
Selamat Membaca ~
Di sebuah gedung kumuh yang sudah lama tidak terpakai ~
" Jangan sampai salah. Awasi gadis ini, pastikan kalian mengikuti gadis yang tepat. " perintah Jason pada preman suruhannya.
" Saat situasi dan kondisi tepat, tangkap gadis ini. Dan laporkan padaku! " imbuhnya.
" Baik, Tuan! " sahut sekelompok preman yanh terdiri dari 10 orang berbadan kekar dengan tatto yang memenuhi tubuh mereka.
" Bagus, ini adalah bayaran awal kalian. Semua akan aku bayarkan sisanya ketika kalian sudah menyelesaikan tugas kalian! " ucap zjason seraya menyodorkan sebuah amplop panjang berwarna coklat yang berisi uang.
" Baik, terima kasih Tuan. " sahut pimpinan sekelompok itu kemudian menerima amplop yang disodorkan oleh Jason.
" Kalau begini kan enak, kerja jadi lebih bersemangat. " imbuh si pimpinan preman.
" Maka dari itu, kerja yang benar. Jangan sampai ada kesalahan! " ucap Jason dengan penuh penekanan.
" Siaaap. Perintah dilaksanakan. " sahut preman itu bersamaan.
" Bagus, kabari aku jika ada perkembangan. " ucap Jason.
" Baik, Tuan! " sahut preman itu bersamaan.
Jason kemudian meninggalkan gedeng tidak terpakai itu. Gedung itu dulunya adalah salah satu aset milik keluarga Alexander, keluarga Jason. Namun karena kebangkrutan yang dialami orang tuanya, gedung itu terpaksa disita dan dilelang oleh pengadilan.
Image gedung itu sebagai gedung milik seorang yang telah gagal, membuat gedung itu tidak ada yang mau melelang dan sampai saat ini terbengkalai.
Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Jason menyempatkan untuk melihat gedung itu sekali lagi. Gedung yang dulu telah disiapkan oleh Ayah Jason untuk Jason ketika Jason sudah cukup umur untuk memulai bisnis. Tapi sekarang, gedung itu telah tertutup oleh ilalang - ilalang yang sangat rimbun.
Jason mengepalkan tangannya, berjanji pada dirinya sendiri bahwa Ia hsrus berhasil membuat perhitungan dengan Rendra.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Di Mansion Hartawan ~
Pagi ini, seperti biasa Sarah sudah sampai di mansion untuk menjemput Nia.
" Wow Sarah, tumben kau berpakaian seperti itu. " goda Nia.
Hari ini Sarah mengenakan setelan jas dan celana kain berwarna abu tua. Ia juga menggulung rambutnya agak tinggi, sebuah kejadian langka. Biasanya, Sarah hanya mengenakan medium dress atau celana dan kemeja saja.
" Iya nih, mau ada meeting dengan klien dari Jerman. Penampilan harus meyakinkan dong. " jawab Sarah.
Nia berjalan memutari Sarah, memperhatikan Sarah dari atas ke bawah.
" Hem, pantas saja Andreas sampai tergila - gila padamu. " goda Nia lagi.
" Sstt! Diam kau! " sahut Sarah gemas.
" Apa dia sudah berangkat? " tanya Sarah.
Mengerti siapa yang dimaksud, Nia pun mengangguk.
" Andreas dan Rendra sudah berangkat 2 jam yang lalu. Mereka kan harus ke Kota D. Perjalanannya sekitar 3 jam, jadi mereka berangkat pagi - pagi sekali. " jawab Nia.
Sarah mengangukkan kepalanya.
" Semoga saja urusan di Kota D segera selesai. " ucap Sarah.
" Kenapa? Kau tidak bisa menahan kerinduanmu pada Andreas yaa? " goda Nia lagi.
" Sst! Jangan usil! " sahut Sarah seraya menutup mulut Nia dengan telapak tangannya.
" Sudah, ayo kita berangkat. Cepat masuk ke dalam mobil. " ajak Sarah tidak sabar.
" Iya iya, sabar. " ucap Nia kemudian masuk ke dalam mobil Sarah.
" Kehamilanmu sudah berusia berapa bulan? " tanya Sarah.
" Hmm, sekitar 15 minggu. Kenapa? " tanya Nia.
" Tapi kau masih terlihat sangat langsing. Seperti sedang tidak hamil. Aku iri padamu. " ucap Sarah sambil sibuk menyetir dan mengawasi jalanan.
" Aku harus berolahraga keras untuk menjaga bentuk tubuhku. " lanjutnya.
Nia terdiam, Ia tidak tahu harus merespon apa.
" Ya, mungkin sesuai dengan namaku. Karunia. " sahut Nia.
" Karena itulah aku selalu iri padamu. " sahut Sarah.
" Tapi menurutku, badanmu bagus juga kok. " ucap Nia.
Sarah tersenyum mendengar ucapan Nia. Ia merasa terhibur. Jujur saja, selama ini Ia bahkan ikut kelas khusus untuk menjaga berat badannya. Bahkan Ia mengatur kalori masukan tubuhnya.
" Kau, tetap cantik sebagai seorang Sarah. Tetap percaya diri ya, " ucap Nia kemudian menggenggam tangan kiri Sarah.
" Terima kasih adikku, " sahut Sarah.
" Kau tau, aku terlahir sebagai anak tunggal. Aku ingin sekali memiliki adik, dan kemudian Tuhan mengirimkanku seorang adik yang manis dan kuat sepertimu. " ucap Sarah.
" Terima kasih sudah menjadi adikku, " ucap Sarah lagi.
Nia merasa terharu mendengar ucapan Sarah. Ingin rasanya Ia memeluk Sarah, namun Sarah sedang menyetir.
" Aku juga, aku sangat bersyukur memilikimu. Kau adalah kakak terbaik yang Tuhan kirim untukku. " ucap Nia.
" Aaaawww..... " ucap mereka berdua.
" Kenapa pagi - pagi begini kita jadi mellow sih? " ucap Sarah seraya menyeka ujung matanya.
" Haha, iya. Kenapa ya? " balas Nia.
" Kalau aku, kan wajar aku sedang hamil. Sedang mengalami pergolakan hormon. Kau? Apa jangan - jangan kau sedang hamil juga? " goda Nia.
" Ternyata kau ya, diam - diam sudah melakikannya dengan Andreas. " goda Nia lagi.
" Hei! Jangan gila kau! Mana mungkin aku melakukannya sebelum ada ikatan jelas. " bantah Sarah.
" Begini begini, aku adalah wanita yang memegang prinsip. " ucapnya lagi.
" Tapi, berpelukan, berciuman. Pasti sudah dong? " goda Nia.
Sarah tidak menjawab, wajahnya bersemu merah.
" Ih, kenapa wajahmu memerah? Tebakanku tadi benar ya? " goda Nia lagi.
" Ih, apa sih Nia! " omel Sarah. Wajahnya semakin memerah.
" Itu! Itu! Wajahmu menjadi semakin bersemu! " goda Nia lagi.
" Nia! Sudah! " seru Sarah.
Nia terkekeh melihat Sarah salah tingkah.
" Kau kan sudah dewasa, tidak perlu malu. Apalagi ke aku, aku kan sudah selangkah lebih maju. Sudah melakukan sesuatu yang kau belum bisa lakukan. " ucap Nia sambil terkekeh.
" Ish! Lihatlah wanita super dewasa satu ini! " omel Sarah.
Nia terbahak mendengar omelan Sarah.
Mobil pun kemudian lanjut melaju ke arah The Orchida.