My Brother

My Brother
Konser



Setelah selesai menjemur cuciannya, Indah mandi dan pamit pada kedua orang tuanya untuk bermain.


"Ibu, Ayah, Indah pergi dulu ya!" Pamitnya.


"Iya, Indah!" Jawab Bu Sri singkat.


"Jaga dirimu baik - baik!" Pak Yusuf berpesan.


"Insya Allah, Ayah! Assalamualaikum!" Indah mencium punggung tangan kanan kedua orang tuanya.


"Wa'alaikum Salam!" Jawab kedua orang tua tersebut. Indah mengambil sepedanya di samping rumah dan mengayuhnya menuju rumah Faika.


"Ikut Aku ke rumah Arman, Yuk!" Ajak Indah pada Faika yang sedang duduk di teras rumahnya.


"Aku ganti baju dulu!" Faika masuk kamar dan mengganti pakaiannya.


"Ada dimana?" Chat dari Fathur.


"Di rumah Faika!" Balasnya.


"Aku tunggu di atas Goa!" Fathur lagi.


"Melayang donk di atas goa yang begitu lebar!" Balas Indah bercanda padahal maksud Fathur ia berada di gardu yang terletak di samping mulut goa.


"Ayo, berangkat! Ajak Faika yang sudah berganti pakaian.


"Ayo!" Ajak Indah dan mereka berangkat ke tempat Fathur berada.


"Aku dan Faika hanya bisa antar kamu sampai di sini. Aku ga mau kalo Arman mengira kamu lebih memilih Aku!" Ucap Fathur.


"Sebaiknya Faika nunggu di rumah aku. Ada Fatima di sana!" Sambung Fathur.


"Iya, Indah. Nanti setelah urusanmu selesai, Kamu datang saja ke rumah Fathur!" Saran Faika.


"Meski belum pulang, jika ada masalah segera hubungi Aku atau Faika!" Tambah Fathur.


Indah terlihat berpikir tentang usulan Fathur dan Faika. "Okelah, Sepakat!" Jawabnya kemudian.


Meski ragu untuk datang sendiri ke rumah seorang laki - laki, Indah berjalan sendiri ke rumah Arman. Belum sampai di tempat tujuan, tiba - tiba ponselnya berbunyi. "Arman!" Gumamnya. "Assalamualaikum!" Ucapnya setelah menekan tombol hijau bergambar telepon.


"Wa'alaikum salam!" Jawabnya. "Ada dimana, Sayang?" Lanjutnya menanyakan keberadaan Indah.


"Aku di belakang rumahmu!" Jawab Indah datar.


"Apa?" Arman terkejut bercampur senang, karena sebenarnya ia ingin menemui dan mengajak Indah jalan - jalan. "Benarkah?" Lanjutnya memastikan kebenaran.


"Iya!" Jawabnya tanpa ekspresi. Sedangkan Arman langsung menutup teleponnya tanpa basa - basi dan mencari keberadaan Indah di belakang rumahnya.


"Hai, Sayang! Kita jalan - jalan yuk!" Ajaknya tanpa melihat ekspresi wajah Indah.


"Kemana?" Tanya Indah.


"Ke sekitar goa!" Jawab Arman dengan senyum terbaiknya dan menggandeng tangan Indah.


"Duduk di sini, Sayang!" Ajak Arman. Indah duduk di samping Arman. Arman menanyakan tujuan Indah datang ke rumahnya karena tak biasanya Indah datang tanpa ada keperluan yang mendesak. Pun Indah tidak akan datang seorang diri.


Kamu salah Arman, Indah mu itu tidak datang sendiri melainkan bersama Faika dan Fathur.


Indah mengatakan bahwa dirinya ingin bertemu dan berbicara serius pada Arman. Dengan antusias Arman ingin sekali mendengarkan perihal yang ingin disampaikan oleh kekasihnya.


"Apa mungkin Indah ingin bertunangan denganku?" Pikir Arman.


"Katakan padaku, Apa yang ingin kau bicarakan!" Ucap Arman penuh harap.


"Aku mau kita putus!" Sahut Indah tanpa ekspresi.


"Apa selama ini, kamu tak pernah mencintai aku sehingga dengan mudahnya kau berkata... Putus!" Ujar Arman yang sempat terputus.


"Aku sudah berusaha membuka hati untukmu! Namun di saat Aku mulai menyayangimu, kau malah mengecewakan aku!" Jawab Indah kemudian menarik nafas panjang.


"Maksud kamu apa, Indah?" Tanya Arman heran. Pasalnya semalam ketika ia pulang ngamen, Ia tak mengetahui jika Indah mengikutinya bahkan sampai bertanya pada supir pick up yang membawanya.


"Aku sudah mengikuti saran mu, agar Aku tetap melanjutkan sekolahku!" Lanjut Arman.


"Apa orang tuamu membiayai semua kebutuhanmu?" Tanya Indah memancing jawaban Arman.


"Kakakku yang bertanggung jawab atas biaya sekolahku, tapi Aku tidak mau menyusahkan mereka dan......." Kalimat Arman terputus.


"Dan apa, Arman?" Tanya Indah lagi.


"Da dan Aku ingin sekolah sambil bekerja!" Jawabnya gugup.


"Kerja apa dan kapan waktunya?" Tanya Indah masih memancing kejujuran Arman.


"Bekerja di toko emas!" Kilah Arman.


"Toko emas itu buka jam tujuh pagi sampai sore, lalu kamu bekerja kapan sementara di jam itu kamu harus sekolah?" Tanya Indah datar.


"Aku akan bekerja dengan Bang Kadir sepupuku. Sepulang sekolah aku berangkat hingga akhir waktu toko itu tutup!" Jelas Arman.


Indah tersenyum kecut mendengarnya. Toko emas di kota tempat tinggal mereka buka jam 07:00 hingga jam 16:00 sementara sekolah Arman dari jam 07:00 - 14:00. Sangat tidak masuk akal jika Arman hanya bekerja dua jam per hari. Tak hanya itu, Bang Kadir yang dimaksud Arman adalah saudara sepupunya yang juga bekerja di salah satu toko emas bukan pemilik tokonya.


Tak berhasil memancing jawaban Arman, Indah mencari pertanyaan lain. "Semalam kamu kemana?" Tanyanya.


Arman terkejut dengan pertanyaan Indah. "Aku di rumah!" Jawabnya berbohong. Indah bertanya apa yang dilakukan Arman di rumah dan mengapa ia tak menghubungi Indah 'tuk sekedar menanyakan kabar atau bahkan mengajaknya berkencan malam Minggu.


Arman bingung dibuatnya. Sebenarnya tak masalah bagi Indah jika Arman tak mengajaknya kencan bahkan tak menghubunginya sama sekali. Hanya saja ia tak mau melihat orang dekatnya pergi mengamen dan tidak fokus pada pelajarannya. Arman anak band. Karena keseringan manggung, ia lupa belajar sehingga mengakibatkan dirinya tidak naik kelas. Sesuai kesepakatan sebelumnya, Indah akan tetap menjadi kekasih Arman asalkan dia mau berusaha menjadi lebih baik. Mengurangi job manggung agar bisa lebih fokus belajar. Dan semalam Indah malah melihat Arman turun dari mobil pick up dan sang supir mengatakan bahwa mereka ngamen dan sudah biasa numpang di mobil pick up tersebut. Itu artinya apa? Arman dan kawan - kawan sudah sering ngamen sehingga driver pick up nya sudah hafal wajah mereka.


"A Aku..... Aku.....!"


"Kenapa bingung? Jawab Arman!" Indah berkata lirih dan memandang lekat wajah Arman.


"Kamu konser?" Lanjutnya membuat Arman bingung. Dari mana Indah mengetahui perihal dirinya pergi semalam tapi bukan untuk konser seperti dugaan Indah.


"Atau kamu ngamen?" Tanya Indah lagi karena Arman tak kunjung menjawab.


"A Aku....!" Arman makin gugup.


"Jangan bohongi Aku, Arman! Aku tau semalam kau pergi bersama dua temanmu. Ngamen di kecamatan C. Kau pulang dengan duduk di bagian belakang mobil pick up. Turun di Taman kota, makan nasi goreng bersama dua orang temanmu itu!" Indah mengatakan dengan detail apa yang diketahuinya semalam. Saat Arman membuka mulut, Indah kembali bicara. "Aku ga akan salah, Aku melihatmu dengan jelas. Dengan pakaian ini kamu pergi tadi malam, 'kan?"



Bersambung......



Maaf ya reader setiaku, Beberapa hari ini tangan Author keseleo. Jadi baru bisa up hari ini!🙏🙏🙏



Jangan lupa like, komen and vote nya ya!


Koin receh juga Author ga nolak🤭



I ❤️ U.