
❤️❤️❤️ Usai baca episodex, jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, and vote.
Ramein juga kolom komentar agar author mengetahui kekurangan yang ada pada novel karyanya dan makin semangat nulisnya.
❤️❤️❤️
Libur tlah berlalu. Indah, Ibnu dan yang lain kembali bersekolah. Seperti biasa Indah selalu melaksanakan rutinitas paginya sebelum berangkat sekolah. Tak hanya teman alumni SD R-1 dan teman sekelas yang Indah kenal melainkan teman – teman dari kelas lain pun mulai saling mengenal.
“Indah... Indah...! Dayat keluar dari gang rumahnya dan melambaikan tangan memanggil Indah. Mendengar suara Dayat, Indah menoleh dan menghentikan sepedanya.
Dayat berlari menghampiri Indah. “Aku ikut ya?” tanpa menunggu jawaban dari Indah, Dayat langsung melompat membonceng di belakang Indah. Indah pun kembali mengayuh sepedanya menuju sekolah.
Sampai di gerbang sekolah, Dayat mrlompat turun diikuti Indah yang kemudian menuntun sepedanya menuju tempat parkir. “Kamu nungguin aku?” Tanya Indah pada Dayat.
“Iya!” Jawabnya menunggu respon Indah
“Tumben setia?” Indah menggoda Dayat sambil tersenyum. Batu es di kepala Indah mulai meleleh. Langkah Indah terhenti saat Dayat memegang lengan Indah.
“Ada apa?” Tanyanya.
“Tuh!” Dayat menunjuk ke arah Anik dan Nurika berada. Indah dan Dayat mempercepat langkah menuju Anik dan Nurika yang kelihatan sedang adu mulut dan saling menunjuk tangan di depan wajah lawan bicaranya.
Tiba di hadapan Nurika dan Anik, Dayat berdiri di tengah – tengah mereka dan Indah berdiri di samping keduanya. “Kalian kenapa?” Tanya Indah penasaran.
“Tanya tuh sama sahabat kamu!” Sahut Anik dengan suara tinggi ke arah Indah dan berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga.
“Duduk, Ka!” Dayat mencairkan suasana. Nurika mengiyakan usul Dayat dan duduk di tempat duduk yang berada di luar kelas.
“Kalian kenapa bertengkar sepagi ini?” Tanya Indah pada Nurika sedangkan Dayat berlalu masuk kelas hanya untuk meletakkan tas sekolahnya dan keluar lagi. “Ndah, aku pinjam sepedamu ya?”
“Mau kemana?”
“Mau ke rumah, ambil raportku ketinggalan!”
“Iya!”
Flasback on~~~
Malam minggu Nurika membuat janji dengan Ibrahim untuk jalan bareng. Nurika pamit pada Ayahnya dengan alasan pergi bersama Indah dan Anik sehingga Pak Noto sang Ayah mengijinkannya.
Karena Fathur tidak mempunyai janji dengan Indah, Ibrahim meminta Nurika menjemputnya di kosan. Nurika menuruti dan tiba di gerbang tempat kos Ibrahim, Nurika melihat Ibrahim duduk berdua dengan Anik. Nurika tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan tapi ia melihat Anik memegang pundak Ibrahim dan sesekali memeluk lengan Ibrahim. Nurika cemburu dan pergi ke rumah Indah.
Saat di rumah Indah, Nurika tak menceritakan apa yang baru saja dilihatnya. Pada Indah, Nurika hanya berbasa - basi menanyakan kabar hubungan Indah dengan Fathur.
“Malam ini kita memang ga pergi, Ka! Kamu tau aku ga akan kemana – mana saat libur hampir usai untuk mempersiapkan semua kebutuhan sekolah. Begitu juga dengan Fathur. Jadi dia ga ajak aku keluar rumah malam ini!” Indah menjelaskan alasan ia tidak pergi bermalam Minggu dengan Fathur.
“Kamu sendiri gimana sama Ibrahim?”
“A Aku... sebenarnya tadi Ibrahim ajak aku malam mingguan untuk menikmati akhir liburan, tapi karena kamu ga ada menghubungi aku ya... aku tolak ajakan Ibrahim.
Indah dan Nurika saling bercerita kegiatan mereka selama tidak bertemu namun Indah tak berani menceritakan rahasia pribadinya pada Nurika. Nurika pun menyembunyikan sakit hatinya malam ini pada Indah dengan maksud ingin menyelesaikan masalahnya sendiri dengan Anik dan Ibrahim tanpa bantuan Indah.
“Oh, jadi begitu! Apa sekarang aku boleh bantu kamu?” tanya Indah setelah mendengar cerita Nurika.
“Karena kamu sudah tau semuanya, aku mau minta tolong siapa lagi!” Nurika menunduk malu. Malu sudah menggunakan nama Indah agar diijinkan keluar rumah oleh ayahnya dan berujung kecewa.
“Baiklah! Jangan dulu kamu bicara sama Anik, biar aku yang bicara!” Wajah Indah datar.
“Makasih ya, ndah!” Nurika memeluk Indah
“Iya” Jawab Indah untuk Nurika dan Dayat.
Tak ada pelajaran di kelas karena ini hari pertama masuk sekolah, hanya ada wali kelas yang masuk untuk meminta siswa mengumpulkan raport.
Indah tak memihak pada Nurika maupun Anik. Dia tetap memperlakukan mereka dengan baik meski Nurika dan Anik tidak saling sapa. Tepat Pukul sepuluh bel berbunyi tiga kali pertanda mereka pulang lebih awal.
“Nik, aku kerumah Kamu Ya?” Indah mengatakan saat Anik mengambil sepedanya yang diletakkan tak jauh dari Dayat meletakkan sepeda Indah tadi.
“Iya” Jawabnya singkat.
Indah pulang ke rumah untuk mengganti seragamnya dengan pakaian bermain, kemudian pamit kepada Ibunya. Ia khawatir jika dirinya keasyikan ngobrol di rumah Anik dan pulang terlambat sehingga membuat kedua orang tuanya panik. Walaupun sebenarnya Indah selalu pulang tepat waktu.
**Di rumah Anik**
“Hai, masuk!” Anik yang sudah menunggu Indah di teras rumahnya.
Indah masuk dan duduk bersama Anik. Setelah berbasa – basi, Indah memulai pembicaraan tentang pertengkaran Anik dan Nurika.
“Aku ga tau kenapa tiba – tiba Nurika nuduh aku rebut Ibrahim darinya, padahal aku yang nyomblangin mereka!” Anik mulai menjawab pertanyaan Indah.
Sebenarnya Anik tak bermaksud bermesraan dengan Ibrahim saat itu, hanya saja Anik terbiasa bersikap manja saat berbicara dengan lawan jenisnya ataupun dengan wanita yang lebih tua karena Anik menganggap mereka seperti saudaranya sendiri. Anik memang mempunyai kakak laki – laki namun usianya jauh diatas Anik dan sudah menikah sehingga perhatian sang kakak lebih tercurah pada keluarganya yaitu kakak ipar dan keponakan Anik.
Mungkin itu yang ada dalam pikiran Anik namun lain halnya dengan Nurika yang merupakan kekasih Ibrahim. Wanita mana yang tak cemburu melihat orang lain bersikap manja pada kekasihnya seperti yang terlihat oleh Nurika waktu malam minggu.
Saat pertemuannya dengan Anik siang ini, Indah tak berkomentar apapun untuk mengingatkan Anik namun Indah memutuskan untuk menjelaskannya terlebih dahulu pada Nurika dan kembali mengakrabkan mereka besok pagi saat di sekolah.
Sebelum Adzan Dhuhur, Indah pamit pulang pada Anik.
Malam harinya usai Shalat Maghrib, Indah pamit pada Ayah dan Ibunya untuk pergi ke rumah Nurika untuk menjelaskan padanya dan meluruskan masalah dengan Anik.
Mereka berbicara di taman kota agar masalah Nurika dan Anik tidak sampai ke telinga orang tua bahkan saudara – saudara Nurika.
Nurika paham dengan penjelasan yang di berikan Indah, namun karena gengsi Nurika tidak mau meminta maaf terlebih dahulu.
Begitu pula dengan Anik tadi siang. Ia tak mau meminta maaf lebih dulu atas sikap manjanya pada Ibrahim yang dilihat oleh Nurika karena ia menganggap sikapnya biasa dilakukan pada setiap orang yang dianggap saudara dan tak memandang usia dan tak ada sedikitpun niat untuk merebut Ibrahim dari Nurika. Indah dan Nurika berpisah di Taman Kota dan pulang ke rumah masing – masing.
Indah tak bisa memejamkan mata karena bingung memikirkan bagaimana cara mengembalikan persahabatan mereka seperti semula. Hingga muncul sebuah ide untuk Indah menemui guru BK besok di sekolah.