My Brother

My Brother
Bumi Perkemahan



Tak di sangka dan tak diduga, ternyata yang datang adalah dua orang lelaki bertopi.


Satu orang menggunakan topi berwarna hitam. Satu lagi menggunakan topi berwarna navy. Keduanya membelakangi gerbang sekolah sehingga hanya punggung mereka yang terlihat.


"Siapa, kak?" Tanya Nurika pada senior yang menjaga gerbang masuk.


"Ga tau, tadi katanya mau ketemu Indah!" Jawab sang senior.


"Fathur!" Seru Indah dengan sedikit menarik sudut bibirnya.


Namun kedua pria itu belum menampakkan wajahnya membuat Anik yakin bahwa dua orang tersebut tidaklah ia kenal melainkan hanya Indah lah yang tau. Maka Fathur pun tidak ada dalam pikiran Anik. Begitu pula dengan Nurika. Jika saja salah satu diantara mereka adalah Fathur, maka laki - laki satunya pasti Ibrahim kekasihnya.


Jantung Indah berdetak semakin kencang. Bukan karena takut, melainkan karena ia yakin bahwa orang yang berdiri di luar gerbang adalah kekasih pujaan hatinya.


"Fa, ga usah maen - maen sama aku ya! Aku tau itu kamu!" Kata Indah dengan dinginnya.


"Meski kita jarang bertemu, jangan kamu kira aku ga bisa mengenalimu!" Lanjutnya.


Dua pria tersebut membalikkan badannya perlahan. Betul sekali perkiraan Indah. Mereka adalah Fathur dan Ibrahim. Indah hanya memandangnya dengan sedikit senyum. Namun senyum Nurika lebih lebar dari Indah.


"Nih, buat kamu!" Fathur memberikan paper bag ditangannya melalui celah pintu gerbang karena pengunjung yang datang setelah jam 21:00 tidak diperkenankan memasuki area perkemahan.


Tak banyak mengobrol, setelah Indah menerima paper bag dari Fathur dan berterima kasih ia pun pamit masuk dan beristirahat. Sedangkan Nurika dan Anik masih asyik berbincang dengan dua lelaki tersebut.


❤️❤️❤️


Dear,


Maafin aku ya!


Aku tau kamu gadis mandiri dan ga mau merepotkan aku. Tapi aku sama sekali tidak merasa direpotkan.


Aku datang ke bumi perkemahan karena aku merindukanmu dan ingin memastikan jika kamu dalam keadaan baik.


Hanya itu yang bisa aku berikan untuk menghangatkan tubuhmu, tolong di terima ya!


I L❤️ve you!


❤️❤️❤️


Itulah isi tulisan Fathur yang Indah temukan pertama kali saat membuka paper bag pemberian kekasihnya. di bawah selembar kertas, barulah Indah menemukan barang yang dimaksud oleh Fathur di dalam suratnya


Sebatang cokelat tanpa label terbungkus kertas berwarna biru muda. Bukan tanpa merk, Fathur sengaja membuka bungkus luarnya dan mengganti dengan warna kesukaan Indah.


Indah mencoba memakan cokelat tersebut. Saat lidahnya mengecap rasa cokelat tersebut, Ia terbatuk dan meminum air mineral yang juga berada di paper bag.


Seketika Indah meneteskan air mata, pandangannya kosong. "Fa, kamu dapat uang dari mana?" Gumam Indah dalam tangisnya agar tak terdengar oleh teman - teman satu tenda yang mulai terbuai mimpi indahnya.


"Ka, Indah kenapa?" Anik yang lebih dulu masuk ke tenda dan melihat Indah duduk meneteskan air mata dalam gelap kembali ke luar menemui Nurika.


"Indah, kamu kenapa?" Nurika yang terkejut dengan pertanyaan Anik langsung masuk dan bertanya pada Indah.


"Aku ga papa!" Jawab Indah dan menyeka air matanya.


"Terus, kenapa kamu nangis?" Sambung Anik.


"Aku cuma ga enak terima ini dari Fathur!" Indah menunjukkan cokelat pemberian Fathur pada kedua sahabatnya.


"Ga papa, Ndah! Nih, aku juga dapat dari Ibrahim!" Nurika menunjukkan miliknya pada Indah. Namun pemberian Ibrahim tak semahal apa yang diberikan Fathur pada Indah.


"Iya nih, Indah! Aku yang ga dapat apa - apa, malah kamu yang nangis!" Celetuk Anik seperti menghibur anak kecil membuat Nurika tertawa dan Indah pun ikut tersenyum kemudian menyimpan paper bag miliknya.


Karena belum merasa ngantuk, mereka lebih memilih duduk di depan tenda sambil curhat dan menikmati camilan yang dibawakan oleh Ayah Indah.


Tiga puluh menit berlalu. Saat mereka bertiga sedang asyik mengobrol, Beberapa orang pembina berpatroli lewat di depan mereka.


"Belum ngantuk, kak!" Jawab Anik sambil memasukkan camilan ke mulutnya. Indah dan Nurika hanya tersenyum mengangguk.


"Waaaaah, banyak camilan nih! Gabung yuk!" Ajak salah satu pembina yang lain.


"Silahkan, kak! Ini ada kopinya juga!" Indah menyodorkan kopi hangat yang di buatnya sesaat sebelum ayahnya datang berkunjung.


"Komplit nih!" Jawab Anton


Indah mulai tak bisa menahan kantuknya, ia dan Nurika juga Anik pamit untuk tidur dengan meninggalkan camilan yang tadi mereka keluarkan.


Para pembina tersebut menjauhkan posisi duduk mereka dari tenda Indah dan kawan kawan menuju ke tengah lapangan. Mereka tak lupa membawa Camilan dan kopi yang diberikan Indah.


Sebelum Subuh, Indah sudah terbangun dan keluar tenda untuk membersihkan sampah sisa camilannya di depan tenda. Namun tak ada jejak camilannya di sana.


"Sudah bangun, dek?" Tanya Anton yang sedang lewat membawa senter.


"Iya, kak!" Jawab Indah.


"Makasih ya camilannya, semalam kami bawa camilan dan kopinya ke tengah lapangan. Kami menikmatinya dengan pembina yang lain!" Jelas Anton.


"Sama - sama, kak!" Jawab Indah singkat.


"Ada lagi ngga, dek? Buat ronda nanti malam?" Lanjut Anton usil.


"Ada, kak! Datang saja ke sini untuk mengambilnya setelah acara api unggun usai!" Jawab Indah dengan senyum ikhlasnya.


"Doyan, kak!" Celetuk Anik yang terbangun karena percakapan Indah dan Anton.


Hehe... Anton nyengir kuda dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Godain terussssss, biar ngikuuuuut!" Oceh Nana yang baru bangun. Nana berdiri di depan tenda yang bersebelahan dengan tenda milik Indah.


"Apa kamu, ikut - ikutan ngemeng?" Anik emosi dan menghampiri Nana.


"Mulut - mulut gue, ngapain lu sewot?" Nyinyir Nana.


Terjadi saling Jambak antara Anik dan Nana yang dilerai oleh Indah dan Anton. Suara mereka membuat para pembina dan anggota yang lain terbangun dan berlarian menghampiri mereka.


Setelah Nana dan Anik berhasil di pisahkan, mereka semua bergantian keluar sekolah menuju rumah penduduk untuk numpang mandi dan Shalat subuh berjamaah di masjid dekat sekolah. Indah pergi ke rumah Tante Ira adik Bu Sri. Anik dan Nurika ikut bersama Indah karena mereka berdua tidak mempunyai keluarga yang bertempat tinggal di sekitar sekolah mereka.


"Daaaaah, kalian bertiga!" Dayat berlari mengagetkan mereka bertiga. Dayat tak ingin mengajak tiga bersahabat itu karena jarak rumahnya lebih jauh dari rumah Ira dan ga mungkin ia mengajak tiga cewek mandi di rumahnya.


Shalat Subuh berjamaah selesai. Mereka kembali ke sekolah untuk melanjutkan kegiatan perkemahan.


Kegiatan penjelajahan di mulai, Indah satu regu dengan Anik dan Nurika saling bersaing memecahkan teka teki yang ada dengan regu yang lain terutama dengan regu Nana.


Tanpa Indah sadari, ada beberapa orang yang mengikutinya dari belakang barisan Indah. Siapa lagi kalau bukan Ibnu, Faika, Fathur dan Ibrahim.


 


Salam PRAMUKA!


Salaaaam!


Jangan lupa like, vote ya!?!?


Koin receh juga author ga nolak!!!


Komentarmu semangatku!!!💋💋💋