
“Mas Yusuf, Ra!” Bu Sri tak mampu berkata.
“Ada apa, Mbak?” Tanya Ira makin panik.
“Kata Pak RT, mata dan tangannya menguning. Aku ingin membawanya ke rumah sakit!” Jelas Bu Sri.
“Baiklah, aku akan segera membawakan Ambulan.” Ira yang petugas kesehatan begitu tanggap dan paham apa yang harus dikerjakannya.
Beberapa menit setelah Bu Sri mengatakan niatnya, Pak Yusuf memuntahkan isi perutnya di ruang tamu karena sejak kemarin beliau meminta tidur di sofa yang berada di ruang tamu.
Bukan makanan yang dimuntahkan oleh Pak Yusuf melainkan cairan hitam. Indah segera membersihkan cairan tersebut. Kemudian tepat pukul sembilan pagi, Ira datang bersama Ambulan.
Entah apa yang ada dipikirannya, Pak Yusuf menatap sendu Indah yang berdiri di pintu rumah. Netra mereka bertemu. Indah menunduk menyembunyikan air matanya yang hampir jatuh.
“Ayo!” Ucap Bu Sri memapah Pak Yusuf masuk ambulan.
Ambulan berangkat meninggalkan Indah yang masih berdiri mematung di pintu. Setelah ambulan menghilang dari pandangannya, Indah melanjutkan membersihkan sisa cairan muntahan sang Ayah sambil menangis.
Beberapa orang tetangga mengikuti di belakang ambulan dengan motornya.
Setelah semuanya bersih, Indah duduk menangis dengan tatapan kosong. “Ayah....... Jangan tinggalkan Indah....! hik hik hik” Tangisnya.
Di rumah sakit.
Pak Yusuf langsung di bawa ke IGD untuk diperiksa. Setelah melalui beberapa kali pemeriksaan, Pak Yusuf dipindahkan ke ruang rawat inap. Seketika itu beliau tak sadarkan diri setelah membisikkan sesuatu pada adik perempuannya. Entah siapa yang memberikan kabar, saudara – saudara dan Nenek Rifa Ibu dari Pak Yusuf sudah berkumpul di rumah sakit.
“Tolong jemput Indah!” Ucap Bu Sri sembari menangis. Beliau tak peduli siapapun yang akan menjemput. Yang ia mau hanyalah kehadiran Indah di samping ayahnya.
Beruntung ada saudara sepupunya yang bersedia menjemput Indah di rumah.
“Indah!” Om Agus mendapati Indah menyangga kepala dengan lututnya dan menangis di lantai.
“Iya, Om!” Indah mengangkat kepala melihat ke arah Agus.
“Ayo, kita ke rumah sakit sekarang!” Indah berdiri dan bingung harus bagaimana. Namun dengan sabar, Agus sepupu Bu Sri menuntun Indah dan mengunci pintu rumahnya.
“Bagaimana keadaan Ayah, Om?” Air mata Indah tak berhenti mengalir.
“Ayahmu tak sadarkan diri, Nak!” Jawab Agus lirih.
Dengan cepat Indah berjalan mengikuti langkah Agus yang berjalan di depannya. Tiba di dalam kamar Ayahnya, tangan Indah ditarik lembut oleh Pak Ahmad.
“Hapus air matamu, dampingi Ayahmu menghadapi syakaratul maut!” Meski hatinya rapuh, Indah berusaha tetap tegar.
Indah menghampiri sang Ayah dan duduk di samping kirinya karena di sebelah kanan Pak Yusuf terdapat tabung oksigen. Meski begitu Indah memegang telapak tangan kanan Pak Yusuf seperti orang berjabat tangan.
“Ayah... Aku Indah!” Mendengar suara Indah, Pak Yusuf sejenak membuka mata dan melirik Indah kemudian kembali tak sadarkan diri.
Entah apa yang terjadi dengan Pak Yusuf, kita belum pernah mengalaminya. Pak Yusuf menggerakkan tangan kanannya yang masih dalam genggaman Indah seperti sedang berdzikir menggunakan tasbih. Indah memalingkan wajah menatap jendela untuk menyembunyikan tangisnya.
Semakin erat genggaman tangan Pak Yusuf, semakin deras air mata Indah. Sesekali Indah menghapus air matanya. Sejenak Pak Yusuf membuka mata lagi dan melihat Indah. Ayah dan anak itu melempar senyum saling menguatkan.
Ajal tak dapat di hindari, Pak Yusuf membaca dua kalimat Syahadat kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.
Genggaman tangan Pak Yusuf mulai melemah dan Indah meletakkan tangan kanan Sang Ayah di atas tangan kirinya yang sudah lebih dulu bersedekap.
Hari Senin pukul 13.30 WIB bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan saat itu, Indah kehilangan sosok Ayah yang sangat Ia hormati dan sayangi.
Indah berlari keluar ruangan dan menangis di sana. Sementara Bu Sri menagis di dalam ruangan.
“Jangan tangisi, Ikhlaskan kepergiannya!” Tante Ira menenangkan Bu Sri kemudian berlalu mengurus biaya rumah sakit agar jenazah Pak Yusuf bisa segera dibawa pulang dan dimakamkan.
Agus mengajak Indah pulang.
Sesampainya di rumah, Indah langsung masuk ke kamar ayahnya dan tangisnya pecah.
Singkat cerita, Jenazah Pak Yusuf akan dimakamkan di makam keluarga dekat dengan orang tua laki – lakinya. Indah ingin sekali ikut mengantar jenazah sang Ayah, namun beberapa orang menghalanginya termasuk Bu Sri.
Mereka tak menyisakan sepasang sandal pun untuk Indah. Mereka berpikir Indah tidak akan pergi tanpa alas kaki.
Entah kemana sandal – sandal itu disembunyikan, padahal masih ada beberapa orang perempuan di rumah Pak Yusuf. Meski begitu Indah tetap pergi lewat pintu belakang tanpa peduli panggilan sang Ibu padanya.
Kebetulan ada Agus yang kembali untuk mengambil payung dan bisa mencegah Indah pergi. “Jangan seperti ini, Ndah. Kasihan Ibumu! Kasihan juga Ayahmu. Dia juga akan sedih melihatmu seperti ini!” Bujuk Agus.
Kata – kata Agus berhasil memprovokasi Indah agar tidak ikut ke pemakaman.
Tak peduli dirinya sedang berpuasa. Tak peduli jarak yang harus ditempuh untuk mencapai kuburan Sang Ayah, pun dengan berjalan kaki.
Setiap hari Indah datang ke makam Pak Yusuf.
Hingga Hari Raya Idul Fitri pun tiba, Indah tetap datang sendiri ke tempat Sang Ayah beristirahat untuk selamanya.
Entah karena tradisi atau karena ada dalil seorang janda tidak boleh datang ke makam suaminya sebelum masa iddah nya selesai.
“Ayah....! Aku akan berusaha membuat Ayah bahagia melihat Aku dari sana. Aku akan mewujudkan keinginan Ayah. Aku akan jadi Sarjana, Ayah!” Janji Indah di dekat nisan Pak Yusuf.
“Indah!” Abil terkejut melihat Indah sedang berbicara sendiri di samping kuburan Ayahnya. Mendengar suara yang tak asing lagi, Indah segera menoleh.
Tak hanya Abil, semua saudara Pak Yusuf berkumpul mendatangi makam keluarganya. Di tempat yang sama kakek, nenek dan Ayah Pak Yusuf dimakamkan.
“Ammah..........!” Indah memeluk salah satu adik perempuan Pak Yusuf. Tak mungkin ia memeluk Abil seperti saat masih kecil. Namun demikian, Abil mengusap punggung keponakan tersayangnya.
“Kenapa tidak bilang kalau kamu mau kesini, supaya Om bisa menjemputmu atau setidaknya kamu mampir ke rumah nenek agar kita bisa berangkat bersama!” Seru Abil.
“Tak ada yang lebih penting dari pada Ayah dan Ibu. Maka dari itu, Sepulang dari Masjid dan meminta maaf pada Ibu, Aku langsung datang kemari untuk mendoakan Ayah!” Jawab Indah membuat semua saudara Pak Yusuf terharu.
“Ya sudah, Apakah kamu mau pulang bersama kami ke rumah nenek?” Tanya Adelia.
“Aku mau ikut kemana pun kalian mengajakku sekarang, karena aku sudah terlebih dahulu bertemu Ayah!” Sahut Indah.
Setelah itu, Indah ikut ke rumah Nenek Rifa bersama keluarga besar Pak Yusuf.
🌼🌹🌷
**Jangan lupa like, komentar n vote serta hadiahnya ya,Kak**!!!
**Terima kasih**!!!