
Setelah kepergian Rendra dan Andreas, Nia termenung. Apa yang baru saja terjadi? Kenapa mendadak? Cepat sekali? Aku ingin mengatakan tidak tapi tubuhku berkata lain.
Ardian. Dia orang yang baik. Selama ini sangat perhatian padaku. Merawatku saat aku cidera. Batin Nia.
Sebetulnya selama ini Ardian selalu berusaha mendekati Nia. Ia kerap menawarkan untuk mengantar jemput Nia, tapi Nia selalu menolaknya. Bukannya sok jual mahal, Ia memang tidak suka tempat tinggalnya diketahui sembarang orang. Ia hanya menginginkan ketenangan. Ardian juga sering menawarkan untuk mengirimkan makanan, Nia pun menolaknya. Ia benar - benar tidak ingin merasa berhutang budi.
Awalnya, Nia ingin mencoba memberi kesempatan kepada Ardian. Mungkin hubunhan mereka akan berhasil. Tapi setelah mengetahui tentang Rendra, ternyata selama ini Rendra memperhatikan Nia dengan detail. Dan rasa nyaman dan hangat itu. Ah, tubuh Nia tiba - tiba merasa seperti tersetrum. Tapi aneh, Ia merasa menikmatinya.
ting, notifikasi pesan masuk di ponsel Nia.
Ini nomorku. Simpanlah, hubungi aku jika kau butuh bantuan. Apapun itu.
- Rendra
Wajah Nia terasa panas. Sudah bisa dipastikan wajahnya memerah. Baru juga dapet pesan gini, udah seneng banget. Apalagi kalo dapet lebih, batin Nia.
Baik Tuan,
Nia membalas pesan Rendra. Tidak lama, notifikasi pesan masuk lainnya muncul.
Apa kataku tadi tentang sebutan Tuan?
Nia membalas :
Aku lupa, maaf Rendra.
Nia tersenyum ketika mengirimkan pesan itu. Tidak berbeda jauh dengan yang dialami Rendra. Ia pun tersenyum sendiri ketika melihat balasan Nia. Ia memanggil namaku, gumamnya.
Aku benar - benar sudah bertekad akan mendapatkanmu seutuhnya Nia. Batin Rendra.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Hari ini adalah jadwal Nia melaporkan perkembangan perkembangan inovasi seperti biasanya. Namun ada yang berbeda dengannya, Ia terlihat lebih merapikan penampilannya. Ia pun menggunakan riasan tipis pada wajahnya, dan merapikan rambutnya.
" Nia, sudah waktunya ya? " tanya Sarah.
Nia tersenyum, " Iya. "
Kemudian Nia mengambil berkas- berkasnya di atas meja dan bersiap untuk perginke ruangan Rendra.
" Aku bisa menggantikanmu jika kau merasa jenuh dan lelah dengan tugas laporan - laporan itu. " Sarah menawarkan bantuan. Jujur Ia merasa kasihan pada Nia.
Dengan cepat Nia menjawab, " Tidak perlu! "
Sarah dan seisi ruangan terkejut dengan jawaban Nia. Terdengar Nia sedikit berteriak saat menjawab tadi.
Menyadari seisi ruangan sedang menatapnya, Nia jadi salah tingkah. " Eh, maksudku tidak perlu Sarah. Kau tau kan aku suka dengan tantangan, jadi aku akan menyelesaikan semuanya dengan baik. Aku pergi dulu! " ucap Nia kemudian meninggalkan ruangannya setengah berlari ke arah lift.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
- Di Ruangan CEO Narendra -
Setelah dipersilakan masuk oleh Anna, Nia pun masuk ke dalam ruangan Rendra. Rendra terlihat sibuk menelepon orang melalui telepon perusahaan. Sepertinya memang urusan pekerjaan.
Menyadari kedatangan Nia, Rendra memberi kode agar Nia duduk menunggunya di sofa ruangannya. Andreas tidak terlihat di dalam ruangan, sepertinya Ia ditugaskan lagi oleh Rendra ke luar kota, batin Nia.
Setelah menyelesaikan urusannya, Rendra beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri Nia. Dengan tetap menjaga profeionalitas, Rendra dan Nia pun memulai kegiatan pelaporan itu.
Di tengah - tengah kegiatan pelaporannya, tiba - tiba pintu ruangan Rendra terbuka dengan kasar. Seorang wanita masuk dengan wajah penuh amarah. Terlihat Anna berusaha menahan wanita itu namun tubuhnya didorong hingga menabrak dinding.
Wanita itu menghampiri Nia dan menjambaknya membabi buta. Rendra terkejut berusaha melerai. Bisa saja Rendra menarik wanita itu dan memukulnya. Tapi Ia adalah laki - laki terhormat sejahat apapun seorang wanita Ia tidak akan pernah main tangan pada wanita.
Nia yang terkejut karena rambutnya dijambak berusaha bertahan. Ketika jambakan terlepas wanita itu menampar Nia hingga terlihat bekas tangan di pipi Nia. Rendra sudah berusaha melerai, tapi nampaknya Nia juga sudah ikut tersulut emosinya.
" Anna, panggil security! Cepat! " perintah Rendra.
Anna yang mematung melihat pertengkaran itu tersadar, Ia berlari ke mejanya dan memanggil security melalui telepon.
" LUCY!! " teriak Rendra sambil berusaha melerai.
Lucy tidak menghiraukan teriakan Rendra. Ia terus menarik rambut Nia dan akhirnya mendorong Nia. Tubuh ramping Nia yang terlihat sedikit lebih pendek dari Lucy terdorong hingga menabrak lampu hias di ujung ruangan Rendra. Nia jatuh tersungkur. Lampu itu terjatuh dan menimpa tubuh Nia.
Melihat kesempatan Lucy terpisah dari Nia, Rendra menarik Lucy dan menahan kedua tangan Lucy. Ketika security datang, Rendra memberi kode agar security - security berbadan tegap itu menahan Lucy.
Setelah Lucy ditahan oleh security, Rendra berlari menghampiri Nia yang masih tak bangkit setelah menabrak lampu hias. Rendra mennyingkirkan lampu hias dari atas tubuh Nia yang masih tidak bergerak. Nia pingsan.
Melihat Nia tak sadarkan diri, amarah Rendra memuncak. " Bawa wanita itu ke kantor polisi! " perintah Rendra penuh amarah.
" Nia... Nia.... " Rendra berusaha menyadarkan Nia. Ia menepuk - nepuk pelan pipi Nia. Namun tidak ada respon dari Nia.
Ada darah mengalir di pelipis Nia. Sepertinya karena terkena lampu hias itu. Ada beberapa bekas cakaran di wajahnya yang juga mengeluarkan darah.
Melihat kondisi Nia, darah Rendra terasa mendidih. Dadanya bergemuruh. Ia segera membopong Nia dan membawanya ke ruangan pribadinya melalui pintu connecting room yang ada di dalam ruangannya.
" Anna! Panggil Dokter Silva! " perintah Rendra.
Anna mengangguk dan segera melakukan panggilan telepon.
Rendra membaringkan Nia di kasur. Rendra panik. Nia tidak segera sadar walau Ia sudah berusaha memanggil dan menepuk pipinya.
" Anna! Tolong kau buatkan teh hangat atau apapun itu! Bawakan juga seperti kain atau apa untuk membersihkan darah ini! " perintah Rendra.
Anna mengangguk dan segera berbalik menyiapkan apa yang diperintahkan Rendra.
" Nia.... Nia... " Rendra terus memanggil nama Nia dan menepuk pipi Nia pelan.
Mata Rendra nampak berkaca - kaca. Ia merasa bersalah. Hal sederhana seperti ini saja Ia tidak bisa melindungi Nia. Ia merasa kecewa pada dirinya sendiri.
10 menit kemudian dokter Silva datang bersama seorang perawat. Bahkan dokter Silva pun masih sempat tercengang melihat kondisi ruangan kerja Rendra. Terlihat berantakan.
" Silva!" panggil Rendra menyadarkan dokter Silva yang masih tercengang.
Dokter Silva dan perawat itu segera menghampiri Nia yang terbaring di kasur. Mereka segera melakukan tindakan di ruangan itu.
Rendra mundur dan memberi jarak agar dokter Silva dan perawat itu bisa melakukan tindakan dengan leluasa. Ia berjalan keluar dan menatap isi ruangannya. Bayangan sosok Nia yang tidak bergerak di ujung ruangan membuatnya merasa marah lagi.
" Anna! " panggilnya.
" Iya maaf Tuan, saya baru membuatkan teh hangat. " Anna sedikit berlari membawa secangkir teh hangat dan meletakkan di meja.
" Kau hubungi pengacara perusahaan kita. Masalah ini tidak bisa aku biarkan. " Perintah Rendra.
" Baik Tuan. " Anna berbalik ke mejanya dan segera membuat panggilan lagi.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Bagaimana keadaan Nia? Apakah Nia akan baik - baik saja?
.
.
Teman - teman readers, mohon bantuan dukungan untuk penulis yaa...
Like dan dukung terus karya penulis, terima kasih 馃