
"Indah sudah kelas berapa, Nak?" Bu Ifa menanyakan hal yang sebenarnya sudah ia ketahui, karena dialah yang melahirkan Indah.
"K - kelas Tiga!" Indah bimbang akan panggilannya pada Bu Ifa. Mau panggil Mama layaknya Ibnu, Indah khawatir menyakiti hati Bu Sri. Mau panggil Bude, Indah tak ingin Bu Ifa bersedih mendengar anak yang dilahirkan tidak memanggilnya dengan panggilan yang seharusnya.
"A - an .....
Bu Ifa meraih tubuh Indah ke pelukannya, namun kalimatnya terputus kala melihat Bu Sri datang.
"Indah sudah besar, sebentar lagi SMA ya?" Basa basi Bu Ifa. Hendaknya ia memanggil "Anakku" namun ia tahan karena ada Bu Sri.
"Iya" Jawab Indah singkat karena ia lebih menikmati dekapan hangat sang Ibu kandung.
"Beginikah rasanya dipeluk oleh Ibuku sendiri? Berbeda sekali rasanya dengan pelukan Ibu!" Batin Indah. Memang sangatlah berbeda dekapan Ibu kandung dengan orang lain meski orang tersebut telah merawat kita sejak kecil dan menyayangi kita dengan ikhlas.
Perlahan Bu Ifa melepaskan dekapannya. Indah segera beranjak dan duduk di dekat Bu Sri.
"Kemarin saat musim haji, Saya mencari jamaah yang berasal dari Kabupaten ini. Di Madinah, Saya bertemu salah satu jamaah dari Jalan Mawar (Rumah yang dulu ditempati Pak Yusuf dan keluarga). Dari beliau, saya mendengar kabar bahwa Di Yusuf telah meninggal dunia". Cerita Bu Ifa.
"Saya turut berduka cita atas meninggalnya Dik Yusuf!" Lanjut Bu Ifa menunjukkan bela sungkawanya. Bagaimana pun, Pak Yusuf adalah orang yang sangat berjasa terhadap kelangsungan hidup putri satu - satunya. Meski dua pasutri itu melarang dirinya menemui Indah.
"Terima kasih, Mbak!" Ujar Bu Sri. Di saat yang bersamaan, Indah pamit keluar rumah hendak pergi bermain ke rumah Ana untuk menghilangkan kegundahan hatinya.
"Pergilah, Nak!" Bu Sri memberikan ijin.
Sesampainya di rumah Ana, Indah menangis dalam hati dan menyembunyikan air matanya di hadapan Ana.
"Hei, apa kamu sedang ada masalah?" Ana membuyarkan lamunan Indah.
"Tidak, aku sedang baik - baik saja." Jawabnya.
"Baik?"
"Iya, baik!"
"Oke, baik baiklah! Karena kau tak pandai berbohong! Lanjut Ana membuat Indah menghela nafas panjang serta membuangnya dengan kasar.
"Aku bingung, Na!" Indah memulai curhatnya.
"Kenapa?" Ana.
"Ibu kandungku datang ke rumah....
"Seneng dong!" Ana memotong kalimat Indah.
"Justru itu yang membuat aku bingung, Ana!" Lanjutnya.
"Apa yang membuat kamu bingung?" Ana bertanya lagi.
"Aku bingung harus memanggilnya apa saat aku berada diantara mereka? Diantara Ibu yang melahirkan ku dan Ibu yang merawat ku sejak kecil hingga sekarang!
Aku ingin menyebutnya Mama sama seperti yang dilakukan kakakku juga adik aku. Tapi aku ga enak sama Ibu. Aku khawatir beliau sedih saat aku memberikan panggilan tersebut. Kalau aku tetap pada panggilanku selama ini, Aku yakin hati wanita yang menggendong aku dalam rahimnya itu akan sakit. Seorang anak yang dilahirkannya lima belas tahun yang lalu memanggilnya 'Bude'!" Sahut Indah panjang kali panjang. Sedang Ana hanya bisa mengangguk mencoba mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi sahabatnya kali ini.
"Aku juga bingung nih!" Ana pun kebingungan, karena ia tak pernah berada di posisi Indah.
"Tapi..... ngomong - ngomong tadi kamu panggil apa dong?" Ana balik bertanya karena ia yakin ada sesuatu yang Indah perbuat agar tak menyakiti hati ibunya.
"Ya, Aku ga panggil apa - apa!" Jawab yang ditanya.
"Aku hanya menjawab pertanyaannya, tanpa menyebut panggilanku. Jadi begini, saat beliau bertanya aku kelas berapa?
Ya aku jawab aja 'Kelas tiga!" Jelas Indah beserta contoh pertanyaan dan jawaban yang ia berikan.
"Oh gitu!" Angguk Ana yang tak pernah berpikir sejauh itu.
Keduanya terlibat obrolan panjang lebar tentang rencana melanjutkan ke sekolah favorit di kota mereka hingga akhirnya Indah pamit pulang.
Sementara itu di rumah, Bu Sri menceritakan bahwa selama ini dirinya sangat menyayangi Indah. Terlebih Almarhum suaminya yang begitu memanjakan Indah, menuruti semua yang Indah inginkan walau bukan tanpa batasan. Sehingga saat ditinggal sang Ayah, Indah menjadi sosok yang mandiri.
Lega hati Bu Ifa. Meski tidak dijelaskan Bu Ifa sudah paham bahwa Almarhum Pak Yusuf dan Bu Sri sangat menyayangi Indah. Terbukti jika putrinya tumbuh dengan baik dan juga selalu lulus dengan nilai yang baik jika dibandingkan dengan Ibnu dan Toni.
POV BU IFA.
Awalnya aku senang sekali ketika Ibnu mau mengantarku bertemu bayi perempuan yang aku lahirkan lima belas tahun yang lalu. Dia lah anugerah terindah untuk aku, suami dan dua anak lelakiku Ibnu dan Didi. Untuk itu Aku beri nama INDAH.
Walau Didik dan Ibnu sempat menangis saat aku berikan dia pada Dik Yusuf dan Sri, aku tak peduli karena aku yakin Indah akan mendapatkan penghidupan yang layak di tangan mereka.
Rasa senang dah haru menyelimuti hatiku. Apalagi saat bayi mungilku yang kini telah tumbuh menjadi gadis penurut itu masuk kedalam pelukan.
Namun rasa itu perlahan menghilang saat ia pamit pergi ke rumah sahabatnya. Terlebih ketika aku tanya dia kelas berapa, Indah hanya menjawab seadanya tanpa embel - embel panggilan untukku.
Mungkin aku terlalu cengeng atau mungkin terlalu ingin mendengar ia memanggil 'MAMA' sama seperti saudaranya yang lain. Namun hal itu hanyalah angan belaka. Aku hakin suatu saat nanti panggilan 'MAMA' akan ia tujukan untukku, entah itu kapan. Mungkin nanti setelah aku pergi dari dunia ini.
Ting!
Notifikasi pesan berbunyi di ponselku.
📱Nu sudah pulang, Mama tunggu saja di depan gang.
Setelah membaca pesan dari Ibnu, Aku segera pamit pulang pada Dek Sri. Sebenarnya aku masih ingin mengobrol dengan Indah, namun ia lebih memilih meninggalkanku dengan ekspresi wajah yang tak bisa aku tebak.
"Bagaimana, Ma? Apa sudah bertemu dengan Indah?". Tanya Ibnu saat kami tiba di rumah.
"Alhamdulilah, Nak! Mama sudah bertemu Indah, mengobrol, bahkan memeluknya." Jawabku menutupi kegundahan akan sikap terakhir Indah.
"Syukurlah jika ia mau berbicara sampai memeluk Mama!" Ibnu ikut menghela nafas panjang lega menaikkan ujung bibirnya.
Namun senyum itu perlahan menghilang kala melihat wajahku yang menampakkan wajah sedih.
"Mama kenapa masih kelihatan sedih begitu?" Tanyanya.
"Mama ingin mendengar adikmu memanggil MAMA, Nak!" Sahutku menundukkan wajah menyembunyikan air mata yang hampir menganak sungai.
"Sabar, Ma! Mungkin Adek belum terbiasa, seiring berjalannya waktu dia akan memanggilmu dengan sebutan MAMA!" Ibnu mencoba menghiburku meski kalimatnya terasa menusuk hati.
Indah tidak terbiasa memanggilku MAMA karena memang sejak kecil aku tak pernah mengasuhnya, sedangkan Yusuf dan Sri mengajarkan Indah untuk memanggilku BUDE.
Aku beranjak ke dapur menyiapkan makan siang untuk Ibnu juga diriku sendiri.