My Brother

My Brother
Saudara Sepupu



Di tengah kepanikan Faika, ia melihat keberadaan kakaknya sedang bersama Fathur. Faika merasa tenang setelah mendapat lambaian tangan dari Ozi yang menenangkan dirinya.


"Tetap di tempat, jangan ikut campur urusan mereka! Ga usah khawatir karena kami juga ada di sini!" Isi chat yang di kirim Ozi pada Adiknya.


"Ada yang ingin aku tanyakan sama kamu!" Ucap Arman melepaskan genggamannya di tangan Indah.


"Apa?" Tanya Indah tenang.


"Ada hubungan apa antara kamu dengan Fathur?" Tanya Arman menahan emosi.


"Sahabat!" Indah masih menjawab dengan tenang.


"Apa hanya sebatas itu?" Tanya Arman lagi.


"Iya!" Masih dengan nada tenang


"Tapi aku lihatnya lebih dari itu!" Nada Arman mulai naik.


"Apa?" Indah tersentak dan bertanya dengan suara yang lebih tinggi dari Arman.


"Aku lihat kamu lebih nyaman berada di dekatnya! Kamu juga bisa tertawa lepas jika bersama Fathur. Namun sebaliknya, Kau tidak pernah bisa sebahagia itu saat bersamaku!" Arman memandang tajam ke arah Indah.


"Katakan sejujurnya!" Lanjut Arman dengan kesal.


Ada orang lain duduk tak jauh dari Indah dan Arman berada. Seorang lelaki menggunakan celana dan kaos hitam serta topi hitam yang sengaja di tarik kebawah menutupi mata. Ia menunduk memainkan ponselnya. Sesekali ia melihat dan mendengarkan pembicaraan dua sejoli yang sedang bersitegang. Lebih tepatnya mengawasi.


"Karena Dia bisa ngertiin aku!" Jawaban Indah masih membuat Arman bingung namun api cemburu mulai menyala di dadanya.


"Apa kamu mencintainya?" Tanya Arman, ia membelakangi Indah agar tak melampiaskan amarahnya pada Indah jika jawaban Indah mengecewakan dirinya.


Indah tersentak mendengar pertanyaan Arman. Dia bingung harus menjawab apa. Mau tidak mau, Indah harus menjawab dan menyelesaikan semuanya dengan Arman. "Kami saling mencintai dan ...


"Kenapa kamu ga mengatakan saat aku menyatakan perasaanku padamu?" Suara Arman kembali meninggi meski ia tetap membelakangi Indah.


"Karena kami sudah putus!" Indah berdiri dan berbicara lantang. Bersama dengan itu, hidung Indah berdarah.


"Adek!" Teriak Ibnu dan berlari menghampiri Indah. Mendengar teriakan itu Faika berlari diikuti Winda, Fathur dan Ozi. Fathur yang melihat pohon sirih, segera menarik beberapa lembar daunnya.


Ibnu mendudukkan Indah di sebuah gazebo yang ada di dekatnya dan ia pun duduk di belakang Indah. Kemudian ia menyandarkan tubuh Indah di tubuhnya.


"Pasang ini di hidung Indah, Mas!" Fathur menyodorkan gulungan selembar daun sirih pada Ibnu. "Terima kasih!" Ibnu berterima kasih dan mengikuti arahan Fathur.


Beberapa menit saja, darah sudah berhenti mengalir. Indah duduk bersila dikelilingi yang lain.


"Maafkan aku!" Arman mengisi kesunyian diantara mereka semua.


Marah? Tentu! Tapi mereka lebih mementingkan keadaan Indah daripada harus marah dan memberi pelajaran pada Arman.


"Mas!" Indah menoleh pada Ibnu yang berada di belakangnya.


"Iya, Dek!" Jawab Ibnu mendekat dan merangkul bahu Indah.


"Antar aku pulang!" Pinta Indah. Dengan senang hati Ibnu mengantar Indah dan Winda pulang menggunakan motor milik Ozi.


Faika menyusul mereka pulang. Sedangkan Fathur dan Arman berjalan berdua.


Masih dengan rasa penasarannya, Arman bertanya pada Fathur. "Sejak kapan kalian saling mencintai?"


Fathur menceritakan kisah cintanya bersama Indah hingga hubungan mereka berakhir dan sekarang mereka telah menjadi sahabat.


"Tapi kalian masih saling mencintai! Kenapa kalian ga balikan aja?" Usul Arman.


"Kita ga mungkin balikan, karena kamu sudah mengisi hatinya menggantikan aku!" Jawab Fathur sendu. "Sayangi dia, jaga dia juga perasaannya!" Lanjut Fathur.


"Jelaskan padaku bagaimana caranya aku menyayangi dan menjaganya!" Pinta Arman.


"Maaf, aku tidak bisa karena aku harus kembali ke tempat magangku siang ini! Kalau kamu mencintainya, maka kau tak perlu mempertanyakan pertanyaan itu padaku!" Jawab.


Mereka berpisah dan pulang ke rumah masing - masing. Fathur menghubungi Ozi menanyakan kesiapan Ozi kembali ke kota tempat mereka magang.


"Ibnu, Ada apa dengan Indah?" Paman Syah sedang duduk di teras dan melihat sisa darah yang mengering di hidung Indah.


"Nanti aku jelasin, sekarang aku pinjam motor Paman untuk mengantar Indah pulang". Jawab Ibnu.


"Baiklah, ini kuncinya! Hati - hati di jalan!" Paman Syah memberikan kunci motornya.


Ibnu membonceng Indah, sedangkan Winda pulang membawa sepeda milik Indah.


Tiba di depan rumah, Indah mengambil sepedanya dari Winda dan bergegas masuk setelah mengucapkan terima kasih pada Winda dan Ibnu.


Apa yang terjadi dengan Indah? Kenapa di sampai mimisan?" Tanya Paman Syah, pada Ibnu.


"Indah bertengkar dengan pacarnya, ketegangan itu membuat Indah mimisan!" Jawab Ibnu menyimpan marah pada Arman.


Paman Syah yang pernah mengetahui riwayat penyakit Indah hanya mengangguk mengerti.


Fathur kembali ke tempat magang bersama Ozi. Tak sedikitpun ia ingin meminta penjelasan pada Indah "Biarlah Indah sendiri yang menjelaskan padaku!" Gumam Fathur di dalam bis sebelum akhirnya tertidur dan bangun saat Ozi membangunkannya tepat saat bis hampir tiba di kota tujuan.


Hari berikutnya, Fathur kembali magang seperti biasa. Ini memasuki bulan keempat. Malamnya ia ingin sekali menghubungi Indah untuk sekedar menanyakan kabar, namun ia urungkan niatnya. Ia tak ingin mengganggu hubungan Indah dan Arman. Namun tak sesuai ekspektasinya, Indah menghubunginya.


"Fa, Maafin Aku!" Ucap Indah setelah video call nya tersambung.


"Kenapa?" Tanya Fathur menunggu penjelasan Indah.


"Aku, Aku sudah mengkhianati mu!" Jawab Indah tertunduk.


"Kau tak mengkhianati aku, kita kan dah putus!" Sahut Fathur.


"Bukan itu, Fa! Aku bilang kalo sama kamu kalo aku ga ingin pacaran dan ingin fokus sama sekolah aku. Tapi kenyataannya... hik...hik..hik!" Indah menangis.


"Aku ga suka lihat kamu nangis! Aku sudah tau kamu jadian sama Arman, dan aku ga akan marah sama kamu!" Tanggapan Fathur menenangkan Indah.


Indah menghapus air matanya, ia bertanya pada Fathur. "Aku tau kamu baik, Fa! Tapi ga mungkin kalo kamu sama sekali ga kecewa sama aku, Fa! Ga mungkin kan, Fa?"


"Kecewa? Itu pasti! Tapi aku terlalu mencintai kamu, Aku ga bisa marah sama kamu! Senyum mu bahagiaku, Dafa!" Kalimat Fathur membuat Indah semakin terharu dan menangis.


"Dan tentang Arman, Dia adalah saudara sepupuku!" Lanjut Fathur.


"Apa?!" Indah kaget mendengar pengakuan Fathur bahwa Arman adalah saudara sepupunya.


"Iya! Ayahku dan Ibunya adalah saudara kandung." Jelasnya.


"Jadi . . .


"Aku ga mungkin membenci kalian! Kamu adalah cinta pertamaku dan Arman adalah saudara sepupuku. Bagaimana aku bisa membenci kalian?" Ucap Fathur lagi.


"Tapi aku tidak mencintainya, Fa!" Sanggah Indah.


"Jika kau tak mencintainya, kenapa kamu terima cintanya, Dafa?" Tanya Fathur mengerutkan keningnya.


"Tiga bulan yang lalu. Seminggu setelah kamu berangkat magang, iya menyatakan cinta padaku. Tapi Aku menolaknya karena masih ada cinta di hatiku. Pun dua Minggu yang lalu, ia kembali menyatakan cinta tapi nama itu masih melekat mengisi hatiku. Namun karena aku kasihan, Aku terima cintanya. Tapi Arman egois, ia selalu memaksa saat aku tak mau diajak ketemuan dan berkencan dengannya. Dan kamu tau, Aku tak suka itu!" Cerita Indah membuat Fathur mengerti bagaiman hubungan Indah dan Arman.


"Bolehkah Aku mengetahui, siapa nama orang yang hingga kini masih melekat mengisi hatimu?" Tanya Fathur sembari tersenyum pada Indah.


"Mau tau aja apa mau tau banget?" Indah menggoda Fathur.


"Sekedar tau aja!" Sahut Fathur.


"Entahlah, Fa! Aku bingung apakah orang itu juga mencintaiku! Dia pergi tanpa kabar, hampir tiga bulan aku menunggu kabar darinya, menghubungi nomornya tapi sama sekali tidak tersambung!" Indah memasang wajah memelas padahal ia tertawa dalam hatinya.


"Iya, iya, Maafin aku ya! Kita bicarakan masalah kita nanti setelah aku selesai magang! Sekarang kamu baik - baiklah dengan Arman karena kamu terlanjur menerima cintanya!" Fathur tersenyum memiringkan kepalanya.


Mereka mengakhiri percakapan malam ini.




**Dah dulu ya!!! Lanjut besok!



Siapa Paman Syah? Dia adalah salah satu adik dari Bu Ifa yang sering datang mengunjungi dan mengajak Indah kecil bermain. Reader yang sudah baca novel ini dari awal pasti mengetahui cerita saat Paman Syah mengunjungi Indah kecil.



Jangan lupa like n komentar tentang bab ini ya!!!



Terima kasih buat yang sudah setia membaca dan mau menunggu up novelku🙏🙏🙏



Semoga setiap kebaikan di balas seribu kebaikan oleh Sang Pencipta🤲🤲🤲**