
"Tegakkan kepalamu seolah semua jawabanmu benar!" Balas Indah.
"Halim!" Panggil Bu Tuti dengan suara khas nya membuat si pemilik nama terlonjak kaget.
"I - iya, Bu!" Sahut Halim.
"Kerjakan soal nomor lima!" Perintahnya masih dengan suara nyaring.
Halim berdiri dengan santainya, kemudian melangkah ke depan. Tak lupa ia mencolek tangan Indah pertanda meminta jawaban.
Indah yang mengerti akan hal itu berbisik. "Tulis ulang soalnya!" Ucap Indah pelan dan tanpa menoleh agar tidak ketahuan.
Setelah Halim menulis ulang soalnya, Bu Tuti bertanya pada siswa yang lain. "Apakah ada yang menyalahkan?" Tak ada siswa yang berani menjawab.
"Fitri! Betulkan jawaban Halim!" Perintah Bu Tuti pada siswi yang duduk di samping Indah.
Fitri berdiri di samping Halim dan mulai menuliskan jawaban yang menurutnya benar.
"Ada lagi?". Tanya si guru killer. Semua siswa menunduk kecuali Indah, Day dan Ana. Pun Halim yang masih setia berdiri di depan kelas.
"Baiklah, jika tidak ada yang maju! Saya akan bertanya pada kalian, Manakah jawaban yang benar diantara jawaban kedua teman kalian ini?". Bu Tuti.
"Jawaban Halim, Bu!" Sahut Indah, Dayat dan Ana serempak.
"Siapa saja yang setuju dengan jawaban Halim, acungkan tangan?" Tegasnya.
Trio pendukung Halim segera mengangkat tangan. "Jika begitu, Halim bersama tiga orang pendukungnya, Silahkan keluar kelas dan jangan mengganggu kelas lain!" Perintah Bu Tuti yang langsung dilaksanakan oleh mereka yang diperintah. Mereka dikeluarkan bukan karena jawaban Halim yang salah tapi sebaliknya. Sedangkan mereka yang di dalam kelas mendapat penjelasan kembali materi tersebut dari sang guru.
**Flashback On**
"Apa kau mengenal Indah?" Tanya Zainur.
"Ya, Aku mengenalnya! Ada apa kau menanyakannya?" Tanya balik Desi.
"Tak ada apa - apa, Aku hanya mengaguminya!" Jawab Zainur.
"Sejak kapan?" Desi mulai merasa cemburu.
"Sejak dua tahun lalu!" Zainur.
Deg Deg Deg
Jantung Desi berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Pasalnya baru satu tahun mereka jadian, tapi kekasihnya mengatakan jika dirinya mengagumi wanita lain satu tahun sebelum mereka jadian.
"Ba - bagaima - na bisa?" Desi mengontrol laju jantungnya.
"Kau ingat, dulu saat kemah di sekolah kalian, sekolahku diundang dan Aku sebagai Pradana hadir di sana. Saat itulah Aku mulai mengagumi Indah. Dia gadis yang cerdas, dingin tapi tidak sombong. Aku yakin sifat dan kecerdasannya itu menurun dari kedua orang tuanya!" Ucapan Zainur seakan menusuk jantung Desi, pasalnya mereka jadian tanpa sepengetahuan Ayah Desi yang menentang kedekatan mereka. Alasan ayah Desi adalah karena perbedaan status sosial.
"Jika kamu mengagumi Indah, untuk apa kau memilihku menjadi kekasihmu? Kenapa tak kau dekati saja Indah?" Suara Desi naik satu oktaf menahan amarah.
"Karena kau .... Kau terobsesi untuk memiliki Aku!" Jawab Zainur terbata.
"Dari mana kau mendapat kesimpulan seperti itu?" Desi.
"Anton menceritakan semuanya pada ku!" Jawaban yang membuat Desi menundukkan kepala dan menangis.
"Beraninya kau permainkan perasaanku!" Desi berusaha menahan air mata yang terus mengalir tanpa diperintah.
"Demi sahabat yang menganggap mu seperti adik kandungnya sendiri!" Jawab Zainur.
Zainur dan Anton adalah dua bersahabat. Sejak kepindahan Desi dari kota B, mereka menambahkan Desi diantara mereka. Zainur tak pernah menganggap Desi lebih dari seorang teman, namun berbeda dengan Anton. Dia menganggap Desi seperti adik kandungnya sendiri. Apa pun masalah yang dihadapi Desi, Ia selalu menceritakannya pada Anton. Pun tentang perasaannya pada Zainur.
Sejak saat itulah Desi mulai memperhatikan tingkah laku, serta sifat Indah. Ia terobsesi ingin menjadi sahabatnya. Ia ingin menjadi seperti wanita yang dikagumi oleh sang kekasih.
**Flashback Off**.
Beberapa hari ini, Desi mengikuti Indah kemana pun dia pergi. Kecuali saat Indah pulang ke rumah.
Kadang ia mendekati orang - orang terdekat Indah. Begitu pula Dayat dan Halim yang tak luput dari pengintaian Desi.
"Boleh Aku duduk?" Ucap Desi pelan saat bertemu Dayat duduk sendiri di kantin sekolah.
"Boleh!"
Desi menggeser sebuah kursi tepat di depan Dayat, dan duduk. Sedikit ia bertanya tentang Indah dan apa yang Dayat kagumi dari sosok Indah. Dengan senang hati Dayat menjawab pertanyaan Desi.
Tiga puluh menit mereka berbincang, Indah dan Ana masuk kantin. Mereka tanpa sengaja melihat Dayat berdua dengan Desi. "Bukankah itu Desi?" Ana berbisik.
"Ya!" Jawab Indah tanpa menoleh.
"Indah, lihat donk!" Ana memaksa Indah menoleh ke tempat yang dimaksud.
"Iya, Aku dah tau. Day yang kamu maksud 'kan?" Indah.
"Iya, mereka......
"Boleh lihat lukisanmu?" Halim.
Indah segera membalik sketsa lukisannya tak ingin diketahui oleh Halim.
"Oh, ya sudah, Aku takkan memaksa! Apapun itu aku yakin hasilnya pasti Indah seindah namamu!" Halim mengerti jika ada alasan tertentu yang membuat Indah melakukan hal itu.
Hari ini, mereka sedang ujian praktek Seni rupa membuat lukisan yang nantinya akan dipamerkan dalam acara Gelar Seni pelajar yang diadakan sekolah.
Hanya Ana yang boleh tau lukisan Indah saat itu. Karena selama ini hanya Ana lah yang tau semua masalah Indah. Eh, maksudnya sebagian besar bukan semua.
"Kenapa tidak boleh?" Tanya Ana.
"Belum waktunya!" Sahut Indah.
Setelah di rasa tak ada orang lain di dekatnya selain Ana, Indah lanjut menyelesaikan lukisannya. Sejenak ia melihat lukisan Ana yang ada di sampingnya. "Kenapa belum mulai?" Tanyanya.
"Dominan warna merah membuatku kesulitan mencari inspirasi untuk membuat lukisanku!" Ana.
"Situasi sekolah saat upacara mungkin bisa jadi inspirasi lukisanmu!" Usul Indah.
"Apa hubungannya dengan warna merah?" Ana berpikir.
"Sekolah dengan bendera merah putih, genteng merah, dan yang ikut upacara Siswa SD berseragam putih merah. Banyak merahnya, 'kan!" Jelas Indah.
"Tapi, Apa tidak terkesan kekanakan?" Ana.
"Ya ampun, Na! Ya bagaimana caranya kamu buat lukisanmu dengan benar. Bukan sekedar membuat lukisan yang kaku seperti karya anak SD yang hanya menggunakan kertas gambar, pensil dan penggaris!" Seru Indah menepuk pelan pundak si pecinta warna merah.
"Baiklah, akan aku coba!" Ana mulai menggoreskan pensilnya. Sedangkan Halim duduk lebih jauh dari Indah, namun masih memandang manisnya sang kekasih hati.
"Kau lupa sesuatu!" Ujar Ana.
"Apa?" Indah mengerutkan kening.
"Kau hutang penjelasan padaku tentang Halim" Sahut Ana.
"Setelah hari Senin akan aku jelaskan!' Jawab Indah.
"Indaaaaah, jangan buat aku penasaran donk!" Rajuk Ana.
"Aku aja ga tau apa yang akan terjadi!" Ketus Indah.
"Daripada penasaran, mending Aku tanya sendiri ma Halim!" Ana pergi membawa peralatan lukisnya menjauh dari Indah dan duduk di samping Halim. Indah hanya memberikan apresiasinya lewat senyum terhadap sikap Ana yang demikian.
"Hai, Boleh Aku duduk bersama kalian?" Sapa Desi.
"Ya!" Jawab keduanya serempak.
Desi menanyakan apapun tentang Indah. Sama seperti Dayat, Ana dengan bangganya menceritakan kebaikan Indah tanpa mengurangi atau melebih - lebihkan. Sedangkan Halim tetap fokus pada lukisannya karena ia tak ingin keceplosan dan Ana mengetahui hubungan percintaannya dengan Indah.
"Eh, ternyata kalian di sini!" Sapa Dayat yang baru saja keluar dari kantin.
"Kamu kemana aja?" Tanya Ana.
"Cari inspirasi di kantin!" Jawabnya.
"Dapat inspirasi makanan donk!" Ledek Halim.
"Ya, makanan tumpah!" Sahut Dayat. "Dimana Indah?" Tanyanya yang tak melihat Indah berada dekat Halim dan Ana.
"Tuh, di seberang sana!" Ana menunjuk dengan dagunya.
Dayat beranjak pergi ke tempat Indah, namun langkahnya terhenti ketika tangannya di tahan oleh Halim. "Jangan ganggu dia!"
........
Bersambung dulu ya, Kak!
Author harus kembali bekerja di dunia nyata!🙏
Jangan lupa komentar pedasnya!