
Selamat Membaca ~
Sudah hampir satu bulan sejak pertemuan Rendra dengan Tommy. Namun, belum ada tanda - tanda kemunculan Jason.
Bukan berarti lupa akan peringatan Tommy, Rendra masih tetap waspada. Begitu pula dengan Andreas. Hanya saja, Ia memilih untuk tidak memikirkannya terlalu dalam.
Rendra juga sengaja tidak memberi tahu Nia tentang pertemuan dan peringatan Tommy akan Jason. Ia tidak ingin Nia bertambah beban pikiran karena Nia baru saja sembuh dan mereka sedang dalam proses pencetakan Rendra junior. Jadi Ia ingin Nia tidak terlalu banyak pikiran, cukup sibuk saja dengan pekerjaannya saja.
" Selamat siang Tuan, rapat selanjutnya akan dimulai 15 menit lagi. " ucap Andreas seraya menunjukkan jadwal kegiatan Rendra melalui iPad yang Ia bawa.
" Oke, " sahut Rendra seraya tetap melanjutkan membaca berkas - berkas yang sudah Ia baca sejak pagi.
Rendra mengambil ponselnya dan mengetuk angka 1 pada layar.
" Halo, " ucap orang di seberang sana.
" Halo sayang, hari ini sepertinya aku akan telat. Ada rapat siang ini, dan sepertinya akan membahas hal yang sangat alot. " ucap Rendra.
" Baiklah, jangan lupa makan siang. " jawab Nia.
" Kau juga, makanlah makanan yang benar. " ucap Rendra.
" Ya ya ya... Sudah dulu ya, aku juga harus bertemu klien. " jawab Nia.
" I love you. " ucap Rendra.
" I love you more, " jawab Nia.
Setelah telepon terputus, Nia meletakkan ponselnya di atas meja. Ia memegang pelipisnya, memijitnya perlahan. Kepalanya terasa berdenyut, Ia merasa sangat pusing. Kali terakhir Ia sakit hingga pingsan tidak membuktikan bahwa itu adalah gejala hamil. Jadi rasa pusingnya kali ini pun Ia abaikan. Belum tentu itu gejala sakit atau hamil, mungkin Ia hanya kecapekan saja. Ia tidak mau membuat Rendra khawatir.
tok tok
Terdengar suara ketukan singkat dari pintu ruangan Nia yang terbuka. Sosok Raya berdiri di pintu dan tersenyum sangat ramah ke arah Nia.
" Nia, klien kita sudah datang. " ucap Raya di pintu ruangan Nia.
" Oke, temui mereka dulu ya. Sebentar lagi aku akan turun. " sahut Nia.
" Oke! " sahut Raya kemudian berbalik dan pergi menemui klien.
" Syukurlah, The Orchida makin hari makin banyak peminat. Tidak boleh mengeluh, banyak orang di sana yang ingin merasakan kesibukan seperti di sini. Semangat! " ucap Nia menyemangati diri sendiri.
Setelah minum segelas air, Nia pun menemui klien yang sudah menunggunya di ruang meeting.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Seperti yang sudah disampaikan Rendra tadi, Ia benar - benar datang terlambat. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.30, dan Rendra belum datang juga.
Nia sedang menikmati angin sepoi yang bertiup lembut mengusap kulit wajahnya yang mulus. Ia duduk santai di beanbag berukuran besar yang ada di balkon kamar. Menikmati langit berbintang ditemani segelas cokelat hangat untuk membuatnya merasa rileks setelah seharian ini bekerja.
Ia memutar memori yang terjadi dalam waktu dua tahun terakhir. Bagaimana semua terlihat sangat tidak mungkin dan sangat tidak masuk akal. Ia yang hanya gadis biasa dengan beban hutang yang harus dilunasi, diusir dari rumahnya, kehilangan ateez, mobil peninggalan ayahnya. Sekarang Ia bisa hidup dengan sangat nyaman seperti ini. Dan yang terpenting, Ia telah menikah dengan laki - laki yang sangat mencintainya.
Rumah peninggalan orang tua Nia menjadi salah satu hadiah pernikahan dari Rendra untuknya selain ateez yang muncul saat pesta resepsi mereka.
Rumah peninggalan itu dirawat oleh orang kepercayaan Rendra. Sesekali Nia datang untuk sekedar memeriksa keadaan rumah itu. Meresapi semua kenangan indah hidupnya bersama almarhum kedua orang tuanya. Ia selalu mengendarai ateez, Ia menolak diberi fasilitas mobil terbaru oleh Rendra. Ia ingin merasakan seolah - olah Ia masih bersama dengan kedua orang tuanya ketika sedang berkendara.
Angin semilir membuathya mengantuk, tanpa disadari Ia pun jatuh tertidur di atas beanbag.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Sesekali terdengar suara bercanda para pekerja. Begitulah kondisi di mansion Hartawan. Seluruh pekerja sudah dibuat merasa seperti berada di rumah sendiri. Tidak ada rasa canggung dan kaku di antara pekerja dan pemilik mansion.
Rendra dan Nia masih terlelap dengan posisi saling berpelukan di atas tempat tidur. Suara tawa kencang salah satu pekerja terdengar sampai ke dalam kamar Rendra. Sepertinya lagi - lagi Rendra lupa menutup rapat pintu balkob kamarnya
Nia terbangun dan mengerjapkan matanya berulang kali. Aroma favoritnya tercium, aroma tubuh Rendra yang sedang memeluknya.
Perlahan Ia melepaskan tubuhhya dari lilitan pelukan Rendra. Ia melihat tubuhnya di balik selimut. Aman, keduanya masih berpakaian lengkap.
Ia menatap lekat - lekat wajah tampan suaminya. Menggerakkan jari lentiknya pada alis Rendra yang nampak hitam tebal dan tegas. Tampan sekali, batinnya.
Tiba - tiba Ia merasa perutnya penuh dan seperti berontak. Terasa seperti dikocok - kocok, membuatnya ingin muntah.
Nia beranjak dan berlari ke dalam kamar mandi. Ia memuntahkan semua isi perutnya hingga lemas.
Rendra sendiri terbangun karena mendengar suara Nia berlari ke kamar mandi. Mengetahui istrinya muntah - muntah, Ia pun beranjak dan menunggu di depan pintu kamar mandi karena Nia menguncinya dari dalam.
Setelah dirasa selesai, Nia berkumur dan mencuci wajahnya. Wajahnya terlihat sedikit pucat. Ia menepuk pelan pipinya, berharap warna kulitnya akan sedikit kemerahan sehinggs tidak terlihat pucat.
Ia terkejut melihat Rendra sudah berdiri di deoan pintu kamar mandi dengan wajah cemas.
" Sayang, kau sakit? " tanya Rendra cemas, Ia berusaha meraih tubuh Nia dan membantunya berjalan ke arah tempat tidur.
Nia tersenyum, " Sepertinya masuk angin, "
" Aku panggil Silva ke sini ya? " tanya Rendra. Ia khawatir Nia sedang sakit.
" Tidak perlu, aku hanya masuk angin. " jawab Nia kemudian Ia duduk di tepi tempat tidur.
" Tolong ambilkan minyak kayu putih di laci situ. " ucap Nia seraya menunjuk ke arah lemari kecil di samping tempat tidur.
Rendra segera mengambilkan minyak kayu putih yang diminta. Nia membuka tutup botolnya dan menghirup aromanya dalam - dalam. Sedikit enakan, batinnya.
" Mumpung hari libur, kita istirahat saja ya. " ucap Rendra.
" Iya, tapi kalau aku merasa bosan, boleh kan aku minta kita keluar? " tanya Nia.
" Tentu saja, setelah kau rasa badanmu sudah enakan. " jawab Rendra yang dibalas anggukan oleh Nia.
" Aku akan ke bawah sebentar. Aku akan minta Bi Habsya menyiapkan sup hangat dan membawanya ke sini. Kita sarapan di kamar saja " ucap Rendra.
" Sayang, tapi aku ingin bubur kacang hijau. Bisakah Bi Habsya membuatnya untukku? " tanya Nia.
" Tentu saja. Kau tunggulah di sini, aku akan ke bawah sebentar. " ucap Rendra.
Rendra berjalan keluar dari kamar, Ia merasa ada yang aneh. Terasa aura Nia sediit berbeda daripada hari - hari biasanya. Dan kenapa tumben sekali dia request makanan seperti itu? Batinnya.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Halo readers, terima kasih untuk selalu maish setia membaca novel ini.
Mau spoiler dikit ah, bentar lagi akan ada bahian bahagia dan menegangkannya niih. Jadi, tetap tunggu up episode - episode selanjutnya yaaa 馃
eits, jangan lupa dukungannya untuk penulis 馃