
Adzan Subuh berkumandang membangunkan insan muslim untuk menghadap Sang Khalik. Pun dengan Pak Yusuf sekeluarga. Indah segera bangun dan membersihkan diri. Kemudian Shalat berjamaah di rumah.
Tengadah tangan, terucap Doa, Tangis dalam hati memohon ampunan, keberkahan rezeki dan umur panjang tak luput dari untaian permohonan pada Sang Pencipta.
Usai berdoa dan berdzikir, mereka kembali beraktifitas seperti biasa.
Karena Pak Yusuf tak mengijinkannya masuk sekolah, Indah memilih untuk mencuci pakaiannya.
"Jangan terlalu capek, Sayang!" Pak Yusuf.
"Tidak, Ayah. Hari ini, Aku hanya mencuci seragam sekolahku!" Jawabnya sopan menghentikan sejenak kegiatan tangannya yang sedang merendam pakaian kotornya.
Sebelum Indah melanjutkan mencuci, Bu Sri menyuruh Indah sarapan.
🌼🌼🌼
Bosan diam di rumah. Indah melihat jam yang menunjukkan pukul Sembilan. Ia mencoba menghubungi Ana menanyakan pelajaran hari ini.
"Tak ada yang penting di jam pelajaran sebelumnya, hanya saja Bu Guru memberikan sedikit catatan dan menjelaskannya" Jawab Ana.
Setelah menutup teleponnya, Ada notifikasi dari aplikasi berwarna hijau di ponselnya. "Sedang apa?" Chat Fathur.
"Baru selesai nyuci!" Indah.
"Jangan bekerja terlalu berat" Fathur.
"Iya, terima kasih sudah mengingatkan." Indah.
"Sudah dulu, Aku ada ulangan. Nanti malam Aku ke rumahmu" Fathur mengakhiri chat nya.
🌼🌼🌼
"Nu, banyak cewek mengagumimu dan ingin menjadi kekasihmu. Bahkan mereka rela berkorban demi dirimu!" Ucap Ilham.
"Lalu?" Tanya Ibnu santai.
"Tapi kenapa kamu tak pernah melihat sedikit saja perasaan mereka?" Ilham balik bertanya. Apa kamu sama sekali tak menyukai perempuan?" Lanjutnya.
"Aish, Kamu pikir aku bukan pria normal yang menyukai sesama jenis?" Ibnu mengernyit.
"Hahaha, Iya kali Nu! Secara kamu hanya dekat dengan kami berdua dan tak sekalipun kami berbicara tentang wanita yang kamu suka pada kami." Sahut Irwan.
"Dan itu bukan berarti Aku menyukai lawan jenis, 'kan?" Ibnu menarik simpulan membuat mereka tertawa lepas.
"Apa kamu punya adik perempuan?" Tanya Ilham membuat Ibnu berhenti tertawa dan teringat tentang Indah.
"Aku ga punya adik perempuan, Yang Aku punya satu kakak perempuan yang umurnya hampir sama dengan Mamaku."
"Bagaimana bisa?" Tanya Ilham dan Irwan.
"Ya bisalah, Bapakku menikahi Mama saat dirinya sudah punya enam orang anak dari istri pertamanya". Penjelasan Ibnu membuat kedua sahabatnya paham.
"Aku kira kamu punya adik perempuan, tentu wajahnya cantik secantik dirimu!" Canda Ilham.
"Seandainya, Kamu punya adik perempuan yang wajahnya mirip kamu. Aku mau jadi kekasihnya." Ilham menerawang membayangkan wajah gadis manis mirip Ibnu.
"Aku juga mau, Nu!" Ujar Irwan yang ikut masuk ke dalam lamunan Ilham.
Tanpa mereka sadari, Ibnu berlalu ke kantin sekolah. Sepiring nasi pecel dan segelas es teh manis mengisi perutnya. Sejak semalam ia belum makan. Ibnu merasa kenyang setelah mengirimkan nasi goreng untuk Indah serta memberikan Bakso pada Dita. Sarapan pagi pun tak sempat Ibnu lakukan karena bangun kesiangan. Beruntung tidak terlambat datang ke sekolah.
"Dari mana, Nu?" Tanya Dewi teman sekelas Ibnu.
"Dari kantin!" Jawabnya singkat.
"Tadi, Yudi datang ke sini nyariin kamu. Karena kamu ga ada, ia titipkan ini sama aku!" Dewi memberikan amplop yang dititipkan Yudi padanya.
Ibnu menerima amplop tersebut yang diyakini berisi uang kiriman dari sang Mama. "Terima kasih!" Ucapnya.
Yudi adalah anak dari adik sang Mama. Yudi juga bersekolah di tempat yang sama, namun Yudi masih kelas sepuluh.
🌼🌼🌼
"Fa, Maukah kamu antar aku ke rumah Ana?" Tanya setelah mempersilahkan Fathur duduk.
"Seberapa penting urusanmu dengan Ana sehingga kepergian mu tidak bisa ditunda sampai besok?" Tanya Fathur khawatir.
"Aku hanya ingin meminjam buku catatan pelajaran tadi pagi. Aku ga mau ketinggalan pelajaran karena sakit!" Indah menunduk menutupi kekecewaannya.
"Baiklah, Aku akan mengantarmu!" Fathur tak mampu melihat wajah sedih mantan kekasih rasa saudaranya itu.
Indah bergegas masuk untuk mengambil jaket berwarna biru langit kesukaannya. Tak lupa ia pamit pada kedua orang tuanya.
"Udah makan, belum?" Tanya Fathur saat tiba di Taman Kota. Meski malam ini malam Minggu, Fathur tak berniat mengajak Indah jalan - jalan karena ia tahu betul kondisi Indah pasca sakitnya kambuh.
Fathur hanya berniat mengajak Indah makan sebentar. Diamnya Indah membuat Fathur mengerti bahwa Indah malas makan ketika penyakitnya kambuh. Fathur memarkirkan motornya dan menuju pedagang kali lima penjual Soto Ayam.
Indah menikmati makan malam bersama Fathur. Selesai makan, Indah membeli satu porsi Soto Ayam untuk dibawa pulang lengkap dengan es teh manisnya, tentu Indah menggunakan uangnya sendiri.
"Untuk siapa makanan itu?" Tanya Fathur heran. Tak mungkin Indah akan memberikannya pada Ayah atau Ibunya karena mereka sama sekali tidak memesannya. Tak mungkin pula Indah memakannya sendiri nanti, karena mereka baru saja selesai makan.
"Aku ga tau makanan ini untuk siapa. Aku hanya ingin membelinya!" Indah pribadi pun tak tau kepada siapa makanan tersebut berlabuh.
Jika kemarin malam Ibnu bertemu seorang anak kecil yang sedang menangis karena lapar, sekarang Indah pun mengalami hal yang sama.
"Fa, berhenti dulu!" Ucap Indah mengakibatkan Fathur berhenti mendadak. Beruntung tak ada kendaraan di belakangnya sehingga tidak terjadi kecelakaan beruntun.
"Ada apa?" Tanya Fathur.
"Ada anak kecil lagi nangis!" Jawab Indah.
"Mana?" Fathur melihat sekitar namun tak menemukan sosok yang Indah maksud.
"Tuh, di gang sempit!" Tunjuk Indah ke arah gang yang sempit, gelap lagi.
"Jangan kamu bilang kalo yang kamu lihat itu tuyul cewek ya?" Sanggah Fathur karena sangat tidak mungkin jika ada kecil sedang menangis di tempat seperti itu.
Indah mengajak Fathur kembali ke tempat yang Indah maksud. Benar saja, Ada anak kecil sedang menangis di sana.
"Hey, nama kamu siapa?" Tangan Indah terulur untuk membelai rambut anak tersebut dan menanyakan namanya dengan lembut.
"Dita, Kak!" Gadis kecil itu mengangkat kepalanya yang tertunduk, mengusap air matanya dan menjawab pertanyaan Indah.
Indah mengajak Dita keluar dari gang sempit tersebut. Tiba di trotoar jalan raya, Dita menatap lekat wajah Indah. Ia melihat dengan jelas wajah yang hampir 100% sama dengan laki - laki yang memberikannya sebungkus bakso di malam sebelumnya. Namun pada Indah, Dita langsung memanggil Kakak karena Indah memang lebih muda dan wajahnya yang imut.
Indah menanyakan alasan Dita menangis di gang sempit nan gelap. Dita menceritakan hal yang sama dengan apa yang ia katakan pada Ibnu. Tapi kali ini iya ingin makan nasi goreng.
Indah merasa kasihan dengan Dita. "Kakak punya makanan, tapi bukan Nasi goreng seperti yang Dita inginkan!" Indah mengambil makanan yang tadi ia beli dari tangan Fathur dan memberikannya pada Dita. Tak cukup sampai di situ, Indah juga mengeluarkan dompet dan memberikan selembar rupiah berwarna biru pada Dita.
"Belilah apa yang Dita inginkan!" Ucapnya.
Bukannya tersenyum, Dita malah kembali meneteskan air mata. "Dita kenapa? Hm?" Tanya Indah heran.
"Dita takut, Kak!" Tangis Dita makin menjadi.
Indah berusaha menenangkan Dita dengan memeluk dan menghapus air mata gadis kecil itu. Indah membawa Dita ke Taman kota diikuti Fathur.
"Ceritakan sama kakak, Apa yang membuat Dita takut?" Tanya Indah setelah mendudukkan Dita diantara dirinya dan Fathur.
Dita takut ayahnya marah seperti semalam karena mengira Dita mengemis untuk mendapatkan makanan.
🥀🥀🥀
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar n vote juga ya, Kak!
Terima kasih🙏