My Brother

My Brother
1



Naomi, gadis cantik berusia 16 tahun itu tersenyum. Ia berjalan ke arah seorang pria tampan yang kini tengah mengenakan kaca mata hitam dan masker  hitam sebagai alat untuk menyamar. Maklumlah, dia adalah seorang artis dengan berjuta fans yang akan langsung menyerbunya di manapun dirinya berada.



Leon, pemuda 23 tahun berprofesi sebagai seorang Model, Aktor, dan juga seorang Penyanyi itu adalah kakak lelaki Naomi. Ia sangat menyayangi adiknya yang sangat manja dan kekanankan. Sifat Naomi yang seperti itu membuat Leon seolah merasa sangat disayangi sebagai seorang kakak.



Leon menghampiri Naomi yang sudah keluar dari pintu gerbang. Adiknya  tersenyum hangat dan sangat ceria seperti biasanya. Leon memeluk Naomi cepat, kemudian ia memasukkan Naomi ke dalam mobil.



"Haahh!" Leon mengembuskan napas lega. Ia membuang masker ke jok belakang dengan asal. Memakai benda itu terlalu lama bisa membuatnya pengap.



"Kakak nggak syuting? Kok bisa jemput aku?" Naomi menatap kakaknya yang kini tengah mengendalikan kemudi. Leon tersenyum dengan pandangan yang masih fokus pada jalan padat kendaraan di depannya.



"Kakak syuting tadi. Tapi udah ijin pulang soalnya Kakak sakit." mendengar kata 'sakit' Naomi langsung merasa sedikit panik. Ia menyentuh lengan kakaknya untuk memeriksa suhu tubuh Leon yang mungkin sangat panas.



"Suhu tubuhnya normal," gumam Naomi pelan. Leon terkekeh melihat sikap adiknya yang dirasa lucu. Pria itu mengacak pelan rambut Naomi dengan gemas.



"Tapi sakitnya bohongan." Leon tertawa keras saat Naomi yang kesal memukuli lengannya, ia sangat puas mengerjai adiknya.



"Kakak nyebelin! Naomi gak mau ngomong sama Kakak." Naomi memandang ke luar jendela, ia merasa kesal dibohongi Leon.



"Padahal kakak mau ke toko yang jual alat lukis kemarin," ucap Leon memancing perhatian Naomi. Ia tahu betul adiknya menginginkan alat lukis yang ada di toko yang kemarin sore mereka lewati. Hanya saja Leon tak bisa mengajak Naomi mampir lantaran ia harus segera ke lokasi syuting dan dikejar waktu.



"Huh!" Naomi hanya mengacuhkan Leon.



"Padahal ada rencana mau beliin kamu semua alat lukis yang kamu mau ... tapi kayaknya kamu marah beneran deh. Ya udah lah, biar Kakak kasih-"



"Aku gak serius kok marahnya." Naomi memotong ucapan Leon, membuat Kakaknya tertawa dalam hati.



"Terus?"



"Kita ke sana aja."



"Ke mana?" Leon semakin senang menggoda adiknya.



"Ke toko alat lukis itu," jawab Naomi semakin semangat.



"Mau ngapain?"



"KAKAK!" Naomi menjerit kencang kala Leon terus mengerjainya. Lelaki itu bahkan sudah tertawa terbahak akibat ulahnya sendiri.



***



Naomi memandang takjub pada deretan cat lukis dan alat lukis lainnya. Ia tak menyangka akan berada di surga saat masih bernyawa, pikir gadis itu berlebihan.



Ia memenuhi keranjangnya dengan berbagai warna cat lukis, kuas, dan kanvas. Berjalan menuju kakaknya dengan senyum yang riang.



Pemuda bermasker itu meraih keranjang belanjaan Naomi, kemudian ia berjalan menuju kasir. Naomi sedikit merasa bersalah melihat kakaknya membayar dengan harga yang mahal semua barang belanjaannya.



Gadis itu sedikit murung dan berpikir untuk meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan. Naomi ingat perkataan ibunya untuk selalu berhemat dan tak menghambur-hamburkan uang.



Leon memandang Naomi bingung, lelaki itu kembali membuka masketnya dan mencubit pelan pipi sang Adik.



"Kenapa?" tanya Leon pada Naomi dan dibalas helaan napas dari gadis itu.



"Kak, maafin aku." Naomi berucap lirih dan ragu. Ia tak berani menatap Kakaknya.



"Hm?" Leon semakin dibuat bingung dengan sikap Naomi yang tiba-tiba aneh.



"Aku udah buat Kakak keluarin uang banyak cuma buat beli barang yang gak penting." Naomi menjawab kebingungan Kakaknya.




"Maaf."



"Siapa bilang itu gak penting? Semua yang kamu suka dan semua yang kamu butuhin itu penting buat Kakak." Leon mengelus pipi Naomi lembut. Gadis itu tertegun melihat wajah Kakaknya dari dekat. Sangat tampan dan sempurna.



"Aku janji bakalan kumpulin uang jajan aku buat gantiin uangnya Kak Leon. Nanti kalau udah terkumpul bakalan aku kasih ke Kakak," ucap Naomi bersungguh-sungguh.



"Kamu mau ganti uang Kakak?" tanya Leon memastikan.



"Iya," jawab Naomi tak yakin.



"Gantinya pakai ini aja, ya?"



Cup ...



Naomi membulatkan matanya kala dengan cepat Leon mengecup bibirnya. Hanya mengecup tanpa lumatan, tapi bagaimanapun itu adalah ciuman pertama Naomi.



"Ciuman pertama aku ... ." Leon menoleh pada Naomi saat mendengar adiknya itu bergumam lirih.



"Beneran itu ciuman pertama kamu?" Naomi mengangguk. Leon tersenyum senang dan mengacak rambut adiknya pelan.



"Tenang aja ... ciuman sama Kakak sendiri gak dihitung kok." hibur Leon agar Naomi kembali tersenyum. Sebetulnya ia juga ragu dengan ucapannya sendiri, bagaimanapun juga ia sudah merasakan bibir lembut adiknya. Dan tak mungkin kejadian itu tidak dihitung dalam satu ciuman.



"Beneran?" tanya Naomi meragukan Kakaknya. Leon mengangguk dan mengecup pipi Adiknya dengan cepat.



Leon melajukan mobilnya menuju kediaman mereka.



***




"Taruh ponsel kamu, Naomi!" ucap Leon sedikit keras, namun tak digubris oleh adiknya yang asik chat dengan teman-temannya. Leon yang kesal langsung merebut ponsel Naomi dan memangku gadis itu.



"Kok diambil?" rengek Naomi tak terima. Pasalnya ia tengah asik membahas seorang ketua osis tampan di grub chat, namun harus terputus begitu saja oleh Leon. Rasa kesal membuatnya mengerucutkan bibir seperti bebek.



"Kamu makan dulu sekarang. Biar kakak suapin," ucap Leon kemudian menyuapkan nasi untuk Naomi. Ricard dan Tamara yang melihat kedua anaknya rukun, tersenyum senang dan melanjutkan makan malam dengan tenang.



"Pa, Ma ... lusa Naomi mau diajak ke villa-nya Maura. Boleh ya, Pa?"



"Enggak!" bukan Ricard yang menjawab pertanyaan Naomi. Tapi Leon yang tengah memangku Naomi yang memotong perkataan Ricard yang akan buka suara.



Ricard pun hanya diam. Percuma ia mendebat anak sulungnya, sudah pasti Leon tak akan mau kalah jika itu menyangkut Naomi. Terkadang Ricard bertanya-bertanya tentang siapa Ayah Naomi sebenarnya, dirinya atau Leon?



"Aku gak tanya Kakak! Aku tanya Papa." Naomi hendak turun dari pangkuan Kakaknya, namun ditahan oleh lengan kokoh Leon yang membelit perutnya.



"Diem di sini dan habisin makanan kamu! Gak ada liburan di villa atau apapun itu, Kakak gak ijinin!" ucap Leon sedikit keras. Naomi hanya diam setelah melihat Papa dan Mama-nya seolah meminta pertolongan, namun mereka hanya diam tak berani menolong Naomi.



"Dasar Kompeni!" lirih Naomi mengatai Leon. Ingin sekali lelaki itu terbahak melihat ketidakberdayaan Adiknya, namun ia tahan agar Naomi tak banyak tingkah lagi.



"Biarin!" jawab Leon setengah mengejek Naomi. Adiknya itu hanya merapalkan berbagai macam sumpah serapah untuk Kakak tampannya itu.





____________Tbc.