My Brother

My Brother
20



Gadis itu membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, tak peduli meski keringatnya terus mengucur lewat pori-pori kulitnya.


Ia menggerakkan bola matanya ke kanan dan ke kiri secara gelisah, air matanya sudah mengering dan tak bisa dikeluarkannya lagi saat ini.


Hanya isakan kecil yang sesekali terdengar di sela suara gigi yang bergemelatuk menahan tubuhnya yang juga menggigil.


Naomi, gadis itu kembali menatap was-was pada pintu kayu bercat putih yang mulai terbuka pelan. Ia berjaga-jaga kalau saja yang datang itu adalah Leon, Kakaknya.


Hingga akhirnya seorang wanita paruh baya datang bersama seorang suster yang biasa merawatnya. Tamara, wanita itu menatap iba pada sosok putrinya yang kini sudah sangat berubah.


Tubuhnya semakin kurus, pucat, dengan raut wajah ketakutan juga air mata yang terus berlinang. Bahkan kemarin ia sempat dibuat jantungan karena Naomi yang berusaha bunuh diri menggunakan pisau buah yang diletakkan di kamarnya. Asisten rumah tangga mereka teledor hingga lupa membereskan benda berbahaya di kamar Naomi.


Beruntung Leon segera datang dan merebut pisau tersebut, meski akhirnya Naomi berteriak histeris, menangis, dan terpaksa harus diikat oleh Ricard juga Leon agar tak membahayakan diri Naomi sendiri.


Kini ia sudah dibawa pulang ke rumah Leon, seorang suster menemani Naomi dan akan merawat gadis itu dengan sangat cekatan. Juga Miss Mariana yang akan selalu datang seminggu tiga kali untuk melakukan terapi.


"Ma-ma?" panggil Naomi lirih. Tamara segera memeluk gadis itu dan diam-diam menangis tak sanggup melihat putrinya yang dulu ceria berubah menjadi seperti itu.


"Iya, Sayang, Mama di sini," ucap Tamara menahan isakannya.


"Ma-ma," panggil Naomi lagi, kali ini dengan nada sedikit bingung.


Tamara menangis dan memutuskan keluar dari kamar sebelum ia semakin terisak di hadapan putrinya. Seorang suster memberikan obat untuk Naomi, juga menenangkan gadis itu agar kembali tertidur.


Leon dan Ricard sudah berdiri di depan kamar Naomi ketika Tamara keluar dari sana. Wanita paruh baya itu menghapus air matanya dan menatap kesal pada Leon, ia masih sakit hati atas apa yang putranya itu perbuat.


"Sudah puas kamu, Nak, menghancurkan hidup Adikmu sendiri? Sekarang kamu lihat dia, apa kamu tidak memiliki penyesalan atas perbuatannya ke Naomi?" tanya Tamara sarkas. Dari nada bicaranya terlihat wanita itu sangat kecewa dan juga marah pada Leon.


Ricard hanya menghembuskan napas lelah, seandainya ia dulu tak egois, maka kejadiannya tak akan serumit ini. Sekarang, kejadian kelam masa lalu pada Adik perempuannya telah sepenuhnya terjadi pada Naomi.


Menyesal? Ya, Ricard menyesal. Ia bahkan selalu meyibukkan dirinya dengan lembaran dokumen agar sedikit melupakan masalah Naomi.


Namun, semua itu tak ada artinya, ia tetap akan menangis diam-diam kala mengingat betapa hancurnya hidup Naomi sekarang.


Menyerahkannya pada Leon sebetulnya bukan karena ia ingin lepas tanggung jawab,akan tetapi ia tak sanggup melihat Naomi berada di dalam rumah yang sama dengannya dengan kondisi seperti itu.


Bahkan, Ricard hanya bisa menemui Naomi ketika gadis itu terlelap dalam tidurnya karena pengaruh obat yang diberikan oleh Dokter. Jika dalam keadaan sadar, Naomi akan berteriak histeris dan menjauhi Ricard atau lelaki manapun yang mendekatinya.


"Sudahlah, semua telah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Walaupun Papa kecewa padamu, tapi Papa berharap kamu menjaga Naomi dengan baik. Buktikan bahwa kamu benar-benar mencintainya." Ricard meski kecewa, ia tetap bersikap tenang. Meski dalam hati ia merasa hancur, akan tetapi ia sadar semua masalah ini berawal dari keegoisannya sendiri.


"Maafin Leon, Pa. Seharusnya Leon bisa berpikir jernih, bukan justru menambah masalah kian rumit. Leon janji akan berusaha membuat Naomi kembali seperti dulu." Leon menunduk di depan kedua orangtuanya. Lelaki itu akan bertanggung jawab atas semua perbuatan dirinya pada Naomi.


"Papa akan membatalkan pernikahan kamu dengan Vebra, begitupun Papa akan meminta maaf pada orangtua Tristan atas gagalnya pernikahan Naomi dengan putra mereka," ucap Ricard pasrah. Ia berjanji akan membuat semuanya menjadi lebih baik dan menutup kasus pemerkosaan putrinya agar tak terendus publik.


Ia bukannya ingin melindungi seorang penjahat, hanya saja ia tak ingin kehilangan dua anaknya sekaligus. Katakanlah Ricard egois yang mementingkan diri sendiri, karena meski ia begitu murka pada Leon, lelaki itu tetaplah putranya.


Ia tak ingin karier Leon hancur, biarkanlah ia dan Tuhan yang memberi hukuman pada Leon.


Ia yang menghukum Leon di dunia dengan cara menyuruhnya merawat Naomi, sudah pasti akan membuat Leon selalu menyesali perbuatannya.


Dan biarkan Tuhan yang menghukum putranya di akhirat kelak dengan cara-Nya sendiri.


"Kami titip Naomi, jaga dia dengan baik." Tamara berucap datar sebelum pergi. Wanita itu masih enggan menatap putra sulungnya yang sudah menatapnya penuh rasa bersalah.


Ricard menyusul Tamara menuju mobilnya setelah menepuk bahu kanan Leon, seolah menguatkan sang putra untuk menghadapi masalah di depannya yang sudah siap menanti dirinya.


***


Leon langsung melompat dari tempat tidurnya kala mendengar suara Naomi yang berteriak ketakutan. Gadis itu pasti tengah bermimpi buruk lagi seperti malam-malam sebelumnya.


Leon berlari ke arah kamar Naomi yang berada di samping kamarnya, tampak seorang suster dan dua orang wanita yang menjadi asisten rumah tangganya juga lari tergopoh-gopoh dari kamar mereka masing-masing.


"Naomi," panggil Leon sembari menepuk pipi gadis yang kini tengah menangis histeris dalam tidurnya.


Naomi membuka matanya, dan ia justru semakin menangis kala melihat Leon berada di dekatnya.


Apalagi dengan posisi pria itu yang memegang kedua bahu Naomi, gadis itu mendorong Leon, bahkan tak jarang juga lelaki itu terkena cakaran dari Adiknya.


Leon tak peduli, baginya melihat Naomi seperti ini sudah menjadi luka paling pedih mengalahkan pedihnya luka sayat sekalipun.


"Per-gi ... Kakak ja-hat ... Pergi," teriak Naomi semakin histeris. Hingga akhirnya suster tersebut menyuntikkan obat penenang dan membuat Naomi tertidur pulas dalam hitungan detik


"Maafin Kakak, Dek. Maaf," ucap Leon dengan penuh penyesalan. Lelaki itu menggenggam tangan Naomi dan mengecupnya dalam.


Ia tak menyangka akan menghancurkan hidup dan masa depan Adik kecilnya sendiri. Seandainya saja ia bisa berpikir jernih dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan, tentu kejadiannya takkan seperti ini.


***


Leon berlari di koridor rumah sakit dengan nafas tersengal dan jantung yang berpacu cepat. Bagaimana tidak, ia yang saat itu tengah syuting di telpon oleh asisten rumah tangganya bahwa Naomi melakukan aksi bunuh diri dengan melompat dari lantai dua kamarnya.


Ditambah lagi kemacetan yang Leon alami saat diperjalanan terpaksa membuat lelaki itu berlari keluar mobil dan mencari ojek dipinggir jalan.


Beruntung ia segera menemukannya dan dengan cepat sampai ke rumah sakit Graha Medica untuk segera melihat kondisi Naomi.


Kini ia berdiri mematung di depan pintu kamar rawat inap sang Adik. Di dalam sana, gadis cantik itu terbaring dengan perban yang melingkar di kepalanya, terdapat juga perban pada pergelangan kaki kanan dan siku kanan gadis tersebut.


Pemandangan miris yang hanya bisa dilihatnya dari jendela kecil yang ada di pintu tersebut.


Leon merasa sesak, sakit, dan kecewa pada dirinya sendiri yang tak becus mengurus dan menjaga Naomi. Bahkan, mendekatinya saja ia tak sanggup.


Terasa begitu sakit jika berada di dekat gadis itu, membuatnya selalu ingat akan dosa dan kesalahan yang ia perbuat hingga tak jarang Leon mendapat mimpi buruk dalam tidurnya.


Seorang Dokter lelaki keluar dari sana, mengabarkan kondisi Naomi bahwa ia hanya mengalami luka ringan. Hanya kakinya yang terkilir dan luka ringan pada siku juga keningnya.


Leon bernapas lega, setidaknya lelaki itu masih diberi kesempatan kedua oleh Tuhan untuk memperbaiki kesalahannya pada Naomi, untuk itulah Tuhan masih menyelamatkan nyawa gadis tersebut.


Leon mengucapkan terimakasih pada sang Dokter, ia ingin melihat keadaan Naomi dan mengabari orangtuanya.


Segera Leon memasuki kamar tersebut dan duduk di kursi samping ranjang sang Adik.


Ia menatap miris wajah pucat dan kurus di depannya, dibelainya dengan lembut pipi tirus itu dan membuat pemiliknya terbangun.


"Ka-ka-ka--" Naomi yang ketakutan pada Leon begitu sulit hanya menyebutkan namanya saja, gadis itu hanya tergagap dengan air mata yang mengalir deras.


Setelahnya ia menangis dan menjerit hingga Leon harus menahannya.


"Naomi, tenang. Kakak nggak akan menyakiti kamu. Kakak minta maaf, Dek. Kakak khilaf," ucap Leon kacau yang sebetulnya sama sekali tak di didengar oleh Naomi yang semakin menangis dalam pelukan Leon.


Hingga akhirnya lelaki shock saat didapati Adiknya tak lagi menangis. Gadis itu seperti kesulitan bernapas, tak dapat berbicara, dan ia juga mengalami kejang. Beruntung dua orang suster dan seorang Dokter segera datang ke sana.


Leon jatuh terduduk sesaat setelah suster mengambil alih tugasnya menenangkan Naomi.


Dokter mengatakan bahwa detak jantung gadis itu begitu cepat hingga membuatnya mengalami kejang.


Leon yang melihat secara langsung bagaimana tim medis menyelamatkan nyawa sang Adik, merasa ketakutan.


Ia takut hingga tak dapat mengalihkan pandangannya dari Naomi, bahkan ia harus dibantu seorang suster untuk berdiri dan keluar dari kamar rawat tersebut sementara Dokter menangani Adiknya.


"Ini mimpi ... ini nggak nyata, enggak, nggak mungkin nyata. Aku cuma mimpi," racau Leon dengan keadaan linglung. Ia juga tak menyadari Ricard dan Tamara sudah ada di sampingnya.


Kedua orangtua Leon begitu terpukul melihat kondisi Naomi yang tengah ditangani oleh Dokter. Sedangkan Ricard berusaha menyadarkan Leon yang terus meracau tak jelas, lain dengan Tamara yang terpaku melihat sang putri dari jendela kecil yang terdapat di pintu kamar rawat Naomi.


"Sadarlah, Leon! Tenang!" bentak Ricard sambil memegang kedua bahu Anaknya, ia hanya ingin Leon melihat ke arahnya.


Dan benar saja, detik berikutnya lelaki itu sudah menyadari kehadiran Ricard dan Tamara di depannya. Ia langsung menangis terisak di dalam pelukan Ricard.


Leon merasa sangat depresi, ia sungguh ketakutan hingga keringat dingin membasahi tubuhnya. Lelaki itu juga gemetar dalam pelukan sang Ayah.


"Leon," lirih Tamara yang juga merasa iba pada putranya. Benar yang dikatakan oleh Ricard, bagaimanapun juga Lelaki muda di depannya ini adalah anaknya. Seharusnya ia menguatkan mental Leon agar kejadian seperti tak terjadi pada lelaki itu.


Namun, karena keegoisan Tamara yang kekeh ingin membenci Leon, membuatnya menutup mata atas semua penderitaan lelaki itu. Kini ia melihat Leon yang rapuh, Leon yang stres dengan segala beban yang ada di bahunya.


Putranya butuh dirinya untuk bersandar, putranya juga membutuhkan dukungannya. Tamara memeluk kedua lelaki yang masih berpelukan itu, ikut menangis dengan Leon dan ia berdoa dalam hati untuk keselamatan putrinya.


__________Tbc.


*karena saya sedang banyak tugas sekolah, jadi update ceritanya sedikit lama. maaf sudah menunggu lama, dan terimakasih sudah membaca cerita saya:")