
Indah, terasa indah
Bila kita terbuai dalam alunan cinta
Sedapat mungkin terciptakan rasa
Keinginan saling memiliki
Namun bila itu semua
Dapat terwujud dalam satu ikatan cinta
Tak semudah seperti yang pernah terbayang
Menyatukan perasaan kita.
….................
🌾🌾🌾Padi🌾🌾🌾
"Wuoy! Nih, ada titipan dari Indah!" Amplop putih tanpa tulisan di berikan Ozi pada Fathur yang sedang duduk memainkan gitar.
"Kamu kapan datang?" Tanya Fathur membuat Ozi tersenyum tipis. "Waduch! Makanya jangan kebanyakan ngelamun, Thur! Aku lewat aja kamu ga tau!" Ozi menepuk jidatnya sendiri.
"Apa ini?" Tanya Fathur.
"Itu, ada titipan dari Indah buat kamu. Kalo dah di buka, kamu di suruh menghubunginya. Nih Handphone aku!" Ozi memberikan ponselnya. "Aku mau tidur dulu!" Lanjutnya.
Fathur meletakkan gitar dan ponsel di atas meja kemudian perlahan membuka amplopnya. Begitu terkejutnya saat ia melihat sejumlah uang yang diberikan Indah untuknya.
"Indah!" Teriak Fathur seolah sedang memanggil orang yang ada di depannya padahal Indah nya hanya bisa dipanggil lewat telepon. Fathur meraih ponsel milik Ozi dan menghubungi Indah.
Di telpon, Fathur menanyakan apa maksud Indah memberikan sejumlah uang padanya.
Indah memberikan uang itu untuk memenuhi kebutuhan Fathur selama tiga bulan ke belakang. Indah juga mau Fathur membeli Handphone agar ia bisa menghubungi keluarganya dan tentu juga agar bisa menghubungi Indah.
Awalnya, Fathur menolak pemberian Indah dan akan mengembalikan uangnya saat Ozi pulang lagi. Namun Indah memaksanya untuk menggunakan uang tersebut.
"Dafa, aku ga akan pakai uang kamu! Aku akan menitipkan kembali pada Ozi jika dia pulang!" Ucap Fathur.
Indah menutup telponnya dan mengganti dengan Video Call.
"Fa!" Panggil Indah pada Fathur yang menunduk. Fathur melihat sendu ke layar ponsel.
"Aku ga terima penolakan!" Indah memasang wajah kecewa. "Kalo kamu nolak, aku ga akan pernah mau ketemu kamu lagi!" Lanjutnya menitikkan air mata kecewa.
"Baiklah, Aku akan pakai uangnya! Tapi dengan satu syarat!" Fathur memberikan penekanan pada kalimat keduanya.
"Apa?" Tanya Indah.
"Kamu ga boleh sedih dan nangis lagi!" Fathur sama sekali tidak tega melihat Indah menangis. Kekasih yang selama ini terlihat dingin dengan orang lain dan selalu tersenyum bahkan tertawa riang saat bersamanya kini meneteskan air mata dihadapannya.
"Iya, aku janji!" Sahut Indah sembari menghapus air matanya.
Panggilan diakhiri setelah mereka sedikit bercanda melepas rindu.
"Ada apa denganmu? Ga biasanya kamu menangis. Kamu bukan gadis cengeng. Kamu gadis yang dingin, tegar, tapi kamu selalu ceria dan menyenangkan bagi orang yang sudah mengenalmu lebih dekat. Aku ga yakin jika kamu menangis hanya karena merindukanku. Kita sudah putus." Gumam Fathur dalam hati.
Keesokan harinya, Fathur menghubungi Indah dengan ponsel yang di beli menggunakan uang Indah. Ia sengaja membeli ponsel bekas agar tidak terlalu banyak menggunakan uang pemberian Indah.
Nomor baru membuat Indah penasaran, namun hanya sebentar karena Indah meyakini bahwa Fathur lah pemilik no. baru itu.
"Alhamdulillah, dah beli Hp. ya?" Kalimat Indah tanpa basa - basi.
"Emh, tau aja kalo aku yang telfon. Nungguin ya?" Ledek Fathur.
"Fa......, aku kan jadi malu!" Rengek Indah.
"Aku yang malu neng! Beli Hp pake' uang kamu!" Balas Fathur.
"Fa, Minggu depan pulang ya?!" Rengek Indah lagi.
"Kenapa harus pulang? Lagian ga ada yang kangen, ga ada yang rindu, ga ada yang mau nunggu aku pulang!" Sindirnya pada Indah.
"Fa....!" Indah merajuk tapi malu untuk mengatakannya.
"Ada apa?" Fathur tersenyum memancing jawaban Indah.
"Aku yang kangen, Aku yang rindu, dan Aku yang akan menunggumu pulang!" Akhirnya Indah mengakui perasaannya meski malu - malu.
"Iya, iya aku pulang! Tungguin ya?" Jawab Fathur.
Sementara di tempat lain.
Malam Minggu, Arman menunggu Indah di depan gang karena Indah tak mengijinkan dia datang ke rumah dan menjemputnya. Ponsel Indah tak bisa dihubungi karena sedang sibuk. Arman mendatangi rumah Anik, mungkin saja Indah di sana. Tapi sama sekali tak ada tanda - tanda keberadaan Indah.
Arman menuju rumah Ana. Hal yang sama terjadi di rumah dan toko Ana. Ana hanya bercanda sambil menjaga toko bersama Adik perempuannya. "Indah, kamu dimana?" Gumamnya. Karena tak menemukan Indah, Arman memutuskan untuk pulang.
Hari Minggu, Arman yang sudah berjanji akan bertemu Indah sudah menunggu di mulut Goa. Setelah lama menunggu tapi hasilnya nihil, Arman pulang dengan rasa kecewa di hatinya.
Hari Senin siang, sekolah Arman pulang lebih awal. Ia memutuskan untuk berangkat menemui Indah di Sekolah.
Arman menunggu di depan gerbang sekolah Indah yang terlihat sepi karena sekolah belum usai dan siswa belum ada yang pulang.
Jam pulang tiba.
Indah keluar bersama teman - temannya. Indah akan mengayuh sepedanya. Tiba - tiba Ana menepuk pundak Indah. "Tuh!" Ana menunjuk ke arah Arman berada.
Indah menoleh ke tempat yang dimaksud Ana. "Kamu pulang saja dulu, supaya orang tuamu ga khawatir!" Indah bicara pada Ana.
"Baiklah, nanti cerita sama aku ya!" Ana pulang bersama Irma tanpa menunggu jawaban Indah.
Arman menanyakan kabar Indah yang tentu terlihat baik - baik saja tapi tidak dengan hatinya. Indah menyembunyikan perasaannya dengan berusaha tersenyum meski terpaksa.
"Nanti malam, kita ketemuan ya?" Ajak Arman.
"Maaf, Aku tidak bisa! Banyak PR yang harus aku kerjakan!" Jawab Indah datar.
"Sebentar aja, Please!" Pinta Arman.
"Maaf, aku ga bisa!" Indah mengulang kalimat maaf nya.
"Sebagai pengganti malam Minggu dan hari Minggu karena kamu tidak datang?" Arman mencoba memaksakan keinginannya dengan halus.
"Maaf, aku lupa jika ada janji denganmu! Tapi maaf juga untuk nanti malam, Aku tidak bisa!" Jawab Indah masih dengan penolakannya.
"Ada yang ingin aku bicarakan nanti malam walaupun cuma sebentar, satu jam saja!" Arman meninggikan kalimat terakhirnya.
"Maaf, aku tidak suka PAKSAAN!" Indah pun mulai emosi dan berlalu meninggalkan Arman yang diam seribu bahasa melihat sifat asli kekasihnya yang hampir tak pernah terlihat marah.
Indah pulang ke rumah, tapi tidak dengan Arman. Dia datang ke rumah Ana menanyakan apakah Ana ada janji dengan Indah nanti malam.
Ana mengiyakan karena ia memang ada janji mengerjakan PR bersama Indah.
Arman lega, ia bisa menemui Indah di rumah Ana meski ia tau Indah akan marah padanya. "Kalau begitu, aku pulang dulu ya, Ana? Terima kasih atas informasinya!" Lanjut Arman.
"Ada apa sebenarnya dengan Indah dan Arman? Apa mereka bertengkar? Atau mereka putus?" Pikiran Ana dipenuhi pertanyaan tentang sahabatnya. "Ah sudahlah, ga baik menebak - nebak. Nanti juga Indah akan ceritain masalahnya sama Aku!" Lanjutnya.
🌼🌼🌼
Tinggalkan jejak dengan like ya!!!
Aku tidak menolak koin receh yang diberikan readerku setiaku!
Komentarmu, Inspirasiku!!!😘😍🥰