My Brother

My Brother
I'll do it myself!



"Dari mana Bapak tau kalau saya bisa memperbaiki sambungan kabel?" Tanya Indah heran.


"Dari Pak Fadly. Tadi bapak menghubungi beliau untuk segera datang memperbaiki beberapa kipas yang rusak karena bapak tidak sanggup menyelesaikannya sendiri. Beliau bilang kalau hari tidak bisa datang ke sekolah karena ada kepentingan keluarga. Beliau menyuruh bapak untuk memanggil dan meminta bantuan pada salah satu siswa kelas IX dan beliau menyebut nama kamu!" Pak Suluh menjelaskan panjang lebar. Indah membantu Pak Suluh tanpa suara.


Lima menit kemudian, datang Guru komputer untuk mengadakan praktikum di ruang tersebut. Tak perlu pindah, karena Indah berada di pojok belakang ruangan sehingga tidak mengganggu jalannya praktek komputer.


Pak Suluh permisi keluar sebentar untuk mengurus surat dispensasi Indah ke ruang Bimbingan dan Konseling, kemudian mengantar surat tersebut ke kelas Indah.


Kala Indah mulai membongkar satu kipas angin, Rahmat masuk ruang komputer dan duduk di bangku paling belakang. Mereka sama tak menyadari kehadiran satu dan yang lain.


Tiga puluh menit berlalu.


Pak Wanto, guru komputer melihat hasil kerja Rahmat. Setelah memastikan hasilnya bagus, Pak Wanto berpindah ke tempat lain.


"Hasil pekerjaan kamu bagus, Silahkan di Save dengan nama dan kelas!" Perintah Pak Wanto dan diangguki oleh Rahmat.


Usai melaksanakan instruksi Pak Wanto, Rahmat menoleh ke belakang. "Sepertinya Aku mengenali bentuk tubuh cewek ini!" Gumam Rahmat memperhatikan gadis yang sedang duduk bersila membelakanginya. Namun ia masih ragu bahwa cewek yang ia maksud adalah Indah.


Rahmat mencoba menundukkan kepala untuk memastikan jika gadis yang membelakanginya itu benar - benar Indah. "Dari parfum yang ia gunakan, Aku yakin ini pasti Indah!" Gumamnya dalam hati.


"Can I help you?" Ucap Rahmat. Ya, dia sengaja menggunakan Bahasa Inggris agar suaranya tak mudah dikenali oleh Indah.


Namun dugaan Rahmat salah. Indah sangat mengenali suara itu. Seketika ia menghentikan pergerakan tangannya dan berpikir. "Bukankah ini waktunya pelajaran komputer di kelas Bobi. Dan itu artinya, Rahmat juga berada di ruang ini". Analisa Indah dalam pemikirannya.


"Don't worry, I'll do it myself!" Jawab Indah tanpa menoleh serta melanjutkan pergerakan tangannya.


Mendengar jawaban Indah, Rahmat kecewa dan segera keluar dari ruang tersebut.


"Indah, apa kamu butuh bantuan teman mu yang lain?" Tawar Pak Suluh. Pasalnya mereka masih harus menyelesaikan perbaikan tiga buah kipas angin.


"Boleh, Pak! Panggil saja teman sekelas saya, Supermen and Day. Ana juga bisa bantu saya, Pak!" Sahut Indah.


"Kamu itu ada - ada saja, untung bapak paham nama - nama yang kamu sebut itu!" Pak Suluh berbicara dengan menampilkan senyum maskulinnya, kemudian berlalu ke kelas Indah memanggil tiga siswa yang disebut Indah.


Setelah ketiganya datang, mereka segera menyelesaikannya tanpa banyak bicara.


"Sepertinya, Aku melihat Rahmat keluar dari ruang komputer." Ucap Ana saat menggunakan sepatunya.


"Iya, tadi jadwal kelas sembilan A praktek komputer!" Jawab Indah.


"Apa dia melihatmu?" Tanya Ana kepo.


"Ya, iyalah!" Sahut Indah sedangkan Superman and Day hanya menyimak obrolan keduanya.


"Ceritain dong kisah mu dengannya sebelum kami datang!" Pinta Ana.


"Kamu pikir dongeng?" Sahut Indah setelah tawa mereka reda. Indah lalu menceritakan kejadian pertemuannya pada Ana dan dua teman cowoknya sambil menuju kantin sekolah, karena bel istirahat telah berbunyi.


Bulatan daging berkuah menjadi makanan favorit mereka saat berada di kantin sekolah. Mereka menikmatinya tanpa suara. Indah yang selesai lebih dulu dari pada yang lain membuat Dayat membuka suara. "Lapar, neng?"


"Iya, sejak pagi Aku belum sarapan!" tukasnya dengan bibir yang makin merah karena kepedasan.


Dayat mengajak Indah, Ana dan Suparman untuk latihan basket. Tentu mereka juga akan mengajak teman - teman lain yang punya hobi yang sama.


Tanpa sengaja Rahmat mendengar rencana mereka. Ia berniat ikut ke lapangan basket sesuai waktu yang ditentukan oleh Indah dan kawan - kawan.


Rahmat sengaja datang tiga puluh menit lebih awal dari waktu yang Indah rencanakan agar ia bisa mengajak Indah mengobrol sebentar.


Tiga puluh menit berlalu, Indah tak kunjung datang. Sementara teman - teman yang lain sudah berada di lapangan.


"Apakah Indah ada menghubungimu, Ana?" Tanya Tina yang baru menyadari ketidak hadiran Indah diantara mereka.


"Ga ada!" Jawab singkat Ana.


"Coba kamu calling dia!" Usul Dayat dan disetujui oleh Ana. Ia kemudian mengambil ponselnya yang bertengger di dalam tas selempang berwarna merah.


"Halo, Assalamualaikum!" Pak Yusuf yang menjawab panggilan Ana.


"Halo, Waalaikum salam!" Sahut Ana. "Indah ada ya, Paman?" Lanjutnya menanyakan sang sahabat.


"Indah lagi sakit, Ini Ana ya?" Ucap Pak Yusuf.


"Iya, Paman. Saya Ana!" Sahut Ana. Sekaligus pamit untuk menutup teleponnya.


Bersambung....


Jangan lupa like, komentar, and vote juga ya kak!


Author sudah mulai kehilangan semangat untuk melanjutkan ceritanya!!!


Komentarmu Inspirasiku!


Komentarmu Semangatku!


Komentarmu Referensiku?


Terima kasih untuk para reader setia "My Brother" Semoga kita semua diberi kesehatan agar bisa berbagi pengalaman dan menuangkan ide - ide kita dalam novel masig - masing🤲🤲🤲