My Brother

My Brother
5



"TOLONG!"



Leon lari ke sumber suara, ia kenal betul suara gadis yng meminta tolong tadi. Perasaannya semakin tak enak kala bayangan Naomi terus saja berkelebat di pikirannya.



"Tolong." kini suara itu semakin lemah terdengar. Leon mempercepat larinya ketika ia yakin betul bahwa itu suara gadis yang ia sayangi.



"BERENGSEK!"



BUGH!



Leon langsung menarik seorang pria yang tengah berada di atas tubuh seorang gadis yang sudah tergeletak tak berdaya. Naomi, gadis itu memanggil Kakaknya lirih, namun sayang Leon tak mendengar sama sekali lantaran tengah liputi oleh kabut amarah.



"Beraninya kau menyentuhnya!"



BUGH!



"Biadab kau!"



"Bajingan!" umpat Leon sambil terus memukuli lawannya tanpa ampun. Tiga orang yang tengah mengganggu adik kesayangannya, di hajar oleh Leon bahkan nyaris di tusuk oleh pisau mereka yang terjatun di atas pasir pantai, jika saja Leon tak mendengar Naomi menangis.



Leon yang tengah lengah lantaran mengurus Naomi, digunakan oleh para pria mabuk itu melarikan diri, mereka tak ingin dihabisi oleh Leon yang tengah menjelma sebagai monster.



***



Leon merengkuh tubuh lemah adiknya, beberapa luka lebam didapatkan Naomi pada sudut bibir dan pipi kanannya. Leon memangku Naomi dan menangisi gadis itu, ia bersyukur bisa menyelematkan Naomi dari para preman itu. Leon tak bisa membayangkan jika dirinya terlambat satu menit saja, sudah pasti hal yang tak diinginkan akan terjadi.



Naomi memeluk Kakaknya erat, berkali-kali gadis tersebut mengucapkan kata terimakasih dengan berlinang air mata. Leon menjadi penyelamat bagi adik yang tak tahu diri seperti dirinya, Naomi semakin yakin bahwa selama ini dirinya begitu egois dan selalu menyulitkan Kakaknya.



"Harusnya kalau mau main ke pantai ajak Kakak, jangan pergi sendiri. Kenapa sih kamu bandel banget, Dek? Kakak khawatir tau gak?" omel Leon kemudian menutup tubuh adiknya dengan jaket yang ia pakai.



"Iya, maaf."




***




Leon mendudukkan Naomi di sofa ruang tamu apartementnya, adiknya itu menurut. Kemudian Leon mengambil handuk dan air untuk mengompres, ia juga membawa sebuah salep penghilang lebam yang biasa Leon pakai ketika ada adegan fighting.



"Kamu bisa gak sih sekali aja bersikap dewasa? Jangan kayak anak kecil terus. Seharusnya kamu bisa tau mana yang aman dan mana yang bahaya buat kamu. Kamunudah 16 tahun, seharusnya kamu udah bisa mandiri. Gak terus nyusahin orang lain kayak gini. Gimana kalau Kakak gak ada? Kamu mikir sampai ke sana gak?" omel Leon yang sebetulnya khawatir pada Naomi. Namun, Naomi yang masih labil menyalah artikan semua omelan Leon padanya itu sebagai bentuk rasa kesal Leon yang waktu berduaannya dengan Vebra terganggu karena Naomi.



Gadis itu kesal setengah mati dengan Kakaknya kini, ia merasa kalau Leon tak pernah peka dengan perasaannya. Naomi menganggap kalau isi pikiran Leon itu hanya berpusat pada Vebra seorang.



"Aku kayak gini itu juga karena Kakak!" ucap Naomi emosi, ia kesal pada Kakaknya yang hanya bisa menyalahkan dirinya saja.



"Maksut kamu?" tanya Leon bingung. Ia tak mengerti dengan ucapan adiknya yang malah menyalahkan dirinya.



"Aku cemburu liat Kakak mesra-mesraan sama cewek lain. Aku cemburu liat Kakak pacaran sama Kak Vebra!" Leon mengernyitkan dahi tanda tak mengerti. Sedangkan Naomi sudah menutup mulutnya dengan telapak tangan akibat kelepasan berbicara.



"Kamu cemburu?" Leon bertanya pada Naomi memastikan kalau adiknya hanya cemburu akibat kasih sayang Kakaknya terbagi dngan wanita lain. Naomi menangis sesenggukan, ia sungguh takut jika Leon akan membencinya dan menjauhi dirinya.



"Kamu ... gak, Dek! Tolong bilang kalau yang Kakak pikirin tentang kamu ini gak bener." Leon mengguncang bahu Naomi meminta penjelasan adiknya. Lelaki itu merasa sebuah palu menghantam jantungnya kala melihat Naomi mengangguk pelan.



"Aku cinta sama Kakak!"





______Tbc.