
Leon memandang tubuh lemah Naomi dengan perasaan iba. Ia menyesal dan terus merutuki kebodohannya yang bisa bertindak begitu bejat karena rasa dendamnya pada sang Ayah.
Dan kini, Adik yang paling ia cintai telahenjadi korban. Tubuh gadis itu di hiasi beberapa warna biru lebam pada beberapa titik tubuhnya. Darah yang telah mengering juga nampak pada organ vitalnya.
Leon menjambak rambutnya frustasi, kini ia menangis meratapi kondisi Adiknya yang begitu mengenaskan. Menangisi nasip Malang yang dialami oleh Naomi karena ulah biadabnya.
Lelaki itu mengambil air dengan handuk kecil berwarna merah tua. Handuk tersebut ia celupkan ke dalam air hangat dan ia kompreskan pada lebam di tubuh Adiknya.
Gadis itu merintih sakit di dalam tidurnya, membuat Leon kembali menitikan air mata sekaligus ikut merasa nyeri setiap kali Adiknya mendesis menahan sakit.
"Maaf ... maaf ... maaf." hanya itu yang mampu ia ucapkan. Leon terlalu terpukul dengan apa yang terjadi. Ia tak dapat membayangkan nasip gadis itu ke depannya bagaimana.
Leon segera menghubungi Tamara, ia tak akan Sudi menghubungi Ricard karena rasa kesalnya pada pria itu masih begitu dalam. Namun, Leon mengurungkan niatnya karena pasti Ibunya tak akan sanggup melihat putrinya dalam kondisi sebegitu mengenaskan.
"Sa-kit ... ma-ma ... hiks ... sa-kit." Leon yang mendengar rintihan memilukan dari Naomi yang dalam keadaan setengah sadar, menjadi gemetar dan seakan ikut merasakan penderitaan Adiknya, ia mulai mengeluarkan keringat dingin, ketakutan yang teramat besar mulai menyelimutinya.
Ia tak sanggup melihat sang Adik yang terlihat begitu menderita. Lelaki itu bergegas menghubungi seseorang yang bisa ia mintain tolong saat ini.
Dengan gemetar Leon menghubungi orang tersebut, dan tanpa menunggu lebih lama lagi orang yang ia hubungi datang untuk membawa sang Adik ke rumah sakit.
***
Rasa bersalah mulai menyelimuti diri Leon, lelaki itu terus mengurung dirinya di apartemen. Ia menolak bertemu ketika Ricard dan Tamara datang ke apartemennya untuk meminta pertanggung jawaban.
Tangisan Naomi serta semua perlakuannya pada wanita itu terus membayangi dirinya, lelaki itu bahkan tak bisa tidur jika tak menelan beberapa butir obat tidur.
Ia akan terus terbangun dan menjerit memanggil nama Adiknya. Ia akan menangis bahkan berteriak frustasi kala keinginannya untuk bertemu dan melihat keadaan Naomi terhalang oleh rasa takutnya sendiri.
Hanya Riza dan Vebra yang menemani dan terus menenangkan Leon. Vebra tak menghakimi Leon sama sekali, ia justru merasa iba akan nasib tunangannya tersebut saat ini.
Beberapa kali Vebra dan Riza akan melihat kondisi Naomi yang jauh dari kata baik-baik saja. Naomi, gadis itu seakan kehilangan kesadarannya. Ia hanya duduk diam termenung dengan air mata yang terus mengalir.
Ia mengabaikan semua orang yang berusaha berbicara padanya, ia mengabaikan Vebra dan Maura yang terus menceritakan hal-hal menarik agar Naomi mau merespon mereka.
Dan yang lebih menyakitkan adalah, Naomi yang akan menangis histeris jika di dekati oleh seorang lelaki. Meskipun itu Ricard sendiri.
***
Leon kini duduk di sofa ruang tamu kediaman Ricard, lelaki itu terlihat menunduk pasrah ketika sang Ayah akan melesatkan tinjunya pada pipi kanan Leon.
Ia tak mengelak, bahkan ia juga telah siap jika harus dimasukkan dalam penjara atas perbuatan asusilanya. Leon siap dengan semua hukuman yang akan dijatuhkan padanya.
Namun, hukuman dari Ricard jauh lebih menyakitkan daripada hukuman penjara yang seharusnya ia terima, yaitu ia harus menikahi Naomi dan merawat gadis itu.
Bukan karena Ricard tak menyayangi putrinya, hanya saja ia tahu hukuman terbaik apa yang pantas Leon dapatkan atas perbuatannya.
Mungkin memang Ricard ingin ia mati secara perlahan. Sedangkan Tristan, entahlah lelaki itu pergi ke mana. Yang jelas ia pergi bersama Dinda ke luar negri tiga hari sejak Naomi masuk ke rumah sakit.
"Ini hukuman untukmu, Leon! Kamu harus tahu betapa menyakitkannya melihat orang yang paling kita cintai menderita. Apalagi itu karena ulahmu sendiri!" Ricard berkata dingin pada Leon. Lelaki muda itu menunduk, ia merasa bersalah dan terus mengutuk dirinya sendiri.
"Rawat dia dengan baik dan setelah Naomi sembuh ... menikahlah dengannya. Tunjukkan kamu benar-benar mencintainya dengan menjaganya, bukan merusaknya seperti ini." Ricard berjalan meninggalkan Leon yang terduduk diam di sofa seorang diri.
***
Ricard menatap nanar pada gadis yang kini tengah terduduk diam di atas kursi roda yang selama beberapa hari ini menjadi tumpuannya.
Naomi, gadis cantik itu menatap kosong pada jendela kamar rumah sakitnya yang menampakkan kebun bunga begitu asri yang terletak pada samping kanan rumah sakit tersebut.
Tak ada yang bisa ia lakukan, hanya duduk diam sepanjang hari, dan akan meminta bantuan pada seorang perawat untuk membantunya membersihkan diri.
Tak ada yang berani mendekatinya, gadis itu akan terus berteriak histeris jika ada lelaki di dekatnya. Bahkan, ia juga enggan bertemu dengan Ricard sekali pun lelaki paruh baya itu adalah ayahnya sendiri.
Ketika mengetahui sang putri menjadi korban pemerkosaan, Ricard begitu terpukul hingga sempat terkena serangan jantung. Beruntung, nyawa lelaki itu masih bisa diselamatkan.
Beberapa teriakan histeris dari pasien lain sempat membuat Ricard kesal dan ingin membungkam mulut mereka satu persatu.
Namun, jika Ricard melakukan hal itu, ia sama saja dengan pasien lain yang memiliki gangguan mental.
Tamara menangis terisak di dalam pelukan suaminya, wanita itu merasa gagal menjadi seorang ibu yang seharusnya menjaga dan memperhatikan Naomi hingga kejadian seperti ini seharusnya tak terjadi.
Naomi kembali menangis histeris hingga membuat beberapa perawat terpaksa menenangkannya dengan cara menahan pergerakan tangan gadis itu.
Naomi dibaringkan di ranjang rumah sakit dengan tangan dan kaki yang terikat, juga seorang Dokter yang menyuntikkan obat penenang yang akan membuat gadis itu terlelap beberapa saat.
Melihat sang putri dalam kondisi begitu memprihatinkan, membuat Tamara tak sanggup lagi menahan Isak tangisnya. Ia jatuh pingsan sesaat setelah Naomi tertidur akibat suntikan tersebut.
Leon yang baru sekali melihat kondisi Adiknya, langsung jatuh berlutut di samping ranjang Naomi. Ia tak menyangka perbuatannya tempo hari bisa mengakibatkan Adiknya mengalami gangguan mental.
Bahkan saat tertidur dalam pengaruh obat pun, gadis itu masih meneteskan air mata. Sebegitu menyakitkan kah luka yang Leon torehkan untuk Adiknya?
Lelaki itu menggenggam tangan Naomi, menciumnya dan menangis terisak di sana. Ia terus mengucapkan kata maaf entah sudah yang ke berapa kalinya. Ia yakin seribu kali pun Leon meminta maaf, tetap tak akan merubah keadaan.
Maka, Leon memutuskan untuk menyetujui tawaran Ricard yang menyuruhnya menjaga dan merawat Naomi. Mungkin itu bisa sedikit meringankan rasa bersalah Leon atas kejadian tersebut.
"Aku akan menjaga kamu, Sayang ... mulai sekarang!" janji Leon terucap tepat di depan telinga Naomi pria itu membisikkannya, ia tak akan mundur dan akan melakukan apapun agar Adiknya bisa terlepas dari trauma pemerkosaan itu.
_____________Tbc.
*Jangan dibaca jika tidak suka. Saya tidak memaksa kalian untuk menyukai cerita saya.