang tabunganku habis. Malah aku harus minta uang lagi sama ibu buat tambahan transportasi & uang jajan selama di sana. Tapi kalau aku tidak ikut, Uang tabunganku bisa aku cairkan, bisa aku buat makan - makan di sini, buat biaya pendaftaran sekolah serta ibuku tak perlu mengeluarkan biaya lagi!
Iya kan, Man?" Indah berbicara jelas, padat berisi dan berujung meminta persetujuan Parman.
"Betul itu, Indah! Kau sepemikiran denganku!" Sahut Parman.
Naura, Dayat dan Halim berembuk untuk patungan uang agar Indah bisa ikut ke Bali. Tapi sayangnya, teman yang mereka inginkan ikut menolak keinginan mereka. Hal itu membuat Ana sedikit iri pada Indah. Hanya sedikit dan tidak banyak, karena mereka adalah sahabat sejati yang tak mengenal kata benci.
"Beruntungnya Indah, banyak orang yang mengagumi dan menyayanginya. Bahkan mereka rela mengorbankan uang agar Indah ikut bersama yang lain ke Bali. Sedangkan Aku, tidak ikut pun tak ada teman yang peduli.
Begitu baiknya kamu Indah. Kau tak pernah menyusahkan orang lain sedikit pun. Jika kau terpaksa membutuhkan bantuan, kau tak pernah lupa untuk berkata TOLONG. Karena itulah, Aku senang sekali bersahabat denganmu. Sahabat Sejati tak mengenal kata benci!" Batin Ana bermonolog.
"Pulang yuk, Na!" Ana terperanjat karena tepukan yang tak begitu keras di pundaknya.
"Ayo ngelamun! Apa sih yang kamu pikirkan sampai segitu terkejutnya, padahal aku hanya menepuk pelan bahu mu?" Tanya Indah penasaran.
"Ga papa kok!" Bohong Ana. Mereka berjalan menuju parkiran sepeda dan pulang bersama seperti biasa.
Ana kenapa ya? Apa mungkin karena ia tidak diijinkan ikut ke Bali? Ah mungkin saja ia hanya bersedih akan hal itu! Batin Indah, Ia tak berani bertanya pada Ana. Indah takut sahabatnya tersinggung jika bertanya.
Tiba - tiba Indah teringat akan sahabat sekaligus sepupunya, yaitu Faikha. Indah mendial nomor Faika.
📱Faikha
"Assalamualaikum!"
📱Indah
"Waalaikum salam!"
📱Ikha
"Mimpi apa ya ingat aku?"
📱Indah
"Mimpi ketemu mbak Kunti wajahnya mirip kamu.
📱Ikha
"Dasar usil!" Faikha menggerutu tapi masih di dengar oleh Indah membuat si lawan bicara tertawa cekikikan
Panggilan mereka berakhir setelah mereka sepakat bertemu di Goa.
Bersambung dulu ya, Kak!
Kalo ada yang bertanya mengapa Halim dan Indah masih menggunakan panggilan sayang mereka, jawabannya adalah karena mereka sudah terbiasa dengan panggilan itu dan masih ada rasa sayang diantara keduanya yang tak mungkin hilang begitu saja!
Terima kasih atas dukungan, like, hadiah, komentar & Favoritnya juga!
Salam sayang dari Author!❤️❤️❤️