My Brother

My Brother
Jangan ikut campur



"Tunggu di warung Bakso Goyang Lidah!" Begitu isi chat Fathur pada Anik kemudian Fathur membawa Indah ke sana diikuti Faika.


Anik sudah lebih dulu sampai. Dia duduk santai memainkan ponselnya.


Diam - diam Fathur menggandeng tangan Indah dan mendudukkannya di sebuah kursi dekat tembok. "Aku ga apa - apa, Fa!" Ucapnya. Sedangkan Anik belum menyadari kedatangan mereka.


"Duduklah!" Fathur mengalihkan pandangannya pada Faika. Faika duduk di depan Indah. "Tunggu di sini, Aku akan memesan Bakso dan minum untuk kalian!" Lanjut Fathur kemudian ia pergi memesan tanpa bertanya lebih dulu pada Indah maupun Faika. Tak lupa ia juga memesankan semangkuk Bakso dan segelas es teh manis untuk Anik.


"Silahkan!" Tiga mangkuk Bakso dan Teh hangat tersaji di meja Indah dan dua orang yang bersamanya. Fathur meraih mangkuk bakso milik Indah dan hendak menyuapi Indah namun Indah menolak. "Fa, ini tempat umum! Lagian aku gapapa kok. Aku bisa makan sendiri!" Suara Indah lemah sehingga Anik yang duduk tak jauh darinya tak bisa mendengar suaranya. Fathur mengalah dan membiarkan Indah makan dan minum lebih cepat dari Fathur dan Faika.


"Silahkan!" Satu paket pesanan Fathur mendarat di meja Anik. "Saya belum memesannya, kenapa dibuatkan?" Tanya Anik heran.


"Seseorang telah memesannya untuk Anda!" Si pelayan menunjuk ke arah Fathur. Mata Anik hampir keluar dari sarangnya melihat kehadiran Fathur bersama Indah dan Faika namun tak lama, karena ia takut Bakso nya keburu dingin.


Setelah makanannya habis, Indah berlari ke kamar mandi. Seketika Fathur dan Faika terkejut dan hendak berdiri.


"Selesaikan makan mu, setelah itu selesaikan urusanmu dengan Anik!" Pinta Fathur pada Faika. "Aku akan nyusul Indah ke kamar mandi!" Lanjutnya kemudian bergegas menemui Indah.


Di kamar mandi, Indah memuntahkan semua isi perutnya. Fathur menunggu di luar toilet. Tangannya memegang segelas air mineral dan sebutir obat. Setelah memuntahkan semuanya, sakit kepala Indah berkurang. Ia keluar dari kamar mandi. "Ini obat mu!" Fathur menyodorkan obat dan Indah meminumnya.


"Makasih ya, Fa!" Ucap Indah setelah menelan obatnya. Mereka kembali ke warung Bakso.


"Aku ga ngasih, kamu sendiri yang ambil dari ponselku!" Terdengar jelas suara Faika.


"Pokoknya, sekarang juga aku minta nomer ponsel Ibnu yang bisa dihubungi!" Ucap Anik memaksa.


"Aku ga punya!" Jawab Faika tak mau kalah.


"Masa iya, nomer sepupu aja ga punya?" Anik ketus dan tak percaya.


"Yang aku punya, ya yang ada di ponselku!" Sahut Faika sambil menyodorkan kembali ponselnya agar Anik mencari sendiri kontak atas nama Ibnu.


Anik meraih ponsel Faika dan mencari chat terakhir Faika dengan Ibnu dan mencoba menghubunginya lewat ponsel tersebut. Hasilnya nihil baik lewat chat maupun via telpon karena nomernya tidak aktif.


"Buat apa sih minta nomer ponsel Ibnu?" Tanya Indah lembut.


"Pengen kenalan!" Jawab Anik ketus. Bukan karena marah pada Indah melainkan karena tak berhasil mendapatkan nomor Ibnu.


"Habis kenalan?" Tanya Indah penasaran.


"PDKT!" Jawab Anik singkat dan datar, bukan padat ya!


"Oh!" Sahut Indah. "Suka sama apanya?" Lanjut Indah.


"Gantengnya!" Anik menjawab pertanyaan - pertanyaan Indah dengan tetap fokus mencari nama Ibnu dan mencoba menghubunginya.


"Nih, ponselmu!" Anik mengembalikan ponsel milik Faika. Faika menerimanya tanpa kata. "Antar aku bertemu dengannya!" Ucap Anik kecewa.


"Besok!" Sekarang giliran Faika yang ketus.


"Aku ikut!" Pinta Indah.


"Iya, Aku tunggu di rumah!" Jawab Faika.


Anik mengira bahwa Indah juga jatuh cinta pada Ibnu. Dugaan Anik muncul karena ia mengaitkan pembicaraan Indah tadi di sekolah. Indah ingin melepaskan Fathur dan Arman, dan sekarang Indah ingin ikut mengenal Ibnu.


"Indah akan melepaskan Fathur dan Arman demi mendekati Ibnu!" Begitulah kesimpulan Anik dalam hati.


"Aku kan juga pengen kenal Ibnu lebih dekat!" Jawab Indah tersenyum kecil.


"Sebaiknya kamu jangan ikut campur!" Suara Anik mulai emosi lagi.


"Kalian sahabat Aku, makanya aku mau ikut bersama kalian besok sore!" Ujar Indah sembari melirik Faika.


"Ga usah deh! Ntar kalo aku sudah berhasil jadian sama Ibnu, Kamu pasti aku kabari!" Sahut Anik.


Anik tak ingin Indah mencampuri urusannya kali ini. Ia akan menjalankan misi mendapatkan pacar sendirian meski awalnya Anik meminta bantuan Faika.


Setelah Anik dan Faika sepakat, mereka kembali ke rumah Indah dan tak lupa mengajak Anik ke sana. Betapa kagetnya Anik saat melihat banyak orang berkumpul di sana.


"Kenapa kamu ga undang aku, Ndah?" Wajah Anik kembali memerah.


"Aku ga undang mereka! Tiba - tiba saja mereka kompak datang setelah sebelumnya Chat aku!" Indah menyerahkan ponselnya pada Anik dan memperlihatkan isi chat mereka. Anik berhasil dibuat percaya dan bergabung bersama mereka.


Indah masuk rumah dan menuju dapur untuk membuat teh hangat. Keringat Indah mengucur deras tanpa aba - aba, mungkin karena pengaruh obat yang diberikan Fathur tadi. Melihat hal itu, Pak Yusuf mengerti dan menghampiri Indah. Menanyakan keadaan kesehatan Indah. Pak Yusuf merasa bersalah saat mendengar penjelasan Indah. Jika saja tadi Pak Yusuf tidak menanyakan kehadiran Anik, maka Indah tak akan menjemputnya dan tidak akan kelelahan yang menyebabkan penyaki anak semata wayangnya kambuh.


"Istirahatlah, Nak! Biar Ayah menyuruh Musta dan Winda menemani mereka." Saran Pak Yusuf. Namun Indah menolak, walau bagaimanapun mereka datang untuk Indah bukan untuk bertemu Musta.


Jam sembilan malam, satu per satu dari mereka pulang ke rumah masing - masing dan hanya tersisa Winda dan Musta yang membantu Indah membersihkan sampah dan menggulung tikar.


🌼🌼🌼


Keesokan harinya.


Seperti biasa, Indah mengayuh sepeda berangkat ke sekolah. Tak banyak yang datang, hanya siswa baru dan semua anggota OSIS sedang melaksanakan kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah. Indah masuk kelas. Ada Tina dan Naura di sana sedangkan teman - teman yang lain belum datang. Indah bergabung dengan keduanya.


Ponsel Indah berdering, Nama Faika muncul di layar ponselnya. "Assalamualaikum!" Ucap Indah.


"Waalaikum Salam!" Sahut Faika. Kemudian menjelaskan maksud dirinya menghubungi Indah di jam sekolah. Karena pelajaran belum mulai, mereka bisa menggunakan ponsel di jam sekolah.


Faika merasa bingung, pasalnya Anik memaksa Faika memberikan jalan agar Anik bisa jadian dengan Ibnu. Sedangkan Indah tak menyetujui Anik berhubungan dengan Ibnu.


"Bagaimana Aku bisa menjelaskan pada Anik, Indah?" Tanya Faika.


"Jangan katakan pada Anik, tapi jelaskan pada Mas Ibnu agar tak menjalin kasih dengan Anik!" Jawab Indah.


"Apa maksud kamu, Indah? Aku harap kamu tidak ikut campur masalahku kali ini!" Anik yang baru datang dan mendengar kata - kata Indah jadi marah. Anik merampas ponsel Indah dan mematikan sambungan telponnya bersama Faika.


Faika sempat terkejut namun tak lama karena sebelumnya Faika sempat mendengar suara Anik.


**Bersambung!!!


Jangan lupa like and vote ya!!!


Komentarmu, Semangatku!!!πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹**