My Brother

My Brother
3



Sejak pulang sekolah hingga petang menjelang, Naomi masih mengurung diri di kamar dengan berurai air mata. Hatinya sungguh sakit menerima kenyataan menyakitkan bahwa sang Kakak telah memiliki kekasih. Vebra, nama yang paling buruk bagi Naomi, juga wanita paling jahat bagi Naomi karena telah merebut Leon darinya.



Naomi semakin menangis dengan boneka beruang yang ia peluk erat, seolah menyalurkan seluruh emosi agar sedikit meredakan rasa sakit yang kian menusuk. Bagai ada sebuah belati tajam tak kasat mata telah menusuk dadanya, sesak, sakit, dan kecewa yang ia rasakan pada Leon.



Berkali-kali lelaki itu mengetuk pintu agar Naomi membuka dan menjelaskan semua kesalahan yang ia sendiri tidak tahu apa. Namun Leon merasa kalau kemarahan adiknya karena dirinya.



"Naomi ... Kakak boleh masuk, kan?" lagi, Leon menanyakan pertanyaan yang sama dengan hasil yang sama pula. Adiknya itu tetap mengabaikannya.



Mengembuskan napas lelah Leon turun menuju ruang tengah. Ricard, ayahnya sedang duduk sembari menonton acara tv.



"Biarkan saja. Adik kamu itu terlalu manja, ditambah lagi dengan kamu yang selalu memanjakan dan menomor satukan dia. Sekarang lihatkan, kamu sendiri yang kuwalahan." Ricard mengomeli Leon ketika putranya mendudukkan diri di samping lelaki tinggi tegap tersebut.



"Pa, Leon gak ngerti deh kesalahan Leon itu apa. Kenapa Naomi bisa marah sama Leon? Padahal tadi Leon masih antar jemput Naomi kok, Leon gak lupa dan gak telat jemput." Leon berkata serius pada Ricard, lelaki paruh baya itu berdiri dan mengambil bingkai foto kecil. Membawa bingkai foto itu pada putranya.



"Kamu selalu memanjakan Naomi sejak ia masih kecil. Lihat foto ini, ketika Naomi berulang tahun ke 10. Kamu membelikan adikmu boneka yang ia minta, ia juga meminta kamu berjanji agar selalu menemaninya. Dan kamu setuju," ucap Ricard sambil menatap foto Naomi yang tengah mengenakan gaun selutut dengan boneka beruang yang ia peluk.



Leon menatap foto itu, sebuah ingatan berkelebat di pikirannya. Ketika itu Naomi marah pada Leon karena ia datang terlambat ke acara ulang tahunnya. Padahal Naomi ingin mengenalkan Leon pada temannya, tapi kakaknya justru datang ketika pesta telah usai.



Naomi menangis dan merajuk hingga Mama dan Papanya kuwalahan menenangkan Naomi. Ia terus memukul dada Leon yang hanya diam sambil memeluk adiknya yang kian berontak. Kemudian Leon meminta maaf dan mengatakan akan memberikan apapun untuk Naomi asal adiknya tak marah lagi.



Kemudian Naomi meminta sebuah boneka beruang berwana biru muda. Malam itu juga Leon mencari boneka yang diinginkan Naomi, padahal hari sudah larut dan hujan deras tengah mengguyur. Leon mencari ke sana kemari hingga pukul setengah satu dini hari dan ia pulang dalam keadaan basah kuyup dengan boneka beruang biru muda yang diinginkan Naomi.



Naomi langsung senang dan memeluk Leon yang menggigil kedingingan akibat ia yang mengendarai motor maticnya agar lebih cepat. Ia juga memaksa Kakaknya berjaji agar selalu ada di sisinya, meski Naomi tengah marah sekalipun. Leon menyetujui janji adiknya dan ikut senang melihatnya tersenyum bahagia.



"Mulai sekarang, biarkan adik kamu mandiri. Dia sudah remaja, Nak, kamu juga harus memikirkan masa depan kamu. Biarkan dia menata hidupnya sendiri."



"Tapi, Pa--"



"Kalau kamu sayang sama Naomi, biarkan dia tidak terus menerus bergantung sama kamu. Suatu hari kamu juga akan menikah, kalau adik kamu terus begini bagaimana dengan kehidupan rumah tangga kamu."



"Jadi apa yang harus Leon lakukan, Pa?" tanya Leon pasrah.



"Kamu pindah ke apartement. Biarkan Naomi Papa dan Mama yang urus." Leon menatap kaget Ricard, seharusnya Papanya mengerti bahwa Leon tak mungkin meninggalkan Naomi. Bagi Leon Naomi bukan hanya seorang adik, tapi ia juga separuh nyawa Leon.



"Gak mungkin, Pa! Leon gak mungkin bisa!"



"Kamu pasti bisa, Nak."



Ricard meninggalkan Leon seorang diri di ruang tengah. Ia tahu betul bahwa putra sulungnya itu tak mungkin bisa meninggalkan Adiknya.




***



Naomi membuka kedua kelopak matanya ketika jam menunjukkan pukul sebelas malam. Perutnya terasa pedih dan terus berbunyi akibat tak diisi apapun sejak siang sepulang sekolah. Gadis itu turun dari ranjang dan melangkah menuju dapur.




Naomi tak memperdulikan ke mana Tamara dan Ricard pergi, ia hanya ingin ke dapur dan mengambil sesuatu yang bisa mengganjal perutnya.



Langkah kakinya berhenti saat melihat adegan di depannya. Darahnya mendidih hingga wajahnya terasa panas. Bagaimana tidak, Leon tengah mencumbu Vebra di ruang tengah dengan mesra.



Naomi merasa dunianya hancur seketika, rasanya ia ingin mencakar wanita itu dan mengambil kembali Kakaknya.



"Hiks ...," satu isakan lolos dari bibirnya. Segera Leon bangkit dari atas tubuh Vebra dan sangat kaget melihat Naomi yang sudah menangis terisak.



"Naomi," panggil Leon berusaha mendekati adiknya. Tetapi Naomi memilih berlari kembali ke kamar dan mengunci dirinya di dalam. Ia menyesal telah turun ke bawah dan melihat pemandangan vulgar yang menyakitkan itu.



"Sayang, mendingan kamu pulang ya. Besok kita ketemu di lokasi syuting." Leon membantu Vebra mengenakan jaketnya, kemudian ia mengecup kening wanita itu penuh sayang.



"Jelasin ke adik kamu ya. Dia pasti kaget banget tadi," ucap Vebra merasa bersalah.



"Iya."



***



Pagi harinya Naomi tidak masuk sekolah, sedangkan Leon tengah uring-uringan akibat tak menemukan kunci cadangan yang disimpan Mamanya. Lelaki itu rasanya ingin mendobrak pintu kamar Naomi, namun ia takut jika adiknya akan semakin membencinya yang terlihat barbar.



"Ya Tuhan, gini amat sih cobaan hidup gue," keluh Leon sambil duduk di tangga dan menjambak rambutnya frustasi.



"Leon? Kamu kenapa, Nak?" Tamara kaget melihat putra sulungnya yang duduk dan terlihat acak-acakan tak jelas. Kemudian ia dan Ricard menghampiri Leon.



"Untung Mama cepet pulang. Naomi belum mau turun, Ma, Leon khawatir terjadi sesuatu sama dia apalagi Leon gak nemuin kunci cadangan kamar Naomi."



"Adik kamu bener-bener keterlaluan! Apa sih yang ada di pikiranya? Apa dia gak mikirin kamu yang pasti stres akibat ulah dia?" amuk Ricard



"Leon ... maafin Naomi ya, nak. Karena dia kamu jadi kayak gini, nanti biar Mama yang urus adik kamu. Sekarang kamu cepet berangkat ke lokasi syuting." Tamara mengelus lembut punggung Leon.



"Iya, Ma. Nanti jangan lupa Naomi suruh makan ya, Ma. Cek juga kondisi dia demam apa enggak, dia juga punya maag jadi suruh Dokter buat periksa dia." Ricard memijit keninganya pusing melihat betapa perhatiannya Leon pada Naomi. Tapi anak gadisnya itu hanya bisa menyusahkan Leon seperti saat ini.



"Sudah, sudah. Nanti biar Mama dan Papa yang urus." Ricard merangkul anaknya dan membawa Leon ke kamar. Ia harus memastikan bahwa putra sulungnya itu juga mengurus dirinya sendiri.



Ricard ingat kejadian saat istrinya mengandung Naomi, Leon mengucapkan janji pada Tamara bahwa ia akan menjadi anak penurut dan akan selalu menjadi Kakak yang baik juga penyayang untuk adiknya.



Ia tak menyangka akan mendapatkan putra seperti Leon. Ricard dan Tamara pernah hampir kehilangan Leon akibat pendarahan yang di alami Tamara. Beruntung Dokter dapat menyelamatkan keduanya dengan Leon yang lahir prematur.





_____________Tbc.