
Selamat Membaca ~
Kevin merebut ponsel Sarah dan melemparnya sembarangan ke arah kursi penumpang belakang. Ia menarik rambut Sarah dan membenturkan kepala Sarah ke arah jendela dan Sarah pun pingsan seketika.
" Menyusahkan saja! " gerutu Kevin.
Kini Ia tersenyum menyeringai dan melanjutkan perjalanannya.
Sementara itu, di The Orchida ~
Nia kebingungan setelah mengangkat telepon dari Sarah. Kenapa Ia hanya mengatakan halo dan menutup teleponnya?
Nia mencoba menelepon kembali Sarah. Namun teleponnya tidak diangkat.
" Suka kebiasaan deh lupa ngeaktivinode aktif suara lagi. Pasti masih mode hening. " omel Nia.
Nia melihat ke arah jam tangannya. " Tumben Sarah agak telat ya? Atau jangan - jangan Dia tadi mau kasih tau kalau dia agak telat? " Nia bermonolog.
Nia melanjutkan membereskan meja kerjanya dan berniat menunggu Sarah sambil beristirahat sebentar di ruang kerjanya saja.
" Nia, tumben belum pulang? " tanya Raya dari pintu ruangan kerja Nia.
" Sarah belum datang? " tanya Raya lagi.
Raya berjalan memasuki ruangan kerja Nia.
Nia menggeleng.
" Sepertinya dia akan terlambat menjemput. Tadi dia menelponku, tapi langsung terputus. " ucap Nia.
" Sudah kau coba telepon ulang? " tanya Raya.
Nia mengangguk, " Sudah, tapi tidak diangkat. Sepertinya dia lupa mengaktifkan ulang mode bersuaranya. "
" Yah, itulah Sarah seperti biasa. " ucap Raya.
" Betul, dia sering lupa mengaktifkan lagi mode bersuara ponselnya. " ucap Nia.
" Ya sudah, aku pulang dulu ya. Aku ada janji dengan adikku. " pamit Raya.
Nia mengangguk sambil tersenyum.
" Hati - hati dan selamat bersenang - senang. " ucap Nia.
" Kau juga. " ucap Raya sebelum meninggalkan ruangan kerja Nia.
Sudah 30 menit Nia menunggu, waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Sarah belum juga datang. Tumben sekali, batin Nia.
Nia mencoba menghubungi Sarah, tapi hanya ada nada dering. Panggilannya tidak diangkat.
Aku coba tunggu 30 menit lagi saja, siapa tahu dia memang masih sibuk. Batin Nia.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
" Nyonya, Nyonya.. " seorang staff membangunkan Nia yang tertidur di atas meja.
Nampaknya Nia tidak sengaja tertidur saat menunggu Sarah. Ia mengerjapkan matanya dan melihat ke arah jam dinding.
" Jam berapa ini? " gumamnya seraya meregangkan tubuh bagian atasnya.
" Sudah lewat jam 6 sore Nyonya, apakah tidak sebaiknya Nyonya pulang? " tanya staff itu.
" Ah, iya. Aku akan pulang. Kau pulanglah dulu. " ucap Nia.
" Baik, saya pamit. Tapi, apakah benar Nyonya tidak apa - apa saya tinggal pulang? " tanya staff itu.
Nia membalas dengan anggukan kepala.
" Baik, saya pulang Nyonya. Hati - hati dalam perjalanan pulangnya ya, Nyonya. " ucap staff itu.
Nia membalas dengan anggukan lagi.
" Ke mana sebenarnya gadis satu ini. Tidak ada kabar sama sekali padaku. " gerutu Nia.
Ia meraih ponselnya dab mencoba menghubungi Sarah lagi. Masih terhubung, namun tetap tidak diangkat.
Nia kemudian mengirimkan pesan singkat kepada Sarah.
Nia \= apa kau sibuk? aku pulang dengan taksi saja ya? kau cepatlah pulang dan istirahat. jangan lembur terlalu lama. kabari aku.
Setelah memastikan pesannya terkirim, Nia kemudian keluar dari kantornya.
" Nyonya, apakah teman Anda tidak datang menjemput? " tanya seorang security saat melihat Nia keluar sendiri dari ruangannya.
" Iya, sepertinya dia sedang sibuk. " jawab Nia.
" Kalau begitu, biar saya saja yang mengantar Nyonya. " ucap security bernama Evan itu.
" Lalu, siapa yang berjaga di sini? " tanya Nia.
" Masih ada 2 orang security lainnya. Lagipula, keselamatan anda jauh lebih penting. " jawab Evan.
" Baiklah, " sahut Nia.
Tak lama, Evan muncul dengan sebuah mobil sedan berwarna hitam. Evan pun kemudian turun dan membuka pintu mobil untuk Nia.
" Silakan masuk, Nyonya. " ucao Evan.
Nia mengangguk kemudian masuk ke dalam mobil. Sedan berwarna hitam itu pun melaju menuju mansion Hartawan.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Setelah sampai dan membersihkan diri, Nia menyempatkan untuk makan malam. Ia harus memperhatikan nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya, mengingay saat ini Ia sedang mengandung.
Setelah selesai dengan makan malamnya, Nia pun masuk kembali ke kamarnya.
Tak lama, ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan video dari Rendra.
" Hai sayang, " sapa Rendra dari seberang.
" Halo sayang. " jawab Nia.
" Bagaimana kabar istrikh hari ini? " tanya Rendra.
" Baik - baik saja. Apakah kau sudah selesai bekerja? " tanya Nia.
" Hm, seharusnya sudah. " jawab Rendra.
" Hm? Seharusnya? " tanya Nia.
" Ya, seharusnya. Tapi kolegaku meminta untuk makan malam bersama. Dan, aku sedang bersiap - siap untuk bertemu dengan mereka di restoran sebentar lagi. " jawab Rendra.
" Apakah akan ada pelayan wanita berpakaian seksi atau semacamnya? " tanya Nia penuh selidik.
Rendra terbahak.
" Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu? " tanya Nia.
" Sayang, apa kau cemburu? " tanya Rendra balik.
" Itu tidak menjawab pertanyaanku. " jawab Nia dengan wajah kesal.
Lagi - lagi Rendra tertawa.
" Sayang, aku akan *req*uest hanya boleh ada pelayan laki - laki yang melayani kami. Bagaimana? " tanya Rendra.
" Lagipula, secantik atau seseksi apapun pelayan dan wanita lain di sini. Tidak akan bisa mengalihkanku darimu. " ucap Rendra.
" Gombal. " sahut Nia malu - malu.
" Aku serius. Kenapa aku harus bergombal? " tanya Rendra.
" Bagiku, kau adalah duniaku. My own universe. The central of my universe." ucap Rendra.
" Duh duh duh, gombal sekali. " sahut Nia.
" Gombal, tapi kau suka kan? " goda Rendra.
" Ya begitulah, sepertinya kau sudah memberiku semacam guna - guna. " elak Nia.
" Guna - guna? Ya, sebut saja ketampanan dan kharismaku adalah guna - guna terkuat yang ada pada diriku. " ucap Rendra.
Nia menggelengkan kepalanya.
" Ck ck ck. Selain gombal, ternyata kau juga adalah orang yang narsis. Sangat percaya diri. " ucap Nia.
" Yang jelas aku sangat mencintaimu, Karuniaku. " ucap Rendra.
" Aku juga sangat mencintaimu. " jawab Nia tersipu.
Entah sudah keberapa kalinya Ia mendengar Rendra mengucapkan, bahwa Ia sangat mencintai Nia. Tapi tetap saja Nia selalu merasa tersipu setiap mendengar Rendra mengucapkannya.
" Kau sudah lelah? Istirahatlah. Nanti aku akan mengabari jika aku sudah selesai. " ucap Rendra.
Nia mengangguk. " Baiklah semoga urusanmu cepat selesai sayang. aku sangat rindu padamu. " ucap Nia.
" Aku juga sangat rindu padamu. Selamat istirahat Nyonya Narendra Hartawan. " ucap Rendra.
Nia membalas dengan anggukan. Kemudian panggilan video itu pun berakhir.
Nia tersenyum sendiri ke arah ponselnya. Ia kemudian membuka galeri pada ponselnya. Satu persatu fotonya bersama Rendea Ia buka. Ia benar - benar sangst merindukan suaminya itu.
Saat sedang asik melihat foto, tiba - tiba sebuah pesan masuk dari nomor asing. Awalnya Ia enggan membuka pesan itu. Tapi ada hal yang menarik perhatiannya, nomor asing itu mengirimkan sebuah pesan singkat dan sebuah foto.
Ia kemudian membuka aplikasi pesan singkat miliknya.
Ia sangat terkejut saat membuka pesan singkat dari nomor asing itu. Sebuah pesan singkat berbunyi \= Mencari ini?
Pesan singkat itu dikirim bersamaan dengan sebuah foto yang menunjukkan Sarah sedang terikat di kursi. Mulutnya ditutup dengan kain tebal berwarna putih, Ia sedang menangis. Sebuah buku komik yang tadi pagi dikirimkan oleh Sarah juga difoto di dekat wajah Sarah.
Apa yang sedang terjadi?
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍