
Sudah satu minggu semenjak kejadian Naomi dan Leon di kamar. Naomi menjauhi Leon yang entah kenapa terlihat menyeramkan di mata Naomi, gadis itu selalu beralasan macam-macam ketika Leon mengajaknya mengobrol.
Hubungannya dengan Tristan memang makin dekat. Namun, tak sedekat dulu lagi karena Leon akan marah besar jika Naomi dekat dengan lelaki lain. Bahkan, Leon juga melarang Naomi untuk terlalu dekat dengan Papanya, dan Naomi membenci hal itu karena ia sangat menyayangi Ricard.
"Tristan, sampai sini aja ya? Soalnya Kak Leon lagi gak syuting." Naomi memilih turun di pertigaan jalan yang jaraknya sudah dekat dengan rumahnya.
"Gitu ya? Padahal gue pengen anterin lo sampai ke rumah." Tristan memasang wajah kecewa. Naomi kemudian memutar otak, memikirkan cara kabur dari Leon dan pergi berdua dengan Tristan.
"Nanti kalau kak Leon lagi ke lokasi syuting, kita jalan ke pantai seharian. Gimana?" tawar Naomi yang membuat Tristan memasang wajah seakan telah menang undian.
"Kapan?" tanya Tristan antusias. Pasalnya jika mereka ke pantai ada satu hal menjengkelkan yang selalu mereka kerjakan, yaitu mengganggu orang yang tengah berpacaran dengan dalih menyelamatkan mereka dari dosa.
Untuk itulah mereka lebih senang pergi ke pantai yang dirasa bisa menguji keberanian daripada ke mall yang hanya akan menguras kantong mereka yang memang tak seberapa isinya.
"Besok. Gimana?"
"Ok. Gue bakalan beli petasan, lu siapin kain mukena sama maker mukanya. Ntar kita prank pocong mereka!"
"Wah, setuju tuh. Kan Kak Leon syuting biasanya sampai tengah malam, jadi ntar kita jam sepuluh udah harus sampai rumah." dukung Naomi atas rencana jahat Tristan.
"Oke, sip."
***
Naomi melangkah masuk ke dalam rumahnya, gadis itu berharap sang Kakak tak ada di rumah, dengan begitu ia bisa menghubungi Tristan untuk menjemputnya dan mereka akan bermain sepuas hati.
Namun, keinginannya tak akan pernah terwujud, karena terdengar suara Leon yang tengah berbincang serius dengan kedua orangtuanya. Naomi yang memang punya kebiasaan menguping teman-temannya untuk mencari aib mereka, kini ia lakukan pada keluarganya.
"Papa tidak suka atas tindakan kurang ajar kamu ke Naomi tempo hari. Bagaimana jika Papa tidak datang saat itu? Kamu pasti sudah menghancurkan adik kamu sendiri!" Ricard menggeram menahan emosinya yang akan meluap jika mengingat kejadian itu.
"Iya, Pa. Leon nyesel."
"Leon, kasihan Naomi kalau sampai kamu berbuat macam-macam ke dia. Masa depan Naomi akan hancur, Leon. Dan dia akan dianggap rendah oleh laki-laki." Tamara menasehati Leon dengan lembut.
"Iya, Ma. Leon kemarin kecape'an. Makanya hilang kontrol, Leon minta maaf, Ma."
"Sebelum orangtua Naomi meninggal, mereka menitipkan Naomi pada kita. Kamu harus anggap Naomi seperti adik kandung kamu sendiri." Ricard berkata tegas pada Leon.
Naomi yang mnguping sejak tadi telah mendengar semuanya dan membuat gadis itu menutup mulutnya tak percaya. Tanpa sadar ia terisak dan membuat orangtua juga Kakaknya mengetahui kehadiran gadis itu.
"Naomi?" Tamara segera menghampiri putrinya. Wanita itu mmeluk Naomi dan menenangkan si gadis.
"Apa bener, Ma, Naomi bukan anak kandung kalian? Terus, kenapa kalian nggak pernah kasih tau Naomi sejak awal? Kenapa harus berbohong?" tanya Naomu beruntun. Tamara menangis sedih melihat putrinya begitu terpukul.
"Naomi, dengerin Kakak--"
"Kenapa Kak Leon gak pernah kasih tau Naomi tentang hal ini?"
"Kakak juga baru tau seminggu yang lalu, Naomi." Leon berkata jujur. Ia memang tidak mengetahui perihal Naomi bukan adiknya, itu karena Leon pernah tinggal dengan neneknya sewaktu ia kecil.
"Hiks ... hiks ... terus Naomi anaknya siapa, Ma, Pa?" tanya Naomi parau.
"Kamu dulu putri dari pegawai Papa. Saat itu ia difitnah menggelapkan uang perusahaan, sehingga Papa jebloskan ia ke penjara. Tanpa Papa tau kalau Istrinya tengah mengandung kamu saat itu. Dan enam bulan setelah Papa kamu ditahan, Ibu kamu melahirkan dan Dokter tidak bisa menyelamatkan Ibu kamu karena ia pendarahan hebat saat itu. Ayah kamu yang mendengar hal itu menjadi depresi, ia sakit di dalam bui. Dan sebelum meninggal, Papa kamu menitipkan kamu kepada kami." Ricard mengingat masa lalu yang begitu kelam. Tentang meninggalnya karyawan terbaik yang ia miliki karena fitnah dari karyawan lain, dan yang lebih menyedihkan adalah semua kebohongan itu terbongkar setelah dua tahun lamanya.
Ricard menghampiri Naomi yang tengah menangis di pelukan Tamara.
"Naomi ingin sendiri dulu, Pa." Naomi berlari ke kamarnya dalam keadaan menangis. Ia segera mengunci pintu kamar dan mengabaikan teriakan Leon yang menyuruhnya untuk membuka pintu.
***
Naomi tetap mengunci dirinya di dalam kamar, hal itu membuat Tamara selalu menangis di depan kamar Naomi berharap sang putri mau keluar dan memeluknya hangat.
Leon bahkan siang ini memutuskan untuk tetap berada di rumah dan tak pergi ke tempat pemotretan bersama Vebra hanya karena terus membujuk Naomi agar mau keluar.
Sebetulnya mereka memiliki kunci cadangan, hanya saja Tamara melarang membuka kamar Naomi dengan kunci itu lantaran ia tak mau putrinya semakin marah pada mereka. Ia hanya ingin Naomi keluar kamar atas keinginannya sendiri.
"Ma, kita ambil kunci cadangan aja deh. Leon khawatir sama Naomi." Leon yang mulai cemas mengusulkan untuk masuk ke kamar adiknya menggunkan kunci cadangan. Pasalnya tak ada lagi suara Naomi yang menyahuti panggilan mereka sejak subuh tadi.
"Tapi, Leon--"
"Ma, ini kan juga demi Naomi!" Leon segera pergi ke laci yang ada di kamarnya, mengambil kunci cadangan kamar Naomi yang ia miliki.
Ceklek...
Leon membuka pintu kamar bercat pink muda itu, seketika ia terkejut dan menghampiri adiknya yang tergeletak di lantai.
"Naomi!" jerit Tamara panik.
"Ma, suhu tubuh Naomi panas banget. Mama cepet telpon Dokter!" Leon segera menggendong Naomi dan membaringkan Adiknya di ranjang. Sedangkan Tamara segera menghubungi Dokter.
_________Tbc.
Hay kakak pembaca semuanya.... di sini saya sengaja ubah alur ceritanya menjadi Leon dan Naomi yang tidak sedarah. Padahal awalnya mereka memang mempunyai ikatan darah.
Alasannya? Karena saya menyukai Kak Leon:v
Tapi saya juga menyukai karakter Tristan kok.
Seperti di cerita saya yang berjudul KUSUT di mana di sana juga saya rombak bagian ending yang awalnya Alsa menikah dengan Kenzo, berubah menjadi Alsa yang menikah dengan Davin.
Alasannya? Karena saya diprotes oleh pembaca:'D
Ya sudah segitu dulu dari saya. Terimakasih sudah mengikuti cerita ini, bye<3
saya juga mohon maaf atas keterlambatan update nya, karena saya sedang sakit mata dan tidak bisa menatap layar hp terlalu lama. sekali lagi saya mohon maaf