
"Nu!" Irwan menggoyang tubuh Ibnu.
"Ada apa?" Jawab Ibnu yang tetap fokus membaca.
"I - itu Ilham!" Irwan berdiri kemudian setengah berlari menuju Ilham yang dipukul teman beda kelas.
Melihat Irwan berlari, pandangan Ibnu mengikuti tujuan Irwan. Alhasil dia juga menghampiri Ilham dan Irwan.
Sekali lagi Aldi menghajar Ilham hingga kacamata yang digunakan Ilham pecah. Dengan segera Ibnu dan Irwan memisahkan mereka.
"Apa yang kalian perebutkan?" Tanya Ibnu sembari menahan erangan Ilham yang ingin membalas pukulan Aldi. Sementara Irwan berada di posisi menghalau Aldi.
"Sahabatmu merebut kekasihku!" Jawab Aldi emosi.
"Aku tak merebutnya darimu, Dia sendiri yang datang padaku dan mengaku tak punya kekasih!" Sahut Ilham yang masih dalam mood emosi tingkat tinggi.
"Sudahlah! Jangan bertengkar hanya karena seorang wanita!" Saran Ibnu.
"Aldi, Urus kekasihmu itu. Lepaskan Ilham. Biar dia jadi urusan kami!" Lanjut Ibnu.
"Baiklah, kalian urus sahabat kalian itu. Jangan pernah lagi ganggu hubungan kami!" Aldi menyetujui saran Ibnu dan berusaha melepaskan pegangan tangan Irwan.
Setelah Aldi pergi, Ibnu dan Irwan mengajak Ilham duduk di Bangku Taman sekolah.
"Jelaskan masalahnya!" Ucap Ibnu tanpa ekspresi.
"Malam Minggu, Sherly datang ke rumah. Dia ngajak aku jalan."
Flashback on
Ilham membuka pintu saat ada yang membunyikan bel rumahnya.
"Boleh aku masuk?" Tanya Sherly.
"Ada perlu apa?" Tanya Ilham heran, pasalnya orang tuanya tak pernah mengijinkan Ilham membawa perempuan masuk rumah.
"Aku mau kita jalan - jalan! Kamu mau,'kan?" Meski Sherly yakin Ilham menolak, namun ia berusaha keras untuk itu.
Memang tak mudah bagi triple - I jatuh cinta.
"Maaf, Aku sudah ada janji dengan Ibnu dan Irwan!" Ilham menolak dengan alasan ada janji kedua sahabatnya. Mereka memang berjanji akan pergi mengerjakan tugas Matematika di sebuah kafe.
"Sebentar saja, Aku hanya butuh teman untuk menikmati cappuccino hangat!" Sikap Sherly bak anak kecil minta permen.
"Baik, tunggulah di sini!" Ilham mencoba mengabulkan.
"Apa kau tak mempersilahkan Aku menunggumu di dalam saja?" Tanya Shely.
"Tunggulah di sini, atau kita tidak jadi pergi?" Ilham seolah memberikan pilihan.
"Baiklah!" Meski kecewa, Sherly berusaha menerima.
📱Tunggu Aku satu jam lagi
Ilham mengirim chat di grup triple i
Ibnu dan Irwan membuka chat tersebut bersama. Irwan melihat jam dipergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul 19:00 itu artinya Ilham akan datang menemui mereka pukul delapan. Secara tak sengaja Ibnu dan Irwan membalas chat Ilham.
📱Iya
balas Ibnu
📱Baiklah
Keduanya mulai mengerjakan tugas tanpa Ilham.
Sementara di kafe berbeda, Ilham masuk bersama Sherly. Ilham dikagetkan dengan tangan Sherly yang memegang lengannya layaknya sepasang pengantin berjalan menuju pelaminan. Menolak juga tidak mungkin bagi Ilham karena di tempat itu banyak pasang mata melihat kedatangan mereka.
Sherly memberikan daftar menu pada Ilham. Belum sempat Ilham melihatnya, Ia langsung berucap dengan dinginnya. "Cappucino dan stik kentang."
"Baiklah!" Entah apa yang direncanakan Sherly, di kafe ini ia bersikap layaknya seorang penurut, berbeda dengan tadi pada saat berada di rumah Ilham.
Seorang pelayan menghampiri mereka. "Dua cup cappucino dan stik kentang!" Seru Sherly pada pelayan tersebut.
Seseorang mengantar pesanan. Tanpa Ilham sadari mata pria itu menatap tajam mereka berdua, karena Ilham sibuk mengirim chat pada dua sahabatnya. Namun Sherly mengetahui itu dengan jelas. Mungkin ini adalah bagian dari rencananya.
"Silahkan!" Ucap pria tersebut sembari undur diri.
Pria itu terus mengawasi gerak - gerik dua sejoli yang membuat hatinya mendidih. Mereka makan dengan santai tanpa satu halangan apapun.m Sherly merasa ada sosok yang tetap mengawasinya dan ia yakin bahwa itu adalah perbuatan Aldi kekasihnya. Sherly berniat membuat Aldi cemburu dengan mengajak Ilham ke kafe tempat Aldi bekerja.
Aldi menahan amarahnya, karena tidak mungkin ia berkelahi di tempat kerjanya. Hatinya makin mendidih hingga mencapai seribu persen saat melihat tangan Sherly mengusap sudut bibir Ilham yang belepotan dengan saos.
Ilham menangkap tangan Sherly. "Jangan lakukan hal itu, tak enak dilihat banyak orang!"
"Tak ada yang peduli dengan kita, mereka sibuk dengan kencan masing - masing. Dan lagi, apa yang kamu khawatirkan? Aku tak mempunyai kekasih yang akan cemburu padamu!" Jawaban panjang diberikan Sherly.
Setelah menghabiskan makanan, Ilham meninggalkan selembar uang lima puluh ribuan di meja kemudian pergi begitu saja meninggalkan kafe. Sherly diantar pulang oleh Ilham dan berlalu menuju kafe tempat dua sahabatnya berada.
"Dari mana, Bro?" Tanya Irwan yang lebih dulu melihat kedatangan Ilham.
"Emmm, Mengantar Ibu ke rumah paman!" Jawab Ilham berbohong. Ia tau kedua temannya tak mungkin percaya jika mengatakan bahwa ia pulang berkencan. Mereka mengetahui Ibunya tak mengijinkan Ilham berpacaran. Mereka juga saling menjaga hal itu. Ketiganya melanjutkan tugas Matematika hingga pukul sepuluh malam.
Di tempat lain, Sherly merasa puas telah membuat Aldi cemburu tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi besok.Sherly adalah adik kelas mereka. Sherly melibatkan Ilham dalam rencana busuknya, karena jarak rumah mereka yang dekat.
Kafe Aldi tutup di jam sembilan, karena pengunjung telah sepi. Aldi tak langsung pulang, Ia mampir ke rumah Sherly untuk memastikan hubungan Sherly dengan Ilham teman satu sekolah mereka, tapi berbeda kelas.
"Apa hubunganmu dengan Ilham?" Aldi to the point' bertanya pada Sherly karena Aldi juga mengenal sosok Ilham dengan baik. Mereka pernah menjadi teman satu kelas saat SMP.
"Kami baru saja jadian dan Dia mengajakku merayakannya di kafe tempatmu bekerja" Jawab Sherly dingin.
"Aku tau betul seperti apa Ilham, Dia tidak mungkin semudah itu menyatakan cinta. Terlebih kau adalah tetangganya sendiri!" Aldi tak percaya.
"Itu kan dulu, saat kalian masih SMP. Tentu sekarang sudah berbeda. Ilham jatuh cinta padaku dan kami jadian tadi sore. Makanya kami merayakannya malam ini!" Sherly memprovokasi Aldi yang akhirnya pergi meninggalkan Sherly tanpa kata.
Mengapa kau tinggalkan aku tanpa kata PUTUS? Apa salahku? Mungkin karena Aku bukan anak orang kaya. Aku hanyalah seorang pelayan kafe sedangkan Ilham? Orangtuanya pemilik salah satu Restauran besar di kota ini yang mempekerjakan orang lain, bukan anaknya sendiri. Aldi berargumen sendiri dalam kamarnya.
Flashback Off
"Oh, Jadi yang semalam kamu bilang mengantar Ibumu itu, Bu Sherly?" Goda Irwan sembari melirik Ibnu.
"I - Iya!" Jawab Ilham menunduk malu sekaligus khawatir dua sahabatnya tak mempercayainya lagi.
"Hadapi Aldi, jelaskan masalahnya dan jangan pernah kabur dari masalah!" Ibnu memberikan saran.
"Bagaimana Aku bisa menjelaskan pada Aldi, jika dia sedang emosi seperri sekarang?" Ilham mengerutkan kening.
"Biarkan Aku meminta kesempatan agar kamu bisa menjelaskan padanya!" Pinta Ibnu dan langsung berdiri menemui Aldi.
.................
Jangan lupa like, komentar n vote nya ya,Kak!!!
Author juga tidak menolak jika para reader memberikan hadiah🤭
Thank You very much!