
"Apa kamu yakin mau masuk SMANSA?" Tanya Bu Sri.
"Iya, Bu! Apa ibu keberatan?" Jawabnya sekaligus bertanya pada sang Ibu.
"Ibu tidak pernah keberatan dengan keinginanmu, Nak. Karena ibu yakin kamu pasti bisa memilih mana yang terbaik untuk dirimu sendiri". Bu Sri.
"Terima kasih banyak, Bu." Indah memeluk ibunya.
Tak berkurang sedikitpun kasih sayang keduanya meski sama - sama mengetahui kebenarannya.
Di ujung lorong menuju kelas Indah, ia melihat Suparman yang berlarian ke arahnya. "Ada apa lari - lari?" Tanya Indah heran.
"Ga apa, hanya ingin duduk dekatmu saja". Jawab si Superman.
"Ada - ada saja, kamu!" Indah.
Setelah mengatur nafas, Parman bertanya pada Indah akan keikutsertaannya rekreasi ke daerah Bali.
"Sudah aku bilang kan kalau aku ga bisa ikut!" Jawab Indah.
"Kali aja kamu berubah pikiran, iya 'kan?" Parman.
"Aku memang diijinkan oleh ibu. Tapi aku sendiri yang ga mau, Permeeeen!" Indah menarik hidung si Parman.
"Ya udah, kalau begitu kita daftar bareng aja yuk!" Ajak Suparman.
"Masalahnya ada pada pilihan sekolah kita yang berbeda. Aku pilih SMANSA sedang dirimu SMADA." Jelas Indah.
"Eh, iya ya" Parman menepuk jidat lupa.
Memang benar pilihan mereka berbeda. Beberapa teman mereka punya pilihan yang sama, namun sebagian besar dari mereka berencana ikut ke Bali. Hari Sabtu mereka akan berangkat menuju Bali dan akan kembali pada hari Senin. Satu hari sebelum keberangkatan, Para siswa diminta menghubungi wali kelas masing - masing untuk memastikan kembali jumlah siswa yang ikut serta. Termasuk yang tidak ikut.
"Ikut yuk!" Ajak Naura, sampai saat ini iya masih berharap Indah mau ikut bersamanya.
"Engga, Naura!" Tolak Indah dengan senyum khas nya.
"Ayolah, Indah. Aku yang bayar! Aku juga yang akan nanggung biaya kamu selama di Bali!" Wajah Naura memelas berharap Indah mau mengiyakan ajakannya.
"Kalian berangkatlah, Aku ga bisa ikut serta. Maaf!" Indah berkata sambil menangkupkan kedua tangannya meminta maaf. Tak lupa bumbu senyum ia tambahkan di bibir mungilnya.
Usai membagi kelompok, Siswa yang akan ikut serta diminta segera pulang untuk mempersiapkan keberangkatan mereka esok pagi. Sedangkan mereka yang tidak ikut berkumpul di Perpustakaan Sekolah untuk mengambil uang simpanan yang selama tiga tahun mereka tabung. Termasuk Indah dan Parman.
"Kenapa sih, Na Indah ga mau aku ajak ke Bali? Padahal aku yang bayar dan aku juga yang akan menanggung biaya hidupnya selama di Bali?" Tanya Naura pada Ana saat mereka menunggu Indah di samping perpustakaan.
"Dia ga mau ikut ke Bali bukan karena tidak punya uang, Naura. Indah hanya tak ingin meminta lebih banyak pada Ibunya. Masalah ajakanmu, Indah tidak mau banyak berhutang budi pada siapa pun!" Jelas Ana panjang kali panjang sepanjang jalan kenangan.
Naura mengangguk paham, karena ia pun mengerti jika Indah berteman dengan dirinya bukan karena harta.
"Indah!" Seru keduanya menghampiri Indah dan Parman diikuti beberapa teman lainnya.
"Ya?" Indah.
"Kalian belum pulang?" Tanyanya heran.
"Kami mau minta tolong sama kamu, apa kamu bisa?" Ana.
"What can I do for you?". Tanyanya menggunakan Bahasa Inggris. Bukan berarti Indah sombong, melainkan ia sangat menyukai Bahasa Asing tersebut.
"Leave everything to me!" Indah menengadahkan tangan meminta berkas - berkas yang akan ia bawa hari Senin.
"Ini berkasnya, ini uang pendaftarannya ya, Indah" Naura mengawali dengan memberikan map serta amplop.
"Aku juga ya, Indah!" Ana.
"Apa aku juga boleh minta tolong, Ndah?" Sahut Day.
"Boleh!" Sahut Indah. Dayat meminta tolong agar Indah juga mendaftarkan dirinya ke sekolah yang sama dengan Indah. Ya, Indah memang tak pernah menolak teman - temannya yang minta tolong selama itu untuk kebaikan.
"Kenapa ga minta tolong Safia aja, Day?" Celetuk Halim tidak terima jika ia harus minta bantuan Indah.
"Safia juga ikut ke Bali" Jawabnya singkat.
Tiga hari telah berlalu, Indah berangkat ke SMANSA ditemani Abil sang paman yang sejak beberapa hari yang lalu sudah dihubungi oleh kakak iparnya untuk menemani keponakannya.
Selain karena Indah keponakan tersayangnya, Abil juga alumni sekolah tersebut. Jadi ia hafal betul dimana tempat mendaftar.
"Berapa formulir, Dik?" Tanya salah satu staff tata usaha.
"Sepuluh, Bu" Jawab Indah sopan.
"Banyak sekali, Sayang?" Abi mengerutkan kening mendengar jawaban Indah.
"Iya, Om. Teman - teman aku nitip. Mereka sedang rekreasi ke Bali." Jelas Indah dan Abil hanya bisa geleng - geleng kepala.
"Ga sia - sia kakakku mengajarkan kebaikan pada gadis kecilnya. Semoga ini bermanfaat bagi Indah dan menjadi amal jariyah untukmu, Kak! Amin!" Abil bergumam sekaligus berdoa dalam hatinya.
Indah mengisi sepuluh formulir sesuai dengan data yang diberikan oleh sembilan orang temannya serta satu miliknya sendiri. Setelah semua urusannya selesai, Indah mengajak Abil langsung pulang ke rumah.
📱Ana
Bagaimana? Apakah kamu sudah mendaftar?
📱Indah
Beres!
📱Ana
Bagaimana denganku?
Terselip sebuah niat untuk mengerjai sahabatnya.
📱Indah
Astaga, Na. Maaf, Aku lupa ,🤦♀️
Membaca jawaban terakhir Indah membuat Ana langsung melakukan video call dengan Indah.
"Indaaaah, apa maksudmu LUPA?" Ana memberikan penekanan pada kata terakhirnya. Mendengar hal itu delapan orang lainnya menghampiri Ana dan wajah mereka terlihat oleh Indah
"Hehe, Nih!" Indah menunjukkan fotocopy formulir pendaftaran milik Ana yang sudah diisi nya pagi tadi karena aslinya sudah ia setor ke Panitia PPDB.
"Kamu ngerjain kita?". Ujar mereka serempak namun hanya ditanggapi dengan seringai Indah.
"Aku tu tadinya hanya berniat ngerjain Ana, eh ga taunya ada kalian semua!". Indah menutup mulut seolah dirinya keceplosan.
"Ooooooh, gitu ya!" Seru Ana.
"Ya kali kalian enak - enak liburan di Bali, sedangkan aku harus cape - cape ngisi sepuluh formulir di sini!" Indah berpura - pura merajuk.
"Ya, Maaf. Indah kan baik hati, tidak sombong dan rajin menabung!" Ana mencoba merayu sahabatnya yang anti rayuan.
"Ga ada uang receh buat gombalan receh kamu itu, Na!" Indah lalu memutuskan sambungan sepihak. Namun dibalik layar, Indah tertawa cekikikan karena berhasil menggoda teman - temannya. Pun dengan Ana yang sudah hafal sifat Indah. Tapi tidak dengan Halim yang masih bucin dengan Indah.
"Apa kamu capek mengisi formulir pendaftaran kami?" Isi chatnya.
"Engga, Ha. Aku hanya bercanda. Semuanya sudah aku isi dan aku setorkan!" Balas Indah.
"Oh, makasih ya?" Halim.
"Iya, sama - sama". Indah.
Sesampainya dari Bali, mereka masing - masing melakukan registrasi ulang. Kali ini Indah dijemput oleh Halim. Tak lupa mereka memberikan oleh - oleh khas Bali untuk Indah. Pulang dari SMANSA, mereka juga mampir ke rumah Dayat untuk berbagi pengalaman mereka selama di Bali dengan Indah.
........
Bersambung ya, Kak!
Sampai bertemu di Chapter berikutnya!
Terima kasih n Salam sayang dari Author.