My Brother

My Brother
Jujur



"Kenapa ga dipeluk, tadi katanya mau dipeluk?". Ibnu.


"Ta - tapi ....


"Iya, Dia Indah adik kita!" Pekik Ibnu.


Halimah langsung berdiri di hadapan Indah dan menarik lembut tangan Indah agar berdiri. Mereka berdua berpelukan. Netra Indah melihat Ibnu meminta penjelasan.


"Ini Mbak Halimah anak Bapak yang tertua, Dek!" Jawab Ibnu


Indah mengangguk paham. Iya tak membalas pelukan Halimah, namun juga tak menolaknya. Hatinya begitu sakit melihat keluarga kandungnya.


Kenapa harus aku yang dikorbankan? Walau susah, mereka bisa hidup berdampingan. Sedangkan aku? Aku dipisahkan dari orang tua dan saudara - saudaraku! Batin Indah.


Mereka bertiga mengobrol hingga tak tau waktu. Mungkin karena baru kali ini Indah dibawa ke rumah Bapak biologisnya.


Saat masuk waktu makan siang, Halimah mengajak kedua adiknya makan. Ia memasak makanan sederhana. Hanya telur ceplok, tempe goreng dan sambal terasi.


Sangat menggugah selera ketika ada orang lewat dan mencium aroma terasinya, namun tidak dengan Indah. Ia teringat akan ucapan ibunya jika iya tak boleh memakan sembarang makanan yang diberikan orang lain padanya. Katanya khawatir di jampi - jampi.


Flashback on~~~


"Nak!" Panggil Bu Sri saat Indah duduk santai.


"Ada apa, Bu?" Indah segera memenuhi panggilan sang Ibu dan duduk di sampingnya.


"Kalau kamu diajak seseorang yang tidak kamu kenal, jangan pernah mau!


Atau jika seseorang itu memberikanmu makanan, jangan pernah kau memakannya!" Nasehat Bu Sri.


"Kenapa, Bu?" Indah yang tak mengerti maksud ibunya memberanikan diri bertanya.


"Ibu takut kamu di jampi - jampi, otak kamu di cuci sehingga kamu tidak ingat Ibu dan Ayah lagi. Kamu akan pergi bersama orang itu untuk dijadikan pengemis. Kamu di suruh meminta minta di jalan dan uangnya akan diambil orang itu sedangkan kamu tidak akan diberi makan!" Jelas Bu Sri panjang lebar membuat Indah ngeri.


Flashback Off


Mengingat hal itu Indah menolak halus makanan dan minuman yang disuguhkan Halimah untuknya.


Melihat jam tangan yang dipakainya, Indah meminta Ibnu untuk mengantarnya pulang.



**Di tempat lain**


Bu Sri khawatir dengan keadaan Indah yang belum juga pulang. Firasatnya mengatakan bahwa Indah akan pergi meninggalkannya. Ia takut sekali kehilangan Indah. Ia mencoba menghubungi Indah, namun handphonenya berdering di kamar Indah.



Karena kekhawatirannya, Bu Sri menghubungi Ira adik bungsunya untuk mengabarkan jika Indah belum pulang hingga lewat waktu Dhuhur. Tidak biasanya Indah tidak pulang di jam tersebut saat hari libur.



"Ya sudah, Mbak Tenang aja dulu!" Ira menenangkan saudarinya.



"Aku akan menyuruh Dimas untuk mengecek keberadaan Indah di Sekolah!" Lanjutnya kemudian mengakhiri panggilan.



Jawaban nihil Ira peroleh dari putra tunggalnya.



"Bagaimana, Ira?". Bu Sri kembali menghubungi adiknya.



"Dimas sudah pergi ke sekolah Indah dan menanyakan keberadaan Indah di sana, namun penjaga sekolah mengatakan kalau hari ini tidak ada kegiatan di sekolah karena besok sudah mulai Ujian Nasional!" Ira.



"Oh, ya sudah dulu, Ira! Ini Indah sudah datang!" Bu Sri langsung menutup teleponnya saat melihat Indah datang.



"Dari mana?". Tanya Bu Sri saat Indah mencium punggung tangannya.



"Da dari sekolah, Bu!" Jawab Indah gugup, Ia ketakutan melihat tatapan tajam sang ibu.



"Jujur!" Bu Sri melihat keatas menahan air matanya agar tidak jatuh.



"Aku ke sekolah, Bu!" Indah masih ngeles, karena dirinya masih berpikir keras mencari alasan apa jika ternyata ibunya tau dia tidak ke sekolah.



Benar sekali dugaan Indah. "Baru saja Dimas ke sekolah, tapi kamu tidak ada di sana!" Bu Sri.




"Katakan dimana alamat temanmu itu dan siapa namanya?" Tanya Bu Sri. Tak hanya Ibu yang melahirkan kita yang punya hubungan batin dengan kita, tapi ibu yang merawat kita sejak kecil akan memiliki ikatan batin dengan anak yang dirawatnya. Begitu pula dengan Bu Sri.



"Di Jalan keramat, Bu! Namanya Rini!" Indah menunjuk rumah seorang teman yang menurutnya tidak akan terjangkau oleh Ibu dan Tantenya.



Bu Sri kembali menghubungi Ira. Dia meminta Ira untuk mengantarnya ke alamat yang dimaksud Indah. Bu Sri kali ini benar - benar marah dan mengikuti kata hatinya. Tak butuh waktu lama, Ira sudah tiba di rumah Indah.



"Mau kemana, Mbak?" Tanya Ira.



"Antar aku ke Jalan Kramat!" Pinta Bu Sri dengan wajah merah menahan marah.



Dua wanita tak jauh beda usia itu berangkat tanpa pamit pada Indah. Sementara Indah menangis menyesali perbuatannya yang pergi dengan sebuah ketidak jujuran.



Indah mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Rini. Namun naas, panggilannya sama sekali tidak dijawab.



Indah pasrah, ia memutuskan untuk berkata jujur pada Ibunya saat beliau datang nanti.



Kenyataan yang tak sesuai ekspektasi Indah. Bu Sri dan Tante Ira yang tanpa putus asa bertanya ke sana kemari akhirnya menemukan rumah Rini. Saat itu Rini sedang membantu orang tuanya mengiris daun tembakau sehingga ia sama sekali tak mendengar nada dering ponsel saat Indah menghubunginya.



"Assalamualaikum!" Ucap Bu Sri dan Tante Ira.



"Wa'alaikum salam!" Sahut keluarga Rini. Ibu Rini berdiri menyambut tamunya.



Meski dalam keadaan marah, Bu Sri masih bisa mengontrol diri untuk tidak marah.



*Walau bagaimana pun Rini tidak bersalah dalam hal ini. Jika benar Indah bermain di sini, maka Aku merasa lega. Namun jika Indah tidak datang ke rumah ini, maka bukan salah Rini juga melainkan salah Indah yang menjadikan Rini sebagai alasan*. Batin Bu Sri.



Sedikit berbincang sesuai adab bertamu, kemudian Bu Sri mengutarakan maksud kedatangannya pada Rini dan kedua orang tuanya.



Jawaban mereka sangat mengecewakan Bu Sri. Perasaan campur aduk di rasakan Bu Sri. Kecewa, Marah dan sedih bercampur jadi satu.



"Maaf Bu, sejak tadi pagi Rini membantu kami mengiris tembakau dan tidak ada satu orang teman sekolah Rini yang datang kemari!" Ucap Pak Marzuki ayah Rini.



"Oh iya, Pak! Terima kasih atas informasinya. Maaf jika kami datang mengganggu, karena kami mencari anak kami yang keluar rumah sejak pagi dan sampai saat ini belum pulang!" Ujar Ira. Sedangkan Bu Sri tak bisa berkata. Beliau hanya berusaha menghapus air mata yang tak bis berhenti mengalir.



"Kalau begitu, kami pamit Pak, Bu! Assalamualaikum!" Tante Ira undur diri diikuti Bu Sri.



"Iya, Bu! Waalaikum salam!" Jawab Pak Marzuki sekeluarga.



"Coba kau hubungi Indah! Tanyakan kemana ia pergi. Katakan padanya untuk segera pulang, karena ibunya khawatir!" Ibu dari Rini memberikan saran.



"Sebaiknya jangan!" Tolak Pak Marzuki.



"Kita tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, lebih baik kita tunggu kabar selanjutnya!" Lanjutnya.


Bersambung dulu ya, Kak!


Terima kasih sudah setia!