My Brother

My Brother
MY BROTHER



Komen mana komen?


Jangan lupa komentar pedasnya ya, Kak!


😘😘😘


Ibnu yang melihat Indah menghampirinya, bersikap dingin seolah tak mengetahui kedatangan Indah. “Betapa bahagianya Aku, Andai kamu tau bahwa kita berdua ini saudara kandung!” Gumamnya dalam hati.


Karena cueknya Ibnu, Indah berjalan melewatinya dan berdiri di belakang Ibnu.


“Ga ada kura – kura dalam perahu, Ga usah pura – pura ga tau!” Ucap Indah ketus.


Ibnu tersadar dari lamunannya karena mendengar kalimat Indah. Ia menoleh ke belakang. “Apa maksud kamu?”


“Lupa kalo Aku ini Adikmu? Kamu tau itu ‘kan! Jadi, ga usah pura – pura tidak tau!” Ucap Indah ketus. Sementara jantungnya maraton, netra nya memerah hampir meneteskan air mata.


Ibnu langsung berdiri dari duduknya, mematikan rokok dengan kakinya kemudian berdiri mendekati Indah. Netra mereka saling menatap “Apa kamu juga sudah mengetahuinya?”. Tanya Ibnu.


“Iya, Aku sudah tau semuanya! You are My Brother!” Indah menatap tajam netra Ibnu.


Namun sebaliknya, Ibnu memandang sendu wajah Sang Adik. Ibnu bingung, apakah dia harus tertawa senang atau harus menangis bahagia.


Indah berlalu ke belakang kelas tanpa kata, Ibnu mengikutinya. Ia paham, Indah ingin berbicara berdua saja dengannya.


Indah duduk di sebuah meja yang memang berada di sana. Ibnu berjalan dan berdiri di sampingnya. “Sejak kapan kamu mengetahuinya?” Tanya Ibnu tidak yakin.


“Sejak kelas lima SD!” Jawab Indah datar.


“Ja – jadi selama ini!” Ibnu terkejut mendengar jawaban tak terduga dari mulut Indah.


“Iya, sebenarnya Aku sudah mengetahuinya sejak kelas lima melalui Tante Sari. Namun Aku memberanikan diri mencari kebenarannya saat aku kelas Enam SD. Lewat Faika aku mendapatkan informasi bahwa kita berdua saudara kandung. Satu Bapak dan satu Ibu!” Jelas Indah.


Ibnu tertunduk menahan rasa rindu pada Adik perempuannya. Bukan hanya rindu ingin bertemu, namun rindu seorang kakak pada adik kandungnya. “Boleh aku memelukmu?” Ucap Ibnu lirih tapi masih terdengar oleh Indah.


“Aku bukan orang lain, Mas! Aku Adikmu and You are My Brother!” Indah turun dari meja tempatnya duduk dan berdiri. Mereka berpelukan melepas rindu layaknya sepasang kekasih yang sudah lama berpisah.


Indah lebih dulu melepas pelukannya dengan Ibnu. “Kenapa?” Tanya Ibnu.


“Kita lagi ada di sekolah, Aku ga mau Pak Satpam atau guru melihat kita berpelukan dan menimbulkan masalah!” Jawab Indah.


“Kamu benar, Dek!” Ibnu membenarkan.


Mereka duduk berdua di meja tersebut. “Mas sengaja datang ke sini untuk melihatmu, meski dari jarak jauh tapi ternyata kau menghampiriku!” Ucap Ibnu.


“Karena batinku tak bisa bohong dan mengatakan bahwa Mas ada di sini!” Ujar Indah.


“Apa kau senang saat tau kita bersaudara dan Aku adalah kakakmu?” Tanya Ibnu.


Mendengar pertanyaan tersebut, Indah diam seribu bahasa. Hatinya berkecamuk antara bahagia dan benci. Dia bahagia karena selama ini ia menjadi anak tunggal dari Ayah dan Ibunya dan tak memiliki teman bermain sekaligus teman curhat saat ia punya masalah. Sekarang ia punya Ibnu yang notabene adalah kakak kandungnya.


Indah benci dengan keadaan tersebut karena ia merasa dirinya dibuang oleh orang tua kandungnya.


“Dek!” Ibnu menyadarkan Indah dari lamunan panjangnya.


“I – iya, Aku senang!” Jawabnya gugup tapi masih bisa tersenyum.


“Nu, Aku pulang duluan ya!” Pamit dua orang temannya.


“Iya!” Jawabnya singkat.


Setelah mendengar kata pulang, Indah bertanya pada Ibnu tentang keberadaannya saat ini.


Indah juga menanyakan perihal sekolah Ibnu. Tak lupa pula Indah menceritakan bahwa salah satu temannya ingin menjadi kekasih Ibnu, yaitu Anik.


“Mas tinggal di rumah Bapak, sesekali aku ke rumah Mama. Perihal sekolah, Mas sekolah di SMA 1, Dek!” Cerita Ibnu.


“Benarkah, ada seorang temanmu menyukai dan ingin menjadi kekasihku?” Tanyanya.


“Iya, Dia satu kelas denganku saat ini!” Jawab Indah. Mengatakan hal itu membuat Indah khawatir jika Anik menemukan Ibnu sedang berada di sekolahnya dan kembali mengincar sosok Ibnu yang selama ini di carinya.


“Aku orang pertama yang akan menentang Anik jika ia mengejar kakakku!” Suara hati Indah.


Seperti mendengar suara hati Indah, Ibnu bertanya “Apakah Kamu setuju jika Mas mu ini berpacaran dengan temanmu itu? Apa Dia cantik? Seksi atau.............


“Dia cantik, imut, tapi aku ga setuju kalau Mas pacaran sama dia!” Sahut Indah tanpa jeda, bahkan ia sempat memotong kalimat Ibnu.


“Kamu lucu, Dek!” Ibnu mencubit pipi Indah yang menggemaskan menurutnya.


“Aku bukan anak kecil!” Indah merajuk. Selama ini Indah dikenal sebagai gadis mandiri dan tegas, tapi di hadapan sang kakak, ia manja.


“Hari ini dia juga menggunakan baju yang sama denganku!” Indah bermaksud memberitahukan pada Ibnu agar menjauhinya jika mereka bertemu.


Tak lama kemudian mereka berpisah karena sudah siang, juga karena Indah dan Ibnu tidak menginginkan jika ada orang lain yang tau bahwa mereka bersaudara.


Ibnu pamit pulang, sedangkan Indah masih harus membereskan sisa – sisa kegiatannya hari ini bersama teman – teman yang lain. Karena sibuk, Anik berpapasan dengan Ibnu di koridor sekolah.




“Dari tadi dicariin kok ga ketemu! Dari mana, Neng?” Tanya Ana pada Indah yang baru saja masuk kelas.



“Hehe.... kencan, Boss!” Jawab Indah sambil mengusap tengkuknya yang berkeringat.




“Indah, Apa ini lukisan mu?” Panggil Dayat sambil menunjukkan sebuah lukisan batik dengan dasar warna biru.



“Iya, itu lukisanku!” Indah mengalihkan pembicaraan dengan menghampiri Dayat dan mengambil lukisan dari tangan Dayat. Dayat bermaksud menukar lukisannya dengan milik Indah. Ia berpikir jika dirinya sangat menyukai lukisan itu, sedangkan lukisan milik Dayat berwarna dasar cokelat. Tapi Indah menolaknya, karena ia memang pecinta warna biru.



“Wuoy, Kamu kenapa?” Tanya Ana pada Anik yang tiba – tiba murung.



“Tadi, Aku sempat melihat cowok pujaan hatiku! Namun saat ku kejar, Aku kehilangan jejak!” Anik menjawab sambil menundukkan kepalanya.



Mendengar jawaban yang keluar dari bibir Anik, Indah menoleh.”Apakah Mas Ibnu yang Anik maksud?” Batinnya.



**Flashback On**



Ketika pentas berakhir, Anik hendak melangkah menuju kelas untuk menyimpan barang – barang pribadinya ke kelas. Ia melihat Ibnu dari jarak yang tidak terlalu jauh. Anik meletakkan barang bawaannya, kemudian mengejar Ibnu yang berjalan kearah gerbang. Namun sia – sia, Anik kehilangan jejak.



Sebenarnya Ibnu masih berada di belakang pos Satpam untuk bersembunyi dan memperhatikan Anik dari tempat persembunyiannya.



Saat berpapasan dengan Anik, Ibnu teringat kata – kata Indah yang tak menginginkan dirinya berhubungan dengan Anik. “Apakah cewek ini yang Indah maksud tadi?”



Gumamnya dalam hati sembari memperhatikan Anik yang juga menatapnya. Ketika anik meletakkan barang – barang ditangannya, Ibnu bersembunyi agar Anik tak menemukannya.



“Benar sekali, pakaiannya sama dengan Indah. Indah juga memakai kaos berwarna kuning, celana panjang hitam, topi hitam dan rambut diikat.” Ibnu mengingat dan mencocokkan pakaian Indah dan Anik.



“Cantik juga, tapi mengapa Indah tak ingin Aku dekat dengannya?” Ibnu masih bergumam dalam hati dan keluar dari persembunyiannya setelah dirasa Anik sudah pergi.



“Ah sudahlah, mungkin Indah menginginkan yang terbaik baut aku!” Lanjutnya dan pergi meninggalkan sekolah Indah


**Flashback Off**



“Jangan – jangan!” Ledek Indah.



“Hantu, Ih sereeeeeeeeeeeeeem!” Tambah Dayat.



“Huh, Kalian emang ga bisa lihat orang lain bahagia! Masa iya ada hantu di siang bolong?” Sanggah Anik.



“Emangnya siapa orang yang membuatmu sedih seperti itu?” Tanya Dayat.



“Itu loh, Pa! Kekasih pujaan hatiku yang aku rindukan setiap hari, pagi, siang, sore sampai malam!” Jawab Anik merajuk memanggil Papa pada Dayat.“Kamu sih, diajak aku kencan, malah nunggu yang tak pasti!” Halim.



“Ayo!” Seru Anik.



“Tambah dulu tinggi badanmu!” Ledek Halim membuat Anik pergi dengan langkah tergesa – gesa.



Ha! Bisa - bisanya kamu bilang begitu padahal ada Indah di dekatmu!



**Bersambung dulu ya, Kak**!