
Ayah adalah orang kedua yang selalu sayang dan rela berkorban apapun kepada kita setelah Ibu. Ayah adalah manusia kuat yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kita.
Beliau menafkahi kita sebagai anaknya, Ayah rela bekerja banting tulang sepanjang hari demi keluarga kecilnya.
Rela kerja keras menyekolahkan anaknya sebagai pemimpin keluarga yang siap berkorban jiwa dan raga. Sungguh mulia sosok Ayah tercinta.
Ayah, adalah orang yang selalu mengingatkan jika kita salah, orang yang selalu belanja di depan saat ada orang yang menyakiti kita.
Kita, sebagai anaknya tidak akan mampu menghapus semua jasa yang sudah pernah Ayah berikan kepada kita. Dari mulai merawat dan mendidik dari kecil hingga dewasa.
Sebagai seorang anak, kita wajib untuk selalu mendoakan ayah kita untuk diberikan kesehatan dan umur yang berkah agar bisa meningkatkan kesuksesan kita dan bangga dengan kita.
🌹🌹🌹
Pak Yusuf sedang duduk santai di halaman belakang rumah. Mengawasi ayam - ayamnya sembari menikmati sebatang rokok. Entah apa yang berada di pikirannya.
Seperti biasa setelah selesai membantu ibu, Indah menghampiri sang ayah. Walau terkadang tak ada obrolan antara mereka berdua, Indah mengisinya dengan sekedar melepas lelah. Memetik jambu yang tak pernah istirahat menyajikan buahnya.
Jika hasilnya banyak, maka Pak Yusuf akan segera membuka pintu pagar belakang untuk Indah.
Untuk apa? Untuk membagikannya pada anak - anak yang sedang bermain di sekitar tempat tinggal mereka sore itu. Tak jarang para orang tua yang sedang mengawasi anak - anaknya juga menginginkan buah jambu tersebut dan Indah membagikannya dengan senang hati.
Tak banyak warga yang memiliki pohon buah sehingga mereka begitu gembira menerima buah pemberian Pak Yusuf daripada harus membelinya ke pasar.
Buah jambu habis dibagikan. Pak Yusuf menutup pintunya dan kembali duduk di tempat semula dan memanggil Indah. Indah duduk di samping ayahnya.
"Ayah punya kejutan buat Indah!" Pak Yusuf berbicara serius dan menatap lurus ke depan.
"Kejutan apa, Ayah?" Tanya Indah penasaran.
"Ayah merencanakan pesta ulang tahunmu!" Jawabnya masih dengan ekspresi datar.
"Benarkah?" Indah sontak tak percaya.
"Iya!" Pak Yusuf tertawa kecil melihat ekspresi gadis kecilnya.
"Yeeeeey! Terima kasih, Ayah!" Indah kembali duduk dan memeluk tangan Pak Yusuf.
"Tapi dengan satu syarat!" Pak Yusuf kembali berkata tanpa ekspresi.
Seketika senyum Indah memudar. "Apa syaratnya, Ayah?"
"Indah hanya akan menyiapkan undangan dan konsep teman - teman yang ingin kamu undang. Selebihnya biar Ayah dan Ibu yang mengurusnya!" Jelas Pak Yusuf yang disetujui oleh Indah.
"Baiklah, Ayah!" Indah berlalu menuju dapur menemui ibunya.
Satu Minggu waktu yang Indah punya, meski dirinya hanya kebagian tugas menyiapkan dan menyebar undangan.
Tak ingin rasanya Indah merepotkan orang lain termasuk teman bahkan sahabatnya. Ia melakukan semuanya sendiri.
Indah mengundang teman - teman sekelasnya, juga teman sebaya di sekitar rumahnya serta tak lupa mengundang Ibnu, Faika, Fathur dan Ibrahim.
Rasa bingung melanda dirinya saat akan menuliskan nama Fathur. Namun dengan berat hati, ia mengundangnya. Menitipkannya pada Ibrahim.
🌼🌼🌼
Ibnu yang menerima undangan Ulang tahun adiknya merasa kebingungan menentukan hadiah yang akan diberikan.
"Nih, ada kiriman dari Mama mu!" Faika menyodorkan amplop kecil berwarna cokelat.
Ibnu menerima amplop tersebut dan membawanya masuk ke kamar. Tentu setelah mengucapkan terima kasih.
*To: Ibnu.
Assalamualaikum Wr. Wb.
Sayang, apa kabar? Semoga selalu dalam lindungan Allah. Amin ya Rabbal Alamin!!!
Nak, Mama sengaja berbicara denganmu lewat surat.
Dua hari lagi adalah hari Ulang Tahun adikmu yang ke tiga belas. Di dalam amplop ini terdapat sepasang anting emas. Berikan pada adikmu sebagai kado Ulang tahun dari Mama. Tapi pesan mama, Jangan katakan apapun tentang kita. Biarlah Pak Yusuf Ayahnya yang menjelaskan pada adikmu jika sudah sampai waktunya.
Juga jangan lupa jaga Indah, meski dari jarak jauh.
Uang yang Mama kirim setiap bulan tidak hanya untuk Ibnu sendiri, berbagilah dengan Adikmu karena ia adik kandungmu!
Sekian dari Mama.
Wassalamualaikum Wr. Wb*.
Ibnu melipat surat dari Mamanya dan mencari anting yang dimaksud di dalam amplop cokelat. Sepasang anting emas yang begitu cantik.
"Ini pasti cocok buat adek, Ia akan cantik jika memakai anting pemberian Mama!" Gumam Ibnu sambil tersenyum membayangkan Indah memakai anting tersebut.
Ibnu memasukkan kembali surat dan antingnya ke dalam amplop dan meletakkan di laci meja dekat tempat tidurnya.
Ibnu mengunci kamarnya dan bergegas keluar untuk membeli kotak perhiasan mini dan paper bag mini pula untuk pembungkusnya.
Pesta Ulang tahun akan segera di mulai. Namun kue Ulang Tahun Indah tak kunjung datang. "Apa Ayah lupa membelinya?" Gumam Indah.
Acara di mulai tanpa kue ulang tahun, tanpa lilin. Diawali dengan doa yang di pimpin langsung oleh Pak Yusuf.
Meski kecewa, tapi Indah bersyukur karena Ayah dan Ibunya begitu menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri.
Lagu Happy Birthday tiba - tiba terdengar dari suara yang berasal dari depan pintu yang tertutup. Indah yang penasaran, membuka pintu dan...
Betapa terkejutnya Indah saat melihat Nenek Rifa membawa kue ulang tahun Indah diikuti rombongan keponakan Pak Yusuf yang dipimpin oleh Abil sang paman.
Indah meniup lilin di atas kue yang dibawa oleh Nenek Rifa.
Potong kuenya... Potong kuenya......
Mungkin terlihat kekanakan, tapi mereka penasaran. Siapakah orang yang akan mendapatkan suapan potongan kue dari Indah?.
Dag Dig Dug hatiku.....
Nurika dan Ibrahim berharap Indah memberikannya pada Fathur. Sedangkan Anik berharap sebaliknya.
"Aku akan memberikan kue ini kepada orang yang selama ini sangat menyayangiku dan mencintaiku melebihi dirinya. Ia yang selalu mendampingiku saat susah maupun senang, sehat ataupun sakit. Menuntunku berjalan, terjatuh, bangkit kemudian berlari. Berjuang mencari nafkah menghidupiku.
Doaku selalu terucap di setiap usai Shalatku."
"Ayah.......!" Indah berlari kecil menghampiri Pak Yusuf yang berada di dekat pintu. Memberikan potongan kue ditangannya kepada Sang Ayah.
"Dan....." Kalimat Indah terputus dan diam sejenak menahan air matanya.
"Untuk seseorang yang telah sabar merawat ku dari kecil hingga seperti sekarang ini!"
Indah memberi potongan kue keduanya untuk Sang Bunda. "Ibu...! Terima kasih atas semua yang kau berikan untukku!" Pak Yusuf ikut bergabung bersama Anak dan Istrinya. Mereka berdua memeluk Indah penuh kehangatan.
Yeeeeeeeee, prok prok prok!!!
Suara sorak dan tepuk tangan meriah terdengar dari seisi rumah tersebut.
Setelah itu para undangan menikmati hidangan yang telah di sediakan oleh Bu Sri.
Singkat cerita, acara selesai. Teman - teman Indah mengucapkan selamat dan memberikan kado.
Satu per satu dari mereka pamit pulang, kecuali Nurika, Anik, dan Faika yang terlihat masih membantu Indah membereskan sisa pesta.
Nurika dan Faika sengaja belum pulang karena mereka benar - benar ingin membantu pekerjaan Indah. Lain halnya dengan Anik yang penasaran dengan isi kado yang diberikan Fathur untuk Indah.
Harapan Anik sia - sia karena Pak Yusuf tak mengijinkan Indah membuka kadonya saat itu juga karena Pak Yusuf khawatir jika Indah kelelahan dan jatuh sakit.
🌼🌼🌼
Setelah baca jangan lupa like ya!!!
Komentarmu Inspirasiku😘😍🥰