Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 21. Kejutan Tidak Menyenangkan (2)



Mobil itu melaju ke sebuah kompleks elite tempat di mana mansion Rendra berada. Setelah tiba, Rendra membantu Nia keluar dari mobil dan masuk ke dalam ke mansionnya. Rendra mengantarkan ke salah satu kamar tamu di mansion mewahnya itu.


Setelah menemani dan memastikan Nia sudah terlelap, Rendra berjalan menuju ruang kerjanya. Andreas sudah bersiap menunggu Rendra di dalam ruang kerjanya.


Rendra duduk di kursi kerjanya dan memijit keningnya yang terasa berdenyut. " Sudah kau kirim orang ke sana? " tanya Rendra.


" Sudah. Tapi, sepertinya orang itu tidak berhenti di situ saja. " jawab Andreas.


" Apa maksudmu? " Rendra menoleh ke arah Andreas. Apa lagi kali ini!


" Dua orang yang telah saya kirim ke kontrakan Nona Nia melaporkan bahwa kontrakan Nona Nia sudah dirusak. Jendela dan pintunya dirusak. Isi kamar berantakan. Tidak ada tetangga yang tahu siapa pelakunya. " ucap Andreas.


Rendra menggebrak mejanya dengan kasar. " Kau masih belum bisa menemukan siapa pelakunya?! "


" Maaf Rendra, sangat sulit karena pihak kepolisian benar - benar menutupi semuanya. Pemerintah juga melindunginya sehingga kami selalu menemui jalan buntu. " jawab Andreas.


" Sepertinya bahkan aparat korup juga semakin meluas, karena pusatnya juga selalu menghambat pemeriksaan kita. " Andreas melanjutkan.


" Saya akan berusaha meminta pertolongan Tuan Alexander, kita terpaksa menggunakan cara kotor juga kali ini. " ucap Andreas lagi.


Rendra terdiam. Betapa busuknya sistem yang ada di kota ini. Pemerintah dan aparat korup semua! Bertekuk lutut hanya karena sogokan uang dari pengusaha! Kali ini orang yang Ia cintai pun ikut menjadi korban.


" Saya sudah memerintahkan dua orang itu untuk membereskan barang - barang Nona Nia dan membawanya kemari. Saya rasa, keselamatan Nona Nia juga terancam. Bisa jadi lain waktu nyawa Nona Nia yang mereka ancam. " ucap Andreas.


" Aku juga berpikiran yang sama denganmu. Nia akan lebih aman berada di sini. " ucap Rendra.


" Apa kerusakan kontrakan Nia parah? " tanya Rendra.


" Hanya jendela dan pintunya saja yang dirusak. Selebihnya aman. " jawab Andreas.


" Berikan ganti rugi yang pantas kepada pemilik kontrakan itu. Bawa barang - barang penting milik Nia. Yang penting saja. " perintah Rendra.


" Baik. " jawab Andreas patuh.


" Rapat hari ini, apakah Anda akan menghadirinya? " tanya Andreas.


" Tolong kau wakilkan saja. Urusan dengan Rajawali Grup juga tolong kau urus. " ucap Rendra.


" Andreas. Kau urus juga perijinan kerja Nia. " perintah Rendra.


" Baiklah, saya undur diri. " pamit Andreas kemudian berjalan mundur ke arah pintu.


Manusia - manusia kep#arat itu semakin kur#ang ajar! Awas saja sampai bisa aku temukan bukti - bukti kejahatab kalian semua. Tidak akan ada kata maaf dariku! Rendra menggertakkan giginya menahan amarah.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Nia mengerjapkan matanya perlahan. Di mana ini? Bukan kamarku. Jam berapa ini? Nia terduduk lemas di atas kasur. Berusaha mengingat - ingat apa yang baru saja terjadi padanya.


" Kau sudah bangun? " terdengar suara Rendra dari ujung ruangan.


Rendra beranjak dari sofa mendekati Nia. Ia duduk di samping Nia dan mengusap lembut kepala Nia dengan sayang.


" Merasa lebih baik? " tanya Rendra lagi.


Nia mengangguk. Rendra memeluk tubuh ramping Nia, ada rasa bersalah dalam benaknya. Nia harus menanggung penderitaan akibat persaingan bisnis yang sedang Ia jalani.


" Mulai saat ini, tinggallah bersamaku. Kau akan lebih aman bila ada di sini. " ucap Rendra.


Nia melepas pelukannya. Ia menatap Rendra dengan bingung. " Kenapa? "


" Kontrakanmu sudah tidak aman. Ada orang yang sudah merusak seluruh isi kontrakanmu. " jawab Rendra. Ia tidak mengatakan jika pelakunya bisa jadi adalah pesaing bisnisnya. Ia takut Nia akan membencinya karena menjadi sasaran akibat persaingan bisnisnya.


" Tapi barang - barangku? Ada foto kedua orang tuaku di sana. " mata Nia mulai berkaca - kaca.


" Tenang, semua sudah diurus Andreas. Semua barangmu akan dibawa ke sini. Termasuk foto kedua orang tuamu. " jawab Rendra.


" Terima kasih. " ucap Nia yang dengan spontan memeluk Rendra lagi.


Rendra mengecup lembut puncak kepala Nia. Mengusapnya pelan, kemudian mengecupnya sekali lagi. Maafkan aku, batinnya.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Sore ini mendung, hujan gerimis mulai turun membasahi tanah - tanah di halaman mansion Rendra. Nia merasa bosan, Ia pun keluar dari kamarnya. Ia berjalan berkeliling lantai satu. Ada beberapa tiga buah kamar di sini. Ia berjalan ke arah dapur dan bertemu dengan beberapa orang di situ. Sepertinya asisten rumah tangga.


" Selamat sore. " sapa Nia pada beberapa ART yang sedang sibuk di dapur.


" Selamat sore Nona, " balas sapa mereka.


" Saya Nia. " Nia memperkenalkan diri kepada mereka.


Salah satu dari mereka melangkah mendekat dan memperkenalkan diri, " Saya Habsya, kepala urusan rumah tangga di sini Nona. Ada yang bisa saya bantu? "


Nia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. " Salam kenal. Apa yang sedang kalian kerjakan? " tanyanya.


" Kami sedang menyiapkan makan malam. Tuan Narendra memerintahkan kami untuk memasakkan masakan favorit Nona. Tapi kami tidak tahu apa makanan favorit Non Nia, " jawab Habsya.


Nia tersenyum. " Aku suka semua jenis masakan. Aku hanya tidak bisa makan makanan bersantan pedas. Itu saja. " jawab Nia.


" Baik Non, silakan beristirahat. Jika makan malam sudah siap, kami akan memberi tahu Anda. " ucap Habsya.


Nia melihat ekspresi kurang nyaman pada beberapa ART lainnya. Mungkin mereka merasa kurang nyaman jika Nia ada di sini. Nia pun akhirnya melangkah keluar dari dapur. Ia berjalan melangkah ke taman samping. Ia menghabiskan sorenya duduk di kursi gantung yang ada di situ. Menikmati hujan gerimis yang sepertinya enggan untuk berhenti.


Ia merindukan ayah dan ibunya. Ia merindukan kasih sayang orang tuanya. Semua kejadian pahit Ia alami, Ia pendam sendiri. Ia tidak bisa berbagi kepada siapapun. Bahkan kepada Sarah, Ia hanya bercerita seperlunya saja. Ia tidak bisa menceritakan dengan detail semua kejadian yang telah Ia alami selama ini.


Nia menarik napas panjang dalam - dalam. Ia memejamkan matanya, berusaha mempertajam pendengarannya. Mendengarkan rintikan air hujan yang mengenai lantai dan kolam. Begini juga sudah cukup menenangkan. Terima kasih Tuhan. Ucap Nia dalam hati.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Ada yang penasaran bagaimana penampakan mansion Rendra?


Okay, penulis kasih nih biar ngga kebawa mimpi. Hihi,





...Terlihat nyaman yaa, kalau lagi gerimis - gerimis mengundang kerasa makin syahdu2 gimana gitu 馃き...