
Pagi harinya, Leon sudah disibukkan dengan kegiatannya menyiapkan sarapan untuk Naomi. Leon memang pandai memasak, dan Naomi selalu menyukai masakan apapun yang Leon buatkan.
Lelaki itu tersenyum melihat nasi goreng, telur mata sapi, ayam goreng serta jus jeruk tertata rapi di meja. Segera Leon ke atas dan membangunkan Adiknya.
Leon dengan lancang masuk ke kamar Naomi dan melihat Adiknya hanya tidur mengenakan tanktop putih dan celana pendek tanpa selimut. Kembali, jantung Leon berdetak tak karuan, dan anehnya mata Leon refleks melihat ke arah paha dan dada sang Adik.
Leon yang ketakutan sendiri memutuskan untuk memejamkan matanya dan membangunkan Naomi dengan kaki kanan lelaki itu. Ia memutuskan untuk tak terlalu berdekatan dengan Naomi yang dirasa selalu membuatnya gerah dan berpikiran kotor.
"Naomi, cepet bangun! Udah siang," ucap Leon sambil menggoyangkan kaki Naomi menggunakan kakinya.
"Ngh!" Naomi mengangkat alisnya bingung kala melihat Leon membangunkannya dengan kaki, padahal biasanya lelaki itu akan melompat naik ke kasur dan menciumi wajahnya membabi buta. Tapi sekarang, Kakaknya itu justru memejamkan mata dan malah membangunkannya dengan kaki.
"Kak! Kok pakek kaki sih? Gak sopan tau!" dengus Naomi kesal. Leon menghadap ke belakang dan ia membuka matanya.
"Ya kamu sendiri ngapain tidur pakek baju kayak gitu?" Naomi semakin heran dengan tingkah aneh Leon. Gadis itu melihat penampilannya sendiri dan tak ada sesuatu yang aneh yang ia temukan.
"Kan emang dari dulu baju aku kayak gini, Kak. Salahnya di mana?"
"Kan Kakak kamu ini cowok normal, Naomi!" jawab Leon kesal.
"Lah? Kan emang Kak Leon normal, terus apa masalahnya?" Naomi semakin bingung dengan tingkah Leon yang kini malah keluar dari kamarnya.
"Bahaya, bahaya!" ucap Leon ketika menuruni tangga, ia segera mengambil kunci mobil dan menyuruh supir mengantarkan Naomi ke sekolah. Leon takut jika ia hilang kendali saat bersama dengan Naomi di mobil.
***
Leon sudah sampai di lokasi syuting. Vebra yang melihat kekasihnya tiba, segera datang menghampiri dan menyela manager Leon yang akan menegur lelaki itu karena datang terlambat.
"Hai, Sayang." Vebra segera mengamit lengan Leon, sedangkan lelaki tersebut segera menarik tangannya risih.
Riza selaku manager Leon merasa kesal pada Vebra yang dinilai tak tahu adat, tidak seharusnya mereka yang berprofesi sebagai publik figure melakukan adegan mesra di depan umum. Riza menangkap raut kesal Leon, namun ia tahu bahwa artisnya tak bisa melakukan banyak hal, mengingat kali ini mereka tengah melakukan gimic menjalin kasih.
"Veb, aku ganti baju dulu, ya? Bentar lagi juga take, kan?" Leon pergi dengan Riza tanpa menunggu jawaban Vebra.
"Leon, kok lo tahan sih pacaran ma cewek kek gitu? Awalnya kan cuma gimic doang buat dongkrak popularitasnya sebagai artis pendatang baru." Riza yang juga merupakan sahabat Leon itu mulai merasa risih dengan sikap Vebra yang dianggap terlalu centil.
"Awalnya emang gimic doang. Tapi, lama-lama gue beneran suka sama dia, dan makin ke sini gue udah ngerasa gak nyaman sama Vebra. Capek gue sama dia yang selalu nempel ke sana sini." Leon mulai mengeluh pada Riza di ruang make up.
"Ya udah, lo putusin aja si vebra! Lagian banyak kok cewek yang mau sama Elo, cantik-cantik lagi!"
"Maunya sih gitu. Cuma kan lo sendiri tau kalau anak muda jaman sekarang suka jodoh-jodohin artis idola mereka tanpa mikirin perasaan kita yang kesiksa dengan ulah mereka itu. Kita kan juga pengen mencintai orang yang bener-bener kita cintai, bukan kayak gini. Kalau misalnya kita kesiksa batin kan mereka juga nggak ngerasain apa-apa. Taunya cuma artis yang mereka sukai itu menjalin hubungan, tanpa mereka tau kalau kita juga manusia biasa yang pengen mencintai seseorang sesuai dengan hati kita." Leon mulai merasa jengah dengan dunia seni peran yang melambungkan namanya.
"Tapi--"
"Udah lah, Za. Gue gak mau bahas hal kayak gini dulu, capek gue!"
Leon memutuskan mengganti bajunya di ruang ganti, ia terlalu malas jika harus membahas masalah percintaannya dengan Vebra.
***
Tristan menemui Naomi di kelasnya, ia ingin mengajak Naomi untuk makan siang di kantin sekolah. Lelaki itu sesekali bertos ria dengan temannya yang berpapasan di koridor.
Tristan tersenyum senang melihat Naomi yang tengah duduk dengan Maura atau sering dipanggil Noni Belanda oleh Tristan, alasannya adalah karena hampir setiap hari mereka akan selalu bertengkar entah itu sekolah atau di rumah. Kebetulan juga mereka adalah tetangga.
"Naomi, ke kantin yuk," ajak Tristan semangat. Sebetulnya ia sudah bersiap marah pada Naomi yang tiba-tiba membatalkan acara prank mereka begitu saja, tapi acara Tristan melabrak Naomi diurungkan lelaki itu karena mendapat kabar dari Maura kalau Naomi tengah sakit.
"Males ah, gue mager!" sahut Naomi kemudian meletakkan kepalanya di meja. Ia merasa mengantuk dan ingin tidur, mungkin ini efek obat yang masih ia konsumsi, obat dari Dokter yang dapat menyebabkan kantuk.
"Nom, lo yakin nggak mau istirahat di UKS aja? Lo pucet tau!" Maura semakin khawatir pada kondisi Naomi.
"Enggak, gue tiduran di sini bentar aja deh sampai bel bunyi."
"Lo mau dibeliin apa? Biar gue beliin." Tristan juga merasa khawatir pada Naomi yang kini mulai memejamkan matanya. Ia takut jika kondisi Naomi akan semakin parah.
"Nom, Naomi!" Maura mengguncang pundak Naomi, namun tak ada respon apapun dari gadis itu. Karena khawatir, Tristan segera menggendong Naomi menuju UKS.
***
"Kenapa lo?" tanya Radit yang heran dengan Leon, lelaki itu hanya diam bengong dan tak menyentuh makanannya sama sekali.
"Gue kepikiran Naomi," ucap Leon yang membuat Radit bingung. Selama ini publik tak ada yang tahu mengenai Leon yang memiliki seorang adik. Hanya Radit, Riza, dan Vebra yang mengetahui hubungan persaudaraan Leon dan Naomi.
"Emangnya kenapa sama Adek lo?" tanya Radit lagi.
"Gue kayaknya suka deh sama Naomi."
BRUSH!
Refleks Radit menyemburkan minuman soda yang tengah ia minum, segera lelaki itu melihat ke arah Leon dengan tatapan horor.
"Lo kenapa?" tanya Leon heran, ia sedikit risih dengan tatapan Radit.
"Lo, incest ya? Dosa, Bro!" sembur Radit namun masih mengecilkan volume suaranya agar tak ada yang mendengar dan berakhir dengan gosip super super panas.
"Naomi bukan Adek gue kali. Jadi halal aja kalau gue kawinin dia," ucap Leon santai.
"Nikahin!" Ralat Radit atas ucapan Leon.
***
Pukul 17.15 sore, Naomi baru saja kembali dari sekolah. Ia pulang terlambat karena seharian istirahat di ruang UKS, dan kini kondisinya semakin membaik.
Tristan mengantarkan Naomi sampai di depan pintu rumahnya. Namun, ketika mereka akan mengetuk pintu Leon tiba-tiba sudah membukanya dan menatap mereka dengan tatapan dingin.
"Kak," lirih Naomi pelan, ia tahu Leon tengah marah besar sekarang.
GREB!
Leon menarik kasar lengan Naomi, "masuk!" titah Leon pada Naomi yang menunduk takut di depannya. Gadis itu berjalan perlahan menuju pintu utama kediaman mereka dan berhenti di ambang pintu. Ia takut jika Leon melakukan sesuatu yang buruk pada Tristan.
"Mulai sekarang kamu jauhi Adik saya, jangan membuat kesabaran saya habis dan terpaksa melakukan kekerasan ke kamu!" Leon segera meninggalkan Tristan begitu saja. Ia menarik lengan Naomi dan membanting pintu rumah dengan keras di depan Tristan yang berdiri diam mematung.
Aura intimidasi dari Leon membuat Tristan sedikit kalut, sejujurnya ia tak pernah takut pada orang manapun. Hanya saja Leon berbeda, ia memiliki mata tajam yabg menusuk. Belum lagi aura kelam yang dikeluarkan Leon sempat membuat Tristan menelan ludahnya susah payah.
Lelaki itu memutuskan untuk pergi dari sana.
BRUK!
Leon menghempaskan Naomi ke ranjang bersprei panda kesukaan gadis itu. Leon menatap penuh amarah pada Naomi yang hanya diam berbaring tak berani merubah posisi.
"Kak," cicit Naomi takut. Ia serasa ingin menangis dan memanggil Papanya, hanya saja kedua orangtua mereka tengah pergi ke Palangkaraya untuk menghadiri pernikahan saudara dari Tamara.
Cup~
"Ngh!" Naomi refleks melenguh kala Leon melumat bibirnya dengan lembut. Kakak lelakinya itu juga menangkup kedua pipi Naomi agar gadis itu diam tak berontak.
Naomi yang tersadar bahwa ini sebuah kesalahan, segera mendorong dada Leon kuat. Namun, setetes air mata yang jatuh di pipi Leon membuat Naomi bungkam.
Ia tetap membiarkan Kakaknya menikmati ciuman yang seakan syarat akan luka tersebut, dan entah kenapa saat Leon membuka mata, Naomi juga merasakan kepedihan di hatinya. Kepedihan yang sama seperti yang tengah dirasakan Leon yang lelaki itu curahkan lewat ciuman dan sorot mata Leon.
Dalam posisi duduk, Leon kembali melumat lembut bibir Naomi. Ia merasa sangat kacau ketika kembali ke rumah tak menemukan Adiknya di manapun. Padahal sekolah sudah selesai beberapa jam yang lalu.
"Jangan membuat aku khawatir lagi, Sayang." Leon menatap Naomi sendu, ia merasa sangat takut kehilangan sosok gadis di depannya.
Naomi yang kaget mendengar panggilan 'Sayang' yang dilontarkan Leon, hanya diam membisu dan tak bisa melakukan apapun. Entah sudah berapa kali Leon menciumnya, Naomi tak pernah menghitung jumlahnya. Yang jelas adalah gadis itu sekarang sudah terlelap nyenyak dalam pelukan Kakaknya. Senyum lega terukir di bibir Leon, ia memeluk Naomi dengan erat.
___________Tbc.