My Brother

My Brother
Kebenaran



Ada pepatah mengatakan ‘semakin tinggi pohon maka semakin deras angin yang menerjangnya’. Mungkin itulah pepatah yang bisa menggambarkan keadaan kita saat ini. Terkadang dalam hidup ini tidak semua orang akan menyukai kita, dan biasanya mereka tidak suka dengan kita karena mungkin kita adalah orang yang spesial atau kita dianggapnya lebih baik darinya.


Kelebihan-kelebihan yang ada dalam diri kita terkadang membuatnya terbuai untuk menfitnah atau menyampaikan informasi yang tidak benar tentang kita. Sejujurnya tidak peduli apa yang dia katakan, orang mau bilang apa juga terserah, tapi kita cenderung memikirkan respon orang lain ketika mendengar berita-berita tidak benar tersebut. Apalagi kebohongan itu biasanya cepat sekali menyebarnya.


Tapi namanya juga hidup, kalo ada yang tidak menyukai, berarti ada juga yang masih menyukai. Daripada kita memikirkan omongan orang lain, lebih baik kita fokus kepada orang-orang yang baik dan peduli dengan kita. Masalah kebohongan tidak ada masalah, karena kita yakin kebenaran akan selalu menang, dan kebenaran akan selalu terungkap. Jika kita memang melakukan hal-hal yang benar, kenapa harus takut dengan namanya fitnah.


🌹🌹🌹


Ibrahim yang sedari tadi berdiri di depan kamar menguping pembicaraan mereka, masuk ke kamar Fathur dan mengajaknya menyusul Nurika dan Indah tanpa mempedulikan keberadaan Anik. Fathur pun mengiyakan, beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan mengikuti Ibrahim.


Anik pun mengikuti mereka dengan kesal. Tak ada yang bisa ia katakan karena apa yang baru saja di katakan Fathur menusuk hatinya. Untuk merayu pun ia tak bisa karena ada Ibrahim di sana.


Di tengah jalan menuju rumah Faika, Ibrahim mengirim Chat pada Nurika menanyakan posisi Indah dan Nurika sekarang.


Dengan cepat Nurika membalas bahwa mereka sudah pulang dari rumah Nurika dan menuju rumah makan ADUHAI karena Indah yang mengajaknya.


"Siapa?" Tanya Indah dingin.


"Ibra!" Jawab Nurika.


"Ada apa?" Tanya Indah lagi.


"Dia nanya keberadaan kita dan aku memberitahunya!" Jelasnya.


"Apa dia bersama Fathur dan Anik?" Indah.


"Iya! Tapi Anik sudah pulang, tinggal Ibra dan Fathur menuju kemari." Nurika berkata sambil menunggu respon Indah setelah mendengar nama Fathur.


"Kita tunggu mereka datang, baru kita pesan makanan!" Tak disangka oleh Nurika Indah akan merespon begitu.


"Baiklah!" Jawab Nurika senang, bukan karena ia akan bertemu Ibrahim melainkan karena Indah masih mau menerima kehadiran Fathur.


Fathur dan Ibrahim datang dan bergabung dengan wanita - wanitanya.


"Mbak!" Panggil Indah dan si pelayan menghampirinya.


"Ka, kamu yang mencatat pesanan ya! Aku ga tau makanan kesukaan kalian!" Indah meminta Nurika mengisi daftar pesanan.


Di sela - sela menunggu makanan tersaji, Indah mengambil benda pipih miliknya yang tak lain adalah ponsel dan membuka aplikasi belajarnya. Fathur melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh Indah karena ia duduk tepat di samping kiri Indah.


Ibrahim menginjak pelan kaki Fathur dan mengedipkan mata pertanda menyuruh Fathur memulai pembicaraan.


Fathur menggelengkan kepalanya tak berani mengganggu kegiatan belajar Indah. Sejenak Indah sudah meletakkan ponselnya ketika melihat pelayan datang membawakan pesanan mereka.


Beberapa suap makanan masuk ke mulut masing - masing. "Maafkan atas kebohonganku!" Kalimat Fathur membuat Indah terbatuk-batuk dan Fathur segera memberikan air mineral di dekatnya.


"Jangan bicara apapun, kita lagi makan!" Gumam Indah namun masih terdengar di telinga tiga sahabatnya. Mereka melanjutkan makan tanpa suara.


"Aku bayar dulu! Antarkan aku pulang, biar Ibrahim yang mengantarkan Nurika!" Perkataan yang ditujukan pada Fathur.


"Sudah di bayar, mbak!" Kata sang Kasir.


"Siapa yang bayar, mbak?" Tanya Indah sambil melihat sekeliling, namun ia tak menemukan orang lain yang makan selain mereka.


"Orangnya sudah pulang, mbak! Tapi ini dompetnya ketinggalan!" Jawab kasir sambil menyodorkan dompet milik orang yang membayar nota makanan Indah.


Indah membuka perlahan dompet tersebut untuk mengetahui siapa pemiliknya dan mengembalikan dompet tersebut serta mengucapkan terima kasih atas traktirannya.


"Ini punya kakak saya, mbak!" Jawab Indah setelah menemukan foto Ibnu dan memperlihatkan pada kasir.


"Oh iya, mbak! Pantes wajahnya mirip!" Sahut si Kasir setelah mencocokkan foto dalam dompet Ibnu dengan wajah Indah. Kasir mempercayai Indah dan membiarkannya membawa dompet tersebut.


"Kalian pulang lah, aku akan mengembalikan dompet ini dulu ke rumah Faika!" Suruh Indah pada Ibrahim dan Nurika.


"Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Indah.


"Kebohongan? Maksud kamu kebohongan yang mana?" Indah terkejut.


"Tentang ke kecelakaanku!" Jawab Fathur gugup khawatir Indah marah.


Indah menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Pasti rencana mereka kan?" Tanya Indah meminta penjelasan bahwa kecelakaan itu hanyalah rekayasa dua sejoli sahabatnya dan Fathur mengiyakan.


"Kamu tidak marah?" Tanya Fathur pelan.


"Aku ga akan marah tanpa sebab yang jelas, Fa!" Panggilan sayang itu masih terdengar dari mulut Indah. Fa? Ya, itulah panggilan sayang dari Indah untuk Fathur karena tak ada orang lain yang memanggil nama itu kecuali Indah.


"Aku tau, mereka menginginkan yang terbaik untuk kita. Tapi maaf, aku ga bisa melanjutkan hubungan ini sekarang! Jika Allah menghendaki kita berjodoh, maka suatu saat Dia - lah yang akan menyatukan kita." Fathur mencoba memahami penjelasan Indah. Mungkin hatinya tak rela melepas Indah sebagai mantan kekasihnya tapi keputusan Indah tak dapat diganggu gugat.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Indah kemudian.


"Apa?" Fathur mengerutkan keningnya.


Belum sempat Indah mengajukan pertanyaannya, mereka telah sampai di depan rumah Ibnu. Hanya Indah yang masuk ke rumah Ibnu sedangkan Fathur menunggu di luar.


Indah mengucapkan salam dan dijawab oleh Ibnu. Indah memberikan dompet Ibnu dan berterima kasih atas apa yang diberikan Ibnu di rumah makan. Ibnu pun tak lupa berterima kasih karena Indah telah mengembalikan dompetnya yang tertinggal di sana.


Indah melihat ke dalam rumah Ibnu seperti mencari sesuatu. Pandangan Indah diketahui Ibnu. "Apa yang kamu cari, dek?"


"Orang tua mas kemana?" Tanyanya


"Oh, mereka kembali ke rantau tiga bulan yang lalu!" Jawab Ibnu.


"Oh, maaf ya mas!" Indah merasa menyesal.


"Tak apa, aku sudah biasa ditinggal Mama dan Bapak!" Ucap Ibnu. Kemudian Indah pamit pulang karena hari sudah siang.


**Kembali ke Fathur**


"Apa yang ingin kamu tanyakan?" Fathur.


"Hubunganmu dengan Anik!" Jawab Indah datar.


"Oh, itu!" Fathur menatap kosong.


"Anik menginginkanku menjadi kekasihnya, tapi aku ga mau!" Lanjutnya.


"Kenapa?" Tanya Indah lagi.


"Tempatmu di hatiku tak kan tergantikan! Kamu berbeda dari yang lain. Sikap dan sifat mu aku suka!" Jelasnya membuat Indah tersipu malu.


"Jangan pernah benci aku ya?" Fathur menarik ujung bibirnya dan mengedipkan netranya.


"Aku ga akan menghakimi dan membenci orang lain tanpa sebab yang jelas, Fa!" Indah membalas senyum Fathur.


Mereka berpisah di depan rumah Indah.


🌼🌼🌼


Aku tau kamu orang tak punya, Thur! Bahkan Indah tak pernah meminta apapun darimu. Tapi kamu punya Cinta dan sejuta perhatian untuk Indah. Kamu mampu memahami dinginnya sikap Indah, egoisnya. Itu semua aku inginkan darimu. Aku iri pada Indah yang selalu kamu sayangi, selalu kamu lindungi meski dari jarak jauh. Sedangkan aku? Sama sekali tak ada cowok yang menginginkan aku menjadi kekasihnya. Kalo pun ada laki - laki yang dekat denganku, dia hanya menganggap ku seperti anak kecil. Dibelikan permen kemudian ditinggal begitu saja!


Anik pulang dan langsung masuk kamar. Berbaring di sana menatap langit - langit meratapi nasibnya yang selalu dijauhi cowok, termasuk Fathur mantan kekasih dari sahabat sekaligus sepupunya.


🌼🌼🌼


Jangan sungkan untuk tinggalkan jejak ya!!!


Like n koin receh sangat berharga untukku.


Komentarmu Inspirasiku😘😍🥰