
"Kalau begitu tak ada gunanya aku hidup. Cintaku tak berbalas. Sekolahku juga hancur!" Arman terduduk frustasi.
"Ya Allah, Apa yang sudah Aku katakan padanya!" Gumam Indah mengusap dada. "Tapi aku harus tetap membuat Arman kembali bersemangat!" Gumam Indah yang masih berdiri membelakangi Arman.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Bunuh diri? Lakukan saja!" Mendengar ucapan Indah, Ana dan Ari berdiri dari tempat mereka duduk. Ana menghampiri Indah dan Ari berlari ke arah Arman dan merangkulnya.
"Apa yang kamu katakan, Indah?" Tanya Ana heran. Bukannya melarang Arman mengakhiri hidupnya, Indah malah menyuruhnya bunuh diri.
"Iya, Aku ga suka pria cengeng! Yang seharusnya cengeng itu cewek bukan cowok! Kalo dia merasa hidup ini tak ada gunanya, buat apa dia hidup? Buat apa Ibunya bersusah payah melahirkannya? Buat apa Bapaknya bekerja untuk menafkahinya, membiayai sekolahnya kalau ternyata ia lupa jasa besar kedua orang tuanya? Belum sempat membalas pengorbanan mereka saja, sudah mau mati!" Indah berucap tanpa jeda.
"Dia mati pun, apa urusanku? Tak ada ruginya buat aku, 'kan! Selama ini tak ada yang aku korbankan untuknya!" Indah melirik Arman yang memandang dirinya sendu.
"Aku pulang!" Tak ada yang bisa melarang Indah pergi. Meski Ana mencobanya.
"Indah!" Teriak Ana menarik tangan Indah.
"Biarkan dia mengakhiri hidupnya jika hal itu berguna baginya!" Indah berhenti sejenak, kemudian pergi serta menghempaskan tangan Ana.
"Tolong antar mereka pulang!" Pinta Arman pada Ari.
"Tapi kamu?" Ari tak ingin meninggalkan sepupunya dalam keadaan mengenaskan seperti itu.
"Aku tidak akan bunuh diri!" Jawabnya meski tetap dengan tatapan kosong.
Ari setengah berlari menyusul langkah cepat Indah yang diikuti oleh Ana.
Setelah kepergian Ari, Arman berdiri dari duduknya dan berjalan menuju rumah untuk menemui ibunya. "Maafkan Arman, Bu!" Ucapnya berlutut di hadapan Sang Ibu.
"Bangunlah, Nak!" Sang Ibu memegang bahu Arman lembut dan memintanya untuk berdiri.
Arman berdiri menunduk di hadapan sang Ibu. "Maafkan Aku, Bu!" Arman mengulang kalimatnya.
"Ibu sudah memaafkan sebelum kau memintanya, Nak!" Ucap sang ibu sembari mengusap lembut kepala Arman. "Bangkitlah, Buat kami bangga!" Lanjutnya.
Sang Ayah hanya memandang terharu dua orang ibu dan anak tersebut.
Ayah keluar lagi lewat pintu belakang dan membawa pisang hasil panennya ke rumah Ari. Beliau ingin mengucapkan terima kasih karena sudah membawa kekasih Arman menemuinya sehingga Arman kembali bersemangat.
🌼🌼🌼
"Apa aku bisa bertemu Indah?" Tanya Rip, anak kedua Pak Salim pada Ibnu.
"Jangan, Kak!" Ibnu melarang kakaknya.
"Loh, Kenapa? Kami kan juga saudaranya?" Jawab sang kakak tidak terima.
"Jangan dulu, Kak sebelum Indah mengetahui siapa dirinya dan kita semua!" Pinta Ibnu.
"Aku ga mau adikku sedih saat mengetahui keadaan sebenarnya!" Lanjutnya.
Anak - anak Pak Salim memahami maksud perkataan Ibnu. "Baiklah, kami akan menunggu sampai ia mengetahui kebenarannya dan mau menemui kami di sini sebagai saudaranya bukan sebagai orang lain!"
🌼🌼🌼
Tiba di rumahnya, Indah langsung masuk rumah. Tentu setelah mengucap salam yang langsung dijawab oleh Pak Yusuf sang Ayah.
Melihat wajah kusut putrinya, Pak Yusuf bertanya. "Dari mana, Nak?"
"Jalan - jalan, Ayah!" Jawabnya sambil menarik paksa ujung bibirnya. Indah pamit ke kamar.
Di kamar, ia langsung merebahkan dirinya sejenak. Setelah itu dia membersihkan diri serta melaksanakan Shalat Dhuhur.
Usai Shalat, ia teringat akan kalung yang ia simpan di laci kecil yang menempel di meja belajarnya.
Indah duduk di tepi tempat tidurnya. Kalung itu ia buka dan melihat foto dirinya dan Fathur.
"Kau adalah cinta pertamaku. Aku tak mungkin bisa melupakanmu sampai kapanpun. Mungkin sampai nanti aku menua meski kita tak pernah bersama karena takdir. Mungkin kita punya keinginan untuk hidup bersama. Namun jika Allah berkehendak lain, apa mau dikata?" Ucap Indah pelan seolah Fathur sedang berada di sampingnya.
Indah menuju lemari pakaian dan mengambil celana pendek dan kaos lengan pendek kemudian mengganti pakaiannya. Setelah berganti pakaian, Indah mengingat sesuatu.
Apakah itu? Penasaran ya!?! Yuk kita bahas.
Dua buah kado ulang tahun dari dua orang terkasih yang memang sengaja Indah simpan dan tidak ia buka. Masih ingat ga, siapa dua orang terkasih yang Author maksud? Betul sekali, dua orang itu adalah Ibnu dan Fathur.
Indah mengambil dua bungkusan kado di dalam lemarinya. Dua - duanya dibungkus kertas berwarna biru.
Pertama, Indah membuka kado dari Ibnu.
"Kecil!" Ucap Indah. "Biasanya barang yang kecil lebih berharga daripada yang besar!" Indah mencoba membuka bungkusnya. Benar sekali dugaannya. Sepasang anting emas sudah berada di tangannya. Indah tak memakainya karena ditelinga nya sudah ada anting yang dibelikan oleh Pak Yusuf sejak Indah masih kecil.
Selanjutnya, Indah membuka kado pemberian Fathur. Ada kartu ucapan di sana. Kemudian Indah membuka isinya.
Ya, kotak musik berwarna biru itu dipilih oleh Fathur meskipun awalnya ia kesulitan mendapatkan barang cewek dengan warna tersebut.
Tiba - tiba pintu kamar Indah diketuk dari luar. Indah menyimpan barang - barang itu ke dalam lemari pakaiannya kemudian membuka pintu kamarnya perlahan.
Bu Sri berdiri tersenyum di depan pintu. "Ponsel kamu berbunyi! Karena kamu masih di kamar maka Ibu yang menjawab. Ini dari Ana!" Ucap Ibu dan menyodorkan ponsel Indah.
"Assalamualaikum. Ada apa, Ana?" Indah bertanya lembut.
"Aku ada di depan gang rumahmu bersama Ari. Kami ingin bertemu! Apa boleh aku ke rumahmu atau kita bertemu diluar saja?" Ana memberitahu keberadaannya dan ingin bertemu.
"Tunggu aku di situ!" Indah mematikan ponselnya lalu berjalan keluar kamar menemui Ibunya.
"Bu, aku pergi sebentar!" Pamit Indah dan diiyakan oleh Ibunya.
Indah menemui Ana dan Ari dengan berjalan kaki. "Ada apa?". Indah mengulang pertanyaannya pada Ana.
Ana menyodorkan plastik hitam berisi pisang. Pisang yang diberikan Bapak Arman pada Ari. Ari membagi tandan pisang itu menjadi tiga bagian dan membaginya dengan Ana dan Indah.
Indah mengerutkan keningnya tanda bertanya. "Ini pisang pemberian orang tua Arman pada Ari karena sepulang kita dari sana, Arman pulang ke rumah dan meminta maaf pada Ibunya. Arman berjanji tidak akan frustasi lagi dan melanjutkan kembali sekolahnya!" Jelas Ana.
"Kenapa banyak sekali?" Tanya Indah.
"Iya, Ari sudah membaginya menjadi tiga dan itu bagian mu!"
"Kenapa tidak dibagi dua saja? Bukan Aku yang menyadarkan Arman, tapi itu adalah bagian dari rencana kalian!" Cakap Indah menolak pisang tersebut karena dirinya tak merasa menyadarkan Arman melainkan mendukung rencana Arman mengakhiri hidupnya. Siapa sangka justru Arman mengurungkan niatnya mengakhiri hidup.
"Kalau bukan karena ada kamu, Apa Arman mau menemui kami? Kita ke sana bertiga, jadi aku bagi tiga supaya adil!" Ari menjelaskan pemikirannya tentang membagi pisang itu pada Ana dan Indah.
Akhirnya Indah mau menerimanya, Mereka berpisah dan kembali ke tempat tinggal masing - masing.
Indah menemui Ibunya yang sedang duduk santai di dapur. "Bu!" Panggilnya.
"Ada apa, Indah?"
"Ini, ada pisang pemberian Ana!" Indah berbohong pada sang Ibu karena ia tak ingin terlalu panjang lebar berbicara.
Bu Sri mengambil kresek dari tangan Indah. "Waaah, banyak sekali! Apa boleh Ibu membuat goreng pisang dan memberikannya pada pekerja proyek selokan di kampung kita ini?" Tanya Si Ibu.
"Silahkan, Bu! Lagian, siapa yang mau makan pisang sebanyak itu kalo tidak dibagikan pada orang lain!" Sahut Indah.
Dengan senang hati Bu Sri membuat goreng pisang dan membaginya pada orang yang tadi dimaksud. Tak lupa Bu Sri menyisakan sepiring pisang goreng di meja makan untuk cemilan keluarga kecilnya.
🌼🌼🌼
Jangan lupa tinggalkan jejak di Bab ini ya!?!
Terima kasih!!!
Â