My Brother

My Brother
Ngobrol



Pak Yusuf memberikan kebebasan pada Putri tunggalnya untuk menikmati liburan kemanapun sesuai keinginan Indah. Beliau juga memberikan sejumlah uang pada Indah untuk menikmati liburan.


Sayangnya Indah tak begitu menyukai shopping meski beberapa teman mengajaknya keluar kota.


“Assalamualaikum!” Terdengar suara Pak Yusuf mengangkat telp.


“Waalaikum salam,Om!” Jawab cewek di seberang telfon. “Indah ada, Om?” Lanjutnya.


“Ada, Nik! Bentar ya, om panggilkan!” Pak Yusuf meletakkan gagang telponnya dan berbalik tanpa memanggil Indah karena anak gadisnya sudah berdiri di belakangnya saat mengetahui ayahnya menyebut nama Anik.


Indah : “Haloooooo, ada apa kawan?”


Anik : “Jalan – jalan yuk!”


Indah : “Kemana?”


Anik : “Ayolaaah, masa sih harus bertanya. Yang pasti, aku ga bakal ngajakin kamu shopping!”


Indah : “Hmmmmh, okelah kalau begitu. Tunggu aku rumah kamu!” Indah tak bisa menolak ajakan Anik dengan alasan mereka tidak akan menghabiskan uang untuk sopping.


Anik : “Oke deeeh, aku akan hubungi Ika dulu! Assalamualikum!”


Indah : “Waalaikum salam!"


Indah keluar rumah dengan sepedanya, tentu setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya.


Tiba di gerbang rumah Anik, Indah sudah melihat kedua sahabatnya itu akan keluar dengan sepeda masing – masing. Mereka kemudian bertemu dan menuju tempat kos Ibrahim seperti apa yang di katakan Anik saat mereka bertemu dan mulai mengayuh sepedanya.


Ibrahim keluar kamar saat mendengar suara Anik yang sudah sangat di kenal oleh Ibrahim.


“Hai, kalian sudah datang?” Sapa Ibrahim.


“Iya!” Jawab Anik seorang.


“Masuk yuk!” Ajak Ibrahim agar mereka bertiga duduk di kamar kosnya.


“A....” belum selesai Anik menjawab, Indah langsung memotongnya. “Kita bicara di sini aja ya!” Sambil berdiri di samping sepedanya.


Ika selalu mengikuti apa yang diusulkan Indah. Mereka hanya tidak ingin jika orang beranggapan bahwa mereka adalah gadis – gadis nakal yang masuk ke kamar kos laki – laki.


Mereka pun duduk di teras rumah pemilik kos yang berada satu halaman dengan kamar Ibrahim. Satu orang teman sekolah Ibrahim datang menghampiri dan bergabung bersama mereka. Setelah beberapa menit mengobrol, akhirnya mereka sepakat berjalan – jalan ke sekitar Goa lebar. Ibrahim akan membonceng Ika, tentunya dengan menggunakan sepeda milik Ika.


“Kamu bareng Indah saja!” Ucap Anik pada teman Ibrahim.


“Lalu kamu?” Tanya Indah.


“Ah, iya ya! Bodohnya aku!” Anik berkata sambil menempelkan tangan kanannya di keningnya.


“Banget!” Ucap Indah dan Ika serempak.


“Hmmmmh, mau gimana lagi!” Anik menyesali keputusannya sendiri.


“ Bareng aku aja!” Tiba – tiba muncul Wahid teman dari kamar mandi yang berada di samping kamar kos Ibrahim. Wahid adalah teman satu kamar dengan Ibrahim.


**Di sekitar Goa Lebar**


Anik memberikan kode agar Indah menjauhi Ika dan Ibrahim karena ada yang ingin di sampaikan oleh Ibrahim pada Ika.


Indah memilih duduk di bawah pohon rindang, beralaskan sandal yang digunakannya.


“Boleh aku duduk denganmu?” Teman Ibrahim mengikuti Indah dan berdiri di sampingnya.


“Iya!” jawabnya singkat.


Kemana tu anak? Tiba – tiba saja menghilang! Gumam Indah sambil menyisir sekitar mencari keberadaan Anik dan Wahid yang ternyata duduk di seberang Goa.




Pagi hari Anik berolah raga pagi bersama kakaknya, Aisyah. Mereka berjalan – jalan keliling kampung dan bertemu Ibrahim dan teman sekolahnya. Ibrahim memperkenalkan temannya pada Anik dan Aisyah. Fathur nama teman Ibrahim.




Maka dari itulah Anik, Ibrahim dan Fathur merencanakan pertemuan mereka berlima. Aisyah hanya mendengarkan obrolan adik dan teman – temannya itu.



“Boleh aku tau namamu?” Fathur mengawali pembicaraan saat dirinya duduk di hadapan Indah.



“Indah, namaku!” Es mulai mendingin. Tanpa tersenyum, Indah menjawab pertanyaan Fathur.



“Oh!”



“Perkenalkan, namaku Fathur!” Sambil mengulurkan tangannya pada Indah. Indah pun menerima tangan Fathur dan menjabatnya.



Indah dan Fathur bercerita sambil menunggu teman – teman mereka mengajak untuk kembali pulang ke rumah masing – masing.



Tak ada yang terjadi diantara mereka kecuali hanya sbuah perkenalan mulai dari nama, usia, hingga sekolah mereka. Usia Fathur terpaut lima tahun dari Indah, namun sekolah mereka hanya berjarak 3 tahun. Fathur duduk di kelas X Bisnis Manajemen di SMK.



Bukan karena tidak naik kelas, Fathur terlambat di sekolahkan oleh kedua orang tuanya. Ia seorang anak pertama dari empat bersaudara. Orang tuanya tidak mampu. Ia di sekolahkan saat adik keduanya meminta di sekolahkan.saat itulah kedua orang tuanya menyadari bahwa Fathur sudah melewati usia masuk Sekolah Dasar. Dua kakak beradik tersebut di sekolahkan di tempat dan kelas yang sama.



“Ternyata... kamu asyik ya untuk diajak ngobrol!” ungkap Fathur tentang Indah.



“Kenapa bilang begitu?” Indah bertanya sambil mengerutkan keningnya.



“Awalnya, aku kira kamu tak banyak bicara dan bersikap dingin sedingin salju!” Fathur mengembangkan senyumnya.



“Dari tadi aku hanya jadi pendengarmu, bukan?” Tanya Indah dengan wajah datarnya, beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Fathur yang terdiam seribu bahasa.



Indah berjalan menuju tempat Anik dan Wahid duduk dan disusul oleh Fathur yang juga bergabung dengan mereka.



“Wuoy, tak mare yeh?” \(Wuoy, belum selesai ya?\) Anik bertanya pada Ika dan Ibrahim sambil berteriak karena tempat duduk mereka yang agak jauh. Sementara Indah tersenyum tipis melihat tingkah Anik yang berteriak sambil berdiri. Fathur melayangkan senyum dan mencuri pandang ke arah Indah.



“Gabung dengan mereka yuk!” Ajak Ika pada Ibrahim



“Yuk!” Ibrahim mengiyakan ajakan Ika dan mereka berjalan menuju tempat teman – temannya berkumpul.


 🌼🌼🌼


Jangan lupa isi kolom komentar ya,Kak!


Tapi like dulu sebelum komen👍👍👍