
Kenapa perasaanku jadi tidak enak ya? Semoga tidak terjadi apa - apa pada Indah! Batin Bu Sri saat Indah mulai menghilang dari pandangannya.
Karena jam sudah menunjukkan pukul Tujuh lewat tiga puluh menit, Bu Sri memilih untuk melaksanakan Shalat Dhuha seraya mendoakan agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Indah.
Tiba di sekolah, tak ada siapa pun di sana. Hanya ada Pak Nasir salah satu pesuruh yang sedang membersihkan halaman sekolah.
"Eh, Indah! Mau kemana, ini kan hari Minggu. Bukankah sekolah libur dan kalian harus belajar di rumah untuk persiapan ujian besok?" Sapa Pak Nasir.
"Iya, Pak!" Jawabnya.
"Indah ada janji dengan teman di sini!" Lanjutnya sambil menunggu kedatangan Ibnu iya duduk di taman membelakangi gerbang sekolah. Sedangkan Pak Nasir melanjutkan pekerjaannya.
Indah memang jarang sekali membawa ponsel sehingga ia tak bisa menghubungi Ibnu dan hanya bisa menunggu.
Beberapa menit kemudian, seseorang menutup mata Indah dengan kedua tangannya. Jantung Indah berdegup kencang. Ia yakin bahwa seseorang itu adalah Ibnu sang kakak.
"Mas!" Suara Indah lirih.
"Tau aja!" Ibnu melepas perlahan tangannya dan duduk di samping Indah.
"Kok bisa tau kalo mas yang datang?" Basa - basi Ibnu.
"Kan udah janjian!" Sahut Indah.
"Ya, bisa aja kan orang lain yang datang?" Ledek Ibnu.
"Entahlah, mungkin benar kata pepatah yang menyatakan bahwa Darah lebih kental daripada Air! Tiap kali jantungku maraton, tu artinya mas sedang berada di sekitarku!" Jelas Indah membuat Ibnu melongo tak percaya dengan apa yang dikatakan sang adik.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang yuk!" Ajak Ibnu.
"Ayo!" Indah dan Ibnu beranjak dari taman menuju sepeda.
"Biar aku yang nyetir dan adek bonceng di belakang ya!" Pinta Ibnu dan Indah menurut.
Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di rumah Pak Salim. Sesampainya di sana, hati Indah berkecamuk antara rindu dan benci. Ia rindu lebih tepatnya ingin sekali berada diantara orang tua dan saudara - saudara kandungnya. Sementara di sisi lain ia iri pada mereka yang bisa hidup bersama meski dalam kondisi yang sangat sulit sekalipun. Hidup berdampingan dan saling melengkapi.
"Ayo masuk!" Ajak Ibnu setelah meletakkan sepeda Indah tak jauh dari rumah Pak Salim.
Setelah lebih dekat ke rumah sang Bapak, banyak pasang mata menatap mereka. Ya memang Pak Salim lima bersaudara. Semua saudaranya tinggal bersama dalam satu halaman namun tentu dengan rumah masing - masing.
"Yah, Ibnu datang bawa cewek!" Seru salah satu saudara sepupu Ibnu Alifa namanya.
"Tapi kok wajahnya mirip ya!" Alifa memandang lekat wajah Indah.
"Ya karena dia memang bukan kekasihnya melainkan adiknya!" Jawab Rahman sepupu yang memang sering bertemu Indah. Sehingga wajah Indah tak asing lagi untuknya.
"Langsung masuk aja, Tante! Ga usah dengerin omongan orang - orang tu!" Celetuk Heri membuat Indah menunduk malu atas panggilan Heri terhadapnya.
Semua mata menoleh pada Heri. "Tau dari mana kamu tentang Indah?" Tatapan tajam dan pertanyaan menohok tertuju pada Heri.
"Kak Heri satu sekolah dengan Bibi Indah!" Jawab Arafah adik Heri.
Indah dan Ibnu masuk ke rumah Pak Salim. Di sana ada Halimah tentunya. Duduklah di sini, Aku ke belakang dulu.
"Assalamualaikum!" Ucap Ibnu saat berada di belakang Halimah yang sedang memasak.
"Waalaikum salam!" Sahut Halimah kemudian membalikkan badan. "Kapan datang, kok mbak ga dengar?" Tanya Halim menyalami Ibnu.
"Baru saja! Karena tak ada orang di depan, maka aku langsung saja masuk. Ku pikir mbak pasti di dapur!" Jawab Ibnu.
"Kamu sendiri ke sini?" Maksud hati Halimah berbasa - basi. Iya tau Ibnu hanya akan datang dan pergi sendiri tanpa bantuan orang lain kecuali kakak - kakaknya sedang tidak sibuk.
"Aku bersama pacarku!" Jawaban Ibnu membuat Halimah senang sebab saat ini iya sedang kesepian tinggal sendiri di rumah itu.
Halimah menghampiri Indah yang duduk membelakanginya.
"Assalamualaikum, Dek!" Halimah berdiri di samping Indah. Seketika netra nya membola saat Indah menolehkan kepala ke arahnya.
"Waalaikum salam, Mbak!" Jawabnya dan berdiri mencium punggung tangan Halimah.
"Si - silahkan duduk!" Halimah gugup karena gadis yang Ibnu bawa yang katanya kekasih adiknya berwajah mirip dengannya bahkan bak pinang dibelah dua. Hanya saja wajah Indah lebih imut karena perbedaan usia.
"Iya, Mbak!" Indah nyengir kuda, sesungguhnya ia pun bingung namun segera ia sadari bahwa wanita yang mirip dengannya itu tak lain adalah saudarinya sendiri.
"Tunggu sebentar ya, Dek. Mbak buatkan minum dulu!" Pamit Halimah dan kembali ke dapur.
"Jelaskan pada Mbak!" Halimah menatap tajam Ibnu.
"Ada apa sih, habis ketemu pacarku langsung sinis aja? Ga setuju ya aku pacaran sama dia!" Ledek Ibnu seolah berbicara pada Ibu tirinya.
Halimah mengangkat gayung hendak menoyor kepala Ibnu meminta penjelasan.
Sejak kecil Halimah memang tak pernah tau wajah Indah. Sekilas ia hanya mendengar dari saudara laki - lakinya jika wajah Indah sangatlah mirip dengannya.
**Flashback On**
Saat memasuki usia remaja, Halimah adalah gadis pendiam dan penurut sehingga ketika Pak Salim mengatakan anak gadis tidak boleh berkeliaran di luar rumah, maka Halimah akan diam di rumah. Membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah.
Ketika beranjak dewasa, Ibunya meninggal dunia sedangkan sang Bapak sudah menikah lagi dengan Ibu tiri yang tak lain adalah Ibu dari Ibnu dan Indah. Maka secara otomatis Halimah lah yang menggantikan sang Ibu merawat keempat adik laki - lakinya membuat Halimah semakin tak bisa pergi kemana - mana apalagi ke kota tuk sekedar bertemu adik perempuan kecilnya.
**Flashback Off**
"Iya iya aku jelasin!" Ibnu berkata sambil menutup kepala menghindari gayung melayang.
Halimah menurunkan gayungnya seraya membuatkan teh hangat untuk tamunya.
"Katakan dulu apa yang membuta mbak penasaran?" Ibnu balik bertanya.
"Wajahnya mirip sekali denganku, tapi jauh lebih mirip dengan almarhumah Zumroh. Aku sempat berpikir jika dia Indah adik kita. Tapi aku ragu!" Halimah memasang wajah sedih.
"Tadi kau bilang dia kekasihmu. Sering aku dengar bahwa jika dua orang laki - laki dan perempuan berjodoh maka wajahnya akan mirip seperti saudara, sehingga anak - anak yang lahir wajahnya akan mirip dengan kedua orang tuanya!" Lanjut Halimah.
"Apa mbak tau wajah Indah?" Tanya Ibnu lagi.
"Justru itu mbak ragu, Nu! Mbak ga pernah sekalipun bertemu Indah. Hanya kakak - kakak mu yang pernah bertemu. Mereka mengatakan bahwa wajah Indah sangat mirip dengan almarhumah mbak Zumroh mu!" Halimah.
"Seandainya mbak bisa bertemu Indah sekarang, Apa yang akan mbak lakukan?"
"Kenapa masih kau tanyakan? Tentu aku akan memeluknya!" Senyum terkembang di sudut bibir Halimah membayangkan dirinya bertemu dengan sang adik yang lama dinanti kehadirannya.
"Ya udah, jangan melamun! Segera antar minumannya. Ntar keburu dingin lho!" Kata - kata Ibnu membuyarkan lamunan Halimah.
"Oh iya!" Halimah segera membawa nampan berisi teh hangat untuk tamunya diikuti Ibnu yang menahan tawa di balik punggung saudarinya.
"Silahkan diminum, Dek!" Halimah.
"Makasih, Mbak!" Meski ingin, tapi Indah tak berniat meminumnya.
"Kenapa ga dipeluk, tadi katanya mau dipeluk?". Ibnu.
"Ta - tapi ....
"Iya, Dia Indah adik kita!" Pekik Ibnu.
Halimah langsung berdiri di hadapan Indah dan menarik lembut tangan Indah agar berdiri. Mereka berdua berpelukan. Netra Indah melihat Ibnu meminta penjelasan.
"Ini Mbak Halimah anak Bapak yang tertua, Dek!" Jawab Ibnu.
...~~~...