My Brother

My Brother
Aku merindukanmu



Indah dan Fathur duduk di teras rumah setelah Fathur selesai dengan cuci tangannya.


Fathur mencoba mengakrabkan Indah dengan adiknya, Fatima.


Indah dan Fatima cepat akrab, pasalnya mereka berdua seumuran.


Namun Fatima yang sama pemalu seperti kakaknya, lebih memilih kembali ke kamar untuk melanjutkan tugas sekolahnya. Sedangkan orang tua mereka, sudah sejak pagi berangkat bekerja.


"Fa!" Indah membuka pembicaraan.


"Ya!" Jawabnya singkat.


"Kita ke tempat Nurika dan Ibrahim yuk!" Ajak Indah.


"Kenapa ga disini saja? Biarkan mereka berdua melepas rindu, seperti diriku merindukanmu!" Fathur berkata tanpa memandang Indah yang berada di sampingnya.


"Ye......." Indah bersorak sambil bertepuk tangan.


"Kenapa?" Fathur bertanya dan tersipu malu.


"Sejak kapan bisa gombal?" Indah melihat wajah lucu Fathur.


"Sejak aku merindukanmu!" tetap tertunduk melihat lantai.


Indah memiringkan kepala dan melihat wajah Fathur yang masih tertunduk.


"Berani ngomong tapi ga berani memandang!" Indah berdiri di hadapan Fathur kemudian melangkah menuju tempat Nurika dan Ibrahim berada. Disusul Fathur yang membawa sebuah pisau dapur dengan tujuan akan mengupas kan sawo untuk Indah. Tak lupa sebuah tikar juga dibawanya.


Di bawah pohon sawo.


Indah, Fathur, Nurika dan Ibrahim duduk beralaskan tikar yang di gelar oleh Fathur. Mereka bercanda dan tertawa riang bersama membuat orang yang mendengar ikut tertawa. Sesekali Fathur menyuapi Indah dengan potongan sawo yang sudah dikupasnya.


"Aku kapan?" Suara Nurika merajuk pada Ibrahim saat melihat kemesraan Indah Fathur.


"Nungguin ya?" Indah meledek Nurika yang cemberut.


"Nungguin disuapin apa nungguin pisau?" Indah kembali menggoda sahabatnya.


"Wuoy! Ni pisau aku nganggur!" Fathur memanggil Ibrahim karena Indah mengajaknya jalan - jalan di sekitar mulut Goa. Mereka lagi - lagi meninggalkan Nurika dan Ibrahim berdua.


Indah dan Fathur berjalan beriringan ke tempat yang diinginkan Indah dan duduk tak jauh dari mulut goa.


Beberapa menit kemudian, Duo "i" bergabung dengan Indah Fathur. Ada yang terlupakan oleh mereka. Anik tidak berada bersama sahabat - sahabatnya.


Sebenarnya bukan karena lupa, Indah dan Nurika memang tak berniat mengajak Anik karena mereka menjaga dari kemungkinan terburuk yang terjadi jika Anik ikut bersama mereka.


Saat sedang asyik duduk dan mengobrol, Indah melihat pohon seruni yang sedang berbunga. Indah memetiknya dan menikmati wanginya.


"Suka?" Fathur berdiri di belakangnya.


"Iya, aku suka banget!" Jawab Indah dengan senyumnya.


Fathur memetik beberapa tangkai bunga seruni dan merangkainya kemudian memberikannya pada Indah. Meski tanpa kata, Indah menerimanya dengan senang hati.


Nurika dan Ibrahim memperhatikan dua sejoli sahabat mereka. Tak disangka mereka bisa seromantis itu. Sepasang kekasih yang jarang bersama. Tak pernah saling merayu bahkan sama - sama pemalu. Namun keduanya masih bisa saling menghargai.


"Aku ga nyangka kalo Fathur yang pemalu bisa se romantis itu pada Indah" Ibrahim berbicara menatap Indah dah Fathur.


"Iya! Indah juga biasanya bersikap dingin sedingin salju, Tak banyak bicara, namun sejak dia masuk SMP sikapnya mulai berubah. Dia menjadi lebih periang" Jelas Nurika yang mengenal Indah sejak SD.


"Pulang yuk!" Indah menghampiri Nurika dan mengajak yang lain pulang.


Mereka kembali ke rumah Fathur untuk mengambil sepeda. Fathur dan Ibrahim mengantar Indah dan Nurika ke rumah masing - masing.




Jangan lupa, like n komentar ya???


Ditunggu koin recehnya juga!!!


😘😍🥰