
Tiga puluh menit berlalu, Indah tak kunjung datang. Sementara teman - teman yang lain sudah berada di lapangan.
"Apakah Indah ada menghubungimu, Ana?" Tanya Tina yang baru menyadari ketidak hadiran Indah diantara mereka.
"Ga ada!" Jawab singkat Ana.
"Coba kamu calling dia!" Usul Dayat dan disetujui oleh Ana. Ia kemudian mengambil ponselnya yang bertengger di dalam tas selempang berwarna merah.
"Halo, Assalamualaikum!" Pak Yusuf yang menjawab panggilan Ana.
"Halo, Waalaikum salam!" Sahut Ana. "Indah ada ya, Paman?" Lanjutnya menanyakan sang sahabat.
"Indah lagi sakit, Ini Ana ya?" Ucap Pak Yusuf.
"Iya, Paman. Saya Ana!" Sahut Ana. Sekaligus pamit untuk menutup teleponnya.
"Gimana?" Tanya yang lain bersamaan bak paduan suara tanpa komando.
"Sakit?!" Seru mereka kembali tanpa aba - aba dan diiyakan oleh Ana. Ana juga menjelaskan bahwa yang menjawab panggilan ponselnya adalah Pak Yusuf yang memberitahukan bahwa Indah sedang sakit.
"Pasti penyakitnya kambuh! Yuk kita lanjut latihan basket!" Dayat memberi kesimpulan tentang sakit Indah yang mendadak. Ia pun mengajak teman - temannya untuk melanjutkan latihan basket.
Awalnya Ana dan teman perempuannya tidak menyetujui usul Dayat karena menurut mereka, tidak baik bersenang - senang saat ada salah satu dari mereka sedang terbaring sakit. Namun setelah Dayat melanjutkan kalimatnya, mereka semua menyetujui usulnya.
"Maksud aku, sekarang kita lanjut latihan. Nanti malam, kita ke rumah Indah. Gimana?" Lanjutnya sambil mengedip - ngedipkan mata.
"Kalo ngomong yang jelas donk!" Sanggah Tina.
"Okelah kalau begitu!" Sahut Ana. Mereka melanjutkan latihan.
πΌπΌπΌ
Malam hari
Setelah shalat Maghrib, mereka berkumpul di rumah Ana. Mengumpulkan sumbangan, kemudian membeli snacks serta buah untuk dibawa menjenguk Indah.
"Waalaikum salam!" Dengan senang hati, Pak Yusuf menjawab salam dan membukakan pintu untuk mereka. "Silahkan masuk, Nak!"
Pak Yusuf begitu senang jika rumahnya di datangi tamu, karena menurutnya tamu adalah rezeki dan mereka harus diperlakukan seperti raja. Termasuk teman - teman Putri tunggalnya.
"Kami duduk di teras aja ya, Paman!" Jawab Ana sopan. Ana lebih memilih duduk di teras karena jumlah mereka hampir mencapai sepuluh orang. Mereka khawatir membuat kegaduhan di rumah yang tidak terlalu besar tersebut.
Pak Yusuf membuka perlahan pintu kamar Indah kemudian masuk dan membangunkannya dengan lembut. "Nak, Ada Ana dan beberapa teman kamu di luar!"
Perlahan pula Indah membuka mata. "Iya, Ayah. Aku akan segera keluar!" Jawabnya.
"Apa perlu Ayah memapahmu?" Tanyanya khawatir.
"Tidak perlu, Ayah. Indah bisa sendiri, tapi Indah butuh waktu sebentar untuk menetralkan sakit di kepala!" Jawab Indah dengan begitu sopan.
"Baiklah, Jika begitu berhati - hatilah!" Pak Yusuf mengingatkan. Sedangkan Bu Sri sedang membuatkan minuman untuk mereka.
Setelah menetralkan sakit di kepalanya, Indah berjalan perlahan menuju teras. Beruntung sore tadi, iya menyegerakan minum obat sehingga sakitnya mereda.
Mereka duduk santai dan mengobrol bersama, sesekali bercanda dan tertawa riang, namun tak melupakan si sakit yang hanya bisa tersenyum mendengar canda tawa para teman dan sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan Indah, karena tujuan utama mereka adalah menjenguk dan menghibur Indah agar sembuh dari sakitnya. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka.
"Aku akan masuk, saat kalian pulang nanti!" Gumam seorang pria yang berdiri tak jauh namun tak terlihat oleh mereka.
**Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, Kak!
Like, komen and vote juga!
Hadiah pemberianmu juga tak bisa aku tolak!
πππ₯°**