
Rendra dengan sabar menunggu Nia di dalam mobil. Ia mengamati wajah Nia dari galeri ponselnya. Ia tersenyum sendiri ketika melihat foto - foto Nia yang Ia ambil diam - diak dengan ponselnya.
Tak lama, terlihat dari jauh Nia berjalan cepat ke arah mobil Rendra.
Andreas bersiap turun dari mobil hendak membuka pintu mobil untuk Nia namun dicegah oleh Rendra.
" Aku saja. " ucap Rendra kemudian turun dari mobil.
Cih, bucin! gerutu Andreas dalam hati.
Rendra membuka pintu mobil dan menyambut Nia dengan sumringah. Nia pun membalas senyuman itu walau lelah terlihat jelas di wajahnya.
" Ayo masuk, " ucap Rendra.
" Terima kasih, " kemudian Nia masuk ke dalam mobil.
Kemudian Bentley Continental berwarna hitam itu pun melaju dengan kecepatan sedang. Ya, jangan heran. Rendra juga termasuk kolektor mobil - mobil mahal. Wajar jika Ia sering berganti - ganti mobil.
Terlihat mobil itu kemudian diikuti oleh New Honda Accord yang juga berwarna hitam. Mobil itu berisi bodyguard yang sengaja dipasang oleh Andreas untuk melindungi Rendra.
Sejak kejadian aneh - aneh kemarin, Rendra benar - benar meminta bodyguard untuk selalu mengawal mereka. Ia sadar, bukan hanya dirinya yang sedang diincar. Tapi juga kekasihnya.
" Nia, kau lupa sesuatu? " tanya Rendra.
Nia segera memeriksa isi tasnya. Setelah mendapati tidak ada yang tertinggal Ia menjawab, " Tidak ada. "
" Iya kau lupa. " ucap Rendra lagi, kekeuh.
" Tidak ada yang terlupa. " jawab Nia, tak kalah kekeuh.
" Kau lupa. Kalau kau adalah milikku. " ucap Rendra kemudian meraih tangan Nia dan menggenggamnya.
Wajah Nia seketika merona merah. Kulitnya yang putih nampak jelas berubah bersemu merah pada bagian pipinya.
Cih, ABG telat. Bucin. Batin Andreas.
Rendra menatap ke arah Andreas dari arah spion dalam. Tatapan Rendra dan Andreas bertemu, Andreas jadi salah tingkah. Rendra tahu betul apa yang sedang dipikirkan oleh Andreas.
" Kau segera cari pasangan makanya, supaya tidak iri. " ucap Rendra.
" Ya, baik Tuan. " malas berdebat, Andreas hanya mengiyakan perkataan sepupunya itu.
" Nia, mau makan apa malam ini? " tanya Rendra.
" Hmm, apa ya? Nasi goreng? " Nia menawarkan pada Rendra.
" Oke, " sahut Rendra.
" Andreas, kita Honalulu sekarang. " ucap Rendra.
" Eh jangan, enak nasi goreng mamang - mamang pinggir jalan. " cegah Nia.
" Siapa itu mamang - mamang? Kenalanmu? " Rendra bertanya dengan nada yang aneh. Wajahnya terlihat kesal.
Nia menggenggam tangan Rendra, " Bukan, mamang - mamang loh. Mamang pedagang nasi goreng. " jawab Nia.
" Iya, siapa dia? Kenalanmu? " tanya Rendra lagi. Terlihat wajahnya seperti benar - benar sedang memendam rasa kesal.
Lihat. Bucin membuat dia bodoh. Gerutu Andreas dalam hati.
" Mamang itu, sebutan. Semacam Paman gitu loh. " jawab Nia. " Mamang itu, ya... Artinya pokoknya ya Paman. " imbuhnya.
" Ooh, " Rendra manganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Benar - benar. Bucin membuat sepupuku jadi bodoh. Batin Andreas lagi.
" Andreas ikuti saja arahan Nia. " ucap Rendra.
" Pak Andreas, dari sini lurus aja. Nanti ada kayak pertigaan depan, belok kiri. Si mamangnya jual depan toko bangunan, seberang jalan. " Nia mengarahkan.
" Baik. " ucap Andreas.
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Ketika akan belok kiri di pertigaan yang dimaksud oleh Nia, tiba - tiba ada Jeep berwarna hitam berusaha mendahului mereka. Jeep itu menyeruduk bagian belakang mobil yang ditumpangi mereka bertiga.
Nia spontan berteriak sambil menutup wajahnya. Rendra segera memeluk Nia.
" Andreas! " Rendra masih memeluk Nia.
Jeep berwarna hitam itu kemudian menyeruduk lagi bentley hitam itu hingga mobil itu berhenti di tepi jalan.
Andreas meraih ponsel dan melakukan panggilan.
" Cepat hadang! " perintah Andreas.
Bodyguard yang sedari tadi mengikuti mereka pun segera menyusul mobil yang sedang ditumpangi mereka bertiga. Mobil itu tepat berada di sisi bentley hitam itu.
Ketika empat orang bodyguard keluar dari mobil, Jeep berwarna hitam itu mundur. Setelah berhasil menyeruduk mobil yang mereka tumpangi, jeep itu kemudian melaju sangat kencang dan menghilang di jalanan kota A.
" Cepat masuk! Masuk! " teriak bodyguard lain yang berada di kursi kemudi.
" Kalian tetap di sini. Jaga Tuan Narendra! " perintah Anton kepada bodyguard yang lain. Kepala bodyguard yang menjaga Rendra.
Dua orang bodyguard akhirnya masuk lagi ke dalam mobil dan segera menyusul jeep berwarna hitam itu.
Mobil yang ditumpang Andreas, Rendra, dan Nia saat ini sedang berada dalam posisi menepi. Ada kerusakan pada bagian belakang mobil Rendra. Dan Nia pun masih menutup wajahnya dan masih berada dalam pelukan Rendra.
Dua orang bodyguard yang diperintahkan oleh Anton untuk menjaga Rendra bersiaga di sekitar mobil Rendra. Salah seorang di antaranya mengetuk kaca jendela mobil. Andreas kemudian menurunkan kaca mobilnya.
" Apakah Tuan dan Nona baik - baik saja? " tanya bodyguard itu.
" Tuan Rendra, Nona Nia. Apakah anda baik - baik saja? " tanya Andreas panik.
" Aku tidak apa - apa. " jawab Rendra.
" Nia... Nia... " Rendra menopang wajah Nia. Ia ingin melihat, apakah Nia baik - baik saja.
Nia mengangkat wajahnya, nampak ketakutan dan terkejut. Wajahnya memucat. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh Nia.
" Tidak, Andreas kita ke rumah sakit sekarang. " ucap Rendra. Ia sangat khawatir dengan kondisi Nia.
" Jangan, pulaang saja. Aku mau pulang. " Nia merengek. Bulir bening menetes dari ujung matanya.
" Tapi kita harus memeriksakan keadaanmu. " ucap Rendra sambil masih menatap Nia lekat - lekat. Memperhatikan jangan sampai ada luka di wajah ataupun tubuh Nia.
Nia menggeleng lagi, air matanya mengalir dengan deras. " Pulaaang, " ucapnya lagi.
" Tapi apa kau baik - baik saja? " tanya Rendra memastikan lagi. Ia mengusap air mati Nia.
Nia menganggukkan kepalanya. Rendra kemudian memeluk Nia erat.
" Aku mengerti. " ucap Rendra, "Andreas, kita pulang sekarang. "
Andreas mengangguk, kemudian Ia memberi intruksi pada bodyguard yang sedang siaga di sekitar mobil yang Ia kendarai untuk kembali ke mansion Hartawan.
Andreas melajukan bentley hitam itu ke arah mansion Hartawan dengan kecepatan cukup tinggi. Satu mobil lain berwarna hitam pun mengikuti mereka dari belakang. Mobil itu berisi bodyguard mereka yang lain.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Setelah sampai di mansion, Rendra membantu Nia keluar dari mobil. Wajahnya masih pucat. Keringat dingin masih membasahi wajah Nia.
Bi Habsya dan beberapa ART lain terlihat berlari ke arah mereka setelah mendapat kabar dari Andreas bahwa mereka baru saja mendapat serangan. Bi Habsya meminta salah satu ART untuk membantu membawakan tas Nia.
Rendra membantu Nia berjalan menaiki tangga. Nia yang memang belum sempat makan dari pagi ditambah dengan kejadian penyerangan tadi menjadi semakin lemas.
Baru tiga anak tangga Ia naiki kemudian Ia kehilangan kesadaran. Tubuhnya roboh dan dengan sigap Rendra menopang tubuh Nia. Rendra sangat panik melihat Nia pingsan. Wajah Nia benar - benar pucat.
" Bi Habsya, siapkan kamar Nia. Aku akan mengangkatnya ke atas. " ucap Rendra kemudian membopong tubuh Nia.
" Bb.. Baik Tuan. " Bi Habsya yang panik segera berlari ke atas menuju kamar yang ditempati Nia.
" Andreas! " panggil Rendra.
" Aku mengerti. " sahut Andreas. Kemudian Ia memanggil dokter Silva dari ponselnya.
Rendra dengan cepat menaiki tangga sambil membopong tubuh Nia. Setelah masuk ke kamar yang ditempati Nia, Rendea meletakkan tubuh Nia dengan lembut di atas kasur.
Ia mengusap kening Nia. Wajah Nia yang terlihat sangat pucat membuat Rendra semakin dan semakin khawatir. Ia tak sengaja melihat bulir bening yang berada di ujung mata Nia. Hati Rendra terasa sangat sakit.
Bi Habsya segera menyalakan diffuser aroma terapi dengan tujuan Nia dan Rendra lebih tenang.
" Nia, maafkan aku. Aku tidak akan tinggal diam kali ini. Maafkan aku.. " ucap Rendra sambil menggenggam tangan Nia. Ia kemudian mengecup tangan Nia dan menggenggamnya lebih erat lagi.