
Tak ada seseorang pun yang tak merindukan kehadiran kekasihnya, termasuk Fathur.
Saat mengetahui Ibrahim sahabatnya sering bertemu dengan Nurika kekasihnya, Fathur juga pasti menginginkan hal yang sama dengan dua sejoli sahabatnya. Namun ia berusaha dan memahami karakter pasangannya.
🌼🌼🌼
"Wuoy! Melamun aja kerjaannya!" Ibrahim masuk ke kamar Fathur yang memang tak pernah dikunci.
"Tumben lu ngitung genteng siang bolong gini?" Lanjut Ibrahim yang melihat Fathur bergeming.
"Kencan bareng yuk, ntar malem!" Ibrahim senyum - senyum karena baru mendapat chat dari Nurika yang mengajaknya kencan. Ibrahim mengajak Fathur untuk berbegi kesenangan dengan kencan bersama.
Fathur menoleh sejenak pada Ibrahim dan "Berangkatlah sendiri!" Jawabnya dan kembali menatap langit - langit kamarnya.
"Kok gitu sih, Thur? Aku kan mau kita kencan bareng sebelum aku pulang kampung!" Ibrahim kecewa dengan penolakan Fathur.
"Kamu aja sama kekasihmu, aku engga'!" Masih dengan nada datar.
"Tumben nih orang ga mau diajak ketemuan ma Indah, biasanya kamu paling seneng?" Tanya Ibrahim heran.
Sebenarnya Fathur tak ingin menceritakannya pada Ibrahim, namun karena pertanyaan - pertanyaan dari sahabatnya membuat Fathur membuka mulut.
"Baru aja aku pulang kencan dengan Indah di mulut goa!" Masih dengan wajah tanpa ekspresi.
"Yah, ni orang ga setia hewan! Eh salah, setia kawan!" Protes Ibrahim. "Seneng - seneng ga' ajak teman!" Lanjutnya.
"Siapa yang senang - senang? Yang ada, aku malah diputusin, Ib!" Fathur menarik nafas dan membuangnya kasar.
"Apa?" Ibrahim yang awalnya berbaring di samping Fathur kaget dan duduk menghadap Fathur. "Apa aku ga salah denger, Thur?"
"Sama sekali engga!" Fathur duduk di tepi ranjang.
"Apa alasan Indah mutusin kamu?" Tanyanya.
"Pengen fokus belajar!" Jawabnya singkat.
"Itu aja?" Tanyanya lagi.
"Iya!" Fathur.
Mendengar jawaban Fathur, Ibrahim mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Nurika untuk memastikan kebenaran putusnya hubungan percintaan antara Indah dan Fathur. Nurika pun sontak kaget mendengar kabar tersebut dari Ibrahim. Pasalnya ia tak mengetahui niat indah memutuskan hubungannya dengan Fathur.
Nurika mengakhiri sambungan telpon dengan Ibrahim dan menghubungi Indah.
Tak langsung menanyakan hubungannya dengan Fathur, melainkan Nurika mengajak Indah kencan bersama malam nanti.
Sama seperti Fathur, Indah menolak ajakan Nurika dengan alasan malas keluar rumah.
Nurika dan Ibrahim melanjutkan rencana kencan mereka tanpa Indah dan Fathur. Kencan mereka kali ini membahas hubungan sang sahabat.
🌼🌼🌼
Fathur pergi ke tempat Ibrahim, namun orang yang ia cari tidak ada karena sedang berkencan dengan kekasihnya. "Astaga, kenapa aku lupa kalau Ibrahim pergi dengan Nurika!" Fathur menepuk pelan dahinya.
Ketika akan pulang, Anik tiba - tiba menyapa Fathur. "Thur!" Fathur menghentikan sepedanya dan menoleh ke arah asal suara.
"Mau kemana?" Tanya Anik
"Temani aku makan yuk!" Ajak Anik.
"Tapi..." Kalimat Fathur terputus karena Anik yang memotongnya.
"Aku yang traktir!" Menaik turunkan alisnya.
"Kita makan di sana yuk!" Lanjutnya menunjuk warung yang tak jauh dari pandangan mata.
Di sela - sela makannya, Fathur menceritakan hubungannya dengan Indah pada Anik.
Anik yang tak punya kekasih berharap Fathur akan pindah ke lain hati dari Indah menuju hatinya. Tapi tidak dengan Fathur. Sikap dingin Indah membuatnya penasaran dan tak ingin mencari penggantinya.
Anik terus merayu dan mencari perhatian Fathur dengan segala cara. Jatuh cinta membuat Anik lupa dengan sifat materialistis nya.
🌼🌼🌼
Pulang kencan, Ibrahim melihat Fathur berdua dengan Anik di sebuah gardu tanpa penerang. Ibrahim mencurigai dua orang tersebut dan melabraknya.
"Aku dan Nurika susah payah berusaha mencari cara agar kamu bisa balikan sama Indah, tapi ternyata kamu di sini sedang merayunya!" Bentak Ibrahim berdiri di hadapan Fathur dan menunjuk Anik.
"Bu bukan begitu, Ib!" Fathur terkejut dan berdiri ingin menjelaskan.
Plakkk,
Ibrahim menampar Fathur. Fathur meringis memegang pipinya yang baru saja ditampar.
"Ib!" Teriak Anik yang ikut berdiri di samping Fathur.
"Diam kamu!" Teriak Ibrahim tak kalah nyaring dari suara Anik.
"Sebaiknya kamu pulang, sekarang!" Bentak Ibrahim pada Anik yang masih tidak terima dengan perlakuannya pada Fathur.
Anik berlalu dengan pandangan kebencian pada Ibrahim.
"Jelaskan padaku apa yang baru saja terjadi?"
Tanya Ibrahim penuh penekanan.
"Aku hanya curhat masalahku padanya!" Jawab Fathur gugup.
"Ada lagi?" Ibrahim mengintimidasi.
"Ga ada!" Jawab Fathur tegas karena menganggap dirinya tak pantas dicurigai meski Anik berharap lain.
"Apa kamu bisa dipercaya?" Tanya Ibrahim lagi.
"Pasti!" Jawab Fathur yakin.
🌼🌼🌼🌼🌼
**Maaf ya reader sayang, Aku up sebentar karena mata ini terasa berat.
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like and bagi koin receh.
Komentarmu, Semangatku**!!!