My Brother

My Brother
Memahami



Dalamnya laut dapat diduga, Dalamnya hati siapa yang tahu.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


"Ada apa sebenarnya dengan Indah dan Arman? Apa mereka bertengkar? Atau mereka putus?" Pikiran Ana dipenuhi pertanyaan tentang sahabatnya. "Ah sudahlah, ga baik menebak - nebak. Nanti juga Indah akan ceritain masalahnya sama Aku!" Lanjutnya.


🌼🌼🌼


Indah datang tepat waktu. "Sudah, belum?" Kata - kata yang mengejutkan Ana, karena Indah menyerobot masuk ke kamar Ana setelah mendapat izin dari Ibu Ana.


"Huh, tinggal satu nomor!" Jawab Ana.


"Capek ya?" Tanya Indah.


"Ya iyalah! Gimana ga capek, tugas sebanyak ini!" Sahut Ana lagi.


"Ya udah, lanjutkan! Aku tunggu di luar sama adik kamu aja ya!?" Tanpa menunggu jawaban Ana, Indah pergi ke toko menemui Adik Ana yang sedang mengobrol dengan Ibunya. Setelah memastikan Indah pergi, Ana menghubungi Arman untuk memberitahukan keberadaan Indah yang baru datang ke rumahnya.


Arman berterima kasih dan segera berangkat ke rumah Ana.


"Indah, sudah ketemu Ana?" Tanya si Ibu.


"Iya, bu! Sebentar lagi dia keluar." Jawab Indah.


Lima menit kemudian, Ana sudah duduk bergabung dengan mereka. Ana memijat tangan kanannya sendiri dengan tangan kirinya.


"Makanya kalo nulis jangan terlalu bagus, neng!" Nyinyir Indah.


Hehe....


"Jangan pake' Ironi dech! Masih juga bagusan tulisanmu!" Ana tersenyum merasa di sindir.


Tulisan tangan Indah dan Ana memang sama bagusnya, tapi terkadang tulisan Indah lebih buruk ketika dirinya sedang malas menulis atau sedang terburu - buru menyelesaikan tugas dan ulangannya.


"Assalamualaikum." Arman datang.


"Waalaikum Salam". Jawab Indah, Ana dan Ani.


Indah dan Ana keluar menemui Arman sedangkan Ani tetap di dalam menjaga toko.


"Sayang, Aku ingin bicara!" Arman bicara datar.


"Ngomong aja di sini!" Indah menjawab ketus.


Ana mengambil kursi dan duduk di dekat Indah karena memang Indah yang meminta Ana untuk tetap menemaninya.


"Kemana aja kamu selama beberapa hari?"


"Apa yang terjadi denganmu?"


"Kenapa ponselmu tidak dapat dihubungi?"


"Jelaskan padaku!"


Ana melongo mendengar pertanyaan yang diajukan Arman.


"Mana yang harus Indah jawab lebih dulu?" Gumam Ana yang masih diam dengan mulut terbuka.


"Bagaimana, Moderator? Pertanyaan yang manakah yang harus saya jawab terlebih dahulu?" Nyinyir Indah melirik Ana.


Seketika Ana menutup mulutnya. "Aku bingung, banyak pertanyaan yang diajukan Arman membuat aku lupa! Intinya dia bertanya kamu kemana selama ini!" Jawab Ana kemudian.


"Terima kasih, Bu Moderator!" Indah memiringkan kepala dan tersenyum pada Ana.


"Baiklah, Aku akan menjawab semua pertanyaan mu!" Lanjut Indah.


"Pertama, Kemana saja kamu selama beberapa hari?"


"Aku ke Sekolah, Bermain dengan teman - teman, dan selebihnya Aku di Rumah!"


"Tapi....." Kalimat Arman terputus karena Indah mengangkat tangannya yang mengepal pertanda ia tak ingin disanggah.


"Kedua, Apa yang terjadi denganmu?"


"Tidak ada yang terjadi denganku, Aku hanya belajar, belajar, belajar dan bermain jika aku mau!"


"Aku dengan sengaja mematikan ponselku karena Ayah percaya 100% dengan apa yang aku lakukan dan kemana Aku pergi, Aku tidak akan pulang terlambat sehingga Ayah tak perlu menghubungiku!" Jawab Indah tegas.


"Semua pertanyaan sudah aku jawab. Apa ada pertanyaan lain?" Tanya Indah bak seorang moderator dalam diskusi.


"Kenapa sikap kamu jadi seperti ini? Kemanakah perginya Indah yang dulu sebelum kita jadian? Indah yang membuatku jatuh cinta?" Tanya Arman menunduk.


"Aku tetap di sini dan masih di sini!" Jawab Indah tanpa ekspresi.


"Kalo aku boleh tau, apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?" Lanjut Indah.


"Kau begitu ceria, kau selalu tersenyum manis dan tertawa riang. Kau begitu tegar dan mandiri. Kamu sangat menghormati orang yang lebih tua dan....." Entah mengapa kalimat Arman terhenti.


"Dan apa?" Tanya Indah menunggu kalimat selanjutnya.


"Dan itu semua membuatku jatuh hati padamu!" Lanjut Arman.


"Apa yang kamu sebutkan itu, mungkin adalah kelebihan ku. Namun kau tak mengetahui kekuranganku! Aku mau orang lain mencintai dan menerima kekuranganku!" Jawab Indah lagi.


"Apa itu, Indah? Aku akan berusaha menerima dan menutupi kekurangan itu!" Sahut Arman.


"Seharusnya kau tau itu sebelum kau jatuh cinta padaku dan menjadikan aku kekasihmu!" Indah memandang jauh ke depan dengan tatapan kosong. Indah berdiri dan mengambil sepedanya.


"Ana, aku pulang ya!". Ia pulang tanpa mempedulikan Arman yang masih duduk diam mencerna kata - kata Indah sembari memandang punggung Indah yang menjauh sebelum akhirnya menghilang tak terjangkau mata.


"Apa yang harus aku lakukan, Ana?" Arman mengalihkan pandangannya pada Ana.


"Apa yang terjadi diantara kalian berdua sebelum Indah bersikap seperti itu?" Tanya Ana pada Arman karena Indah belum sempat bercerita pada dirinya.


Arman mulai menceritakan kejadian saat di rumah makan hingga sikap Indah sekarang.


"Maafkan aku Arman, Aku baru mengenal Indah. Meski Aku bersahabat dengannya, bisa dikatakan bahwa persahabatan kita baru seumur jagung. Jadi, Aku belum tau sifat aslinya. Jika kau ingin mengetahuinya, maka cari tau lah pada Anik atau Nurika karena mereka mengenal Indah lebih lama dariku!" Ana berargumen.


"Kalau begitu, aku juga pamit pulang, Ana!" Arman pamit.


🌼🌼🌼


Hampir satu Minggu, Indah dan Arman tidak bertemu. Arman mencari tau tentang Indah. Anik orang pertama yang ia interogasi. Namun jawaban Anik tidak memuaskan pasalnya Anik tak mau menjelekkan saudaranya. Arman beralih pada Nurika. Nurika menceritakan semuanya. Bukan bermaksud menjelekkan, namun agar Arman mengerti dan mampu memahami karakter Indah serta agar Arman tau cara menghadapi sikap Indah.


"Semoga kamu bisa mengerti dan memahami keadaan Indah!" Nurika mendoakan Arman agar bisa memahami sifat sahabatnya dan tak menyakiti Indah.


Di sisi lain.


Indah tak pernah sedikitpun memikirkan Arman. Yang iya pikirkan hanyalah dirinya, sekolahnya dan orang tuanya. Arman tak ada dalam memori otaknya seolah Arman tidak pernah hadir dalam hidupnya.


Belajar, belajar, dan belajar. Itulah yang hanya dilakukan Indah. Selain itu, ia hanya membantu Ibu dan Ayahnya mengerjakan pekerjaan rumah. Sesekali Indah bermain dan berbagi cerita dengan Winda sahabat di rumahnya. Mereka berbagi kisah di sekolah masing - masing. Kini Winda duduk di kelas satu SMP. Ia satu sekolah dengan Faika, namun Winda adik kelas Faika karena memang usia Winda satu tahun lebih muda dari Indah dan Faika.


Satu Minggu terakhir, Fathur kembali sibuk dengan magangnya. Saat malam tiba, iapun tak berani menghubungi Indah. Dia sangat paham bahwa Indah tak pernah mau diganggu saat berurusan dengan sekolahnya, pun jika ada hal penting dengan orang tuanya. Fathur sangat mengerti meski Indah tak pernah mengatakan padanya.


Hari Sabtu, Fathur dan Ozi serta teman - teman yang magang di perusahaan tersebut mendapat libur karena akan diadakan meeting bagi seluruh karyawan. Sedangkan mereka hanyalah siswa magang yang tak perlu tau terlalu detail tentang perusahaan.


Hari Jumat sore, Fathur mengajak Ozi pulang.


"Cie... yang mau ketemu sang kekasih pujaan hatiku yang paling dan teramat sangat dalam sekali!" Ledek Ozi membuat Fathur tersipu. "Aku dapat free ong nih!"


"Free ongk?" Tanya Fathur heran.


"Iya, Free Ongkir!" Jawab Ozi.


"Emang kamu anterin paket siapa, kok minta ongkirnya sama aku?" Fathur masih tak mengerti maksud kalimat Ozi.


"Nganterin paketannya Indah yang isinya kamu!" Jawab Ozi dengan menekan tiap kata kemudian tertawa lepas.


"Oalah...πŸ€¦πŸΌβ€β™‚οΈ, beres deh! Aku yang bayar ongkos mu, PULANG PERGI!" Fathur memberikan penekanan pada kata terakhirnya. Mereka tertawa bersama kemudian bersiap - siap untuk pulang.


🌹🌹🌹


Reader yang baik tidak akan lupa untuk meninggalkan jejak like n koin recehnya.


Terima kasih atas kesetiaan mu!


Ditunggu komentarnya ya!!!πŸ’‹


Β