
Hari Sabtu, di tempat lain.
Banyak gadis yang memberikan hadiah valentine.
Mulai dari sebuah permen dengan tulisan Happy Valentine's day, Setangkai bunga mawar berwarna pink, merah. Sebatang hingga sekotak besar cokelat.
Saat Ibnu masuk kelas, semua sudah ada di mejanya. Tak peduli siapa pengirimnya. Tak ada ekspresi kaget di wajah Ibnu.
Ia hanya duduk dan meletakkan tas sekolahnya kemudian pergi ke kantin, karena belum sempat sarapan saat berangkat sekolah.
Ilham dan Irwan masuk kelas, Ekspresi terkejut justru terlihat di wajah keduanya. "Segitu banyaknya ucapan dan hadiah valentine di tempat Ibnu! Sedangkan kita?" Ucap Ilham bingung.
"Harusnya kita yang sebagai laki - laki yang memberikan bunga dan cokelat untuk kekasih kita. Lha ini, cewek - cewek yang justru memberikan ini pada Ibnu!" Jawab Irwan.
"Ngomong - ngomong kemana orangnya ya?" Irwan celingukan mencari sosok Ibnu.
Yang dicari tiba - tiba muncul. "Nu! Dari mana kau dapat semua ini?" Tanya Ilham.
"Aku juga ga tau, bukankah di situ ada nama pengirimnya?" Jawab Ibnu.
"Apa kamu sama sekali tidak ingin tau siapa pengirimnya?" Irwan.
"Tak satu pun ingin Aku ketahui!" Sahut Ibnu cuek.
Saat guru Bahasa Inggris masuk kelas, Ibnu memasukkan barang - barang tersebut ke laci mejanya asal.
"Jangan asal dimasukkan donk, Nu! Nanti rusak! Kasihan mereka yang susah payah menghiasnya untukmu!" Ucap Winda salah satu teman sekelasnya.
"Aku tak minta!" Sahut Ibnu dingin.
"Malam ini kita kemana?" Tanya Irwan pada Ibnu dan Ilham.
"Tidur!" Cetus Ibnu.
"Ah, kamu ga asyik, Nu!" Kecewa Ilham.
"Ke kafe Ilham aja yuk!" Ajak Irwan.
"Baiklah, Aku ikut!" Sahut Ibnu malas. Biar bagaimana pun mereka berdua adalah sahabatnya dikala susah maupun senang.
"Al, Apa malam nanti kamu ada acara dengan pacar barumu?" Tanya Ilham.
"Sejak kejadian itu, Aku enggan mendekati wanita apa lagi harus menjalin kasih!" Aldi tertunduk kecewa. Bukan kecewa karena pertanyaan Ilham melainkan kecewa karena dikhianati.
"Baiklah, jika begitu katakan pada Mbak Ratna untuk menyiapkan makan malam spesial untuk empat orang. Setelah makanan siap, Ku bebaskan kau malam ini dari pekerjaanmu di Kafe ku. Kita nikmati malam Valentine berempat! Pinta Ilham pada Aldi yang masih setia bekerja di Kafe milik keluarganya.
"Aku akan meminta Mbak Ratna memasak makanan spesial atas permintaanmu, Bos!" Sahut Aldi sambil menundukkan kepala.
"Kau mau aku pecat? Hmh?" Ilham melirik tajam pada Aldi.
"Hehe... bercanda Boss!" Aldi nyengir kuda.
"Aldiiiiii!" Teriak Ilham gemas sambil mengejar Aldi.
"Kabuuuuur!" Aldi lari tunggang langgang menghindari kejaran Bos sekaligus sahabatnya membuat Ibnu dan Ilham tertawa.
Malam hari, mereka berkumpul di Kafe. Sesuai permintaan Ilham, Aldi menyiapkan tempat terbuka berbaur dengan pelanggan yang lain.
"Ngomong - ngomong, Kado Valentine sebanyak itu kamu simpan dimana, Nu?" Tanya Irwan mengingat banyaknya kado yang ditujukan untuk Ibnu.
"Aku simpan di laci mejaku!" Jawab Ibnu santai tanpa beban.
"Di Sekolah?" Tanya ketiganya serempak sembari membulatkan mata.
"Ya!" Jawabnya begitu singkat.
"Apa tidak ada yang kau bawa pulang?" Tanya Aldi lagi. Menurutnya sangatlah tidak mungkin jika Ibnu meninggalkan semua barang - barang itu di kelasnya.
"Tak satu pun!" Ibnu melihat sejenak ketiga temannya secara bergantian dan kembali fokus pada ponselnya.
"Biarkan kami mengeksekusinya jika kau benar tak menginginkannya!" Irwan tak kalah jutek. Tak ada respon dari Ibnu yang berarti mengijinkan teman - temannya menghabiskan semua miliknya di hari Senin.
Saat makanan telah siap, mereka menikmatinya tanpa suara.
**Kembali ke Indah**
Sore hari, Indah telah selesai dengan pekerjaan rumahnya maupun tugas sekolah karena malam ini Dia harus menghargai pemberian Hary serta ajakannya keluar rumah.
Malam hari, Indah telah bersiap menunggu kedatangan Hary.
📱Hary
Apakah kamu sudah siap?
📱Indah
Siap!
Melihat Indah membalas chat nya, Hary melompat kegirangan, memeluk dan hampir saja mencium Hadi sahabatnya yang sejak tadi duduk di atas motor Hary. Ia segera berangkat menjemput Indah. Malam ini akan menjadi sejarah kencan pertama Hary bersama wanita.
"Hmmmmh, Hary, Hary, segitu senangnya kau kencan dengan anak bau kencur!" Ledek Hadi.
"Jangan salah, Bro! Kau tak ada bedanya denganku!" Jawab Hary.
"Oh, jadi kau anggap Aku kencur?" Sahut Naura yang baru saja keluar dari rumah. Ya, Hadi adalah sahabat Hary sekaligus kekasih Naura.
"Eh, bukan begitu maksudku, Sayang!" Hadi melompat turun dari motor Hary menangkupkan kedua tangannya di depan dada meminta maaf pada Naura sementara Hary langsung menyambar motornya meninggalkan Naura dan Hadi.
"Walaikum salam, Mas! Silahkan duduk dulu!" Indah.
"Bisakah kita langsung pergi?" Ajak Hary.
"Oh, Kalau begitu Aku pamit dulu pada Ibu!" Indah berbalik ke dalam rumah, kemudian pamit pada sang Ibu.
Bu Sri mengantar Indah dan menitipkan anak gadisnya pada Hary. "Titip Indah ya, Nak! Jangan pulang terlalu malam!" Pesan Bu Sri.
"Baik, Bu! Saya ajak Indah pergi dulu, Assalamualaikum!" Pamit Hary pada camer. Ups, Cintanya belum tentu diterima kok sudah mau anggap calon mertua ya?🤔
"Waalaikum salam!" Sahut Bu Sri.
Hary melajukan motornya membawa Indah ke restoran dekat pantai.

Tanpa menanyakan makanan kesukaan Indah, Hary memesan beberapa menu untuk Dinner malam ini. Untung saja Indah pemakan segala🤭 Maksud Author, Indah tak memiliki alergi apapun terhadap makanan.
Mereka makan dengan tenang. Tanpa Indah sadari, sesekali Hary memperhatikan gadis pujaan hatinya makan dengan anggunnya.
Usai makan, Hary mengajak Indah menikmati Indahnya pantai di malam Hary dengan angin sepoi - sepoi menerpa rambut Indah.

"Aku menunggu jawabanmu!" To the point' aja, pikir Hary.
"Hemh?" Indah menoleh pada Hary yang juga berdiri di samping kanannya.
"Mungkin Aku tak sebaik yang kau pikir, tapi Aku mengagumimu!" Ucap Hary.
"Dari sisi mana kau mengagumi aku, Mas?" Indah menatap lurus ke pantai.
"Aku mengagumimu karena kau berbeda dari gadis lain seusiamu!" Hary.
"Dari mana kau tau aku berbeda, sedangkan kita baru kemarin saling mengenal?" Indah.
"Sejak lama aku mengagumimu dalam diam. Aku memperhatikanmu setiap kau datang ke rumah Naura bersama satu lagi sahabatmu, Ana. Namun Aku melihatmu berbeda dari Naura maupun Ana, bahkan dari gadis lain seusiamu, Dek!" Panjang kali panjang ungkapan kata Hary.
"Maukah kau menjadi kekasihku?" Hari menggenggam tangan Indah.
"Aku anak kecil yang tak tau apa - apa jika bersamamu, Mas!" Netra mereka bertemu sejanak. setelahnya, Indah kembali menghadap pantai.
"Kita bisa memulainya perlahan, Dek! Jika Naura bisa bersama Hadi, Apa kita tidak bisa seperti mereka?" Hary mengeratkan genggaman tangannya memohon.
Bimbang?
Ya, Di sisi lain ada Halim yang sedang menunggu jawaban Indah atas pernyataan cintanya.
Indah berbalik menghadap Hary. Tangan kirinya mengusap punggung tangan Hary. "Maaf, Aku belum bisa menjawabnya sekarang!"
"Aku memakai barang pemberianmu bukan karena Aku menerima cintamu, melainkan karena Ayahku selalu mengajarkanku untuk menghargai orang lain, Mas!" Lanjutnya.
"Terima kasih telah menghargai ku. Aku akan menunggumu siap membalas cintaku, Dek!" Ucap Hary sendu.
"Jangan terlalu berharap padaku, Mas!" Perlahan Indah melepas tautan tangan mereka. "Tapi Aku harap kita tetap bisa menjadi saudara sesuai usia kita!" Lanjut Indah, membuat Hary kembali mengembangkan senyumnya.
Suasana hati mereka kembali riang, mereka kejar - kejaran di tepi pantai tanpa peduli pandangan orang lain terhadap mereka.
Seperti biasa, Indah pulang ke rumah tidak lebih dari pukul sembilan malam.
❤️❤️❤️❤️❤️
**Bersambung dulu ya, Kak**!
**Author harus kembali bekerja di dunia nyata**.
**Jangan lupa like n vote, juga hadiahnya ya**!
**Komentarmu sangat aku butuhkan untuk memperbaiki kekuranganku. Terima kasih🙏**