
“Nak!” Pak Yusuf memanggil saat Indah akan pergi menuju kamar tidurnya.
“Ada apa, ayah?” Tanyanya dan berbalik menghampiri Pak Yusuf.
“Besok hari senin, apa di sekolah tidak ada ulangan harian?” Tanya Pak Yusuf.
“Ada, ayah! Besok bu Yani akan mengadakan Ulangan Bahasa Inggris” Dengan santai tapi sopan Indah menjawab pertanyaan ayahnya.
Pak yusuf heran dengan jawaban yang diberikan Indah.
“Aku akan belajar nanti usai Shalat malam, ayah!” Indah melihat wajah bingung Pak Yusuf dan menjawab pertanyaan seolah Indah bisa membaca pikiran sang Ayah.
Pak Yusuf percaya dengan apa yang dikatakan Indah karena hal itu sering dilakukan Indah tiap malamnya.
Indah masuk kamar dan merebahkan diri, berdoa sebelum tidur dan terbang menuju alam mimpi. Sebelum berdoa, Indah memukul bantalnya tiga kali dan berkata “Bangunkan aku jam dua ya!” serunya seolah sedang berbicara pada manusia kemudian membalik bantalnya. Mungkin itu merupakan hal konyol bagi orang lain, namun Indah percaya bahwa apa yang dilakukannya sebelum tidur akan membuatny terbangun sesuai waktu yang ia tentukan.
Jam dua dini hari, Indah terbangun seolah ada suara orang yang membangunkannya. Indah melakukan shalat malam kemudian mulai membuka buku pelajaran Bahasa Inggris untuk mempelajarinya selama satu jam dan kembali terlelap.
Usai Shalat Shubuh, Indah mengulang membaca buku pelajarannya. Tak butuh waktu lama untuk sekedar mengulang. Rutinitas pagi kembali ia lakukan hingga berangkat sekolah.
Seperti biasa, Dayat akan menunggu di depan gang dan pergi bersama Indah ke sekolah.
“Aku yang naruk sepedanya ya, ndah!” Ucap Dayat.
“Iya, aku tunggu di sini! Jawabnya.
Mereka berjalan menuju kelas, belum ada siswa lain yang datang hanya mereka berdua.
Mengisi kekosongan kelas dengan ngobrol berdua sudah biasa mereka lakukan hingga satu per satu teman dan guru datang memenuhi sekolah.
Ulangan Bahasa Inggris Indah lewati dengan mudah dan selesai lebih cepat dari waktu yang ditentukan sang guru.
“Ndah, aku ga bawa sepeda!” Rengek Anik manja.
“Kenapa?” tanyanya.
“Ban sepeda Mbak Aisyah bocor. Karena sekolahnya lebih jauh, ibu menyuruhnya naik sepedaku!” jelasnya.
“Kamu ke sekolah sama siapa?” Tanya Indah.
“Tadi aku diantar kakakku! Nanti aku ikut kamu ya, karena tadi pagi kakakku langsung ke rumah nenek di kota sebelah. Nenekku sakit!” Keluhnya.
“Baiklah!” Indah tak pernah menolak keinginan sahabatnya selama masih dalam hal kebaikan.
Sekolah usai, satu per satu siswa keluar kelas menuju tempat parkir sepeda. Karena masih tingkat SMP, siswa tidak diijinkan membawa motor. Sebagian dari mereka yang tempat tinggalnya dekat, lebih memilih berjalan kaki ke sekolah. Seperti halnya Dayat.
“Kamu tunggu di pintu gerbang ya! Aku ambil sepedaku dulu!” Pesan Indah pada Anik.
“Iya!” Jawabnya dan berlalu menuju gerbang sekolah bersama Dayat.
Karena banyaknya jumlah Siswa di SMPN 1, maka mereka harus berdesakan saat pulang sekolah. Indah dan Nurika berada diantara para siswa dengan sepeda masing – masing. Sementara Anik berdiri di gerbang sekolah sebelah kiri menunggu Indah.
Saat Indah berusaha keluar dari kerumunan tersebut, Indah melihat seorang laki – laki paruh baya berdiri di dekat Anik. Dialah Pak Salim. Indah menoleh ke bagian kanan gerbang sekolah, di sana ada seorang wanita yang berdiri sambil mencari – cari seseorang diantara kerumunan siswa. Dialah Bu Ifa.
Melihat keduanya, Indah menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya agar tak terlihat oleh mereka.
Di ujung Gerbang sekolah, Indah mulai menagyuh sepedanya tanpa menghiraukan Anik. Namun sepedanya terhenti saat Anik menarik kuat bagian belakang sepedanya dan berteriak “Apa kamu melupakan aku?”
Suara lantang Anik terdengar oleh Pak Salim dan Bu Ifa yang kemudian menghampiri Indah dan Anik.
“Ayo naik!” Ajak Indah terburu – buru.
“Maaf, saya buru – buru!” Indah berusaha melepaskan sepedanya dari tangan Bu Ifa namun gagal karena tangan Pak Salim juga menahan bagian belakang sepeda Indah meski di sana sudah ada Anik di belakang yang bingung dengan kejadian di hadapannya.
“Kamu adalah anakku!” Bu Ifa berkata sambil meneteskan air mata dan membelai rambut Indah. Namun Indah tetap berusaha menghindar.
“Iya, kamu adalah anak kami!” Pak Salim meyakinkan ucapan istrinya pada Indah.
Indah menepis tangan Bu Ifa dan melepaskan diri dari keduanya. “Nik, bawa sepedaku pulang!” Sikap dinginnya muncul dan pergi begitu saja meninggalkan Pak Salim dan Bu Ifa serta Anik yang duduk termangu di boncengan sepedanya. Indah melompat naik ke sepeda Nurika yang berada tak jahu dari tempatnya tadi. “Antarkan aku pulang!” Tanpa basa – basi, Nurika mengayuh sepedanya mengantarkan Indah pulang.
“Maaf Bu, Pak, saya harus pulang!” Anik pamit.
“Iya, nak!” Jawab keduanya serempak.
Anik berlalu meninggalkan keduanya dan bertemu Dayat yang mulai berjalan setelah melihat kejadian tadi dan merasa lega karena Indah terbebas dari kedua orang tersebut meski tak tau apa masalahnya. “Ayo ikut!” ajak Anik.
“Aku yang ngayuh aja!” Dayat mengambil alih sepeda Indah dari tangan Anik.
Seperti biasa, Dayat turun di depan gang rumahnya. Anik melanjutkan perjalanan pulang ke rumah Indah untuk mengantarkan sepedanya. Ia yakin Pak Yusuf akan mengantarkannya pulang ke rumahnya nanti.
Di rumah Pak Yusuf.
Indah turun dari boncengan sepeda Nurika.
“Makasih ya, ka!”
“Sama – sama, aku langsung pulang ya?” Nurika langsung pamit. Meski penasaran, ia tak berani bertanya pada Indah tentang kejadian yang baru saja dialami sahabatnya.
Begitu pula dengan Anik dan Dayat yang sudah begitu dekat dan mengetahui sifat Indah.
Pak Yusuf yang melihat Indah di bonceng Nurika langsung menyuruhnya beristirahat di kamar karena beliau mengira penyakit Indah kambuh sehingga ia tidak bisa mengayuh sepedanya sendiri. Indah mengikuti perintah sang Ayah dan segera masuk kamar untuk menenangkan diri sejenak. Bayangan kejadian di depan gerbang sekolah mengganggu istirahatnya.
Aku ga mau mengecewakan Ayah dan Ibu. Jika aku ikut dengan mereka, maka mereka akan membawaku ke desa dan mengakui aku sebagai anak mereka. Menjodohkan aku dengan seorang tukang becak dan..... bagaimana dengan cita – citaku? Gumam Indah hingga ia terlelap dalam tidurnya.
Tiga puluh menit kemudian, Anik datang dengan sepeda Indah. Pak Yusuf yang melihat Anik langsung menyuruh Anik membawa pulang sepeda Indah. “Kamu bawa pulang saja, nanti sore biar Om yang jemput!”
“Makasih, Om!” Anik nyengir kuda karena diijinkan membawa pulang sepeda Indah sekaligus senang karena Pak Yusuf juga memberikan uang saku untuknya.
Seperti Ayah, ibunya juga mengira bahwa Indah sakit. Ibu hanya mengantarkan makan siang dan teh hangat ke kamar Indah di sertai obat sakit kepala yang biasa di konsumsi Indah saat penyakitnya kambuh.
“Makan dulu, sayang!” Ucap Bu Sri dan membantu Indah bangun dari posisi tidurnya. Hal itu dimanfaatkan Indah untuk merahasiakan apa yang menimpanya di sekolah. Iya tak ingin kedua orang tuanya merasa sedih dengan kejadian yang menimpa dirinya.
**Flashback on**:
Dua tahun yang lalu. Setelah Tante Sari mencoba mengungkap rahasia besar tersebut pada Indah, Pak Salim dan Bu Ifa datang ke rumah Pak Yusuf untuk menemui dan melihat keadaan Indah. Saat itu penyakit Indah sedang kambuh. Ia tak sadarkan diri sehingga tidak bisa mendengar apa yang dua pasang suami istri itu bicarakan di dekatnya.
Sayup – sayup Indah mendengar Pak Salim berkata “Namanya juga saudara, ya pasti miriplah!” kemudian Indah mencoba membuka mata ingin mengetahui siapa yang tengah menjenguk hingga berada di kamarnya. Karena keadaannya yang tidak memungkinkan, Indah hany melihat sekilas wajah keduanya dan matanya kembali terpejam karena tidak kuat menahan sakit kepalanya.
Setelah Indah sembuh dari sakitnya, Indah mencoba bertanya pada Pak Yusuf dan Bu Sri siapa yang datang menjenguknya serta menanyakan kalimat Pak Salim tentang saudara. Saat itu ayah dan ibunya terdiam mendengar pertanyaan Indah, namun mereka mampu menutupinya dengan senyuman serta jawaban keduanya.
“Mereka hidup di desa dengan sistem kekerabatan yang kental, sayang! Saudara jauh layaknya saudara kandung!” Ibu mencoba menjelaskan pada Indah, meski ragu dengan jawabannya.
“Iya, sayang! Mereka juga menginginkan kamu ikut dengan mereka untuk mengenalkan bahwa mereka mempunyai saudara di kota!” Tambah Pak Yusuf
“Apa aku boleh ikut dengan mereka, Bu?” Indah bertanya sekaligus meminta izin pada kedua orang tuanya untuk ikut dengan Pak Salim dan Bu Ifa karena Indah sangat ingin menikmati alam pedesaan.
Pak Yusuf dan Bu Sri terkejut dengan pertanyaan Indah dan bingung harus bagaimana melarang anak semata wayangnya ikut dengan Pak Salim dan Bu Ifa.
Dengan cepat Bu Sri menceritakan bahwa Tradisi di desa sangat berbeda dengan di kota. Sebagian besar dari mereka hanya bekerja sebagai tukang becak dan menikahkan anak gadisnya yang baru bahkan belum lulus sekolah dasar.
“Mereka yang laki – laki akan senang melihat kecantikanmu dan akan menikahimu, Sayang!” Bu Sri menambah ceritanya.
“Kalau begitu, aku ga jadi ikut dengan mereka, bu!” Indah yang masih mempunyai cita – cita ingin menjadi guru seperti ayahnya merasa takut dinikahi seorang tukang becak dan tidak bisa melanjutkan sekolah untuk meraih cita – citanya. Ia pun mengurungkan niatnya menikmati alam pedesaan.
~~~\*\*Flashback off
Jangan lupa tinggalkan jejak ya!!!
Komentarmu Semangatku😘😍🥰\*\*