My Brother

My Brother
Pemeran Drama



"I itu bukannya Rahmat dan Nova?" Tunjuk Ana pada dua sejoli yang lagi duduk bermesraan.


Indah menoleh ke arah yang ditunjuk Ana. "Oh, Iya!" Jawab Indah santai.


"Gitu aja, Ndah!" Tanya Ana penasaran dengan jawaban santai sahabatnya itu.


"Terus? Aku harus bilang Woooooow Kereeeen, Gitu?" Jawabnya.


"Indah! Hatimu terbuat dari apa sih? Digutikan kok ga marah?" Ucap Ana dengan mata merah karena marah sekaligus mengepalkan kedua tangannya berdiri hendak melabrak Rahmat dan Nova tapi ditahan oleh Indah.


"Ga perlu main kasar, malu banyak orang!" Cegah Indah. "Lagian ucapan mu salah, bilang digutikan, bukan digitukan!" Sela Indah.


"Biar saja, biar semua orang tau kalo Rahmat seorang penghianat!" Ana menarik paksa tangannya dari genggaman Indah.


"Benarkah ini kamu, ANA?" Tanya Indah. Pasalnya sahabatnya itu tak pernah terlihat marah. Baru kali Indah melihat Ana gelap mata.


Indah berhasil membuat Ana kembali duduk dan duduk menangis di samping Indah. "Aku hanya ga rela kamu dipermainkan. Kamu terlalu baik!" Isaknya.


"Berulang kali Aku bilang padamu Ana, Aku sudah tau semuanya. Aku tidak merasa dipermainkan, Tapi Aku ikut menjadi salah satu pemeran dalam drama yang disutradarai oleh Rahmat sendiri!" Jelas Indah lebih detail.


"Kita akan lihat hasilnya hari Senin!" Lanjut Indah.


Hari Senin.


Seperti biasa, Indah selalu datang lebih awal dari teman - temannya. Indah mengeluarkan buku - buku milik Rahmat, mengurutkannya sesuai jadwal dan meletakkannya di atas meja. Setelah itu ia duduk di taman sekolah membawa buku Biologi dan membacanya untuk persiapan ulangan harian 1 yang akan dilaksanakan pada jam ke empat setelah Olah raga dan istirahat.


Ana datang dan duduk di samping Indah diikuti Anik, Tina dan Naura. Kemudian datang Dayat, Ferdi dan Farid yang masih lengkap dengan tas ranselnya karena mereka baru datang.


"Wuiiih, Lagi belajar nih sahabat kita yang satu ini!" Celetuk Farid.


"Ya iyalah, Indah gitu loh!" Sahut Anik.


"Boleh nyontek dong! Ya, ya ya?" Ferdi berkata sambil menaik turunkan alisnya membuat yang lain tertawa melihat tingkah Ferdi.


Bel berbunyi pertanda upacara akan segera dimulai. Para gadis segera menuju lapangan, lain halnya dengan ketiga cowok itu. Mereka menuju kelas untuk meletakkan tas di meja masing - masing. "Day, Aku titip buku ya!" Pinta Indah pada Dayat.


"Baiklah!" Dayat mengambil buku ditangan Indah.


 


Upacara selesai, siswa satu kelas Indah segera berganti pakaian olah raga dan menuju lapangan. Para siswa berganti pakaian di kelas, sedangkan siswi pergi ke ruang ganti di dekat UKS. Hanya Indah yang tidak pergi bersama teman wanitanya. Indah cukup melepas seragam sekolahnya, karena pakaian olah raganya sudah ia kenakan dari rumah. "Kamu sudah selesai, Ndah?" Tanya Dayat.


"Sudah!" Jawab Indah kemudian keluar kelas. Dayat menutup pintu kelas, barulah yang lain berganti pakaian.


Prit!


Sang guru olah raga membunyikan peluitnya singkat pertanda memanggil Indah yang sedang duduk sendiri menunggu teman \- temannya. Indah berlari kecil memenuhi panggilan gurunya.


"Duluan ke Lapangan yuk!" Ajak sang Guru setelah Indah berada di dekatnya. Mereka berjalan menuju lapangan kota yang terletak di depan sekolah. Sebelum keluar dari gerbang sekolah, siswa yang lain segera menyusul mereka.


Mereka semua melakukan pemanasan dengan joging 1600 meter sebelum sang guru memulai materi hari itu.


Indah berada paling depan disusul Dayat dengan langkah panjangnya. "Aku lihat Rahmat masuk kelas kita dan mengambil buku di meja mu!" Ucap Dayat.


"Hmmm!" Indah hanya berdehem karena masih mengatur nafasnya kemudian melanjutkan larinya.


 


Kelas sembilan A.


Seusai upacara, Rahmat istirahat sebentar di depan kelasnya. Melihat Indah berlari kecil dengan pakaian olah raga, Rahmat memanggilnya namun tak di dengar oleh si empunya nama.


Rahmat memutuskan untuk datang ke kelas Indah. Di sana masih ada Dayat dan teman - temannya yang sedang berganti pakaian. Rahmat membuka pintu kelas yang memang tidak dikunci. Seisi kelas menoleh. "Ada apa?" Tanya Dayat yang berada di dekat pintu.


"Aku mau ambil buku di tempat Indah!" Jawabnya.


"Iya." Jawabnya lagi. Dayat meminta Ferdi untuk mengambilkan buku milik Rahmat karena Ferdi lah yang saat itu berdiri di dekat meja Indah.


"Dua yang teratas saja!" Pinta Rahmat pada Ferdi.


Ferdi memberikan buku tersebut ke tangan Dayat yang kemudian memberikannya pada Rahmat. Setelah berterima kasih, ia kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran Matematika.


Pak Heru sang guru Matematika memerintahkan agar siswanya mengumpulkan buku PR di atas meja guru, kemudian beliau memberikan lembar soal ulangan. Tanpa membuka buku PR nya, Rahmat dengan yakin langsung mengumpulkannya. Kalau masalah persiapan ulangan, mungkin Rahmat sudah belajar di rumah.


Sembari mengawasi siswa Ulangan, Pak Heru memeriksa PR siswanya satu per satu. Alangkah terkejutnya Pak Heru saat melihat PR Rahmat belum di jawab. Pak Heru diam dan melanjutkan mengoreksi jawaban siswa lainnya hingga jam pelajaran selesai. Ulangan pun selesai, Pak Heru membawa hasil ulangan dan buku PR ke ruang guru.


 


Sebelum jam istirahat, Indah dan kawan \- kawan telah kembali dari Lapangan dan segera berganti pakaian. Kemudian mereka langsung memenuhi kantin sekolah.


"Aku yang bayar, Mbak!" Ucap Indah pada Mbak Ru bagian kasir seraya menunjuk sembilan orang sahabatnya yang masih asyik makan bakso dan minum jus jeruk. Setelah membayar, Indah kembali duduk diantara mereka.


Saat jam istirahat, Indah dan teman \- temannya sudah selesai makan dan duduk berjejer di depan kelas. Ketika Rahmat berjalan berdua dengan Nova melewati depan kelas Indah, Farid menyenggol kaki Rahmat dan nyaris terjatuh. Namun Indah reflek menahan bahu Rahmat agar tidak terjatuh.


"Terima kasih!" Ucap Rahmat kemudian melanjutkan perjalanannya ke kantin bersama kekasihnya.


Sakit hati? Tentu! Siapa yang tak sakit hati melihat kekasih pujaan hatinya berjalan dengan wanita lain. Betapa kecewanya hati ini setelah tau mereka berjalan dengan begitu mesra. Tapi tidak dengan Indah.


"Ga baik mencelakai seseorang seperti itu!" Ucap Indah mengingatkan teman \- temannya.


"Harusnya kamu ga perlu bantu dia, Indah!" Sahut Anik.


"Kita sesama manusia harus saling menolong, bukan saling benci bahkan saling mencelakai" Lanjut Indah.


"Hatimu terbuat dari apa sih? Disakiti, malah membela!" Ketus Anik.


"Aku tau kalian sangat menyayangi aku, tapi bukan berarti kalian ikut menghakimi seseorang! Aku punya cara sendiri untuk memberi peringatan pada Rahmat!" Indah mulai memberitahu rencananya.


"APA ITU?" Tanya mereka serempak.


"Ulangan Biologi dulu, baru kita bahas!" Sahut Indah santai membuat teman \- temannya kecewa. Namun ada benarnya, mereka seharusnya lebih memikirkan pelajaran dari pada hal \- hal yang tidak terlalu penting di usia mereka yang masih belia.


Mengingat ulangan Biologi, Dayat masuk kelas mengambil buku miliknya dan milik Indah. Ia memberikannya pada si empunya agar belajar bersama.


Disaat yang bersamaan, Halim menyapu lantai di depan kelas. Tanpa aba \- aba, mereka turun dan duduk melingkar tanpa alas. Belajar bersama untuk persiapan ulangan. Bagi mereka kotor bukan masalah. Tak peduli orang lain yang lalu lalang menuju kantin dan kelas lain. Bahkan para guru yang hendak lewat pun mencari jalan lain agar tak mengganggu mereka.


Pak Sujono melihat gerombolan anak \- anak datang menghampiri mereka. "Apa yang kalian lakukan?" Tanya beliau lembut sembari tersenyum tipis.


"Belajar, Pak!" beberapa orang.


"Oh, Baiklah! Silahkan dilanjutkan!" Sahut Pak Sujono dengan senyum yang semakin mengembang.


Tiga puluh menit berlalu, waktu ulangan biologi telah tiba. Mereka masuk kelas dengan tertib. Mengerjakan soal ulangan yang sama sekali tidak sulit bagi mereka karena telah memanfaatkan waktu istirahat untuk belajar. Alhasil, tak ada satupun siswa kelas itu yang mempunyai nilai rendah. Mereka juga selesai sebelum tiba waktunya. Mereka bisa menikmati jam istirahat kedua lebih awal.


Sementara di kelas lain, Rahmat mendapat sanksi dari sang Guru Bahasa Inggris karena saat ditunjuk menyelesaikan soal di whiteboard Rahmat tidak bisa menjawab. Kenapa? Karena PR bahasa Inggrisnya belum dikerjakan oleh Indah. Oh tepatnya oleh dia sendiri! Ia berdiri di depan pintu menghadap ke dalam kelas.


Psst, Psst! Ana berdesis memanggil Indah.


"Ada apa?" Tanya Indah pelan. Mereka begitu karena sesuai pesan sang guru Biologi agar mereka beristirahat tanpa mengganggu kelas lain.


Ana melirik ke arah Rahmat berdiri dengan satu kaki sedang tangannya memegang telinga. Indah mengikuti arah pandang Ana dan tersenyum lebar.


"Sudah tau jawabannya, 'kan?" Bisik Indah di telinga Ana. Ana yang mengerti maksud Indah langsung tersenyum memiringkan kepala. "Kasian sekali!" Ucapnya.



**Jangan lupa komentar ya, Kak**!