
Sahabat Sejati tidak perlu sering mengobrol, Namun ketika mengobrol mereka tak akan berhenti berbicara.
πππ
Seringnya bertemu membuat Arman jatuh cinta pada Indah. Arman mencoba menyatakan cinta. Namun Indah tak semudah itu membalas cinta Arman.
Selain belum bisa move on dari Fathur, Indah ingin konsentrasi pada sekolahnya agar peringkat tiga besar yang sempat hilang bisa diraihnya kembali.
Pernyataan cinta Arman membuat Indah teringat pada Fathur. Indah mencari nomor ponsel Fathur dan mencoba menghubunginya. Namun tak berhasil karena Fathur tak bisa dihubungi. "Mungkin saja Fathur sudah bertemu wanita yang lebih baik dari aku dan mereka jadian" Gumam Indah.
kurang lebih tiga bulan Arman menunggu Indah menerima cintanya. Arman mencoba mengungkapkan cinta lagi. Bukan karena cinta tapi karena tidak tega menolaknya lagi, Indah menerima cinta Arman dan mereka jadian.
"Maafkan aku, Fa! Dulu aku akhiri hubungan kita dengan alasan sekolah, tapi sekarang aku terima cinta lain!" Gumam Indah.
"Hey! Ada apa, Sayang?" Arman melambaikan tangan di depan wajah Indah.
"Eh, 'ga, Ada apa ya?" Indah sadar dari lamunan singkatnya.
"Kamu kenapa, Sayang? Apa kamu menyesal menerima cintaku?" Tanya Arman bingung, pasalnya baru saja Indah menerima cintanya tapi langsung diam seribu bahasa.
"Bu bukan, aku cuma lelah aja!" Jawab Indah menutupi perasaan yang sebenarnya.
"Ya udah, kita makan dulu yuk!" Arman menunjuk warung terdekat dari Taman Kota karena mereka jadian di Taman Kota.
Seperti biasa, Indah selalu membayar pesanannya seperti saat dia makan bersama teman - temannya juga ketika makan bersama Fathur. Arman merasa tersinggung dengan apa yang dilakukan Indah. "Maafkan aku, Indah! Aku memang orang tak punya, mungkin ini alasan kamu menolak cintaku selama ini! Aku pun tak akan sanggup membayar makananmu!" Arman berbicara lirik dan menunduk menahan air matanya.
"Ma maafkan aku! Aku ga bermaksud seperti itu, tapi...
Kalimat Indah terpotong ketika Arman pergi meninggalkannya.
"Inilah yang aku khawatirkan, mereka ga akan mengerti sifat ku!" Gumam Indah dan berlalu pulang.
"Fa, kamu dimana? Kenapa nomer mu ga bisa dihubungi?" Ucap Indah di dalam kamar. beberapa kali iya menghubungi Fathur tapi sama sekali tidak pernah ada jawaban. Bahkan ponselnya tidak dalam keadaan aktif.
πΌπΌπΌ
Setelah Shalat Maghrib, Indah pergi ke rumah Ana. Selain ingin belajar bersama, Indah ingin menghilangkan penat dirinya karena bingung dengan sifat Arman yang berbeda dengan Fathur.
Di rumah, ponsel Indah berbunyi. Pak Yusuf yang menjawab panggilan teleponnya.
"Assalamualaikum!" Salam Pak Yusuf.
"Wa Wa'alaikum salam! Apa Indah ada, Om?" Arman terkejut dan gugup ketika tau Ayah Indah yang menjawab panggilannya.
"Oh, Indah! Indah ga di rumah, dia pergi ke rumah Ana. Kamu susul aja dia ke sana!" Jelas Pak Yusuf.
Setelah mendengar penjelasan Pak Yusuf dan mengakhiri panggilannya, Arman pergi ke rumah Anik untuk menanyakan alamat rumah Ana.
"Assalamualaikum!" Arman berdiri di pinggir trotoar di belakang Indah dan Ana yang duduk membelakangi jalan.
"Waalaikum salam!" Jawab Indah dan Ana menoleh ke arah suara.
Ana berdiri dari duduknya dan bertanya "Mau beli apa, Mas?" Tanya Ana yang memang sejak tadi di minta ibunya untuk menjaga toko milik keluarga kecil tersebut.
Ditanya seperti itu membuat Arman bingung karena dirinya dan Ana belum saling mengenal. Sementara Indah terkekeh melihat interaksi kekasih dan sahabatnya.
Arman membeli beberapa Snack dan minuman kemudian duduk di dekat Indah.
"Makasih!" Indah tersenyum. Aneh memang, Arman yang tadi sore meninggalkannya sendiri tiba - tiba muncul dan mengetahui keberadaannya.
Sementara Ana bingung dengan keakraban sahabat dan pembeli di tokonya. Ana kembali dengan kursi plastik dan bergabung dengan mereka. Ana melihat wajah Indah meminta penjelasan.
Indah memperkenalkan Arman kekasihnya pada Ana. Tercipta keakraban diantara keduanya.
Indah bertanya pada Arman bagaimana ia bisa mengetahui keberadaannya di sini dan bisa tau alamat rumah Ana.
Seperti biasa, Indah tak pernah pulang terlambat. Jam 20 : 30 WIB Indah pamit pulang.
"Maafin aku ya, Sayang!" Arman memulai obrolan.
"Atas apa?" Tanya Indah.
"Aku dah ninggalin kamu di rumah makan tadi sore!" Lanjut Arman.
"Aku dah maafin kamu, kok!" Respon Indah.
"Makasih ya!" Sahut Arman.
"Sama - sama!" Indah kemudian pamit masuk rumah karena tak terasa obrolan mereka membuat perjalanan pulang terasa cepat.
Mereka berpisah setelah membuat janji untuk bertemu di hari Minggu.
πΌπΌπΌ
Di tempat lain :
"Minggu ini kamu ga pulang, Thur?" Tanya Ozi kakak Faika yang magang bersama Fathur.
"Emmm, gimana ya!" Fathur bingung.
"Sudah tiga bulan kita di sini dan kamu sama sekali belum pulang. Apa kamu ga rindu keluargamu?" Lanjut Ozi mengingatkan.
"Sebenarnya aku kangen sama Ibu dan Fatima. Tapi kalo aku pulang, aku kasihan sama Bapak!" Sahut Fathur sendu.
Ozi mengerti maksud kalimat Fathur. Ia tak lagi melanjutkan ajakannya pulang.
"Aku tau, kamu merindukan orang lain selain Ibumu dan Fatima!" Ozi kembali berbicara meski ragu.
"Kenapa kamu tidak menghubunginya?" Lanjut Ozi sembari menyodorkan ponselnya ke hadapan Fathur.
"Emang kamu punya nomernya?" Tanya Fathur serta mengambil ponsel milik Ozi.
"Aku ga punya, tapi aku dah minta sama adik aku!" Jawab Ozi.
"Terima kasih!" Fathur pergi ke teras tempat kos untuk menghubungi Indah.
πΌπΌπΌ
Indah masuk kamar, meletakkan tas selempangnya di atas meja belajar. Keluar lagi menuju kamar mandi untuk berwudhu', kemudian melaksanakan Shalat Isya' yang tadi belum sempat dikerjakan.
Setelah Shalat Isya' dan hendak kembali ke kamar, Pak Yusuf memanggilnya. " Sayang, Nasi gorengnya di makan dulu ya!" Pak Yusuf menyodorkan sebungkus nasi goreng yang tadi di belinya saat pulang dari rumah nenek Rifa.
Indah membawanya masuk kamar setelah sebelumnya mengambil peralatan makan dan segelas air minum untuknya.
Indah meletakkan semuanya di meja. Lapar? Iya, karena Indah memang belum makan malam namun rasa kantuknya lebih mendominasi daripada rasa laparnya. Indah memutuskan untuk tidur lebih dulu dan makan saat terbangun tengah malam nanti.
Ponsel Indah berbunyi, tak ada nama tertulis di layar ponselnya menandakan bahwa nomer baru atau orang baru sedang menghubunginya.
Dengan berpikir positif, Indah mencoba menjawab panggilan tersebut. "Assalamu'alaikum!" namun orang di seberang sana belum menjawab.
"Halo, Assalamualaikum! Indah mengulang salamnya. Namun Fathur masih menikmati suara khas Indah yang selama hampir empat bulan dirindukan.
"Assalamu'alaikum! Hey, Halo, Siapa di sana?" Indah bingung karena belum ada jawaban.
"Wa'alaikum Salam!" Jantung Fathur berdetak kencang saat menjawab salam Indah. Hal yang sama melanda Indah.
"Fada?!" Bagai di sambar petir di siang bolong (padahal ini malam ya!)
πππ
Jangan lupa like n bagi koin receh ya, Shobat!?!
Komentarmu Inspirasiku!!!