My Brother

My Brother
Salah paham



Indah menoleh ke arah Arman. "Aku pernah mengalami hal yang sama?" Cakap nya menepuk lembut bahu Arman yang duduk disampingnya.


"Kapan?" Tanya Arman heran, pasalnya ia tak pernah mendengar kabar Indah tidak naik kelas.


"Saat kelas satu SMP. Di semester awal, Aku mendapat peringkat dua. Namun di semester berikutnya, Aku mendapat ranking tujuh. Mungkin Aku bisa frustasi sepertimu, tapi aku tetap bersemangat untuk mendapatkannya kembali. Dan hasilnya, sekarang aku bisa meraihnya walaupun Aku harus kehilangan cintaku!" Indah bercerita dengan tatapan lurus ke depan mengingat saat dirinya harus melepas Fathur.


Arman mendengarkan dengan rinci setiap kalimat Indah. "Itu artinya, Indah putus dengan Fathur bukan karena mereka tidak saling mencintai. Tapi karena Indah ingin mengembalikan prestasinya!" Telaah Arman dalam hatinya.


"Tu kan hanya sekedar turun peringkat bukan tidak naik kelas!" Tanggapan Arman menutupi perasaan kecewanya atas kalimat kehilangan cinta.


"Tapi aku kan juga malu!" Jawab Indah lagi.


"Maukah kau tetap menjadi kekasihku?" Tanya Arman.


"Aku ga akan ninggalin kamu jika kamu bangkit dan memperjuangkan kembali cita - citamu!" Jawab Indah penuh penekanan. "Dan bukan karena cinta!" Lanjut Indah membuat Arman berpikir.


"Maksud kamu?" Tanyanya.


"Aku ga mau jika kamu bangkit karena cintamu padaku! Aku mau kau pikirkan orang tuamu, masa depan dan cita - citamu!" Jelas Indah.


"Demi masa depan kita juga, 'kan?" Arman memandang lekat netra Indah berusaha meyakinkan kalo mereka akan hidup bersama.


"Aku ga bisa menjawab pertanyaanmu itu! Kita manusia hanya bisa berencana dan berusaha selebihnya Allah lah yang akan menentukan! Lagian kita ini masih terlalu kecil untuk memikirkan pernikahan. Cinta kita hanya sebatas cimon!"


Oh sungguh jawabanmu menyakitkan Indah. Kau anggap cinta Arman sebagai cinta monyet. Memang benar ya, Cinta remaja SMP itu hanyalah cinta monyet yang tak pernah memikirkan kebersamaan di masa mendatang. Meski kadang ada pasangan yang saling mencintai sejak remaja dan menikah serta menua bersama.


"Lalu, bagaimana dengan perasaanmu terhadap Fathur? Apa itu juga kau sebut sebagai cinta monyet sedangkan baru saja kau bilang harus kehilangan cintamu demi meraih prestasi?" Tanya Arman bertubi - tubi.


Muka Indah memerah karena marah. Pasalnya ia tak ingin orang lain mencampuri urusan pribadinya termasuk Arman.


"Ga perlu kamu ungkit masalah hubungan aku sama Fathur. Dia cinta pertamaku. Aku ga bisa melupakannya begitu saja. Maka dari itu Aku selalu menolak cintamu saat tiga bulan pertama kau menyatakan cinta!" Indah menaikkan suaranya.


"Lalu mengapa setelah tiga bulan, Kau mau menerima cintaku?" Tanya Arman lantang.


"Karena aku ga enak kalau harus terus menolak cinta kamu. Aku manusia biasa yang masih punya rasa iba! Meski aku tau ini akan menyakitkan perasaan kamu, Aku dan juga Fathur!" Jawab Indah tak kalah keras.


"Kalau begitu tak ada gunanya aku hidup. Cintaku tak berbalas. Sekolahku juga hancur!" Arman terduduk frustasi.


"Ya Allah, Apa yang sudah Aku katakan padanya!" Gumam Indah mengusap dada. "Tapi aku harus tetap membuat Arman kembali bersemangat!" Gumam Indah yang masih berdiri membelakangi Arman.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Bunuh diri? Lakukan saja!" Ana dan Ari berdiri dari tempat mereka duduk. Ana menghampiri Indah dan Ari berlari ke arah Arman dan merangkulnya.


......…….......


Bersambung!


Author mohon maaf karena up nya sedikit. Author harus menyiapkan makanan untuk berbuka puasa!🙏🙏🙏


Makasih untuk pembaca setia novel ini!


Jangan lupa like, komentar n vote di Chapter ini ya!!!