
“Dasar matre!” Umpat Naura yang tak dihiraukan Wati.
“Maafin Aku ya, Ndah, Na!” Ujar Naura.
“Tak apa, lupakan saja!” Sahut Indah dengan senyum ikhlas nya.
“Datanglah ke rumah, nanti malam!” Pinta Naura pada Indah.
“Iya, Aku akan datang bersama Ana!” Sanggup Indah merasa tidak enak dating ke rumah Naura sendiri karena ada Ana di sampingnya.
Selepas Shalat Isya’, Indah bersiap datang ke rumah Naura. Tak lupa Ia pamit pada sang Ibu dan mampir ke rumah Ana. Namun sayangnya Ana menolak ikut ke rumah Naura dengan alasan tidak enak badan, padahal Ana tak ingin ikut karena Naura hanya meminta Indah dating bukan bersama dirinya. Alhasil Indah berangkat sendiri ke rumah Naura.
“Hai, Dek!” Sapa Hary saat Indah meletakkan sepedanya di halaman rumah Naura.
“Hai juga, Mas!” Tanggap Indah yang langsung menghampiri Hary dan menanyakan keberadaan Naura. Ternyata Naura pergi untuk menjemput Indah ke rumahnya.
“Apa Naura tidak memberitahumu kalau ia akan menjemput?” Tanya Hary.
“Engga, Mas!” Sesaat setelah menjawab pertanyaan Hary, ponsel Indah bergetar. Naura lah orang yang menghubunginya.
“Halo!” Naura.
“Kau dimana?” Indah
“Aku di rumahmu, tapi kata Mas Hary kau pergi menjemputku!” Jawab Indah.
“Apa kau datang bersama Ana?” Naura.
“Aku datang sendiri, karena saat ini Ana sedang tidak enak badan. Jadi, ia memutuskan untuk tidak ikut ke rumahmu!” Indah.
“Baiklah! Jika begitu, Kau tunggu Aku di depan gerbang rumah. Aku akan menjemputmu!”
“Iya!” Indah segera melakukan permintaan Naura. Tak lupa Indah pamit pada Hary dan Ibu dari Naura yang duduk di ruang tamu sejak dirinya datang.
“Bu, Indah pergi dulu!” Pamit Indah mencium punggung tangan Ibu dari sahabatnya.
“Apa tidak sebaiknya kamu menunggu Naura? Baru sampai sudah mau pergi lagi!” Tutur kata Ibu Naura sangatlah halus.
“Tidak, Bu! Baru saja Naura menelepon saya dan meminta saya menunggu di depan gerbang!” Indah menjawab dengan sopan.
“Oh, begitu! Ya sudah, Pergi dan berhati – hatilah!”
“Iya, Bu! Terima kasih sudah mengingatkan! Assalamualaikum!” Pamit Indah kemudian berlalu ke gerbang rumah Naura.
“Waalaikum salam!”
Naura membawa Indah ke sebuah Kafe di Tepi pantai. “Aku mau pesan makanan. Kau mau apa?” Tanya Naura.
“Apa saja, asal jangan kau racuni aku!” Sahut Indah dengan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.
“Ga mungkinlah Aku meracunimu. Yang ada aku kasih jamu penguat persahabatan!” Sahut Naura.
Sambil menunggu menu pesanannya datang, Naura mulai bercerita pada Indah tentang maksud dan tujuannya bertemu Indah malam ini.
Wati anak orang tak mampu, Ibunya seorang art, Ayahnya seorang tukang becak. Karena kesombongan Wati yang mengaku sebagai anak majikan ibunya., sang ibu dipecat dari pekerjaannya. Wati tidak mau berteman dengan anak lain yang bernasib sama dengannya. Wati memilih anak orang kaya sebagai teman. Salah satunya Naura.
Naura bukanlah anak yang sombong meski dirinya anak orang kaya. Ia berteman dengan siapa pun. Namun kali ini Naura tidak senang berteman dengan Wati, karena Wati sering memanfaatkan kebaikan dan kekayaan Naura.
“Najis ya, aku berteman denganmu! Lebih baik Aku berteman dengan Naura daripada denganmu!” Ejek Wati pada Erna tetangga sekaligus teman sekolahnya.
“Aku memang bukan anak orang kaya seperti Naura. Tapi aku juga gam au berteman dengan orang tak tau diri sepertimu!” Balas Erna. Meski tidak bisa bersuara keras, namun kata – katanya begitu menyayat hati orang yang mendengar.
“Setidaknya aku bisa mengambil hati Naura dengan berpura – pura baik padanya. Alhasil, saat ini Aku berteman dengannya dan memanfaatkan kebaikannya untuk mendapatkan apa yang aku inginkan!” Ejek Wati memamerkan sepatu yang baru kemarin dibelikan oleh Naura.
Erna membelalakkan mata saat melihat Naura berdiri di belakang Wati. Tadinya Naura bermaksud datang ke rumah Erna untuk meminjam buku. Namun langkahnya terhenti saat ia mendengar kata – kata Wati tentangnya.
Naura meletakkan jari telunjuk di bibirnya dan memainkan mata agar Erna memancing omongan Wati selanjutnya. Beruntung Erna langsung mengerti.
“Dari mana kamu mendapatkan sepatu mahal? Biasanya kau beli sepatu bekas di tukang jahit sepatu yang mangkal di pasar tradisional itu!” Pancing Erna
“Dari mana lagi kalau bukan dari Naura, ‘kan ga mungkin kamu mampu memberikannya untukku! Jangankan untuk membelikan orang lain sepatu, beli sendiri aja masih harus cari yang murahan” Ketus Wati tanpa sadar jika Naura berdiri di belakangnya dan mendengar semua yang ia katakana, bahkan Naura sempat merekam semua perkataannya.
“Bagaimana ceritanya Naura membelikanmu sepatu mahal?” Lanjut Erna.
“Saat kemarin ia terjatuh, Aku segera berpura – pura baik menolongnya agar ia berhutang budi padaku!” Wati bicara panjang kali panjang dengan senyum licik.
“Kau tau, saat Naura akan terjatuh ada Indah yang berdiri tak jauh dari tempat Naura. Indah hendak mendekati Naura tapi aku tarik tangannya hingga ia terjatuh bersamaan dengan jatuhnya Naura. Maka saat itulah kesempatanku membantu Naura!” Lanjut Wati.
“Setelah Aku berhasil menolongnya, gadis bodoh itu mengucapkan terima kasih padaku. Aku tolak ucapan terima kasihnya. Karena hutang budinya, ia membelikan aku sepatu mahal ini!” Benar – benar panjang kali panjang sepanjang kali berantas penjelasan Wati serta berakhir dengan kaki terangkat memamerkan sepatu barunya.
Setelah puas dengan kesombongannya, Wati melenggang pulang tanpa pamit pada Erna. Sementara Naura segera mematikan rekaman ponselnya dan bersembnuyi di balik pohon besar dekat pagar bambu rumah Erna agar tidak bertemu Wati.
Flashback Off
“Untuk itu, Aku tak ingin lagi berteman dengan orang yang hanya memanfaatkan hartaku!” Naura kecewa dengan sikap Wati yang bagai serigala berbulu domba.
“Lalu, untuk apa kau simpan rekaman pembicaraan Wati dan Erna?” Tanya Indah.
“Aku terlanjur mengatakan pada Ibu bahwa Wati yang telah menolongku saat aku terperosok jatuh ke selokan saat itu. Ibu memintaku membantu setiap kesulitan yang dialami Wati. Terlebih ia anak seorang art dan tukang becak!” Cerita Naura sambal menikmati menu andalan kafe tersebut.
“Benarkah apa yang dikatakan Wati tentangmu?” Tanya Naura membuat Indah terbatuk. Ia bingung harus menjawab apa. Indah takut jika Naura menganggap dirinya sama dengan Wati.
Indah meraih botol air mineralnya untuk mengurangi batuknya. “Saat itu Aku berada di bengkel karena ban sepedaku bocor. Aku melihatmu yang hendak terjatuh. Aku ingin berteriak mengingatkanmu, namun saat itu ada seseorang yang membungkam mulutku dari belakang dan menghempaskanku hingga terjatuh di depan bengkel bersamaan dengan jatuhnya kamu ke selokan. Ketika aku bangkit, Wati sudah menolongmu dan ….” Indah ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Ia tak ingin mengadu domba sahabatnya dengan Wati.
“Dan apa, Indah?” Tanya Naura penasaran.
“Katakanlah yang sejujurnya, Dek!” Suara itu membuat Indah dan Naura mencari dari mana datangnya si pemilik suara.
“Mas Hary!” Pekik keduanya. Hary duduk di bangku kosong bersama Indah dan Naura.
“Apa mas tau, kejadian yang menimpaku saat itu?” Naura mengalihkan pertanyaannya pada Hary.
“Iya, Dek!” Hary mengangguk dan mengambil ponsel di sakunya.
“Jika Indah tak ingin menjawab semuanya, maka lihatlah video yang aku ambil rekaman cctv yang terpasang di dekat kejadian. Saat itu pula aku sedang melintas di sana. Maka dari itu aku berinisiatif datang ke DISHUBKOMINFO untuk menncopy rekaman kejadian yang menimpamu!” Hary menyodorkan ponsel miliknya pada Naura.
Naura dan Indah menutup mulut tak percaya saat melihat kelicikan Wati.
Brak! Naura menggebrak meja dengan wajah memerah karena emosi.
Indah segera meraih tangan tersebut. “Tahan emosimu! Di sini bukan tempatnya!” Naura membenarkan perkataan Indah dan duduk kembali.
“Minumlah!” Indah menyodorkan Orange Juice milik Naura. “Beruntunglah kau bisa mengetahui kelicikan Wati sebelum kau terlanjur banyak mengeluarkan uang untuk seorang teman seperti Wati!” Sambungnya.
Bersambung......
**Terima kasih dah setia tongkrongin Novel My Brother ini**.
**Tetap semangat baca ya, Kak**!
**Beberapa Bab lagi tamat**.
**Jangan lupa like, komentar n vote- nya! Bintang 5 juga ga bakal aku tolak🤭**.
**Hadiah bunga juga boleh, Kak**!

