My Brother

My Brother
End



Tristan kini tengah duduk bersama dengan kedua orangtuanya juga Dinda di ruang tengah, mereka semua tengah dilanda kebingungan akibat hilangnya Naomi seakan gadis itu ditelan bumi dan sama sekali tak diketahui jejaknya.


Beberapa Minggu lalu Ricard membatalkan pernikahan Naomi dan Tristan secara tiba-tiba. Alasannya? Naomi yang belum siap dan ingin melanjutkan pendidikannya di luar negri.


Sungguh tak masuk akal memang, mengingat sejak awal gadis itu enggan untuk menempuh pendidikan setelah lulus SMA, dan tiba-tiba saja ia ingin melanjutkan pendidikannya kala pernikahan mereka akan digelar kurang lebih 8 hari lagi.


Tentu hal ini sempat membuat Ayah Tristan berang dan menyalahkan pihak keluarga Naomi atas pembatalan pernikahan sepihak yang telah mencoreng nama baik keluarga besar Tristan.


Entahlah, yang jelas saat ini Tristan dilanda kebingungan yang sangat, karena perasaannya yang seakan terombang-ambing pada dua gadis yang sama-sama ia sayangi.


Ia menyayangi dan mencintai Naomi, tetapi ia juga menyayangi Dinda meski hanya sekedar sahabat. Namun, ia tak bisa melarang Dinda untuk mendekatinya lantaran lelaki itu tahu betapa sakitnya diacuhkan orang yang kita cintai.


Dan saat Naomi menghilang seperti ini, lelaki itu baru merasakan betapa sakitnya kehilangan orang yang mencintai kita setulus hati. Ia menyayangkan keberadaan gadis itu yang sempat tertutupi oleh kehadiran Dinda di sisinya.


Ingin mencari pun, ia tak tahu harus mencari ke mana. Leon tak dapat dihubungi, begitu juga dengan Maura yang sama sekali tak mengetahui keberadaan sahabatnya tersebut.


"Tristan, lupain aja Naomi. Mungkin kalian memang tidak ditakdirkan bersama," ucap Dinda yang merasa sakit kala melihat sahabat yang ia cintai terlihat begitu hancur.


Lelaki itu menoleh pada Dinda, ia menggeleng dengan air mata menggenang di pelupuk matanya. Lelaki itu kemudian menerawang jauh ke kejadian di mana tanpa sadar ia bermain panas dengan Dinda.


Sungguh, itu bukan kemauan Tristan. Ketika itu dirinya tengah sakit, dan Dinda memberikan obat 'yang katanya' penurun demam. Akhirnya Tristan menelan pil kecil berwarna biru tersebut.


Dan perubahan mulai ia rasakan pada tubuhnya. Sejak kejadian itu, ia sungguh menyesal telah berbuat yang kurang pantas pada Dinda dan menyakiti Naomi terlalu dalam.


"Maaf, aku nggak bisa melupakan Naomi. Dan maaf, karena aku udah merusak masa depan kamu. Aku merasa bersalah karena kejadian itu." Tristan berkata lirih, ia tahu kalau saat ini Dinda merasa sakit yang teramat sangat.


Namun, ia juga tak bisa membohongi dirinya sendiri yang tak bisa menggantikan posisi Naomi dengan gadis lain.


"Aku mencintaimu, Tristan ... Om, Tante ... tolong beritahu Tristan betapa besarnya saya mencintainya," isak Dinda memohon agar kedua orangtua Tristan mau membantunya meyakinkan lelaki itu.


"Maaf, Dinda ... semua keputusan ada di tangan Tristan. Kami sebagai orangtuanya hanya mendukung dan mengingatkan jika ia salah mengambil keputusan." Ayah Tristan memberi pengertian pada Dinda, begitu juga dengan Ibunya yang mendukung apapun keputusan yang diambil Tristan nantinya.


"Maaf, Din, aku harus cari Naomi lagi. Tolong, jangan mengharapkan apapun dari aku."


Tristan pergi setelah mengatakan hal itu. Ia akan mencari informasi tentang keberadaan Naomi, tak peduli seberapa jauh ia harus berjalan, dirinya harus menemukan gadis itu.


***


Lima bulan telah berlalu, dan selama itu pula Naomi ditangani seorang psikiater wanita bernama Shera, atau mereka biasa memanggilnya dengan panggilan Kak Shera.


Shera adalah Kakak kandung dari Riza.


Berkat Shera lah Naomi bisa kembali pulih sedikit demi sedikit. Ia tak lagi begitu ketakutan pada lelaki, ia juga sudah bisa mengontrol tubuhnya sendiri dan telah memiliki kesadaran penuh atas dirinya.


Selama ini Naomi telah melihat betapa tulusnya Leon mencintainya, lelaki itu begitu cekatan dan telaten merawat Naomi. Leon juga semakin jarang mengambil tawaran syuting dan pemotretan untuk brand ambassador dan lain sebagainya.


Waktunya ia peruntukkan khusus untuk Naomi. Beruntungnya, keuangan mereka masih terkontrol dengan baik berkat sebuah perusahan milik Leon yang dulunya sama sekali tak dipedulikan olehnya.


Ia yang begitu menyukai dunia seni peran, melupakan perusahaan tersebut yang akhirnya ditangani oleh Ricard.


Saat ini, Naomi tengah duduk santai pada ayunan yang ada di taman. Ia sedang menunggu Leon pulang dari kediaman Ricard karena ada urusan yang harus diselesaikan oleh lelaki tersebut.


Biasanya jika Leon keluar rumah, lelaki itu akan pulang dengan membawa beberapa makanan ringan atau buah-buahan segar, untuk itulah Naomi selalu menunggu untuk mendapatkan buah tangan dari Kakaknya itu.


"Dek?" sebuah panggilan dari arah belakang mengagetkannya, gadis itu menoleh dan melihat Leon berdiri di sana dengan sebuah paper bag berukuran cukup besar di tangan lelaki itu.


"Itu apa, Kak?" tanya Naomi pada Leon yang entah kenapa terlihat muram. Biasanya lelaki itu akan tampak bahagia tanpa beban hingga Naomi ikut tersenyum dibuatnya.


Tapi kini, Kakaknya itu tampak lesu dan pendiam. Naomi bukan lagi anak kecil atau dirinya yang masih memiliki gangguan mental seperti dulu. Sekarang Naomi sudah sembuh dan ia bisa mengerti soal keadaan Leon yang tak bisa dibilang baik-baik saja.


"Kak?" tanya Naomi yang tanpa disadari Leon sudah berada di dekat lelaki yang masih berdiri mematung itu. Tatapannya masih kosong, akan tetapi dari mata itu menyiratkan tentang kepedihan dan kesedihan.


Apa yang terjadi? Itulah yang menjadi pertanyaan Naomi.


Segera gadis itu menyambar paper bag tersebut, ia dibuat bingung dengan sebuah gaun pengantin berwarna putih ada di dalamnya.


"Gaun pengantin?" tanya Naomi yang kembali menyadarkan Leon pada dunia nyatanya.


Lelaki itu terkesiap, ia merubah mimik wajahnya menjadi bahagia. Namun, senyumnya masih terlihat getir penuh akan luka yang seakan begitu menggores jiwanya.


"Siapa yang akan menikah?" ok, kali ini Naomi merasa dirinya begitu cerewet. Ia sungguh banyak bertanya tanpa memberikan waktu Kakaknya untuk menjawab.


"Kamu sama Tristan akan segera melangsungkan pernikahan, Dek! Kamu seneng, kan?"


Kini giliran Naomi yang diam. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia mencintai Tristan, bukan? Seharusnya ia bahagia.


Namun, apa yang dirasakannya menjadi tanda tanya besar bagi gadis itu. Ia justru merasa sesak dan ...-sakit?


Ya, dia merasakan semua itu. Entah bagaimana harus menjabarkannya secara rinci. Yang jelas, Naomi kecewa dan sakit saat mengetahui bahwa Leon diam-diam menyiapkan pernikahannya dengan Tristan.


"Aku ke kamar dulu, Kak," ucap Naomi kemudian pergi begitu saja dari sana. Sepeninggalan Naomi, Leon menyeka air matanya yang tiba-tiba jatuh tanpa permisi.


Ia bahagia dan bersyukur sang Adik kembali normal lagi seperti dulu, ia juga 'berpura-pura' senang saat harus merelakan Adiknya bersama Tristan yang tampak serius dengan Naomi.


Namun, rasa sakitnya akan kehilangan tak sanggup ia tanggung seorang diri. Ia jatuh berlutut di atas rumput taman yang menghampar luas dengan bunga kecil berwarna pink.


Leon terisak dalam diam di sana. Ia memeluk gaun pengantin tersebut. Gaun pengantin yang ia persiapkan untuk pernikahannya bersama Naomi. Gaun pengantin yang selama ini menjadi semangatnya untuk bangkit karena sudah pasti ketika Naomi sembuh, gadis itu akan memakainya saat di altar pernikahan bersama dirinya sebagai mempelai pria.


Kenyataan dan khayalan memang kadang begitu jauh berbeda, dan hal itu juga yang dirasakan oleh Leon. Khayalannya tak sesuai dengan kenyataan yang ternyata sangat meyakitkan.


Ia harus merelakan Adik yang sangat ia cintai bersama lelaki lain. Biarlah ia yang menanggung kesakitan ini, biarlah ia yang menelan pil pahit ini, dan biarlah waktu yang mengikis semua luka ini. Leon akan tetap berdiri demi menyaksikan orang yang ia cintai bahagia ... bersama dengan pria lain.


Leon melihat ke arah tiket penerbangan menuju Austria, ia akan memulai hidup baru di sana. Menghapus perasaan cintanya pada Naomi dan berusaha menempatkan gadis itu pada ikatan yang seharusnya. Hanya sebagai Adik, tidak lebih dari itu.


***


Satu bulan kemudian pernikahan tersebut di gelar. Naomi sudah duduk di meja rias bersama seorang perias pengantin yang begitu cekatan memoles wajahnya menjadi begitu cantik hingga Naomi tak dapat mengenali wajahnya sendiri.


Ada juga Vebra yang kini tengah lesu sembari memainkan ponsel pintarnya di sofa. Beberapa kali gadis itu tampak mendesah kasar seakan ada beban berat di bahunya yang ia pikul.


Naomi melihat pantulan dirinya di cermin, tak ada raut bahagia di sana. Hanya ada sebuah dilema yang sebetulnya sudah ia ketahui jawabannya.


Ia mencintai Leon. Bukan Tristan.


Gadis itu menangis hingga membuat si perias tersebut menghentikan aktifitasnya. Vebra yang melihat hal itu segera menghampiri Naomi dan memeluk gadis itu untuk menenangkannya. Ia tahu betul bahwa Naomi hanya mencintai Leon, begitupun sebaliknya.


***


Tristan menatap lelaki yang lebih tua darinya itu dengan tatapan miris. Leon, lelaki yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai Kakak Iparnya itu terlihat sangat terluka dan merana.


Tuxedo telah terpasang rapi, penampilan yang selalu terlihat sempurna tak pernah absen dari seorang Leon.


Tapi hari ini yang seharusnya juga menjadi hari bahagianya, lelaki itu justru terlihat sangat kacau dengan ekspresi wajah yang datar dan kecewa.


"Kak," panggil Tristan pelan, lelaki yang dipanggil itu mendongak. Ia bangkit dari duduknya.


"Ya?" tanya Leon berusaha terlihat tegar. Dipaksa ya senyum terbaik itu mengembang. Namun, Tristan terlalu pintar untuk ia tipu.


Ia ingat kesalahan yang pernah ia lakukan, pada dua gadis sekaligus. Naomi dan Dinda.


"Kak, aku juga pernah melakukan hal yang sama bejadnya dengan perbuatan Kakak ke Naomi. Tapi bedanya, aku terlalu egois, aku lebih mementingkan diriku sendiri daripada masa depan gadis yang telah kurenggut masa depannya." Leon menatap Tristan yang berkata seperti itu dengan nada getir.


Masih banyak rahasia yang belum terungkap dari sosok pemuda di hadapannya ini.


"Melihat betapa tulusnya cinta Kakak ke Naomi, membuat hatiku bergetar. Aku merasa tertampar ketika mengetahui kenyataan Kakak tidak meninggalkan Naomi kala dia tengah depresi. Dan yang kulakukan ... justru sebaliknya. Aku merasa buruk buat Naomi, dan aku merasa jahat telah meninggalkan Dinda dengan segala luka yang aku berikan."


Tristan nampak meneteskan setetes air mata. Leon merasa lelaki muda itu memiliki cinta yang tulus pada Naomi, hanya saja rasa bersalahnya pada Dinda jauh lebih besar dari pada cinta itu.


"Kak, bahagiakan Naomi ... dia cuma mencintai Kakak, bukan aku atau lelaki lain. Aku akan coba membenahi diriku agar menjadi lebih baik lagi. Tolong ... jaga dia hingga akhir usia kalian." Leon menatap tak percaya kala Tristan memberikan kotak cincin pernikahannya pada Leon.


Tristan menepuk bahu kanan lelaki yang lebih tua darinya itu, tersenyum dengan penuh kelegaan dan di sambut tangis bahagia dari Leon.


Leon menangis penuh haru, ia memeluk Tristan dengan erat dan menepuk punggung lelaki muda itu beberapa kali. Tristan tersenyum bahagia di balik punggung Leon, ia merasa lega telah melakukan suatu hal yang benar.


***


Naomi melangkah perlahan ke hadapan penghulu kala sang suami selesai mengucapkan ijab qobul. Pikiran gadis itu hanya berpusat pada Leon, Kakaknya.


Ia merasa telah bersalah karena tak memiliki keberanian menentang pernikahan ini demi cintanya pada Leon. Ia terus meneteskan air mata saat posisi penghulu dan sang mempelai pria semakin dekat.


"Kemari, Sayang," ucap Tamara menuntun Naomi ke samping sang suami. Gadis itu duduk tanpa melihat sedikitpun ke arah suaminya, ia menahan rasa sakit yang teramat sangat di hari yang seharusnya bahagia itu.


"Kamu nggak mau lihat suami kamu?" suara lelaki itu sontak membuat Naomi menoleh ke samping kanannya.


Seketika kebingungan melanda gadis itu, hingga akhirnya ia melihat ke sekeliling dan pandangannya jatuh pada Tristan, Riza dan Vebra yang duduk dengan senyum bahagia di bibir mereka.


Naomi menatap ke arah Tristan, lelaki itu mengangguk samar dan tersenyum sembari membisikkan ucapan selamat pada Naomi.


Seketika itu juga Naomi menangis haru, ia tersenyum bahagia karena telah menikah dengan lelaki yang begitu ia cintai.


"Kakak," lirih Naomi menatap Leon. Gadis itu menangis bahagia dengan sesekali tawa kecil keluar dari bibirnya.


"Makasih," lanjutnya. Kemudian mencium punggung tangan Leon, disusul dengan Leon yang mengecup keningnya penuh dengan rasa sayang.


"Alhamdulillah," ucap Tamara bersyukur melihat kedua anaknya menemukan kebahagiaan mereka.


Ricard menepuk bahu Leon kala putranya tersebut sungkem padanya. Tamara memeluk hangat sang putri tercinta, ia berdoa dalam hati untuk kebahagiaan mereka berdua.


***


Tristan kembali ke rumah dengan perasaan lega. Ia senang karena Naomi dan Leon tampak begitu serasi dan bahagia. Kalau jodoh nggak akan ke mana, ucap Tristan dalam hati.


Langkah kakinya membawa lelaki itu menuju sebuah kamar dengan pintu bercat biru muda. Kamar milik Dinda.


Lelaki itu membukanya perlahan, dan tampak seorang gadis cantik tengah membuat origami burung yang entah sudah berapa banyaknya ia lipat.


Origami burung dengan warna warni yang cerah, memenuhi lantai kamar hingga ranjang gadis itu. Tak lama kemudian, Dinda mendongak. Menatap bingung pada Tristan yang tiba-tiba berada di rumah kala pesta pernikahan masih dilangsungkan.


"Kamu lagi bikin apa?" tanya Tristan pelan pada Dinda yang memaksakan senyumnya.


Tristan miris melihat gadis itu tampak sangat terluka.


"Lagi buat seribu origami burung, kata orang kalau kita berhasil buat seribu origami burung, Tuhan akan mengabulkan doa kita," ucap Dinda dengan tangan yang masih terus melipat origami itu.


"Emang kamu mau minta apa dari Tuhan?" tanya Tristan penasaran.


"Aku minta supaya kamu bahagia menempuh hidup yang baru," jawab Dinda yang membuat hati Tristan bergetar. Setulus itu kah cinta Dinda padanya?


"Ayo kita buat sama-sama, supaya aku bisa buat kamu selalu bahagia sampai akhir napasku," ucapan Tristan membuat Dinda seketika menghentikan kegiatan melipatnya. Ia menatap lelaki itu dengan tatapan bingung.


"Ajari aku mencintaimu, Dinda," ucap Tristan tulus. Dinda tersenyum mendengarnya, tak lama kemudian gadis itu mengangguk mantap dan tersenyum bahagia.


Penantiannya selama ini tidak sia-sia. Ia mendapatkan lelaki yang ia cintai dan gadis itu berjanji akan berusaha membuat Tristan bahagia bersama dirinya.


"Ayo kita buat," ajak Dinda sambil memberikan sebungkus kertas origami yang belum terbuka.


Mereka sama-sama tersenyum bahagia dan membuat origami itu dengan penuh cinta di hati keduanya.


Terimakasih, Tuhan- Tristan.


***


9 tahun kemudian ...


Kehidupan rumah tangga Naomi dan Leon senantiasa diselimuti kebahagiaan, semakin terasa lengkap kala lahirnya putri bungsu keluarga tersebut.


Dalam waktu sembilan tahun, Naomi telah memberikan empat orang cucu untuk Ricard dan Tamara.


3 orang cucu lelaki dan seorang cucu perempuan yang menjadi si bungsu keluarga besar mereka.


Tentu saja ke empat putra dan putri Leon itu memiliki sifat yang beragam.


Dimulai dari putra pertamanya yang bernama Deon, anak berusia 8 tahun itu memiliki sifat yang tenang dan kalem. Ia penyayang juga selalu memperhatikan adik-adiknya.


Lain dengan Nathan, putra keduanya yang bersifat keras kepala, semaunya sendiri, dan dingin. Anak berusia 5 tahun itu lebih memilih bermain sendiri dari pada berkumpul dengan saudaranya yang lain.


Ia juga akan marah apabila Naira, Adiknya yang masih berusia satu bulan di dekati oleh saudaranya yang lain. Sikap posesifnya menurun langsung dari Leon, Papanya.


Sedangkan Rainer atau biasa dipanggil Rai, adalah anak yang ceria. Ia masih berusia 2 tahun, dan memiliki perilaku yang berbeda dari dua saudaranya yang lain ketika masih seumuran dengannya.


Jika dulu Deon adalah balita yang begitu tenang, dan anteng. Lain dengan Nathan yang selalu dingin dan irit senyum meski beberapa orang di sekitarnya berusaha mengajak dirinya bermain.


Perbedaan yang kontras antara anak-anak Leon, membuat lelaki itu harus pandai-pandai membaca karakter mereka satu persatu.


Jika Naomi tak memiliki kesulitan yang berarti, lain dengan Leon yang tampak masih kesulitan memahami mereka satu persatu. Apalagi terkadang keinginan mereka berubah-ubah tak menentu, membuatnya harus meluangkan waktu lebih banyak lagi untuk keluarganya.


Leon sudah berhenti dari dunia seni peran yang telah melambungkan Namanya, ia memilih mengembangkan bisnis keluarga yang bergerak di bidang ekspor impor, perhotelan dan pariwisata.


Sikap posesif Nathan pada si kecil Naira di tunjukkan kala Adiknya itu menginjak usia lima tahun, tepat ketika Tistan dan Dinda berkunjung ke kediaman mereka.


Saat itu mereka membawa serta dua putra mereka, Darren dan Marvin. Mereka yang tak memiliki Adik perempuan, begitu menyukai Naira yang tampak begitu lucu dan menggemaskan.


Namun, Nathan dan Rai segera mengambil Naira karena memang mereka tak suka jika ada yang menyentuh atau bermain dengan Naira.


Tapi, terlepas dari itu semua, keluarga besar Naomi senantiasa dilingkupi kebahagiaan yang membuat wanita itu senantiasa bersyukur pada Tuhan .


Di balik semua ujian yang begitu berat, terdapat sebuah akhir yang indah.


Dan kini, ia telah memetik buah dari kesabarannya selama ini.


\_TAMAT\_