
..."Love is a flower, you've got to let it grow"...
...~John Lennon~...
Seperti biasa, Indah pulang ke rumah tidak lebih dari pukul sembilan malam.
Bukan Indah namanya, jika ia langsung terlelap. Kecuali jika dirinya benar - benar mengantuk atau sakit kepalanya kambuh.
Hah, satu masalah selesai! Tinggal satu lagi. Bagaimana caranya aku bisa menolak Halim tanpa harus menyakiti hatinya? Pikir Indah saat membaringkan tubuh lelahnya menghadap langit - langit kamarnya.
Perlahan Indah mulai terlelap dan terbang ke alam mimpi.
"Bagaimana jawabanmu?" Tanya Halim saat jam istirahat.
"A - Aku tak bisa membalas cintamu!" Jawab Indah.
"Tak adakah ruang di hatimu untuk kau tulis namaku?" Tanyanya sendu.
"Aku ga bisa begitu saja menerima cintamu!" Indah.
"Untuk satu kesempatan?" Halim.
"Maafkan Aku!" Indah tertunduk.
Braaakkk. Halim menggebrak meja yang ada di hadapannya membuat Indah terjengkit kaget dan langsung duduk. Keringat dingin mengalir ditubuhnya.
"Astaghfirullah hal Adzim, Ternyata hanya mimpi!" Indah terbangun. Jam menunjukkan pukul Dua dini hari. Kemudian mengambil wudhu dan menghadap sang pencipta.
Indah tak bisa lagi tidur hingga pagi hari dan langsung melaksanakan rutinitas pagi dan berangkat ke Sekolah. Tentu setelah berpamitan pada sang Ibu.
"Ini uang sakumu ketinggalan, Nak!" Ucap Bu Sri yang melihat uang saku Indah tertinggal di meja belajarnya.
"Iya, Bu! Memang sengaja Indah tinggal di meja, untuk membeli sesuatu nanti setelah Aku pulang ke Rumah!" Sahut Indah.
"Bagaimana jika kau membutuhkannya saat di Sekolah?" Tanya Bu Sri khawatir.
"Jangan khawatirkan Indah, Bu! Aku masih punya uang simpanan!" Jawab Indah, kemudian melajukan sepedanya menuju sekolah.
Penjelasan Indah cukup membuat sang Ibu percaya jika sang anak tak perlu dikhawatirkan.
"Hai, Apa kau tak merindukanku?" Dayat tiba - tiba muncul menepuk bahu Indah.
"Eh? Merindu?" Indah terkejut dan menoleh ke asal suara.
"Bagaimana aku bisa merindukanmu, sementara di ujung sana ada seseorang yang sangat merindukan dirimu!" Indah berbicara lembut memamerkan senyum terindahnya.
"Ah, Aku lagi...
"Hai, lagi pada ngomongin apa nih?" Tiba - tiba Ana datang menepuk pundak kedua sahabatnya.
"Lagi ngomongin kamu!" Indah.
"Emangnya aku kenapa?" Ana memanyunkan bibirnya.
"Oh seraaaaaammmm!" Indah mencibir saat melihat wajah cemberut Ana, membuat Dayat cekikikan.
"Day bilang dia kangen kamu!" Indah berkata sembari berlari kecil menghindari amarah dua sahabatnya.
"Indaaaaaah!" Day dan Ana mengejar Indah. Tanpa sengaja tingkah mereka menjadi perhatian seseorang diujung sana.
Candaan mereka berujung keringat di pagi hari.
"Ngomong - ngomong, dapat hadiah apa dari Halim?" Ana membuka suara.
"Dapat kado cokelat, sama seperti yang aku dapat di rumah Naura!" Indah sengaja tak berkata jujur pada Ana, karena Indah menganggap hal itu privasinya bersama Halim.
Sekolah berjalan sebagaimana mestinya, meski banyak buku Indah yang hilang dan rusak karena terendam banjir besar yang melanda kota tempat tinggal mereka beberapa waktu lalu. Beruntung ijazah dan arsip penting lain masih bisa diselamatkan. Indah yang memiliki kepandaian di atas rata - rata, masih bisa mengingat pelajaran sebelumnya.
"Ndah, di panggil Pak Wagiman tuh!" Anik memberitahu Indah jika dirinya dipanggil sang Guru BK.
"Assalamualaikum!" Indah.
"Wa'alaikum salam. Masuk, Indah!" Pak Wagiman.
"Ada apa Bapak memanggil saya?" Indah.
"Ada bantuan dari sekolah untuk kamu!" Pak Wagiman menyerahkan sebuah kotak besar pada Indah.
"Mungkin ini terlalu besar jika di bawa ke kelas, ambillah kemari saat jam pulang!" Lanjut sang guru BK.
"Baiklah, Pak! Terima kasih banyak!" Jawab Indah, kemudian pamit undur diri untuk kembali ke kelas.
"Ada masalah apa?" Tanya Ana diikuti langkah Dayat dibelakangnya.
"Ga ada masalah apa - apa!" Jawab Indah santai.
"Lalu?" Ana penasaran.
"Ga ada masalah, sahabatku tercinta, tersayang terbaik, rajin belajar, rajin bekerja, rajin menabung, juga rajin keponya!" Sahut Indah panjang kali lebar seraya mencubit gemas pipi Ana.
Ana mengusap pipinya yang memerah disertai BiMoLi ( Bibir Monyong Lima senti ) kesal pada Indah.
"Aku dapat bantuan dari sekolah dan masih ada di ruang BK, karena barangnya banyak banget!" Lanjut Indah.
"Bilang donk, ga perlu pake' acara cubit pipi aku juga!" Ana masih memanyunkan bibir membuat Indah dan Dayat tertawa.
Saat jam istirahat, Indah, Ana dan Dayat hendak pergi ke ruang BK. Mereka penasaran dengan bantuan sekolah yang ditujukan pada Indah.
"Indah, bisa Aku bicara sebentar?" Halim menarik lembut tangan Indah.
"Eh, Maaf, Aku sedang buru - buru! Bisakah kita bicara saat jam istirahat kedua?" Indah memberikan penawaran.
"Bisa, Aku tunggu ya!" Jawab Halim melepaskan tangan Indah.
Tiba di ruang BK, sang guru sudah mengerti jika Indah ingin tahu isi kardus besar tersebut.
"Day, tolong angkat kardus besar itu ke hadapan Indah, agar kalian bisa lihat apa isinya!" Perintah Pak Wagiman, karena beliau melihat Dayat ikut bersama Indah. Dayat pun mengiyakan perintah sang guru.
"Indah, Bapak titip ruang ini sama kamu, karena Bapak ada keperluan di luar sekolah sebentar. Kuncinya ada di belakang pintu!" Pesan Pak Wagiman sebelum pergi.
"Baik, Pak!" Jawab Indah sembari menundukkan kepala sopan.
Setelah Pak Wagiman pergi, mereka membuka bungkusan yang ternyata berisi Buku pelajaran dan buku tulis serta alat tulis lainnya.
"Day......
"Aku akan membantumu membawa pulang semua ini!" Belum sempat Indah meminta tolong, Day sudah lebih dulu menawarkan bantuan.
"Terima kasih!" Ucap Indah dengan senyum mengembang.
Setelah tau apa isinya, mereka kembali ke kelas. Tak lupa Indah mengunci ruang BK dan membawa serta kuncinya di dalam saku seragamnya.
"Aku dengar kamu dapat bantuan dari sekolah! Apa itu benar?" Tanya Anik.
"Iya, benar!" Indah
"Kalau kamu dapat, kenapa Aku tidak?" Cibir Anik.
Pasalnya iya juga terkena musibah banjir, bahkan tinggi air di rumah Anik menutupi atap rumahnya. Semua pakaian Anik dan keluarganya terendam banjir. Sama seperti Indah, hanya barang - barang dan surat - surat berharga yang bisa mereka selamatkan.
"Aku juga tidak tau bagaimana cara mereka berbagi. Mungkin nanti akan tiba giliran kamu dipanggil oleh Pak Wagiman!" Jawab Indah bingung.
"Semoga saja!" Anik memutar mata jengah. Ana mengusap lembut punggung Indah bermaksud menenangkan hati sahabatnya yang merasa bersalah karena Anik tidak mendapatkan apa yang Indah dapat hari ini.
Mereka berniat mencari tau apa penyebab korban banjir tidak semua mendapat bantuan banjir dari sekolahnya.
**Flashback on**
Pasca banjir beberapa hari yang lalu, semua guru mengadakan rapat membahas tentang beberapa kerusakan barang - barang sekolah serta korban banjir yang merupakan keluarga besar SMP N 1.
Kepala Sekolah memutuskan memberikan bantuan kepada Guru berupa bahan makanan dan seragam mengajar. Untuk para siswa, pihak sekolah akan memberikan buku pelajaran dan buku tulis serta alat tulis lainnya juga tas beserta seragam sekolah lengkap. Namun sebelum menentukan siapa saja yang berhak atas bantuan tersebut, sekolah terlebih dahulu melakukan survei kepada Guru dan Siswa korban banjir, termasuk Indah dan Anik.
Saat survei dilakukan ke rumah masing - masing, Indah dan Bu Sri mengatakan dengan sejujurnya, apa yang mereka alami dan kerugian apa saja yang harus mereka tanggung. Sedangkan Anik dan keluarganya merasa tidak perlu mendapat bantuan apapun.
**Next** \>\>
Maaf ya, Kak!
Chapternya harus saya cut karena ada tugas mendesak di dunia nyata!.
Jangan lupa like n vote serta koin recehnya!
Komentarnya juga ya, Kak!
Salam sayang dari Author😘