My Brother

My Brother
Kesempatan



Indah meraih selembar tisu dan membersihkan sebutir nasi yang tak sengaja bertengger di bagian bawah bibir Halim. Seketika tangan Halim meraih tangan Indah. Netra mereka bertemu dengan tatapan intens. Apakah ini pertanda kau akan melanjutkan hubungan ini! Batin Halim.


"Terima kasih!" Ucap Halim menurunkan tangan Indah perlahan. Sebagai balasannya, ia menyuapkan sesendok nasi goreng. Tak ada penolakan dari Indah.


Belum selesai acara makan malam mereka, datanglah dua sejoli Hidayat dan Safia. Keduanya duduk di sebelah meja Halim Indah, yaitu meja dengan nomor tiga belas.


Safia memesankan nasi goreng pedas untuk dirinya dan sang kekasih tanpa bertanya apakah kekasihnya suka makanan pedas.


Nasi goreng cumi milik Halim dan Indah ludes ketika pesanan Safia datang sehingga diam - diam pasangan Dayat Safia mendengarkan obrolan sepasang kekasih di meja sebelah tanpa tau jika yang bicara adalah teman sekaligus sahabat mereka di sekolah.


"Aku ke toilet sebentar ya!" Pamit Halim. Indah mengangguk tersenyum tanpa kata. Sejak kepergian Halim, Indah memilih memainkan game di ponselnya.


"Permisi, Kak! Ini pesanannya!" Ucap si pelayan Kafe dengan menyodorkan sebuah piring yang tertutup tudung saji ukuran mini berwarna senada dengan kemeja yang dikenakan Indah.


"Terima kasih, Mbak!" Sahut Indah dengan senyum termanisnya.


Apa ini, apa Halim yang memesankan untukku? Batin Indah, namun ia tak berani membuka tudung sajinya. Indah memutuskan untuk menunggu Halim.


Setelah kembali dari toilet, Halim duduk kembali di hadapan Indah. "Kenapa belum di buka?" Halim.


"Karena aku tidak merasa memesan apapun!" Jawabnya.


"Aku yang memesannya untukmu. Bukalah!" Seru Halim.


Perlahan Indah membuka tudung sajinya. Jantung Indah kembali maraton melihat isinya. Sebuah minitart karakter Doraemon tersenyum padanya. Ya, sebenarnya Halim bukan hendak ke kamar mandi melainkan iya menghubungi pemilik Kafe tersebut untuk meminta salah satu pelayan memberikan kue pesanan Halim ke hadapan Indah.



"Ke kenapa harus Doraemon?" Tanyanya menghilangkan gerogi.


"Apa iya aku harus menjawabnya? Aku tau segalanya tentangmu, Sayang!" Kata terakhir yang Halim ucapkan, membuat Safia dan Dayat spontan menoleh. Jantung Dayat maraton, entah apa yang dirasakannya hanya author yang tahu. Sedangkan jantung Safia maraton, karena ia terharu dan menginginkan kebahagiaan yang Halim persembahkan untuk Indah.


"Aku suapi ya, Sayang!" Halim mengambil secuil kue menggunakan sendok kecil yang berada di samping minitart, kemudian menyuapi Indah.


Saat mengunyah kue, Indah menghentikan kunyahan nya. Mengeluarkan sebuah pipa kecil darii mulutnya. "Kenapa, Sayang?" Tanya Halim berpura - pura tidak tau.


"Ini!" Indah membuka telapak tangannya menunjukkan barang kecil berwarna biru tersebut. Tapi kenapa warnanya biru? batin Indah.


Indah mencoba mengeluarkan gulungan kertas yang terdapat dalam pipa tersebut.


❤️Adakah KESEMPATAN KEDUA Untukku?❤️


Begitulah isi tulisan yang membuat Indah panas dingin. Namun ia menunjukkan senyum termanisnya dan berniat mengerjai si Halim yang sedang menunduk menunggu jawaban dari bibir mungil Indah. Ia takut kecewa. Sekarang giliran ku yang mengerjai mu, Ha! Batin Indah tersenyum kecil dan segera merubah ekspresi wajahnya menjadi sedingin salju.


"Apa kau siap mendengar jawabanku?" Tanyanya.


"Aku siap mendengar keputusanmu, Apapun itu!" Jawab Halim mengangkat sedikit wajahnya menatap netra Indah.


"Apapun?" Tanya Indah masih dengan wajah datar.


"Iya, Apapun itu!" Wajah sendu Halim masih menatap Intens netra Indah.


"Walaupun jawabanku nantinya akan mengecewakanmu?" Pertanyaan Indah membuat Halim kembali menundukkan wajahnya takut kecewa.


"Mungkin saja!" Bukan tanpa alasan Indah menarik ulur keputusannya. Ia menahan tawa melihat wajah Halim yang begitu lucu menurutnya.


Halim menunduk pasrah, memejamkan mata dan menangis dalam hatinya. Tanpa ia sadari, air matanya menetes dan semua itu tidak terlepas dari penglihatan Indah.


"Hei, kenapa sedih? Aku bahkan belum menjawabnya!" Indah mengusap lembut air mata Halim di pipinya.


"Maaf, Aku terlanjur mencintaimu, Indah!" Ucapnya menggenggam tangan Indah, namun matanya masih saja terpejam.


"Angkat wajahmu, buka mata, pandang wajahku dan katakan sekali lagi apa yang baru saja kau katakan!" Pinta Indah menatap tajam Halim.


Halim menuruti permintaan Indah. Perlahan ia membuka mata menatap netra Indah dan mengatakan "Aku mencintai kamu, Indah!" Ucap Halim masih menggenggam tangan kanan Indah dengan kedua tangannya sedangkan jari telunjuk tangan kiri Indah meraih butter krim yang terdapat di kuenya.


"A da!" Ucap Indah memoleskan krim ke ujung hidung Halim membuat pria di depannya membulatkan mata.


"Ma ma maksud kamu Ada? Ada apa?" Tanya Halim bingung tanpa berniat menghapus krim di ujung hidungnya, karena ia tak menyadari perbuatan usil Indah.


Atas pertanyaan Halim Indah memberikan kertas kecil berwarna biru itu pada Halim yang kemudian membacanya.


"Benarkah?" Halim tak percaya dengan jawaban Indah yang seolah bagai mimpi baginya.


Seketika ia berdiri hendak memeluk dan mencium puncak kepala Indah, namun jari telunjuk tangan Indah segera menutup bibir Halim. " Bukan pada tempatnya!" Ucap Indah.


Halim kembali duduk di Kursinya. "Maaf, tapi terima kasih karena kamu sudah memberikan kesempatan kedua untukku!" Halim menggenggam mesra kedua tangan Indah yang berada di atas meja.


"Tak apa, Aku harap tak ada sesuatu yang lebih daripada berpegangan tangan karena kita masih usia sekolah dan bukan pada tempatnya. Terlebih hidungmu yang bak Pinokio itu membuatmu lucu dan akan menjadi tontonan orang lain jika krim itu menempel di keningku!" Indah membuat kesepakatan tentang hubungan mereka, namun diakhiri dengan candaan konyolnya agar Halim tidak tersinggung dengan keputusan yang ia buat.


"Apa?" Halim melihat bayangan wajahnya pada meja yang dilapisi kaca hitam tersebut. Terlihat jelas krim berwarna biru putih diujung hidungnya.


Halim meraih tisu dan menghapus krimnya, tapi di sisi lain ia membalas perbuatan Indah.


"Terima kasih ya, Sayang!" Ucapnya.


"Ga gitu juga kali, Ha!" Indah merajuk meraih tisu. Tapi Halim malah menjauhkan tisu dari tangan Indah.


"Ga lucu, Ha...!" Indah menundukkan wajahnya malu.


"Biarkan aku yang membersihkannya!" Ujar Halim sembari mengusap lembut ujung hidung Indah dengan ibu jarinya membuat gadis kecil Pak Yusuf dan Bu Sri makin tersipu dengan wajah merah merona bak tomat setengah matang.


"Pulang yuk!" Halim berdiri dan mengulurkan tangan pada Indah.


"Tapi...!"


"Aku sudah membayar semuanya, Sayang!" Tanpa ragu lagi Halim mengucapkan kata SAYANG dan sangat terdengar jelas di telinga Safia dan Dayat yang kehadirannya belum juga di sadari oleh dua sejoli Indah dan Halim.


Indah menerima uluran tangan Halim dan menggandengnya. Mereka keluar Kafe bergandengan tangan mesra. Ingat ya, Ha sekedar saling berpegangan tangan, tidak lebih.


Lalu bagaimana dengan kisah dua sejoli yang sejak tadi menjadi penonton setia pasangan romantis Indah dan Halim?


Lanjut di Chapter berikutnya!


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️